Buku My Name Is… - Orhan Pamuk | Mizanstore.com

(0) KERANJANG

Rp 0
Rp 126,650
15% Rp 149,000

Deskripsi

Istanbul akhir abad ke-16. Miniaturis istana Kesultanan Utsmaniyah tengah mengerjakan proyek rahasia yang terinspirasi dari teknik seni Eropa. Enishte Efendi, seorang utusan istana, ditunjuk Sultan untuk memimpin proyek tersebut. Inovasi ini membuat Guru Osman selaku kepala bengkel miniaturis cemas karena menganggap Enishte mengancam keyakinan lama, serta menciptakan persaingan dan pertentangan tak wajar di antara para miniaturis. Ketegangan itu memuncak ketika salah satu dari mereka ditemukan tewas misterius.

Kembalinya Hitam—keponakan Enishte Efendi dan mantan murid di bengkel miniaturis—ke Istanbul setelah bertahun-tahun pergi menyeretnya ke dalam pusaran penyelidikan tersembunyi. Dia pun dipertemukan lagi dengan Shekure, perempuan yang pernah dicintainya. Di tengah pergolakan yang menjerat para seniman, hubungan Hitam dan Shekure berkembang di tengah bahaya dan ketidakpastian.

My Name Is Red memadukan misteri pembunuhan, drama cinta, dan perenungan filosofis tentang seni. Novel pemenang IMPAC Dublin Literary Award ini menegaskan posisi Orhan Pamuk sebagai peraih Hadiah Nobel Sastra 2006, sekaligus menghadirkan tema-tema tentang identitas, tradisi, dan benturan budaya yang tetap relevan sampai hari ini.

 

 

1
Aku Seonggok Mayat


Saat ini aku seonggok mayat belaka, jasad yang tergeletak di dasar sumur. Telah lama waktu berlalu sejak tarikan napas dan detak jantung penghabisanku, tapi tak ada seorang pun, selain si pembunuh keji, yang mengetahui nasibku. Si jahanam itu meraba denyut nadiku dan mendengarkan napasku untuk memastikan nyawaku telah melayang, lalu menendang rusukku, menggotongku ke pinggir sumur, mengangkatku, dan menjatuhkanku ke dasarnya. Ketika aku jatuh, kepalaku, yang lebih dahulu menghantam batu, pecah berhamburan. Wajah, kening, dan pipiku lumat. Tulang tulangku remuk, dan mulutku penuh darah.

Sudah hampir empat hari aku menghilang: Istri dan anak-anakku tentu mencariku; anak perempuanku, yang sudah lelah menangis, pasti terus-menerus menatap gerbang depan dengan gelisah. Ya, aku yakin bahwa mereka semua menunggu di dekat jendela, mengharapkan kepulanganku.

Namun, apakah mereka benar-benar menunggu? Aku bahkan tidak bisa memastikan itu. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan ketiadaanku—sungguh suram! Sementara di sini, di alam lain, seseorang merasa kehidupan lamanya tetap berjalan. Sebelum kelahiranku, ada bentangan waktu yang tak terbatas; dan sesudah kematianku, ada bentangan waktu yang tak ada habisnya. Ini baru terpikir olehku: Selama ini aku hidup bergelimang cahaya dan diapit dua kegelapan tanpa ujung.

Aku bahagia; sekarang aku baru menyadari bahwa aku berbahagia semasa hidupku. Aku telah menghasilkan karya-karya gemilang di bengkel kerja Sultan Kami; tak ada yang bisa menandingi keahlianku. Walaupun karya-karya itu kukerjakan diam-diam, aku diganjar sembilan ratus keping perak setiap bulan, yang justru menjadikan semua ini makin berat kujalani.

Tugasku melukisi dan menghiasi buku-buku. Aku mewarnai tepian kertas, menghiasi batas halaman dengan gambar-gambar dedaunan, dahan pohon, kuntum mawar, bebungaan, dan burung yang bagaikan hidup. Aku menggambar gumpalan-gumpalan awan bergelombang tiram dengan gaya Tiongkok, sulur-sulur yang saling berkelindan, dan hutan rimba penuh warna yang menyembunyikan kijang, kapal, sultan, pohon, istana, kuda, dan pemburu. Pada masa mudaku, aku juga menghias piring, atau bagian belakang cermin, atau peti, atau kadang-kadang juga langit-langit rumah megah atau istana bangsawan di Bosporus, atau bahkan sendok kayu. Bagaimanapun, selama beberapa tahun terakhir, aku hanya menghias halaman-halaman naskah karena Sultan Kami memberiku upah besar untuk itu. Bahkan pada saat ini pun, hal itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun kau sudah tidak bernyawa, nilai uang tetaplah sama.

Setelah mendengarkan suaraku yang bagaikan mukjizat ini, kau mungkin berpikir, “Memangnya siapa yang memedulikan penghasilanmu waktu kau masih hidup? Ceritakan saja tentang apa yang kau lihat saat ini. Adakah kehidupan setelah kematian? Di manakah arwahmu? Bagaimana dengan Surga dan Neraka? Bagaimana rasanya mati? Apa kau kesakitan?” Kau benar, orang-orang yang masih hidup memang sangat penasaran tentang Akhirat. Mungkin kau pernah mendengar cerita tentang seseorang yang, untuk memuaskan rasa ingin tahunya, berkeliaran di antara para prajurit di medan perang. Di antara mereka yang sedang berjuang mempertahankan nyawa di kubangan darah, dia mencari seseorang yang pernah mati lalu hidup kembali, seorang prajurit yang bisa bercerita kepadanya tentang rahasia Alam Lain. Tetapi, seorang prajurit Timur Lenk menyangkanya sebagai musuh, lalu mengayunkan simitarnya dan dengan mulus membelah tubuh lelaki itu menjadi dua bagian, sehingga dia menyimpulkan bahwa di Akhirat, manusia dibelah menjadi dua bagian.

Omong kosong! Justru sebaliknya, menurutku nyawa yang terbelah selama hidup disatukan kembali di Akhirat. Berkebalikan dengan sesumbar para pendosa yang telah terjerat rayuan Iblis, alam lain memang ada, alhamdulillah. Buktinya, aku bisa berbicara kepadamu dari sini. Aku sudah mati, tapi sebagaimana yang kau lihat sendiri, aku tetap ada. Memang, harus kuakui, aku belum melihat sungai-sungai yang mengalir di antara rumah-rumah berdinding perak dan emas di Surga, pepohonan berdaun lebar yang menghasilkan buah-buahan ranum, dan bidadari-bidadari cantik sebagaimana yang disebutkan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an—walaupun aku masih mengingat dengan baik betapa aku kerap melukis para haur bermata lebar seperti yang digambarkan di dalam Surah Al-Waqiah. Aku juga tidak melihat jejak sungai-sungai yang mengalirkan susu, anggur, air, dan madu yang dipaparkan dengan begitu indah, bukan di dalam Al-Qur’an, melainkan oleh para pemimpi visioner seperti Ibnu Arabi. Namun, aku tidak berniat menggoda iman siapa pun yang menjalani kehidupan dengan sepantasnya berdasarkan harapan dan bayangan mereka mengenai Akhirat. Jadi, izinkan aku menyatakan bahwa semua yang kulihat sepenuhnya terkait pada keadaanku sendiri. Orang yang beriman, kendati hanya memiliki sekelumit pengetahuan tentang kehidupan setelah kematian akan mengetahui bahwa ketidakpuasan akibat kematianku membuatku tak terlalu peduli untuk melihat sungai-sungai di Surga.

Singkatnya, aku dikenal dengan nama Elegan Efendi. Aku telah mati, tapi arwahku belum sepenuhnya lepas karena jasadku belum dikubur. Situasi luar biasa ini, walaupun kasusku ini jelas bukan yang pertama, menyebabkan penderitaan yang teramat berat pada bagian dari diriku yang abadi. Aku memang sudah tidak bisa merasakan tengkorakku yang remuk atau jasadku yang separuh terbenam di air sedingin es dalam keadaan membusuk, dengan tubuh penuh luka dan tulang belulang hancur. Tetapi, aku bisa merasakan nestapa mendalam sukmaku yang sedang berjuang melepaskan diri dari jerat fananya. Seolah-olah seluruh dunia, bersama tubuhku, meremasnya menjadi sekepal derita.

Aku hanya bisa membandingkan hal ini dengan kelegaan yang secara mengejutkan kurasakan ketika maut menjemputku. Ya, aku tahu bahwa si jahanam itu berniat membunuhku ketika dia tiba-tiba menghantam kepalaku dengan batu hingga tengkorakku remuk, tapi aku tidak menyangka bahwa dia akan benar-benar menghabisiku. Seketika itu juga aku menyadari bahwa aku ternyata seorang optimistis, sesuatu yang tak pernah kusadari selama aku menjalani kehidupan di antara bayang-bayang bengkel kerja dan rumahku. Dengan sepenuh daya, aku memperjuangkan hidup menggunakan kuku, jemari, dan gigiku, yang kubenamkan dalam-dalam ke kulitnya. Tenang saja, aku tak akan membuatmu bosan dengan detail-detail menyakitkan tentang hantaman yang bertubi tubi kuterima.

Di tengah siksaan yang menderaku itu, aku menyadari bahwa aku akan mati. Tetapi, justru ketika itulah kelegaan melandaku. Kelegaan yang tetap terasa hingga momen kepergianku; kedatanganku di sisi ini begitu menenangkan, bagaikan bermimpi melihat diriku sendiri yang sedang tidur. Salju dan sepatu berlumuran lumpur yang dikenakan pembunuhku adalah hal terakhir yang kulihat. Aku memejamkan mata seperti hendak tidur, lalu dengan lembut melintas ke alam lain.

Keluhanku saat ini bukan perihal gigi-gigiku yang rontok bagaikan kacang di dalam mulutku yang penuh darah, atau bahkan wajahku yang hancur lebur hingga tidak bisa dikenali lagi, atau kenyataan bahwa aku ditinggalkan begitu saja di dasar sumur—melainkan bahwa semua orang menyangka aku masih hidup. Arwahku gundah gulana lantaran keluarga dan orang-orang terdekatku yang, tentu saja, kerap memikirkanku, membayangkan bahwa aku sedang melakukan kegiatan sepele di suatu tempat di Istanbul, atau bahkan sedang mengejar-ngejar perempuan lain. Cukup! Tolong segera temukan jasadku, lalu doakan dan kuburkanlah aku dengan layak. Dan yang lebih penting, temukan pembunuhku! Karena walaupun kalian telah membaringkanku di makam termewah, selama si jahanam itu masih berkeliaran, aku akan selalu resah di dalam kuburanku, menunggu dan menulari kalian semua dengan kesangsian. Jika kau telah menemukan bajingan terkutuk itu, aku baru akan bercerita tentang semua yang kulihat di Akhirat—tapi camkan ini, setelah dia tertangkap, siksalah dia pelan-pelan. Pelintirlah delapan atau sepuluh tulangnya, terutama tulang rusuknya, menggunakan tang, lalu lubangi tengkoraknya menggunakan tusuk daging yang dibuat khusus sebagai alat penyiksaan, lalu cabuti rambut berminyaknya yang menjijikkan itu satu per satu agar dia menjerit bersama setiap cabutan.

Siapakah pembunuh yang telah memantik dendamku ini? Mengapa dia menghabisiku dengan cara yang begitu mengejutkan? Aku tahu bahwa kau bertanya-tanya dan memikirkan hal ini. Katamu, dunia ini dipenuhi penjahat kelas teri? Mungkin pelakunya orang ini, atau orang itu? Jika demikian, biarkan aku memperingatkanmu: Kematianku ini menutupi persekongkolan memuakkan melawan agama kita, tradisi kita, dan cara kita memandang dunia. Bukalah matamu, dan ketahuilah mengapa para musuh kehidupan yang kau yakini, kehidupan yang kau jalani, dan musuh-musuh Islam, telah menghabisiku. Ketahuilah bahwa kelak mereka mungkin akan berbuat sama kepadamu. Satu per satu, semua yang telah diperkirakan oleh ulama besar Nusret Hoja dari Erzurum, yang ceramahnya kerap membuatku terharu, akan terwujud. Bahkan, jika situasi yang sedang kita hadapi saat ini dipaparkan di dalam buku, miniaturis paling kawakan sekalipun tak akan mau melukiskannya. Sebagaimana Al-Qur’an—semoga Allah mengampuniku jika aku ternyata salah paham—kekuatan dahsyat yang dimiliki buku semacam itu berasal dari kemustahilannya untuk digambarkan. Mungkin kau belum sepenuhnya memahami fakta ini.

Dengarkanlah aku. Ketika aku masih berguru, aku mengabaikan kebenaran yang terpendam dan kasak-kusuk yang kudengar karena aku juga ketakutan. Aku bahkan menjadikannya lelucon. Tetapi, aku malah berakhir di dasar sumur celaka ini! Waspadalah, ini juga bisa menimpamu. Sekarang, yang kumiliki hanyalah harapan agar jasadku sepenuhnya membusuk, supaya orang-orang bisa melacak bauku dan menemukanku. Aku hanya bisa berharap—dan membayangkan siksaan yang akan diberikan oleh orang-orang berhati mulia kepada si pembunuh biadab itu begitu dia tertangkap.[]

Spesifikasi

SKU  :  QN-141
ISBN  :  9786024413996
Berat  :  550 gram
Dimensi (P/L/T)  :  13 cm/ 21 cm/ 3 cm
Halaman  :  640
Tahun Terbit  :  2026
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Belum ada ulasan