Ketersediaan : Tersedia

TIGA MINGGU - CAMPUS COUPLE SERIES

Deskripsi Produk

Kian Erlangga, Sastra Inggris Novelis. Sukanya genre thriller. Enggak pernah pacaran.   Anindya Laudy, Antropologi Hobi rebahan, leha-leha, nonton drakor. Gagal move on dari gebetan.   Kian dituntut menulis novel romance. Dia butuh Laudy untuk membuatnya paham apa saja yang dilakukan sepasang kekasih. Abim, gebetan Laudy, baru saja CLBK sama…

Baca Selengkapnya...

Rp 89.000

Rp 45.000

Kian Erlangga, Sastra Inggris

Novelis. Sukanya genre thriller. Enggak pernah pacaran.

 

Anindya Laudy, Antropologi

Hobi rebahan, leha-leha, nonton drakor. Gagal move on dari gebetan.

 

Kian dituntut menulis novel romance. Dia butuh Laudy untuk membuatnya paham apa saja yang dilakukan sepasang kekasih.

Abim, gebetan Laudy, baru saja CLBK sama mantannya yang sempurna. Laudy butuh Kian untuk memanas-manasi cowok itu.

Maka, berpacaranlah mereka. Kian dan Laudy, sobat karib sejak kecil, yang tiap hari ketemu karena kamar kosnya sebelahan. Cuma tiga minggu, dengan satu aturan: tidak boleh jatuh cinta. Gampang, ‘kan?

Tentang

Resensi

ARTIKEL TERKAIT   Moving Out of (What I Thought) My Comfort Zone   Keluar dari zona nyaman? Rasanya kayak ... mencelupkan kaki ke air dingin. Kayak keluar galaksi menuju planet lain (walaupun belum pernah nyoba). Kayak kenalan sama orang baru lewat aplikasi kencan daring. Asing, canggung, tapi lama-lama nyaman. Keluar dari zona nyaman, itulah yang kulakukan ketika memulai menulis Tiga Minggu. Hai, Naya di sini, mamanya Kian, Laudy, Arsen, dan ibu tirinya Nando. Enggak, bercanda, belum jadi mama-mama, kok, dan  belum ada hilal hal itu akan terjadi dalam waktu dekat. Oke, sebelum aku curhat hal yang enggak berkaitan sama sekali dengan Tiga Minggu, atau ini malah kayak narasi pembuka ala-ala Youtuber, mari kita kembali ke jalan yang lurus dan benar. About how this magical event happened and gave me the light of hope. It’s quiet a long story. Di sini, aku menghadirkan bintang sejuta umat, Nando, yang gantengnya naik ke langit ke-7 (kata dia) untuk membantuku memberikan pertanyaan.   Hai, ini Nando Oppa, tolong berikan cinta yang banyak. Saranghae~ Abaikan dia. I pay him to give me questions, okay? Lalu, aku akan menjawab, dengan sedikit mendongeng. Jadi, siapkan selimut, dan ... perjalanan ini dimulai. Kita mulai dari penghujung Mei 2019, salah satu titik krusial dalam perjalanan menulisku, ketika aku memutuskan untuk kembali, memulai dari nol lagi apa yang pernah kutinggalkan dan hilang. Setelah selesai dengan skripsi pada 2015 dan memasuki dunia kerja yang benar-benar baru, aku mulai menghilang, mulai jarang menulis, mulai hiatus. Beberapa kali mencoba memulai, tapi hasilnya selalu maju mundur; menulis, lalu hilang, lalu menulis lagi, kemudian raib lagi. Kayak tukang PHP. Di titik ini, enggak bohong kalau kubilang aku sering meragukan diri, merasa bahwa menulis bukan tempatku dan sudah saatnya aku menyerah. At that time, I felt like I lost everything already; friends, support, skill. Dan, memang hampir menyerah. Sampai, entah dengan kekuatan apa, yang jelas bukan kekuatan bulan, aku akhirnya memberanikan diri mulai kembali menulis. Aku memilih akun Wattpad lama yang sudah memiliki banyak sarang laba-laba. Bagiku, itu adalah satu keputusan yang cukup besar, yang awalnya enggak kuyakini bakal bisa bertahan sampai seperti sekarang. Memulai menulis setelah hiatus bertahun-tahun, dengan beberapa bab awal tanpa ada yang baca sampai muncul satu orang, lalu dua, lalu tiga, lalu terus bertumbuh. Bagiku yang dulunya pernah merasakan dukungan sejumlah orang saat menulis, hal itu enggak mudah sama sekali. Namun, ajaibnya, karya pertama dapat diselesaikan hingga mencapai kata tamat, and I’m proud. Karya pertama tuntas, and that’s great! But ..., something’s a little off. Aku sadar dengan sepenuh hati bahwa bahasanya masih baku sekali, masih fanfiction sekali. Kayak tulisanku zaman sebelum negara api menyerang dulu. Kayak tulisan beberapa tahun ke belakang, waktu diriku yang songong ini masih anti membaca novel non-baku dengan bahasa gue-elo yang enggak membuatku nyaman. But, look at me now. Juli 2019 kuputuskan untuk keluar dari zona nyaman, untuk melampaui jarak jangkau, mencoba sesuatu yang baru, dan menaklukkan dunia (oke, ini enggak). Aku pun menulis Tiga Minggu, dengan bahasa gue-elo dan dengan kerecehan yang tidak direncanakan. Baiklah, ada pertanyaan?   (Dengan suara mengantuk) Hmm …, itu tadi pengantarnya udah sepanjang jalan kenangan gue sama mantan, Kak Nay, hiks. Langsung aja, deh, kok bisa berjodoh di Noura? Pake pelet? Pengin jugaaa! Mon maap, enggak pake pelet, susuk doang. Susuk kental manis. Jadi, ya, beberapa part sebelum Tiga Minggu tamat di Wattpad pribadi, seorang teman membagikan pengumuman kontes menulis series Campus Couple dari Penerbit Noura. Enggak yakin ikut awalnya, karena kupikir naskah Tiga Minggu ditulis asal-asalan, enggak ada harapan dan saya enggak punya waktu untuk menulis naskah baru. Ya emang, sih. Namun, beberapa hari sebelum deadline, akhirnya aku mendapat ilham (bukan anak Pak Camat) untuk mencoba. Dimulailah menyunting tiga bab awal Tiga Minggu agar lebih layak baca dan menghabiskan cukup banyak waktu membuat sinopsis yang menarik. Lalu, pada hari terakhir, pukul sepuluh malam, akhirnya saya kirim dengan hati yang pasrah. (Tolong lampirkan permohonan maaf yang seluas samudra kepada Mbak Editor, karena pasti capek sekali menerima serangan naskah pada hari terakhir). Perjalanan Tiga Minggu sampai bisa lolos 5 besar pun penuh kejutan. Tahu bahwa naskah-naskah saingan benar-benar tidak bisa dianggap main-main, bohong kalau kubilang enggak merasa terintimidasi. Melalui jalur vote pun, aku enggak sanggup bersaing. Jalan ninjaku satu-satunya, akhirnya, hanya pasrah dan berdoa, dan mungkin Tuhan sedang memberikan secercah harapan serta banyak keberuntungan saat itu. Yang enggak akan kulupakan, saat itu aku sudah dengan sendunya mengatakan kepada teman penulis: “Aku sudah ikhlas.” Kayak istri tua siap dimadu. Amit-amit, dah! Waktu itu sore menjelang magrib dan aku pun sok cuek dengan mematikan data seluler biar enggak ada notifikasi masuk, padahal sebenarnya enggak berani meriksa. Lalu, malamnya, saat data dihidupkan kembali, ada yang mention, mengucapkan selamat. Lagsung deg! Hampir serangan jantung. Tangan panas dingin waktu membuka notifikasi. Dan hasilnya .... Aku lolos. AKU LOLOS. AKU LOLOS!!! (Dibaca dengan suara Spongebob.)   Berburu ubur-ubur! Berburu ubur-ubur! (Dengan suara Patrick.) Oke, enggak lucu, ya? Lanjut aja. Terus, gimana awalnya terbentuk cerita Tiga Minggu? Gimana terbentuknya Babang Nando yang kece ini, Kak Nay? Sebelumnya, aku suka K-Pop dari zaman ... ugh, sebut saja, Ice Age. Dari masa kejayaan TVXQ, Big Bang, dan I want nobody nobody but you-nya Wonder Girls digaungkan di mana-mana. Dari zaman PSY masih joget-joget lagu Sorry Sorry dan Byun Baek-Hyun masih jadi cabe-cabean sekolah yang belum ditemukan SM. Kesimpulannya, diriku .... sudah renta, huhu. Dan, sekarang, meski sudah enggak segila dulu lagi, (dulu sampai sakit karena enggak dikasih izin nonton konser Super Junior, sekarang diingat malah malu), sepasang mata ini masih jeli agar tidak melewatkan idola baru nan unyu. Dan, orang pertama yang muncul di pikiranku ketika mulai membangun tokoh utama adalah (G)I-dle Yuqi. Rambut keritingnya yang berkibar berpartisipasi besar dalam terciptanya seorang Anindya Laudy. She makes it looks ... so cute. I can’t. Visual Kian ditemukan dengan tidak sengaja. Waktu itu, yang ada di otak cuma nama Kian, nama yang jarang kutemukan. Lalu, bersama Yuqi, aku melihatnya dalam satu reality show, menyaksikan mereka berinteraksi dan, seketika, rasanya ada lonceng yang berdenting, dot-dot yang terkoneksi, benang merah yang terjalin. Namanya Lucas, kalau enggak kenal, seenggaknya pasti pernah melihatnya dalam iklan kopi. And, I immediately jumping into the ship at the first sight! I wish they are truly an item in this universe, if I’m allowed to. Kian si Tiang dan Laudy si Keriting hanyalah mereka dalam wujud fiksi lokal. Wait, did I just go back to fanfiction thingy? Er .... Nando dan Arsen muncul belakangan dan datang begitu saja, seperti ditarik. Arsen yang sok sultan dan Nando, anak kesayangan, yang saking disayangnya oleh semua orang, selalu menjadi sosok tertindas. Mon maap, tetapi aku pun mencari visual yang sekiranya memiliki wajah tindas-able (Haechan melarikan diri). Dan Abim, kita biarkan misterius, ya, seperti orangnya. Iya nih, gue ditindas semua orang termasuk pembaca. Salah Pangeran Nando yang lebih ganteng dari Pangeran Brunei ini apa? T T Tapi, baiqlah, gue akan bertaya lagi, demi nasi bungkus yang dijanjikan. Ceritanya inspirasi dari mana? Bukan true story, ‘kan? Karena ... maap maap, nih, ya, enggak cocok, wkwk. Apa sebaiknya kutindas saja orang ini? Lihat saja nanti, hmm. Karena aku baru saja keluar dari zona nyaman dari segi kepenulisan, aku memutuskan untuk menulis cerita yang membuatku nyaman. Dan, Tiga Minggu mengambil salah satu tema yang paling kufavoritkan di seluruh dunia: persahabatan yang berubah menjadi cinta. Atau, persahabatan yang begitu erat sampai-sampai enggak ada bedanya dengan hubungan romantis pada umumnya. Lalu, ditambah perjanjian pura-pura selama tiga minggu, kayaknya lucu aja menggambarkan bagaimana kencan mereka, transisi dari sekadar sahabat jadi berstatus pacar. Klise, mungkin. Namun, aku juga percaya, apa pun yang kita tulis dengan hati, dengan rasa bahagia, akan tersampaikan kepada pembaca. Dan, aku bahagia selama menulis Tiga Minggu, selama menceritakan interaksi manis Laudy dan Kian, atau kebobrokan Nando dan Arsen. Aku suka menuliskan tentang mereka, dan berharap bisa menuliskannya sebanyak-banyaknya. True story or not? Ya bukanlah. Orang enggak punya teman cowok. Sedih. Soundtrack-nya tolong yang kayak momen saat Gong Yoo menghilang di Goblin.   Kenapa Sastra Inggris dan Antropologi? Dan, kenapa harus tiga minggu? Sastra Inggris dan Antropologi adalah dua jurusan yang pengin banget kumasukin. Yang sayangnya, enggak tersedia di kampusku sehingga aku justru masuk Pendidikan Bahasa Inggris. Menyerempet dikitlah, setidaknya. Jadi, aku ingin bertualang bersama Kian dan Laudy di dua jurusan ini. Dan, tiga minggu lucu aja, daripada dua minggu atau empat minggu. Alasan yang penuh filosofi, bukan?   Iyain aja dah biar dapat makan. Tapi ..., cringe enggak, sih? Terutama pas adegan di atap itu? Yang pas mereka melihat bintang dan Laudy mengibaratkan Kian sebagai kelingking? Lalu terjadi ... sesuatu. Gue aja sampe merah, Kak, nontonnya. If you ask me whether I cringed or nah while I was writing the story, jawabannya jelas iya. Yes! Seribu kali yes! Apalagi adegan di atap itu, huhu, sampai guling-guling waktu nulisnya. Tapi ..., aku suka. Semoga yang baca nanti juga guling-guling dan suka, hehe. Kalau enggak, Nando yang akan kugulingkan.   Gue lagi. Apa salah hamba? : ( Pertanyaan terakhir sebelum Pangeran Nando pamit mamam, berapa lama menyelesaikannya? Apa suka duka selama menulis Tiga Minggu, dan kenapa novel ini worth reading? (PS: Lauknya ayam, ya, Kak! Udah tiga minggu enggak makan ayam, hiks.) Aku berhasil menyelesaikan novel ini dalam 5 bulan. Dan, bahkan aku enggak menyangka bakal berhasil menyelesaikannya. Sukanya saat berhasil melanjutkan, menamatkan, dan saat membaca komentar-komentar lucu para pembaca. Rasanya masalah hidupku terselesaikan semudah itu. Dukanya adalah saat stuck, ini terjadi di pertengahan aku menulis, enggak tahu lagi mau nulis apa. Sampai berapa minggu naskah ini tidak kusentuh. Kemudian, aku mulai cari inspirasi dengan baca-baca ulang bab awal, tweet receh atau komen-komen yang lucu, atau sekadar menonton interaksi Lucas dan Yuqi. Jadi, komen-komen lucu di Wattpad itu berguna banget, sebenarnya. Aku harus sering-sering mengucapkan terima kasih kepada pembaca atas dukungannya. Kalau kamu butuh hiburan, bacaan ringan yang lucu, manis, dan seputar anak kampus, maka Tiga Minggu worth reading. Kalau kamu suka yang sederhana, yang mengobati sakit kepala dan yang bisa bikin kamu senyum saat harimu sedang tidak begitu baik, then it’s worth to be in your bookshelf. Oke, maafkan kepedean ini. Last thing before I’m off too, jika berkaca lagi, Tiga Minggu adalah salah satu percapaian terbaik yang enggak kusangka-sangka. Yang berawal dari mencoba sesuatu di luar zona nyaman. Jadi, siapa pun di luar sana yang senang mencoba-coba, jangan menyerah. Kukirimkan dari sini semangat dan doa. Good luck! Naya is signing off. Mau ngasih makan Nando.   Kekasih tak dianggap Kian, Naya.     WAWANCARA PENULIS   Kamu tahu dari mana, sih, ada lomba Campus Couple? Terus kenapa tertarik ikutan? Ada temen penulis yang nge-share. Dia sendiri enggak ikut karena enggak suka ikut kontes menulis. Aku cek lalu simpan flyer-nya sambil masih mikir-mikir mau ikut atau enggak karena waktu itu enggak ada ide baru.   Inspirasi menulis cerita Campus Couple ini datangnya dari mana? Aku nulis cerita Tiga Minggu sebelum ada pengumuman kontes Campus Couple, sih. Inspirasinya, karena aku mau mencoba sesuatu yang baru dan keluar dari zona nyaman. Aku yang biasanya nulis cerita dengan bahasa baku mencoba menulis dengan kerecehan, yang sebenarnya jauh lebih receh daripada yang direncanakan. Untuk ide sendiri, muncul gitu aja, kayaknya. Karena aku suka banget cerita dua sahabat dan ada bumbu-bumbu cinta di antaranya.   Seberapa sulit, sih, menulis dengan deadline satu minggu karena wajib diunggah di Wattpad Noura? Karena udah ada draf sampai tamat, buat aku enggak begitu sulit. Tapi, tetap ada kesulitannya karena ada bagian-bagian yang aku tambahkan dan harus sunting. Jadi ya lumayan.   Menurut kamu, apa yang membedakan seri Campus Couple dengan novel-novel young adult Indonesia lainnya? Menurut aku cerita dengan tema kampus apalagi seri kampus cukup jarang ditemukan. Apalagi seri kayak gini, ya. Belum pernah liat, sih. Dan aku excited banget! Konsep tentang kampusnya juga udah detail banget, jadi berasa beneran ada kampusnya.   Apakah kamu juga membaca seri Campus Couple lainnya? Yang mana favorit kamu? Mauuu. Tapi belum :( karena lagi sibuk banget sama kerjaan lain. Sempat baca bab-bab awal cerita yang lain dan aku bingung kalau harus memilih. Karena bagus semua. Tapi, kalau emang harus vote juga, aku pilih Senior From Hell. Karena seru, sih, kayaknya kating galak. Terus visualnya juga Kim Myungsoo.   Kamu itu tipe yang kalau nulis harus ada visual karakternya enggak, sih? Enggak juga, tapi lebih enak ada visualnya. Lebih mudah menjabarkan ciri fisiknya, terus bisa lebih konsisten juga. Dan, kalau lagi enggak ada ide, bisa liat-liat foto visual biar ketemu ilham.   Apa adegan yang paling kamu favoritkan dari cerita yang kamu bikin? Ada beberapa. Yang paling aku sukai itu waktu di atap pas malam terakhir perjanjian tiga minggu Kian dan Laudy. Waktu Kian mengibaratkan mereka sedekat bintang dan Laudy mengibaratkan Kian sebagai kelingkingnya. Yang kedua adalah saat mereka bersandar pada dinding yang memisahkan kamar mereka. Ada dua adegan, yang pertama pas mereka nyanyi bareng, yang kedua pas Kian main gitar dan Laudy cuma dengerin.   Sifat-sifat kamu yang mana, nih, yang juga dimasukin ke karakter dalam novel kamu? Sifat khas bani rebahan yang sudah mendarah daging Lalu ada susu cokelat, aku suka. Kesukaan akan Doraemon diambil dari temenku yang fanatik. Sama aku suka maraton drama Korea, meskipun udah jarang nonton sekarang. Pada mereka, aku juga menitipkan rasa suka dan impianku tentang jurusan Sastra Inggris dan Antropologi. Aku menikmati matkul Play Performancejadi aku senang membuat Kian bermain play di sini.   Kalau kamu lagi nulis, biasanya ditemani apa? Jangan jawab pacar, lho, ya! Nggak punya :c Aku biasanya enggak nyetel lagu karena enggak bisa konsen nulis sambil dengerin orang nyanyi atau ngomong. Aku butuh suasana tenang dan tempat yang cukup lapang karena aku kalau nyari ide suka jalan bolak-balik tanpa tujuan.   Biasanya paling sering nulis pukul berapa? Pagi, sih, bangun tidur. Kalau enggak ya sepanjang siang. Aku enggak bisa nulis malam, keburu ngantuk.   Karena lagi ngomongin romance, share dong film, buku, dan penulis romance favorit kamu! Apakah Susanne Collins bisa dimasukkan ke daftar penulis genre romance? Karena suka banget romance antara Katniss dan Peeta yang dia tulis. Pengin nangis, huhu. Selain itu, aku juga suka berat parah akut sama novel A Walk to Remember karya Nicholas Sparks. Seluruh novel dia diksinya indah, tapi aku paling suka AWTR karena karakternya aku ngefans berat. Penulis-penulis Indonesia juga enggak kalah, sih. Di antara penulis romance yang menurutku tulisannya indah dan manis itu ada Morra Quattro, Ilana Tan, Yuli Pritania, Windry Ramadhina, Citra Novy.   Ada tips enggak buat yang lagi mager nulis di luar sana? Jangan mager (tips macam apa ini) Tapi, aku juga mager. Meskipun begitu, kita tetap harus memotivasi diri untuk tidak mager. Kalau kita sudah ‘memaksa’ diri, ke depannya bakal lancar, kok. Karena kalau enggak selesai-selesai, kapan kita suksesnya? Percayalah, yang paling indah dari menulis adalah saat menuliskan kata tamat. : )

Spesifikasi Produk

SKU ND-453
ISBN 978-623-242-174-5
Berat 300 Gram
Dimensi (P/L/T) 14 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
Halaman 388
Jenis Cover

Ulasan Produk

Tidak ada ulasan produk