Pada zaman ini, kita bisa melihat bagaimana media sosial menjadi tempat memuntahkan segala kekesalan. Mengumpat, mencaci, dan merendahkan orang lain tanpa beban. Tak beda dalam kehidupan non-maya sehari-hari—orang demikian mudah hilang kesabaran dan berkonflik karena masalah kecil.
Pada suatu riwayat ketika seseorang mendatangi Nabi Saw., meminta nasihat, Rasulullah hanya mengatakan kepadanya, “Jangan marah”, dan beliau mengulangnya tiga kali. Nabi Saw. tak menasihati orang itu dengan teologi yang rumit, atau etika yang sulit, dan bukan pula masalah fiqih yang mendalam. Beliau hanya menasihati soal akhlak, sesuai sabda beliau, “Agama adalah muamalah (interaksi antarmanusia).” (HR Al-Hakim). Tanpa akhlak hubungan antarmanusia tidak akan terbangun dengan baik.
Buku ini disarikan dari ceramah-ceramah Yasir Qadhi, seorang tokoh asal Amerika yang cukup berhasil menampilkan wajah akhlak Islam di Negeri Paman Sam.
Ulama Bukan Psikiater Atau Terapis – Yasir Qadhi
https://nakindonesia.wordpress.com/2018/06/10/ulama-bukan-psikiater-atau-terapis/
Ternyata saya keliru. Sangat keliru.
Depresi adalah sesuatu yang nyata. Memang keyakinan, keluarga, teman, dan banyak factor lainnya bisa menolong, namun kesemuanya ini bukanlah garansi bahwa depresi itu tidak ada.
Mereka yang mengkhususkan diri di dalam studi Islam pada dasarnya selalu di rujuk oleh umat untuk menyelesaikan setiap masalah. Namun yang bertanya dan yang ditanya, keduanya harus memahami bidang keahlian mereka.
Saya telah berguru selama 10 tahun pada salah satu sekolah agama yang tergolong paling keras di dunia. Telah saya pelajari berbagai ilmu dan telah saya baca ratusan buku. Tidak sekalipun topik konseling dibahas (saya tidak menyarankan setiap sekolah agama untuk membahasnya, meskipun akan sangat bagus jika bisa demikian).
Keadaan standarnya adalah, seorang ulama ditanyai dengan pertanyaan yang menyangkut aspek hukum atau agama. Tanyakan kepadanya ayat, hadis, atau aturan fikih yang tidak Anda pahami.
Namun, dan saya katakan ini dengan lantang dan jelas, rerata Syekh tidak memenuhi syarat untuk menjadi konselor keluarga, penasehat perkawinan, atau psikiater yang dapat membantu Anda menangani gangguan obsesif kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder), depresi, trauma mental, pelecehan seksual, ketergantungan obat, atau pengidap masalah lain yang belum terbiasa mereka tangani. (Jelas saja beberapa dari mereka telah mengambil pelatihan lain paska sekolah agamanya – tapi saya tidak bicara tentang kelompok ini).
Jika Anda butuh pertolongan, silahkan datang kepada mereka yang ahli. Tentu insya Allah keluarga, teman, Syekh di lingkungan Anda, dan sebagainya bisa menjadi mekanisme pendukung sekunder dalam beberapa hal (kembali, ini ditinjau kasus per kasus), namun sadarilah orang pertama yang harus Anda temui jika Anda menghadapi depresi adalah serang terapis ahli, bukan seseorang dengan bacaan Qur’an yang indah atau seseorang yang bisa memberi kuliah akademik yang menarik tentang Islam.
Qur’an mengatakan kepada kita:
“Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Bersama kesulitan, ada kemudahan.” [Surat Al-Insyirah, ayat 5-6]
“Dan jangan bunuh dirimu sendiri, karena sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” [Surat An-Nisa, ayat 29].
Semoga Allah menolong kita untuk mengatasi masalah kita, dan mengampuni semua kesalahan dan dosa kita.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Mesin Cetak Dan Kemunduran Umat Islam – Yasir Qadhi
https://nakindonesia.wordpress.com/2018/06/03/mesin-cetak-dan-kemunduran-umat-islam/
Sebagaimana yang kita tahu Muslim pernah berjaya di zaman dahulu kala, mulai dari jaman kepemimpinan awal para sahabat yang membuka Persia dan Al Quds, terbukanya Konstantinopel dan perluasan wilayah ke daerah lain, dan juga banyak sekali para ahli ilmu yang lahir di era keemasan Islam.
Tapi era keemasan itu hanya berlangsung sampai sekitar tahun 1500-an Masehi saja, di tahun 1600-an ke atas maka dimulailah era kejatuhan peradaban Islam dan kebangkitan negara barat. Hingga akhirnya pada saat kita sekarang Islam justru terkesan identik dengan ketinggalan jaman dan ketidakmakmuran.
Apa yang salah? Kenapa kejayaan itu hilang? Kenapa di sekitar tahun 1500-an tersebut umat Islam mengalami kemunduran dan Barat justru mengalami kebangkitan? Sheikh Yasir Qadhi dalam kajiannya kali ini membahas salah satu penyebabnya dari ‘kacamata duniawi’.
Dan salah satu penyebabnya adalah karena Muslim kala itu menolak beradaptasi dengan modernitas, yakni tepatnya ketika mereka menolak mengimplementasikan teknologi percetakan.
Kertas sendiri awalnya berasal dari negeri China, tapi di China sendiri kertas tidaklah diproduksi secara masal kala itu. Hanya kalangan tertentu saja yang memiliki ilmu untuk membuat kertas dan juga memiliki kertas.
Sekitar tahun 751 masehi (abad pertama kalender hijriah) terjadi perang Talas di bawah kekhalifahan dinasti Abbasiah, yakni perang antara Muslim dengan sekelompok kecil bangsa China. Ada beberapa tawanan perang dari musuh yang kemudian dibebaskan dengan syarat harus mau mengajarkan teknologi pembuatan kertas.
Maka sejak saat itulah umat muslim mulai menggunakan kertas untuk keperluan birokrasi dan juga ilmu yang kemudian umat muslim pulalah yang memproduksi kertas secara masal pertama kali.
Sebelumnya umat muslim hanya menggunakan daun lontar, kulit unta dan juga daun kurma saja untuk mendokumentasikan sesuatu yang memiliki banyak kelemahan, yakni material tersebut mudah terurai dan memiliki volume yang besar jika dokumennya banyak (jika ditumpuk).
Karena beredarnya kertas yang volumenya relatif kecil dan lebih tahan lama itulah yang menyebabkan ilmu mulai tersebar di kalangan umat muslim dengan lebih mudah.
Kertas yang ditumpuk dan kemudian di-bundle seperti buku yang sering kita lihat seperti sekarang awalnya dilakukan oleh umat muslim. Inilah yang membuat umat muslim maju, Sedangkan di Eropa saat itu belum mengenal kertas dan dari segi ilmu jauh tertinggal dari muslim.
Sampai akhirnya terjadilah perang Salib pertama dan orang-orang Eropa mulai melihat kegunaan kertas dan menawan muslim untuk mengajarkan mereka membuat kertas.
Singkat cerita, orang-orang Eropa kemudian mengembangkan kertas ini dan mereka kemudian membuat mesin cetak, sehingga jika sebuah dokumen ingin diperbanyak maka tidak perlu lagi ditulis manual dengan tangan. Hal inilah yang membuat penyebaran ilmu di Eropa mulai meningkat pesat, mungkin yang sering kita dengar ilmuwan seperti Newton dan Galileo lahir setelah tahun 1500-an Masehi tadi.
Bangsa Eropa kemudian menyebarkan teknologi mesin cetak di setiap wilayah jajahannya, sampai sampai mesin cetak itu mereka implementasikan dan dirikan di daerah terpencil karena pentingnya penyebarluasan ilmu ini. Bayangkan, di awal tahun 1800-an, daerah kecil seperti Hawai, Tahiti juga Meksiko sudah memiliki mesin cetak, Lalu apa yang terjadi di pusat peradaban Islam di Damaskus dan Kairo? Tetap masih ditulis dengan tangan.
Pertanyaannya kenapa peradaban Islam saat itu menolak menggunakan teknologi mesin cetak ini ya dan tetap kekeuh mau tulis tangan? Menurut Yasir Qadhi ada dua alasan utamanya:
1. Karena itu adalah teknologi orang kafir
2. Ada kekhawatiran ilmu tersebar secara tidak terkontrol dan tidak dipertanggung jawabkan
Alasan nomer 2 maksudnya begini. Pada zaman itu, ilmu diturunkan dengan jalur Ijazah. Jalur Ijazah itu maksudnya begini. Jika seseorang ingin mempelajari kitab sahih Bukhari maka orang tersebut harus datang ke gurunya. Kemudian sang guru akan mengajarkan ilmunya dan orang tersebut akan menulis ulang kitab tersebut. Diturunkan satu jalur seperti itu sehingga kualitas ilmu tetap terjaga. Maka ada kekhawatiran dari ulama saat itu jika ada mesin cetak maka semua orang akan pegang kitab dan menginterpretasikan sendiri sendiri.
Lalu kapan mesin cetak mulai ke dunia Islam? Yakni ketika Napoleon Bonaparte menjajah Mesir sekitar tahun 1800-an dan meninggalkan mesin cetak. Bahkan kata Yasir Qadhi, Al Quran pertama hasil cetakan itu pertama kali dibuat oleh orang non muslim.
Lalu apa hikmah yang bisa diambil dari sini? Kalau menurut Sheikh Yasir Qadhi kita butuh para ulama yang tidak hanya menguasai Ilmu Islam tapi juga ulama yang tidak narrow minded.
Mungkin kalau kita sekarang merasa lucu kalau ulama jaman itu tidak mengizinkan penggunaan mesin cetak, tapi kalau kita bawa ke zaman sekarang misalnya seperti ini
Apa jadinya jika sekarang khutbah jumat dilengkapi dengan layar proyektor? Sehingga jemaah salat Jumat bisa melihat materi yang disampaikan penceramahnya?
Tentu banyak yang akan teriak, “Bidah bidah ini bidah.”
Padahal di zaman sekarang ilmu sudah mulai lumrah dikonsumsi dalam bentuk tayangan. Dan jika ada tayangan maka penyampaian materi akan lebih baik. Maka menurut Yasir Qadhi disinilah perlunya antara ilmu dan modernitas.
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sendiri tidak anti dengan perubahan, sebagaimana yang mungkin kita tahu, setelah perang Badr, Rasulullah perintahkan kepada tawanan dari suku Quraish untuk mengajarkan membaca dan menulis kepada umat Islam, karena pada saat itu kemampuan tersebut sedikit sekali dimiliki di tanah Hijaz.
Adapula kisah ketika Rasulullah menerima dan menerapkan usulan Salman Al Farisi untuk membangun parit ketika perang Khandaq, padahal ‘teknologi’ itu gak pernah dilihat sebelumnya, hanya ada di Persia.
Atau kisah cincin stempel Rasulullah. Di mana ketika ingin mengirim surat kepada raja Persia dan Romawi, surat tersebut ‘kode tiknya’ harus dibubuhi dengan stempel. Dan Rasulullah pun menerima usulan tersebut.
Well kalau sekarang entah kenapa saya ngeliatnya muslim kurang fight di bidang teknologi. Entah kenapa kok rasanya lebih banyak founder start up di tanah air yang non muslim. Sehingga seringkali umat muslim menggunakan fasilitas apps tersebut yang sebenernya kurang syari.
Bayyinah Institute, platform belajar Quran secara online dari NAK ini menurut saya luar biasa bagus. Dari dulu saya ingin belajar agama yang ada kurikulumnya atau tertatalah materinya tapi sulit nyari di mana. Karena kalau harus nyantren rasanya udah sulit waktunya. Sehingga online menjadi solusi. Nah yang seperti ini di Indonesia belum ada.
Muslim di Indonesia menurut saya agak kurang fight di bidang teknologi, saya gak ngerti kenapa, apakah dianggap bidah apa gimana. Padahal jaman sekarang adalah zamannya teknologi. Kalau apps yang berkaitan dengan ibadah mungkin sudah banyak tapi yang berkaitan dengan muamalah yang syari sepertinya belum. Padahal itu bisa membuka jalan dakwah dan juga revenue.