Ketersediaan : Tersedia

SENIOR FROM HELL - CAMPUS COUPLE SERIES

Deskripsi Produk

Noura Tsabita, Semester 1, Teknik Elektro Maba. Benci OSPEK. Benci Devan. Devan Putra Pratama, Semester 5, Teknik Elektro Senior. Suka semena-mena dan jutek. Tipe tsundere gitu. Paling hobi menjaili Noura. Sebagai mahasiswa baru Teknik Elektro, tentu saja Noura mengharapkan dunia yang juga sepenuhnya baru. Celakanya, pada hari pertama OSPEK dia…

Baca Selengkapnya...

Rp 89.000

Rp 45.000

Noura Tsabita, Semester 1, Teknik Elektro

Maba. Benci OSPEK. Benci Devan.

Devan Putra Pratama, Semester 5, Teknik Elektro

Senior. Suka semena-mena dan jutek. Tipe tsundere gitu. Paling hobi menjaili Noura.

Sebagai mahasiswa baru Teknik Elektro, tentu saja Noura mengharapkan dunia yang juga sepenuhnya baru. Celakanya, pada hari pertama OSPEK dia malah bertemu Devan, mantan sahabat masa kecilnya, yang sepertinya cuma memiliki satu tujuan hidup: membuat Noura tersiksa dan tunduk kepadanya.

Anehnya, ada saja perhatian-perhatian kecil dari Devan yang membuat Noura kelimpungan. Saat hatinya mulai berdebar-debar itulah sosok Rangga datang. Cinta pertamanya. Apakah Noura harus memilih? Memangnya Devan dan Rangga naksir dia?

Tentang

Resensi

ARTIKEL TERKAIT Senior from Hell dan Kisah di Balik Pintu Nerakanya oleh Hanifah Khairunnisa Penulis Novel Senior from Hell Sejak kecil, aku selalu bermimpi untuk menerbitkan ceritaku. Ya ..., cuma mimpi. Usahaku juga tidak maksimal, bahkan mungkin nyaris mendekati nol. Kadang tulis di buku yang kertasnya butek dan gampang robek kalau dihapus. Begitu punya ponsel, tulis di benda digital itu dengan ribuan typo. Ketika punya laptop, usahaku ikut naik kasta. Tulis di Microsoft Word dan membiarkan seluruh masyarakat Indonesia membacanya melalui Internet. Meskipun yang baca bisa dihitung jari, sih .... Ketika aku masuk dunia perkuliahan, mimpi itu semakin jauh. Mungkin bisa ditebak dari cerita Senior from Hell, ya. Aku berada di jurusan yang sangat jauh dari kegiatan menulis dan sebelas dua belas dengan tokoh Noura. Tunggu sebentar. Sepertinya aku salah. Jurusanku dan mimpiku sama-sama menulis. Perbedaannya adalah, aku menulis kode pemrograman sedangkan mimpiku adalah menulis cerita. Ironis, ya? Setelah lulus empat tahun (iya, aku bangga lulus empat tahun setelah mengeluarkan air mata darah sepanjang pengerjaan skripsi), aku dihadapkan pada ketakutan anak baru lulus lainnya. Mau jadi apa? Mau kerja di mana? Apalagi saat itu teman-temanku sudah bekerja di perusahaan-perusahaan bergengsi. Pertanyaan dari orang-orang semakin membuatku ingin tenggelam ke dasar laut. Untungnya, teman-teman terdekatku selalu menguatkan, berkata bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Jadi, aku sedikit tenang meskipun kadang perasaan itu kembali. Pada suatu malam yang dingin (bukan karena kurangnya pelukan dari pasangan karena aku jomlo akut, tetapi karena suhu AC yang terlalu rendah), satu akun mem-posting lomba Urban Romance yang diadakan Noura Publishing. Aku sempat ragu. Bisa tidak, ya, menulis tentang romance? Berhubung aku jomlo pangkat kuadrat, rasanya butuh perjuangan ekstra. Akan tetapi, tema yang diangkat adalah kisah anak kuliah. Saat itu, aku sangat-sangat merindukan dunia perkuliahan. Aku kangen teman-temanku. Ini rahasia kita saja, ya. Kalau mereka membaca ini, pasti jumpalitan sampai kayang segala saat mengetahui aku kangen mereka. Seingatku, aku hanya menulis dalam waktu ... seminggu? Sepertinya seminggu lebih beberapa hari, sebelum aku mengirimkan tulisanku ke Penerbit Noura. Alasannya? Yah ..., karena aku bingung. Cerita seperti apa yang akan aku bawa, ya? Aku sempat memiliki beberapa ide cerita yang langsung dibuang karena terlalu aneh. Bahkan, karena terlalu sering gonta-ganti ide, aku sampai tidak ikut main ke rumah temanku. Stuck di kasur sambil mendengarkan lagu Day6 dan mencari ide. Ide satu, buang. Ide dua, buang. Terus hingga ide sembilan puluh sembilan. Begitu idenya rampung dan aku tulis beberapa ribu kata, muncul ketakutan selanjutnya. Kira-kira aku kirimkan atau tidak, ya? Mungkin sebagian dari kalian paham perasaanku. Takut mencoba. Takut gagal. Takut keluar dari zona nyaman. Takut dengan perubahan. Ketakutan-ketakutan itu terus berputar di dalam perutku hingga aku mual dan nyaris tidak mengirimkannya. Namun, seseorang pernah berkata kepadaku bahwa perlombaan tidak hanya tentang juara satu, juara dua, dan juara tiga. Perlombaan adalah tentang aku, kamu, dan kita yang berani mengambil anak tangga menuju kesuksesan. Bisa jadi kita gagal dan jatuh di tempat yang sama atau, yang lebih buruk, di tempat yang tidak kita inginkan. Akan tetapi, kita pernah melalui ini dan memiliki kartu emas bernama pengalaman yang tidak dimiliki oleh sembarang orang. Hanya orang-orang berani yang memiliki pengalaman dan hanya orang-orang pilihan yang bisa belajar dari pengalaman mereka. Maka, berbekal pemahaman itu, aku menekan tombol kirim dan karyaku berlabuh di meja editor. Selanjutnya, aku yakin kalian tahu. Ceritaku masuk ke daftar dua puluh cerita pilihan. Lalu, mengerucut hingga lima cerita. Jujur saja, aku sangat senang saat berita itu keluar. Lompat-lompat seperti orang gila bermain trampolin sambil berteriak. Kalau kalian lihat, mungkin kalian akan memanggil pawang hewan karena ada monyet rabies berwujud manusia, alias aku. Namun, kesenanganku tidak berlanjut lama karena beberapa hari kemudian sebuah masalah menimpaku. Masalah apa? Yah, pokoknya masalah yang tidak bisa aku ceritakan di sini karena sama saja dengan membocorkan rahasia negara. Masalah ini cukup serius hingga pada saat itu aku ingin berhenti. Aku ingin berhenti dari semua ini. Aku ingin waktu berhenti. Aku ingin dunia berhenti berputar. Aku ingin segalanya ... berhenti. Bahkan, aku sampai menangis berhari-hari hingga kepalaku pening sekali. Di tengah tangisan yang tiada henti itu, sebuah petir menyambar kepalaku. Tentu saja tidak secara harfiah karena aku masih hidup hingga detik ini. Sampai kapan aku akan seperti ini? Maksudku, hal yang paling aku inginkan tinggal beberapa langkah lagi. Lalu, apakah aku akan berhenti setelah menginginkannya selama tahunan? Apakah aku akan menyerah pada keadaan dan membiarkan kesempatan ini terlepas dari genggaman? Tidak rela, dong. Sudah berusaha, tapi dibiarkan begitu saja. Sebelas dua belas dengan lagi sayang-sayangnya tapi ditinggal. Jadi, seperti yang kalian lihat, aku terus maju meski rasanya sulit banget. Harus maju. Masalah seperti ini tidak boleh menahanku. Ya, ‘kan? Kemudian, lahirlah Senior from Hell yang proses persalinannya dibantu oleh banyak orang. Cerita tentang mahasiswi baru alias Noura Tsabita yang harus dihadapkan dengan teman masa kecil sekaligus senior super menyebalkan, Devan Putra Pratama, serta kehadiran cinta pertamanya, (bukan) Rangga (Ada Apa dengan Cinta?). Seharusnya, pilihan Noura mudah, tapi urusan hati memang tidak pernah sesederhana itu. Terutama jika Devan mulai menaruh perhatian kepadanya. Percayalah. Ini tidak sesederhana warung nasi padang. Lagi pula, memangnya ada yang sederhana kalau berhubungan dengan perasaan? Ini hati, cuy, bukan kobokan air. Jadi, daripada kalian gundah gulana memikirkan akhirnya, aku sarankan untuk segera beli bukunya di toko buku terdekat kesayangan kalian (jangan cuma doi yang disayang) atau mungkin beli ebook-nya secara legal. Ingat, ya, legal! Akhir kata (yang jumlah katanya pasti lebih dari satu kata. Pusing, ya?), aku sudahi saja artikel ini. Sebenarnya, aku tidak tahu ini bisa disebut artikel atau tidak, tapi kita serahkan saja hasil akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang paling penting adalah sudah berusaha. Betul begitu, Teman-Teman? Jadi, sampai berjumpa lagi pada lain kesempatan!   Salam sayang, Hanifah Khairunnisa     WAWANCARA PENULIS   Kamu tahu dari mana, sih, ada lomba Campus Couple? Terus kenapa tertarik ikutan? Pertama kali tahu informasi lomba Campus Couple jelas dari akun Instagram Noura Publishing, dong. Waktu itu aku masih menjadi pencari buku diskonan (sampai sekarang) dan sosial media penerbit suka posting info diskonan buku di akun mereka, maka aku follow. Ternyata ada info itu, hahaha. Kenapa tertarik ikutan? Kalau boleh jujur, waktu itu aku lagi dalam masa galau karena teman-teman sudah dapat kerja sedangkan aku belum (kayaknya aku penulis Campus Couple paling muda, deh). Aku ingat banget, waktu itu dapat e-mail penolakan dari satu perusahaan (HAHAHA) dan pas banget nemu info ini. Aku yang galau, sedih, dan kangen dunia kampus langsung enggak pakai basa-basi lagi nyari ide untuk lomba Campus Couple. Kurang lebih ini bisa jadi media healing aku hahaha.   Inspirasi menulis cerita Campus Couple ini datangnya dari mana? Kalau sudah baca Senior from Hell, pasti tahu tokohnya dari jurusan apa. Jurusanku kurang lebih mirip sama jurusan Devan dan Noura. Kalau di kampusku, jurusan mereka dan jurusanku ada di bawah satu departemen karena dulunya jurusanku adalah peminatan dari jurusan tersebut. Nah, inspirasi ini datang dari sana hahaha. Jiwa halu-ku berpikir, kayaknya asyik, nih, kalau punya senior kayak Devan. Adegannya juga banyak yang terinspirasi dari kegiatan kampusku dulu. Bahkan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di Senior from Hell sesuai dengan UKM yang aku ikutin. Beberapa tokohnya juga terinspirasi dari orang-orang di sekitarku, tapi enggak 100% mirip orang di dunia nyata.   Seberapa sulit, sih, menulis dengan deadline satu minggu karena wajib diunggah di Wattpad Noura? Sulit enggak sulit karena aku kebiasaan nulis satu bab 1000-1500 kata. Bahkan kadang kurang dari 1000 kata. Jadi, yang agak sulit di situ. Oh. Satu lagi: mood. Perlu banget setting mood untuk nulis, terutama kalau saat itu kita lagi ada masalah atau hal-hal lain yang buat mood jadi down. Salah satu siasat untuk meningkatkan mood adalah mendengarkan musik yang happy dan energik kayak Twice atau BTS. Terus untuk mencari ide adegan, aku dengerin lagu Day6 dan The Rose. Bikin ambyar dan otakku jadi bisa dipakai lagi (iya, selama ini otakku ditinggal di lemari dan enggak dipakai).   Menurut kamu, apa yang membedakan seri Campus Couple dengan novel-novel young adult Indonesia lainnya? Kasih tahu enggak, yaaa? Hehehe. Menurutku, Campus Couple enggak cuma adegan kinyis-kinyis semanis janji palsu, tapi juga tentang kehidupan kampus dan kegiatannya. Dimulai dari OSPEK yang bikin jantung mau copot sampai drama ngerjain tugas yang bikin kita kayak zombi. Jadi, bisa dibilang Campus Couple itu relatable banget.   Apakah kamu juga membaca seri Campus Couple lainnya? Yang mana favorit kamu? Baca, dong. Semua aku baca, tapi belum selesai aku baca sampai bab yang terakhir di-update di Wattpad hahaha. Kalau ditanya mana yang paling aku suka, aku suka semua, kok. Semuanya tuh unik dan punya gaya menulis yang berbeda. Bikin geregetaaan! Ditanya begini jadi bingung. Yang mana, ya? Sulit memilih   Kamu itu tipe yang kalau nulis harus ada visual karakternya enggak, sih? Enggak, kok. Aku enggak matok visual karakternya kayak gimana dalam artian seperti Jimin BTS atau lainnya. Karena kadang visualisasi di kepalaku suka beda sama pembaca. Jadi, aku bebaskan aja mau kayak gimana visual karakter oleh pembaca.   Apa adegan yang paling kamu favoritkan dari cerita yang kamu bikin? Adegan rusuh-rusuh di lapangan Teknik! Hahaha. Bukan karena aku suka keributan, lho, tapi adegan Devan-Noura di situ menurutku lucu aja. Digendong. Unch banget. Kayak drama Korea enggak, sih? Sebenarnya salah satu cita-citaku adalah digendong kayak Noura, tapi yah ... begitulah. Kaum jomlo pasti paham.   Sifat-sifat kamu yang mana, nih, yang juga dimasukin ke karakter dalam novel kamu? Banyak! Di Devan ada, di Noura juga ada. Makanya kata temanku yang baca, “Setiap gue baca cerita lo, gue selalu ngebayangin muka lo. Gaya ngomongnya, bahasa yang digunakan, sampai narasinya tuh lo banget.” Jadi, yah, mereka adalah aku yang dicampur dengan beberapa karakteristik lain.   Kalau kamu lagi nulis, biasanya ditemani apa? Jangan jawab pacar, lho, ya! Sebagai ketua Ikatan Jomlo Abadi, pertanyaan seperti ini sangat menyinggung. Jelas-jelas aku sendirian, enggak ditemani siapa pun, tapi pertanyaannya ditambahi kata pacar. Sebagai pengganti satu kata laknat itu, aku ditemani lagu-lagu penuh kebahagiaan dan energik. Sebelumnya aku bilang dengerin lagu BTS dan Twice untuk meningkatkan mood, ‘kan, ya? Sebenarnya ada banyak lagi. Banyak banget sampai aku lupa apa aja. Kadang dengar lagu NCT, McFly, The Vamps, dan lainnya. Banyak banget, deh.   Biasanya paling sering nulis pukul berapa? Aku paling bisa nulis saat sepi. Jadi, malam hari atau pagi-pagi banget sekitar pukul 1-6 pagi.   Karena lagi ngomongin romance, share dong film, buku, dan penulis romance favorit kamu! Penulis romance kesukaanku ada banyaaak. Yang muncul di kepala saat ini adalah Ilana Tan dengan mega bestseller-nya, Jenny Han dengan To All The Boys I’ve Loved Before, dan akhir-akhir ini aku lagi suka ceritanya Aya Widjaja (ibu dari Rigel, Raven, Ash, dan banyak anak lainnya). Untuk film, aku enggak suka yang sedih-sedih karena sekalinya aku banjir air mata, Indonesia tinggal nama. Jadi, aku memutuskan untuk menyebut film Flipped. Manis unyu gimana gitu. Film 10 Things I Hate About You juga masih sering aku ulang-ulang, haha.   Ada tips enggak buat yang lagi mager nulis di luar sana? Pertanyaan ini kayaknya paling sulit dijawab, deh. Soalnya aku tim mageran! Hehehe. Hm ..., dari beberapa bulan nulis Campus Couple, menurutku tips paling baik (bukan paling benar) adalah menulis dengan menggunakan target. Target ini dijadikan acuan aja, sih. Misal 60 ribu kata dalam enam bulan. Berarti sebulan 10 ribu kata. Berarti seminggu berapa ribu kata. Gitu, lhooo, biar jelas mau kapan dimulai dan diakhiri, enggak kayak hubungan kamu sama doi yang digantungin. Selain itu, teman satu tujuan juga diperlukan, sih. Kalau mendadak di tengah perjalanan menulis penyakit magernya kambuh, setidaknya ada orang-orang yang bisa menyuntikkan semangat untuk terus maju.

Spesifikasi Produk

SKU ND-456
ISBN 978-623-242-172-1
Berat 350 Gram
Dimensi (P/L/T) 14 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
Halaman 412
Jenis Cover

Ulasan Produk

Tidak ada ulasan produk