The Ocean Would Paint Me Blue (Illustration Edges) - Exclusive Pre Order + Acrylic Bookmark, Pouch & Sticker Set
Deskripsi
Exclusive Pre Order The Ocean Would Paint Me Blue (Illustration Edges) + Acrylic Bookmark, Pouch & Sticker Set
Periode: 7-21 Agustus 2026
Jika di buku pertamanya kita diajak menyelami kepedihan perang di Suriah, kali ini Zoulfa Katouh membawa kita ke sebuah sekolah eksklusif di New York untuk mengikuti perjalanan seorang gadis bernama Jihad.
Masuk ke SMA bergengsi seharusnya menjadi awal yang baru bagi Jihad setelah kematian ibunya yang mendadak. Namun, ia justru menjadi satu-satunya siswi Muslim di sana. Hijab yang ia kenakan, bahkan namanya sendiri, membuat teman-teman sekelasnya menaruh curiga.
Hanya ada satu orang yang memperlakukannya dengan ramah, tapi Jihad tidak bisa berhenti meragukan niat cowok itu. Sulit baginya untuk memercayai siapa pun di saat ia dikelilingi oleh sikap dingin dan permusuhan.
Di tengah tekanan yang kian memuncak, Jihad menemukan pelarian di sebuah buku sketsa tua dan cerita-cerita yang dulu sering dikisahkan ibunya. Ia bertekad untuk fokus mengejar mimpi masuk sekolah seni demi masa depan yang lebih cerah. Namun, saat ia mulai melukiskan kenangan sang ibu, kanvas kehidupannya berkembang menjadi jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Akankah Jihad mampu menjadi sosok yang tangguh—seperti makna sesungguhnya dari namanya—dan membiarkan warna-warni kembali menghiasi hidupnya?
Jika di buku pertamanya kita diajak menyelami kepedihan perang di Suriah, kali ini Zoulfa Katouh membawa kita ke sebuah sekolah eksklusif di New York untuk mengikuti perjalanan seorang gadis bernama Jihad.
Masuk ke SMA bergengsi seharusnya menjadi awal yang baru bagi Jihad setelah kematian ibunya yang mendadak. Namun, ia justru menjadi satu-satunya siswi Muslim di sana. Hijab yang ia kenakan, bahkan namanya sendiri, membuat teman-teman sekelasnya menaruh curiga.
Hanya ada satu orang yang memperlakukannya dengan ramah, tapi Jihad tidak bisa berhenti meragukan niat cowok itu. Sulit baginya untuk memercayai siapa pun di saat ia dikelilingi oleh sikap dingin dan permusuhan.
Di tengah tekanan yang kian memuncak, Jihad menemukan pelarian di sebuah buku sketsa tua dan cerita-cerita yang dulu sering dikisahkan ibunya. Ia bertekad untuk fokus mengejar mimpi masuk sekolah seni demi masa depan yang lebih cerah. Namun, saat ia mulai melukiskan kenangan sang ibu, kanvas kehidupannya berkembang menjadi jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Akankah Jihad mampu menjadi sosok yang tangguh—seperti makna sesungguhnya dari namanya—dan membiarkan warna-warni kembali menghiasi hidupnya?
Jika di buku pertamanya kita diajak menyelami kepedihan perang di Suriah, kali ini Zoulfa Katouh membawa kita ke sebuah sekolah eksklusif di New York untuk mengikuti perjalanan seorang gadis bernama Jihad.
Masuk ke SMA bergengsi seharusnya menjadi awal yang baru bagi Jihad setelah kematian ibunya yang mendadak. Namun, ia justru menjadi satu-satunya siswi Muslim di sana. Hijab yang ia kenakan, bahkan namanya sendiri, membuat teman-teman sekelasnya menaruh curiga.
Hanya ada satu orang yang memperlakukannya dengan ramah, tapi Jihad tidak bisa berhenti meragukan niat cowok itu. Sulit baginya untuk memercayai siapa pun di saat ia dikelilingi oleh sikap dingin dan permusuhan.
Di tengah tekanan yang kian memuncak, Jihad menemukan pelarian di sebuah buku sketsa tua dan cerita-cerita yang dulu sering dikisahkan ibunya. Ia bertekad untuk fokus mengejar mimpi masuk sekolah seni demi masa depan yang lebih cerah. Namun, saat ia mulai melukiskan kenangan sang ibu, kanvas kehidupannya berkembang menjadi jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Akankah Jihad mampu menjadi sosok yang tangguh—seperti makna sesungguhnya dari namanya—dan membiarkan warna-warni kembali menghiasi hidupnya?
Jika di buku pertamanya kita diajak menyelami kepedihan perang di Suriah, kali ini Zoulfa Katouh membawa kita ke sebuah sekolah eksklusif di New York untuk mengikuti perjalanan seorang gadis bernama Jihad.
Masuk ke SMA bergengsi seharusnya menjadi awal yang baru bagi Jihad setelah kematian ibunya yang mendadak. Namun, ia justru menjadi satu-satunya siswi Muslim di sana. Hijab yang ia kenakan, bahkan namanya sendiri, membuat teman-teman sekelasnya menaruh curiga.
Hanya ada satu orang yang memperlakukannya dengan ramah, tapi Jihad tidak bisa berhenti meragukan niat cowok itu. Sulit baginya untuk memercayai siapa pun di saat ia dikelilingi oleh sikap dingin dan permusuhan.
Di tengah tekanan yang kian memuncak, Jihad menemukan pelarian di sebuah buku sketsa tua dan cerita-cerita yang dulu sering dikisahkan ibunya. Ia bertekad untuk fokus mengejar mimpi masuk sekolah seni demi masa depan yang lebih cerah. Namun, saat ia mulai melukiskan kenangan sang ibu, kanvas kehidupannya berkembang menjadi jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Akankah Jihad mampu menjadi sosok yang tangguh—seperti makna sesungguhnya dari namanya—dan membiarkan warna-warni kembali menghiasi hidupnya?
Jika di buku pertamanya kita diajak menyelami kepedihan perang di Suriah, kali ini Zoulfa Katouh membawa kita ke sebuah sekolah eksklusif di New York untuk mengikuti perjalanan seorang gadis bernama Jihad.
Masuk ke SMA bergengsi seharusnya menjadi awal yang baru bagi Jihad setelah kematian ibunya yang mendadak. Namun, ia justru menjadi satu-satunya siswi Muslim di sana. Hijab yang ia kenakan, bahkan namanya sendiri, membuat teman-teman sekelasnya menaruh curiga.
Hanya ada satu orang yang memperlakukannya dengan ramah, tapi Jihad tidak bisa berhenti meragukan niat cowok itu. Sulit baginya untuk memercayai siapa pun di saat ia dikelilingi oleh sikap dingin dan permusuhan.
Di tengah tekanan yang kian memuncak, Jihad menemukan pelarian di sebuah buku sketsa tua dan cerita-cerita yang dulu sering dikisahkan ibunya. Ia bertekad untuk fokus mengejar mimpi masuk sekolah seni demi masa depan yang lebih cerah. Namun, saat ia mulai melukiskan kenangan sang ibu, kanvas kehidupannya berkembang menjadi jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Akankah Jihad mampu menjadi sosok yang tangguh—seperti makna sesungguhnya dari namanya—dan membiarkan warna-warni kembali menghiasi hidupnya?
Jika di buku pertamanya kita diajak menyelami kepedihan perang di Suriah, kali ini Zoulfa Katouh membawa kita ke sebuah sekolah eksklusif di New York untuk mengikuti perjalanan seorang gadis bernama Jihad.
Masuk ke SMA bergengsi seharusnya menjadi awal yang baru bagi Jihad setelah kematian ibunya yang mendadak. Namun, ia justru menjadi satu-satunya siswi Muslim di sana. Hijab yang ia kenakan, bahkan namanya sendiri, membuat teman-teman sekelasnya menaruh curiga.
Hanya ada satu orang yang memperlakukannya dengan ramah, tapi Jihad tidak bisa berhenti meragukan niat cowok itu. Sulit baginya untuk memercayai siapa pun di saat ia dikelilingi oleh sikap dingin dan permusuhan.
Di tengah tekanan yang kian memuncak, Jihad menemukan pelarian di sebuah buku sketsa tua dan cerita-cerita yang dulu sering dikisahkan ibunya. Ia bertekad untuk fokus mengejar mimpi masuk sekolah seni demi masa depan yang lebih cerah. Namun, saat ia mulai melukiskan kenangan sang ibu, kanvas kehidupannya berkembang menjadi jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Akankah Jihad mampu menjadi sosok yang tangguh—seperti makna sesungguhnya dari namanya—dan membiarkan warna-warni kembali menghiasi hidupnya?
Jika di buku pertamanya kita diajak menyelami kepedihan perang di Suriah, kali ini Zoulfa Katouh membawa kita ke sebuah sekolah eksklusif di New York untuk mengikuti perjalanan seorang gadis bernama Jihad.
Masuk ke SMA bergengsi seharusnya menjadi awal yang baru bagi Jihad setelah kematian ibunya yang mendadak. Namun, ia justru menjadi satu-satunya siswi Muslim di sana. Hijab yang ia kenakan, bahkan namanya sendiri, membuat teman-teman sekelasnya menaruh curiga.
Hanya ada satu orang yang memperlakukannya dengan ramah, tapi Jihad tidak bisa berhenti meragukan niat cowok itu. Sulit baginya untuk memercayai siapa pun di saat ia dikelilingi oleh sikap dingin dan permusuhan.
Di tengah tekanan yang kian memuncak, Jihad menemukan pelarian di sebuah buku sketsa tua dan cerita-cerita yang dulu sering dikisahkan ibunya. Ia bertekad untuk fokus mengejar mimpi masuk sekolah seni demi masa depan yang lebih cerah. Namun, saat ia mulai melukiskan kenangan sang ibu, kanvas kehidupannya berkembang menjadi jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Akankah Jihad mampu menjadi sosok yang tangguh—seperti makna sesungguhnya dari namanya—dan membiarkan warna-warni kembali menghiasi hidupnya?
Jika di buku pertamanya kita diajak menyelami kepedihan perang di Suriah, kali ini Zoulfa Katouh membawa kita ke sebuah sekolah eksklusif di New York untuk mengikuti perjalanan seorang gadis bernama Jihad.
Masuk ke SMA bergengsi seharusnya menjadi awal yang baru bagi Jihad setelah kematian ibunya yang mendadak. Namun, ia justru menjadi satu-satunya siswi Muslim di sana. Hijab yang ia kenakan, bahkan namanya sendiri, membuat teman-teman sekelasnya menaruh curiga.
Hanya ada satu orang yang memperlakukannya dengan ramah, tapi Jihad tidak bisa berhenti meragukan niat cowok itu. Sulit baginya untuk memercayai siapa pun di saat ia dikelilingi oleh sikap dingin dan permusuhan.
Di tengah tekanan yang kian memuncak, Jihad menemukan pelarian di sebuah buku sketsa tua dan cerita-cerita yang dulu sering dikisahkan ibunya. Ia bertekad untuk fokus mengejar mimpi masuk sekolah seni demi masa depan yang lebih cerah. Namun, saat ia mulai melukiskan kenangan sang ibu, kanvas kehidupannya berkembang menjadi jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Akankah Jihad mampu menjadi sosok yang tangguh—seperti makna sesungguhnya dari namanya—dan membiarkan warna-warni kembali menghiasi hidupnya?
Spesifikasi
| SKU | : | PKT-2341 |
| ISBN | : | |
| Berat | : | 800 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 13 cm/ 21 cm/ 2 cm |
| Halaman | : | 488 |
| Tahun Terbit | : | 2026 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Belum ada ulasan


