"Meskipun melibatkan ragu saat menjemput rasa, tapi percayalah, ragu yang terjawab itu namanya cinta"
Nia,
istri siriku, fotomodel terkenal di Jepang. Engkau itu cantik, galak,
aku cinta mati sama kamu. Ayumi, sahabat wanita Jepangku yang paling
baik. Walaupun dia rela mengikhlaskan seluruh hati, pikiran, dan
tubuhnya pada diriku, tapi aku yakin bahwa dia bukanlah tulang rusukku
yang hilang itu. Dan Nurma, wanita berjilbab, hafal Qur'an, seorang
dokter di kampung, adalah jodoh dari ayahku.
Sekarang, aku
bingung, Nia. Harus bagaimana? Perlahan panasku mulai tinggi. Gema
takbir pada malam penuh kemenangan ini samar-samar mulai tak terdengar
lagi. "Nia, bismillah. Dengan ini aku nyatakan kamu aku cerai, talak
satu. Maafkan aku. Maaf," ucapku sekuat tenaga. Napasku masih tersengal
berat mengucapkannya.
Nia diam. Suaranya tak terdengar lagi
kecuali air mata yang menderai membasahi tubuhku yang kurasa. Dia masih
memelukku erat, menggoncang-goncang tubuhku. Kupejamkan mataku dan tidur
lemas dipelukannya. Dia mencengkeram kuat tubuhku.