Deskripsi
Dari sejarah, kita mencatat bahwa sasaran politik pada suatu masa tidak selalu sejalan atau sinergis dengan sasaran ekonomi pada waktu yang sama. Kita selalu dihadapkan pada pilihan atau trade off antara kedua sasaran tersebut. Sejarah menunjukkan bahwa secara umum sasaran ekonomi tunduk pada sasaran politik. Tetapi pada masa-masa tertentu (misalnya, krisis ekonomi), sasaran ekonomi menempati urgensi tinggi dan mensubordinasi sasaran politik, paling tidak dalam jangka pendek sampai krisis diatasi. Sejarah juga menunjukkan bahwa apabila kesenjangan atau gap antara sasaran politik dan sasaran ekonomi terlalu lebar, kesulitan menanti negara itu. Penyesuaian antara keduanya harus terjadi, dan itu bisa menyakitkan. Tugas pengelola negara adalah menjaga agar setiap saat kedua sasaran tersebut tidak melenceng terlalu jauh satu sama lain. Buku ini mengulas perjalanan sejarah ekonomi Indonesia, sejak masa pra-VOC hingga pembahasan pilihan-pilihan ekonomi politik di masa krisis, dengan fokus masa setelah kemerdekaan sampai sekarang.
Buku ini mengulas perjalanan sejarah ekonomi Indonesia, sejak masa pra-VOC hingga pembahasan pilihan-pilihan ekonomi politik di masa krisis, dengan fokus masa setelah kemerdekaan sampai sekarang. Ditulis oleh ekonom ternama Indonesia yang berkecimpung langsung dalam pengambilan kebijakan selama puluhan tahun, pengalamannya tentu memberikan insight yang sangat berharga bagi siapa pun yang mencintai Indonesia.
Prakata
Buku ini saya maksudkan bagi Anda yang ingin mengetahui secara garis besar perjalanan perekonomian Indonesia selama lima abad ini. Fokus utama memang pada masa setelah kemerdekaan. Tetapi saya berpendapat bahwa masa sebelumnya pun penting untuk dipelajari dan dimengerti agar kita mempunyai perspektif yang lebih baik mengenai apa yang terjadi sesudahnya, dan barangkali bahkan apa yang mungkin terjadi di masa mendatang. Tidak bisa dihindari, beberapa konsep ekonomi teknis harus digunakan untuk menjelaskan proses yang terjadi. Sejauh bisa konsep-konsep ini diuraikan dalam bahasa sehari-hari.
Selain bagi pembaca umum, saya berharap buku ini bermanfaat sebagai sumber studi kasus bagi para mahasiswa yang sedang belajar atau mengambil mata kuliah ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi bukanlah (meminjam kata sindiran orang) “kotak-kotak kosong” yang sekadar berisi kurva-kurva, persamaan-persamaan, atau dalil-dalil abstrak. Ilmu ekonomi adalah ilmu terapan—nilainya sebagai ilmu ditentukan oleh apakah ia bisa membantu memecahkan masalah riil yang dihadapi masyarakat. Saya berharap, dari buku ini dapat diperoleh contoh-contoh bagaimana ilmu ekonomi diterapkan untuk memecahkan masalah konkret yang dihadapi bangsa dari waktu ke waktu. Dan Anda akan jumpai bahwa adakalanya membawa hasil dan adakalanya gagal.
Sejarah memberikan pelajaran bagi mereka yang mau belajar darinya. Dan dari situ tumbuh kearifan.
Selamat membaca.
Jakarta, 25 Februari 2016
Boediono
Equilibrium Ekonomi dan Politik
Komentar dari Prof. Dr. Emil Salim
Setelah membentangkan perkembangan ekonomi Indonesia selama dasawarsa 2004-2014 yang terbagi atas empat episode berbeda-beda penuh dengan naik-turunnya gelombang pembangunan, Prof. Dr. Boediono menyimpulkan bahwa hakikat proses pembangunan adalah hasil interaksi proses ekonomi dan politik yang saling mempengaruhi secara timbal balik.
Ada masa ketika kekuatan politik dominan dan ekonomi tersubordinasikan di bawahnya, seperti di masa “Ekonomi Terpimpin” Orde Lama. Ada masa ketika kekuatan ekonomi dominan dan politik tersubordinasikan di bawahnya, seperti di permulaan masa Orde Baru.
Dalam proses pembangunan, sasaran politik pada suatu masa tidak selalu bersinergi dengan sasaran ekonomi pada waktu yang sama, para pemimpin pembangunan kita selalu dihadapkan pada trade off antara kedua sasaran tersebut. Sehingga, menurut Prof. Dr. Boediono, “Sejarah menunjukkan bahwa secara umum sasaran ekonomi tunduk pada sasaran politik. Tetapi pada masa-masa tertentu (misalnya, krisis ekonomi), sasaran ekonomi menempati urgensi tinggi dan mensubordinasi sasaran politik, paling tidak dalam jangka pendek sampai krisis diatasi. Sejarah juga menunjukkan bahwa apabila kesenjangan atau gap antara sasaran politik dan sasaran ekonomi terlalu lebar, kesulitan menanti negara. Penyesuaian antara keduanya harus terjadi, dan itu bisa menyakitkan” (halaman 271-272).
Tesis penting Prof. Dr. Boediono adalah “Tugas pengelola negara adalah menjaga agar setiap saat kedua sasaran tersebut tidak melenceng terlalu jauh satu sama lain” (halaman 272).
Sejarah pembangunan negara bagaikan “bandul pembangunan” yang terayun antara dua tonggak, ekonomi dan politik. Ada suatu masa “bandul pembangunan” terayun lebih berat ke arah tonggak politik, sehingga pengaruh dan kekuatan politik lebih dominan daripada ekonomi. Hal inilah yang terjadi di “masa ekonomi terpimpin”. Namun, ketika “bandul pembangunan” semakin jauh dari “tonggak ekonomi” dan semakin mendekati “tonggak politik”, bangkitlah “kekuatan pembalikan” (countervailing forces) yang mendorong “bandul pembangunan” berbalik arah ke “tonggak ekonomi”.
Maka, bagaikan bandul yang terayun antara dua tonggak ekonomi dan politik, sejarah pembangunan ekonomi berlangsung ditarik dan didorong oleh kekuatan yang lahir dan tumbuh dalam masyarakat menuju equilibrium-nya yang pas antara aspirasi ekonomi dan aspirasi politik. Dinamika masyarakat mendorong proses berjalan mencari dan menuju equilibrium antara aspirasi ekonomi dan politik.
Dalam perumpamaan gambaran “bandul berayun antara tonggak ekonomi dan politik”, bisa dikatakan bahwa pembangunan adalah “proses gerak bandul pembangunan menemukan zona equilibrium antara tonggak ekonomi dan politik”. Kehidupan masyarakat bangsa bersifat dinamis, karena itu tidak akan tercapai “titik keseimbangan mutlak” yang terletak antara tonggak ekonomi dan politik.
Jika dalam proses pembangunan, masyarakat merasakan bahwa “bandul pembangunan” telah bergerak terlalu jauh dan timpang ke tonggak ekonomi atau politik pada kurun waktu tertentu dan meninggalkan zona equilibrium yang dipandang “patut dan wajar”, akan bangkit tumbuh “countervailing forces” yang mengoreksi posisi untuk kembali ke zona equilibrium.
Dalam dinamika proses pembangunan Indonesia sekarang, tugas pengelola negara adalah secara aktif menumbuhkan iklim kesempatan, membangkitkan daya mampu serta kecerdasan masyarakat untuk memahami dan membangun zona equilibrium antara tonggak ekonomi dan tonggak politik.
“Zona equilibrium” ini ditentukan oleh wujud aspirasi jati-diri bangsa yang disepakati dan harus ditemukan dalam UUD 1945 sebagai manifestasi kehendak bangsa untuk merdeka. Rumusan mukadimah UUD 1945 memuat dasar negara yang terangkum dalam Pancasila.
Maka sesungguhnya, equilibrium antara politik dan ekonomi ditentukan oleh manifestasi perwujudan Pancasila, yang menjadi tolok ukur bagi “ruang gerak politik” yang diseimbangkan dengan “ruang gerak ekonomi”.
Oleh karena sejarah berkembang, sehingga yang relevan dengan masa lampau tidak lagi sesuai dengan perubahan zaman, ideologi Pancasila memerlukan proses penggalian pikiran kreatif agar tetap tumbuh relevan dengan semangat zaman yang berubah.
Dalam kaitan inilah, sangat relevan saran Prof. Dr. Boediono mengembangkan homegrown institusi publik, yang memuat “aturan main” dan “kapasitas manusia pelaksana aturan main” ini.
Dan kemudian mampu mengidentifikasi “zona equilibrium antara tatanan politik dan ekonomi” sebagai manifestasi salah satu wujud Pancasila mendorong pembangunan Indonesia ke tahap lepas landas di 2045.
Jakarta, 30 Mei 2016
Emil Salim ([email protected])
Isi Buku
Prakata
Equilibrium Ekonomi dan Politik: Komentar dari Prof. Dr. Emil Salim
Daftar Kotak
Daftar Gambar
Daftar Tabel
BAGIAN SATU: MASA SEBELUM KEMERDEKAAN
BAB 1 Nusantara di Masa VOC: Abad 17 dan 18
Kawasan Perdagangan Nusantara
Dari Monopoli Perdagangan ke Pemerintahan Kuasi
Dua Abad Bersama VOC
Bahan Renungan
Rangkuman
BAB 2 Membangun Sistem Ekonomi Kolonial: Abad 19 dan Awal Abad 20
Pemerintah Belanda Ambil Alih VOC
Membangun Sistem Pemerintahan Kolonial
Tahap Awal, 1800-1830
Sistem Tanam Paksa, 1830-1870
Kebijakan Ekonomi Liberal, 1870-1933
Sistem Pemerintahan Kolonial Terbentuk
Politik Etis, 1900-1930
Kesejahteraan Rakyat
Bahan Renungan
Rangkuman
BAB 3 Dari Depresi Dunia ke Ekonomi Perang, 1929-1950
Badai Tiba
Respons Kebijakan
Masa Pendudukan Jepang, 1942-1945
Masa Revolusi, 1945-1949
Kilas Balik
Rangkuman
BAGIAN DUA: MASA SETELAH KEMERDEKAAN
BAB 4 Masa Konsolidasi, Stagnasi, dan Hiperinflasi, 1950-1965
Masa Demokrasi Parlementer, 1950-1957
Tantangan Ekonomi
Masa Demokrasi Terpimpin, 1957-1965
Bahan Renungan
BAB 5 Masa Stabilisasi Ekonomi, 1966-1968
Problema yang Dihadapi
Menyiapkan Kondisi Politik
Menyiapkan Program Ekonomi
Persoalan-Persoalan yang Timbul
Hasil Kebijakan
Rangkuman
BAB 6 Pembangunan Ekonomi dan Rezeki Minyak, 1969-1981
Kilas Balik
Dari Stabilisasi ke Pembangunan
Pertumbuhan Ekonomi
Perubahan Struktural
Kemiskinan dan Kependudukan
Rangkuman
BAB 7 Melepaskan Ketergantungan pada Minyak, Membangun Sektor Non-Migas, 1982-1996
Alur Perkembangan Utama
Kebijakan Gelombang Pertama, 1983-1985
Kebijakan Gelombang Kedua, 1986-1996
Apa Hasil-Hasilnya?
Rangkuman
BAB 8 Krisis Keuangan Asia:
Dampak dan Penanganannya, 1997-2004
Menjelang Krisis, Tidak Ada Lampu Merah yang Menyala
Tahap Awal Krisis
Program dengan IMF
Mengapa Program Gagal
Mengapa Krisis Makin Memburuk
Perubahan Strategi
Pelaksanaan Program
Rangkuman
BAB 9 Kebangkitan, Krisis, dan “Boom” Ekspor, 2004-2014
Kisah Dua Krisis
Suasana Sebelum Krisis, 2004-2008
Krisis dan Penanganannya, 2008-2009
“Boom” Ekspor dan Sesudahnya, 2010-2014
Tantangan ke Depan
Rangkuman
BAB 10 Belajar dari Sejarah (1): Ekonomi, Politik, dan Institusi
Ekonomi dan Politik: Dua Sisi Satu Mata Uang
Membangun Institusi Publik
Indonesia di Mata Lee Kuan Yew
BAB 11 Belajar dari Sejarah (2): Menjaga Stabilitas dan Menangani Krisis di Era Globalisasi
Sistem Pertahanan terhadap Gejolak Ekonomi
Managing Financial Crisis: Some Lessons from the Indonesian Experience
Kepustakaan
Indeks
Spesifikasi
| SKU | : | UC-120 |
| ISBN | : | 9786024413965 |
| Berat | : | 420 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 16 cm/ 24 cm/ 2 cm |
| Halaman | : | 312 |
| Tahun Terbit | : | 2026 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Belum ada ulasan


