Deskripsi
Once Upon an Eid adalah kumpulan cerita pendek yang menampilkan suara-suara Muslim paling cemerlang saat ini, semuanya tentang hari raya paling penuh sukacita dalam setahun: Idulfitri!
Eid: kata pendek satu suku kata ini membangkitkan beragam perasaan dan kenangan bagi umat Muslim. Mungkin itu suara samosa yang digoreng saat pagi hari atau kenyamanan pai kacang, mungkin juga kesenangan mengenakan pakaian baru untuk salat Id, atau pemberian hadiah dan pesta hari raya yang akan berlangsung pada hari itu. Apa pun bentuknya, bagi mereka yang memaknai hari perayaan ini, respons emosionalnya dapat dirangkum dalam satu kata pendek dan manis lainnya: kebahagiaan. Antologi ini juga akan menyertakan sebuah puisi, satu bab novel grafis, dan ilustrasi-ilustrasi kecil.
Daftar lengkap kontributor Once Upon an Eid mencakup:
G. Willow Wilson (Alif the Unseen, Ms. Marvel), Hena Khan (Amina's Voice, Under My Hijab), N. H. Senzai (Shooting Kabul, Escape from Aleppo), Hanna Alkaf (The Weight of Our Sky), Rukhsana Khan (Big Red Lollipop), Randa Abdel-Fattah (Does My Head Look Big in This?), Ashley Franklin (Not Quite Snow White), Jamilah Thompkins-Bigelow (Mommy's Khimar), Candice Montgomery (Home and Away, By Any Means Necessary), Huda Al-Marashi (First Comes Marriage), Ayesha Mattu, Asmaa Hussein, dan Sara Alfageeh.
Spesifikasi
| SKU | : | QN-162 |
| ISBN | : | 9786235866604 |
| Berat | : | 300 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 14 cm/ 21 cm/ 2 cm |
| Halaman | : | 292 |
| Tahun Terbit | : | 2026 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Padahal rangkaian acara kami sama saja, solat, makan, menggunakan baju terbaik, berbagi dan berkumpul. Tapi.., setelah membaca satu per satu cerita mereka, yang mencuat dalam hatiku justru rasa iri.
Penulis nggak menampilkan keberagaman tradisi dan budaya aja, tapi, konflik dan pergolakan batin sebelum hari H. Dari yang bermasalah dengan saudaranya, pembagian tugas dan piket, cara memanfaatkan hadiah dengan bijak sampai mempertahankan nilai-nilai dari hari raya, agar tetap menciptakan rasa bahagia.
Menariknya, pemeran utama cerita ini didominasi oleh anak-anak. Jadi, cara mereka yang sederhana dan penuh drama membuat pesan yang disampaikan lebih mudah untuk dicerna. Pembawaan mereka yang lucu, asbun dan spontan membuat cerita jadi berwarna.
Aku yang sudah dewasa pun ikut tersentuh dan belajar kembali makna merayakan yang kini terasa seperti rutinitas tahunan.
Selain membahas tentang hari raya. Penulis juga menyisipkan makna tentang hijab, muallaf, keberagaman dalam islam... Lihat selengkapnya


