Ketersediaan : Tersedia

OLENKA

Deskripsi Produk

S.E.A. Write Award 1984 Pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 1980 Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta 1983 Tanpa yang lain saya tidak mempunyai arti, tidak mempunyai fungsi, dan tidak ada. Fanton Drummond jatuh cinta pada sosok Olenka. Perempuan misterius yang tanpa sengaja dia temui dalam sebuah lift di Apartemen…

Baca Selengkapnya...

Rp 89.000

Rp 75.650

S.E.A. Write Award 1984
Pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 1980
Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta 1983

Tanpa yang lain saya tidak mempunyai arti,
tidak mempunyai fungsi,
dan tidak ada.

Fanton Drummond jatuh cinta pada sosok Olenka. Perempuan misterius yang tanpa sengaja dia temui dalam sebuah lift di Apartemen Tulip Tree. Semenjak pertemuan itu, tak henti-hentinya Fanton Drummond mengamati dan menebak-nebak bagaimana kehidupan Olenka sebenarnya.

Semakin dalam Fanton Drummond menelusuri hidup Olenka, semakin liar bayangan Fanton Drummond. Sebagaimana perjalanan menyusuri sebuah peta dunia, yang tak menemukan pangkal pastinya.
Melalui Olenka Budi Darma sejatinya sedang menyibak rahasia paling kelam dalam jiwa manusia. Karakter-karakter unik dengan kecamuk pikiran dituturkan dengan menarik. Novel dengan capaian bahasa paripurna.
 

Tentang Budi Darma

Resensi

Olenka merupakan sebuah novel karya Budi Darma. Novel itu diterbitkan oleh Balai Pustaka pada bulan Maret 1983, setebal 183 halaman (cetakan I). Pada tahun 2009, Balai Pustaka menerbitkan cetakan yang ke-9 dengan tebal buku 264 halaman. Novel lenka ditulis Budi Darma pada akhir tahun 1979. Setelah novel itu terbit, Olenka mendapat sambutan yang baik karena dianggap membawa pembaruan terutama dalam teknik penceritaannya. Novel ini terdiri atas tujuh bagian. Setiap bagian ditandai dengan huruf Romawi. Bagian pertama terdiri atas 23 subbagian, bagian kedua terdiri atas 6 subbagian, bagian ketiga terdiri atas 4 subbagian, bagian keempat terdiri atas 4 subbagian, bagian kelima, keenam, dan ketujuh terdiri atas 1 subbagian. Di samping itu, pengarang juga menampilkan tempelan-tempelan gambar yang berangka tahun 70-an. Olenka menceritakan kisah hidup Olenka dan Fanton Drummon. Pertemuan Fanton Drummon dan Olenka terjadi di sebuah lift Apartment Tulip Tree, Bloomington, Amerika. Mereka lalu berkenalan. Fanton selalu dibayang-bayangi wajah Olenka. Akhirnya, Fanton mengetahui Olenka sudah mempunyai suami dan anak. Hubungan Olenka dan keluarganya (suami dan anaknya) tidak harmonis. Suatu waktu Fanton pun berkenalan dengan suami dan anak Olenka, bahkan Fanton menolong suami Olenka mencari pekerjaan. Lama-kelamaan Fanton dan Olenka menjalin hubungan percintaan. Fanton merasa berbuat dosa karena selama ini hubungan percintaanya dengan Olenka sangat bebas. Di sisi lain, ia merindukan hangatnya kehidupan sebuah keluarga. Oleh karena itu, ia ingin menikah dengan Olenka, tetapi Olenka menolaknya. Bahkan, Olenka pergi meninggalkannya. Dalam perjalanan mencari Olenka, Fanton jatuh cinta pada M.C. Dan, sewaktu Fanton melamar M.C., gadis itu menolaknya karena M.C. merasa hanya sebagai gadis "perantara". Selang beberapa lama, Fanton bertemu kembali dengan M.C. yang sudah cacat karena kecelakaan pesawat. Fanton meminang M.C. kembali, tetapi M.C. tetap menolaknya. Pada kesempatan lain, Fanton mendapat surat panjang dari Olenka. Surat itu menceritakan perjalanan hidup Olenka dari kecil hingga dewasa. Fanton pun jatuh cinta kembali pada Olenka, ia pun terus menelusuri jejak perempuan itu. Suatu waktu Fanton membaca berita bahwa Olenka telah memalsukan lukisan dan masuk rumah sakit karena kebanyakan minum obat. Sayang, akhirnya Fanton tidak menjumpai Olenka. Gagasan pokok yang disorot pengarang dalam Olenka adalah masalah dosa yang menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Tokoh-tokohnya pun tidak lagi terikat pada formalitas agama. Hati nurani merupakan ukuran keimanan seseorang. Berbagai prestasi diperoleh Olenka. Olenka menjadi pemenang hadiah pertama Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1980. Tahun 1983 novel tersebut berhasil memperoleh hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Tahun 1984 melalui Olenka pula Budi Darma meraih Hadiah Sastra ASEAN (SEA Write Award). Olenka juga mendapat banyak tanggapan. Mahayana dkk. (1992) berpendapat bahwa pengarang mempergunakan bentuk pencerita akuan dengan tokoh Fanton yang bertindak sebagai pencerita dan sekaligus tokoh utama. Melalui surat-surat baik yang ditulis oleh Fanton maupun Olenka, pembaca mengetahui pikiran dan perasaan tokoh-tokohnya. Panuti Sudjiman mengulas teknik penceritaan Olenka yang menggunakan teknik penceritaan kolase. Wawan IL (1986) membahas Olenka sebagai tokoh collage. Wawan mengacu pada pendapat Umar Junus yang berpendapat bahwa collage adalah pengacauan antara kenyataan dan imajinasi. Pengacauan terjadi antara pelaku nyata dan pelaku yang hanya dalam imajinasi atau antara perbuatan nyata dan perbuatan dalam imajinasi. Dengan mengetengahkan bagan peristiwa dan bagan gambar dalam Olenka, Wawan secara lebih luas membahas Olenka dari segi collage. Menurut Wawan, novel Olenka bukan saja "menipu" pembaca dengan gayanya yang khas melainkan juga "melayani pembaca" dengan gambar-gambar yang diambil dari meia massa setempat. Gambar itu bukan sekadar tempelan, melainkan juga ada relevansinya dengan tokoh Olenka sebagai collage. Anakronisme dalam gambar merupakan unsur pendukung Olenka sebagai tokoh collage. Artinya, penempatan gambar mendahului kehadiran kejadian atau peristiwa yang sebenarnya dalam alur teks hanya dua buah. Olenka sebagai tokoh collage sebenarnya telah diisyaratkan pada awal novel, misalnya Fanton secara tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita di dalam lift, dan dalam suatu pertemuan akrab yang pertama antara Olenka dan Fanton, Olenka merasa pernah bertemu dengan Fanton sebelumnya. Nirwan Dewanto (1985) menulis "Antara Budi Darma dan Gabriel Garcia Marquez, Kreativitas dan Pengalaman". Dewanto berpendapat, antara lain, bahwa Budi Darma sangat tepat dalam memilih latar untuk tokoh-tokohnya. Kalimat-kalimat yang lugas, deskripsi dan narasi yang formal, serta referensi yang luas (bagaikan tulisan ilmiah) menyiratkan bahwa kerja kepengarangan bagi Budi Darma adalah kerja intelektual. Tokoh Wayne Danton dan karakteristik Amerika barangkali mengherankan khalayak pembaca yang bukan Indonesia. Namun, penggarapan tema-tema Bloomington paralel dengan penjelajahan intelektual Budi Darma.   Boleh jadi aspirasi Budi Darma memancar dari sumber nonpribumi. Kutipan-kutipan sastra Barat dalam Olenka menyiratkan hal itu. Sementara itu, tokoh Aureliano Buenia dan karakteristik Amerika Latin barangkali mempesona khalayak yang bukan Amerika Latin. Tema-tema Amerika Latin terbayang terus dalam sekian banyak karya Garcia Marquez. Tanpa bosan Marquez menggali khazanah pribumi dan membongkar pengalamaan masa lalunya, tanpa terbebas sama sekali dari khazanah Barat yang telah dijelajahinya selama bertahun-tahun. Satyagraha Hoerip dalam kesempatan berbicara di Teater Arena Taman Ismail Marzuki, tanggal 5 Februari 1986, membawakan makalah dengan judul "Beberapa Catatan Mengenai Olenka Karya Budi Darma". Hoerip menyoroti bahasa yang digunakan dalam novel Olenka. Budi Darma memperhatikan dan menjaga bahasa yang digunakan di dalam novelnya. la melahirkan kata-kata dengan bebas, cekatan, seolah-olah tanpa dipikir lagi, meluncur seperti air pancuran. Di samping itu, hal yang mencolok adalah Budi Darma sangat "ringan" mencantumkan kata-kata Jawa tanpa mempertimbangkan pembaca non-Jawa. Tarman Effendi Tarsyad (1985) berkeyakinan bahwa sebelum Budi Darma menulis atau menyelesaikan Olenka pasti ia telah membaca novel Merahnya Merah, karya lwan Simatupang. Olenka dan Merahnya Merah berangkat dari permasalahan yang sama, yakni (1) bertemunya protagonis dan antagonis, (2) terjalinnya hubungan cinta antara protagonis dan antagonis, (3) menghilangnya antagonis tanpa diketahui oleh protagonis, (4) pencarian protagonis atas antagonis yang menghilang, dan (5) pratagonis mengetahui antagonis, tetapi tidak bertemu. Sumber: http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Olenka Setelah Membaca Olenka 1. Budi Darma mengatakan, bahwa kebanyakan tema dalam cerpen atau novelnya adalah kisah tentang kepahitan.Ia juga mengatakan, bahwa cerita-ceritanya merupakan, “serangkaian jatuh bangunnya individu dalam usaha mereka untuk mengenal diri mereka masing-masing. Sadar atau tidak, setiap individu harus mengakui bahwa hidupnya adalah serangkaian kekosongan.” Bagi saya cara Budi Darma menceritakan kepahitan, sangatlah ajaib. Mengapa saya mengatakan kepahitannya sebagai sesuatu yang ajaib, adalah karena saya merasa tokoh-tokoh dalam novel ini bertindak, berkata dan berperilaku dengan absurd. Dan kemudian setelah membaca novel ini, saya lantas memikirkan kembali makna “absurd”. Apakah absurd itu? Apakah ia berarti tidak masuk akal, aneh, omong kosong, atau apa? Masing-masing tokoh utama dalam novel ini; Fanton Drummond, Olenka dan Wayne Danton, menunjukkan bagaimana usaha jungkir balik manusia dalam memperjuangkan eksistensinya. Dan tokoh-tokoh ini adalah tokoh yang kalah. Yang tak selalu harus menjadi berarti sebelum ia mati. Ia akan selalu terombang-ambing di antara “nasib” dan “kemauan bebas”. Apakah ada orang yang memang ditakdirkan untuk menjadi jahat? Jika menjadi jahat adalah nasib, mengapa kita harus mempertanggungjawabkannya? Tapi sebaliknya, jika kehidupan adalah tentang pilihan-pilihan, begitu banyak hal yang tidak dapat dikuasai dan dikontrol oleh manusia. Jadi benarkah manusia menggantungkan nasibnya pada diri sendiri? Manusia mencari-cari tahu apa arti hidup. Dan apakah hidup itu? Tentang pribadi Olenka, Fanton Drummond berkata, “Kadang-kadang saya merasa bahwa dalam usahanya untuk menghindarkan kesengsaraan, dia justru mencari kesengsaraan. Seperti yang pernah dikatakannya sendiri, seluruh hidupnya merupakan rangkaian perayaan untuk melupakan kesengsaraan dengan mengingatkan diri bahwa dia tidak akan terlepas dari kesengsaraan. Jalan untuk membebaskan dirinya dari kesengsaraan adalah selalu menyadari bahwa kesengsaraan selalu ada.” (hlm 216) 2. Ajaib pula adalah, bagaimana Budi Darma menyusun kata-kata. Cara ia menulis sangatlah menarik. Pada bagian akhir novel, yang diberi judul “Asal Usul Olenka”, Budi Darma menjelaskan bagaimana ia membangun cerita dalam novel ini dari sebuah pertemuannya dengan perempuan di lift, yang kemudian juga menjadi bagian pertama dalam novel Olenka. Beliau tidak dapat menjelaskan dengan seksama, darimana keinginan tiba-tiba untuk menulis muncul setelah bertemu dengan perempuan di lift itu. Bahwa kemudian sejak mulai menulis pun, ia tidak memiliki intensi apa-apa, tahu-tahu 3 minggu kemudian, terciptalah novel Olenka. Namun bukan berarti pula bahwa novel Olenka turun dari langit, laiknya wahyu Tuhan. Pendekatan logisnya adalah, sejauh pemahaman saya, kegiatan menulis adalah sebuah kegiatan mengumpulkan, menyatukan dan membangun ulang petilan-petilan dari ingatan-ingatan kita atas apa yang kita baca, dengar, lihat atau lakukan. Novel Olenka, meskipun lahir dari intuisi adalah juga merupakan kumpulan pengalaman-pengalaman, atau obsesi-obsesi Budi Darma yang belum selesai. Kenapa nama Olenka muncul misalnya, jika dirunut-runut ternyata adalah karena saat masih SMP di Salatiga, Budi Darma pernah begitu menyukai sebuah cerpen Anton Chekov, berjudul “The Darling”, yang tokoh utamanya adalah seorang perempuan bernama Olga Semyonova. Ketika kemudian Budi Darma tinggal di Bloomington, tidak sengaja ia menemukan kembali buku kumpulan cerpen di pasar loak, beberapa minggu sebelum menulis Olenka. Bahwa kelak ia mengetahui nama asli Olga dalam bahasa Rusia Olenka, itu adalah sebuah kebetulan, atau menurut Budi Darma, “Dengan tidak sadar saya telah mengambil nama itu bukan karena nama itu sendiri, tetapi karena nasib pemiliknya.” Saya pikir dalam proses penulisan novel ini pun, antara alam bawah sadar dan alam sadar keduanya saling bekerja sama. Antara memori yang samar, pikiran yang mengganggu dengan common sense saling bersekongkol, sehingga dari membaca Olenka, saya juga kemudian bisa menerka apa saja referensi Budi Darma saat menulis novel ini. Beberapa catatan kaki pada novel ini juga merupakan sebuah usaha Budi Darma untuk meneropong bagaimana caranya berpikir saat menyusun novel ini, yang kadang berasal dari buku yang sedang ia baca, tak selalu bersifat akademis, kadang hanya impresinya saja. Cara menulis lain yang menarik, adalah cara menulis Wayne Danton, salah satu tokoh dalam Olenka, yang merupakan seorang pengarang cerpen, yang barangkali pintar, tapi congkak dan kata Olenka, “Miring otaknya.” Wayne adalah pengarang yang sering tidak punya ide untuk menulis. Salah satu caranya menulis ialah dengan meniru metode seorang penulis Rusia yang ia lupa namanya. Sang penulis Rusia ini mempunyai kebiasaan berjalan-jalan. Pada waktu berjalan-jalan, kadang ada kata-kata indah yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Kata-kata itu kemudian ia tulis di secarik kertas dan ia tempel di dinding kamarnya. Ia sering menulis karya-karyanya dengan menggunakan petilan kata-kata itu sebagai batu loncatan. Wayne meniru cara menulis ini. Dan saya pun tiba-tiba ingin meniru pula model menulis ini, sebab saya merasa menulis bukanlah menciptakan, tapi tepatnya mengumpulkan dan menjadikannya kesatuan. Tugas penulis ialah membentuk kesatuan ini menjadi pribadi yang berbeda dari serpihan-serpihan temuannya. Saya pikir, salah satu pelajaran yang saya dapat setelah membaca Olenka ialah, bahwa jika anda ingin pandai menulis, anda perlu rajin mengamati sekeliling dengan detail, dan tentunya banyak membaca. Kemampuan menulis bukanlah bakat alam yang datang dari langit; ia adalah kristal-kristal dari kemampuan kita mengamati dan merasakan. Saya suka buku ini. https://ultramicroscopic.wordpress.com/2011/07/06/setelah-membaca-olenka/

Spesifikasi Produk

SKU ND-368
ISBN 978-602-385-576-6
Berat 420 Gram
Dimensi (P/L/T) 13 Cm / 20 Cm/ 0 Cm
Halaman 444
Jenis Cover

Ulasan Produk

Tidak ada ulasan produk