Buku The Ocean Would… - Zoulfa Katouh | Mizanstore.com
Rp 135,150
15% Rp 159,000

Deskripsi

Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh tidak bisa lagi melihat warna. 

Dunia yang dulu penuh warna kini berubah menjadi abu-abu. Demi membantunya bangkit, sang ayah mengirim Jihad ke Braxton Academy dengan harapan dia bisa memulai hidup yang baru.

Namun, di sana Jihad kembali dihadapkan pada kenyataan yang sudah terlalu akrab baginya: nama dan keyakinannya membuat orang-orang merundungnya. Karena itu, dia tidak mengerti mengapa Jamie terus berada di sisinya, sementara orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru berbalik pergi.

Ketika mural yang Jihad gambar di buku sketsa peninggalan ibunya secara ajaib muncul di dinding-dinding New York, dia menggunakan cara itu untuk menyuarakan semua yang selama ini dipendam. Namun, suaranya itu justru membawanya pada masalah yang baru. Akankah perjuangan Jihad berhasil mengembalikan warna pada dunianya?

 

Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh tidak bisa lagi melihat warna. 

Dunia yang dulu penuh warna kini berubah menjadi abu-abu. Demi membantunya bangkit, sang ayah mengirim Jihad ke Braxton Academy dengan harapan dia bisa memulai hidup yang baru.

Namun, di sana Jihad kembali dihadapkan pada kenyataan yang sudah terlalu akrab baginya: nama dan keyakinannya membuat orang-orang merundungnya. Karena itu, dia tidak mengerti mengapa Jamie terus berada di sisinya, sementara orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru berbalik pergi.

Ketika mural yang Jihad gambar di buku sketsa peninggalan ibunya secara ajaib muncul di dinding-dinding New York, dia menggunakan cara itu untuk menyuarakan semua yang selama ini dipendam. Namun, suaranya itu justru membawanya pada masalah yang baru. Akankah perjuangan Jihad berhasil mengembalikan warna pada dunianya?

 

Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh tidak bisa lagi melihat warna. 

Dunia yang dulu penuh warna kini berubah menjadi abu-abu. Demi membantunya bangkit, sang ayah mengirim Jihad ke Braxton Academy dengan harapan dia bisa memulai hidup yang baru.

Namun, di sana Jihad kembali dihadapkan pada kenyataan yang sudah terlalu akrab baginya: nama dan keyakinannya membuat orang-orang merundungnya. Karena itu, dia tidak mengerti mengapa Jamie terus berada di sisinya, sementara orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru berbalik pergi.

Ketika mural yang Jihad gambar di buku sketsa peninggalan ibunya secara ajaib muncul di dinding-dinding New York, dia menggunakan cara itu untuk menyuarakan semua yang selama ini dipendam. Namun, suaranya itu justru membawanya pada masalah yang baru. Akankah perjuangan Jihad berhasil mengembalikan warna pada dunianya?

 

Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh tidak bisa lagi melihat warna. 

Dunia yang dulu penuh warna kini berubah menjadi abu-abu. Demi membantunya bangkit, sang ayah mengirim Jihad ke Braxton Academy dengan harapan dia bisa memulai hidup yang baru.

Namun, di sana Jihad kembali dihadapkan pada kenyataan yang sudah terlalu akrab baginya: nama dan keyakinannya membuat orang-orang merundungnya. Karena itu, dia tidak mengerti mengapa Jamie terus berada di sisinya, sementara orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru berbalik pergi.

Ketika mural yang Jihad gambar di buku sketsa peninggalan ibunya secara ajaib muncul di dinding-dinding New York, dia menggunakan cara itu untuk menyuarakan semua yang selama ini dipendam. Namun, suaranya itu justru membawanya pada masalah yang baru. Akankah perjuangan Jihad berhasil mengembalikan warna pada dunianya?

 

Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh tidak bisa lagi melihat warna. 

Dunia yang dulu penuh warna kini berubah menjadi abu-abu. Demi membantunya bangkit, sang ayah mengirim Jihad ke Braxton Academy dengan harapan dia bisa memulai hidup yang baru.

Namun, di sana Jihad kembali dihadapkan pada kenyataan yang sudah terlalu akrab baginya: nama dan keyakinannya membuat orang-orang merundungnya. Karena itu, dia tidak mengerti mengapa Jamie terus berada di sisinya, sementara orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru berbalik pergi.

Ketika mural yang Jihad gambar di buku sketsa peninggalan ibunya secara ajaib muncul di dinding-dinding New York, dia menggunakan cara itu untuk menyuarakan semua yang selama ini dipendam. Namun, suaranya itu justru membawanya pada masalah yang baru. Akankah perjuangan Jihad berhasil mengembalikan warna pada dunianya?

 

Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh tidak bisa lagi melihat warna. 

Dunia yang dulu penuh warna kini berubah menjadi abu-abu. Demi membantunya bangkit, sang ayah mengirim Jihad ke Braxton Academy dengan harapan dia bisa memulai hidup yang baru.

Namun, di sana Jihad kembali dihadapkan pada kenyataan yang sudah terlalu akrab baginya: nama dan keyakinannya membuat orang-orang merundungnya. Karena itu, dia tidak mengerti mengapa Jamie terus berada di sisinya, sementara orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru berbalik pergi.

Ketika mural yang Jihad gambar di buku sketsa peninggalan ibunya secara ajaib muncul di dinding-dinding New York, dia menggunakan cara itu untuk menyuarakan semua yang selama ini dipendam. Namun, suaranya itu justru membawanya pada masalah yang baru. Akankah perjuangan Jihad berhasil mengembalikan warna pada dunianya?

 

Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh tidak bisa lagi melihat warna. 

Dunia yang dulu penuh warna kini berubah menjadi abu-abu. Demi membantunya bangkit, sang ayah mengirim Jihad ke Braxton Academy dengan harapan dia bisa memulai hidup yang baru.

Namun, di sana Jihad kembali dihadapkan pada kenyataan yang sudah terlalu akrab baginya: nama dan keyakinannya membuat orang-orang merundungnya. Karena itu, dia tidak mengerti mengapa Jamie terus berada di sisinya, sementara orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru berbalik pergi.

Ketika mural yang Jihad gambar di buku sketsa peninggalan ibunya secara ajaib muncul di dinding-dinding New York, dia menggunakan cara itu untuk menyuarakan semua yang selama ini dipendam. Namun, suaranya itu justru membawanya pada masalah yang baru. Akankah perjuangan Jihad berhasil mengembalikan warna pada dunianya?

 

Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh tidak bisa lagi melihat warna. 

Dunia yang dulu penuh warna kini berubah menjadi abu-abu. Demi membantunya bangkit, sang ayah mengirim Jihad ke Braxton Academy dengan harapan dia bisa memulai hidup yang baru.

Namun, di sana Jihad kembali dihadapkan pada kenyataan yang sudah terlalu akrab baginya: nama dan keyakinannya membuat orang-orang merundungnya. Karena itu, dia tidak mengerti mengapa Jamie terus berada di sisinya, sementara orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru berbalik pergi.

Ketika mural yang Jihad gambar di buku sketsa peninggalan ibunya secara ajaib muncul di dinding-dinding New York, dia menggunakan cara itu untuk menyuarakan semua yang selama ini dipendam. Namun, suaranya itu justru membawanya pada masalah yang baru. Akankah perjuangan Jihad berhasil mengembalikan warna pada dunianya?

 

Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh tidak bisa lagi melihat warna. 

Dunia yang dulu penuh warna kini berubah menjadi abu-abu. Demi membantunya bangkit, sang ayah mengirim Jihad ke Braxton Academy dengan harapan dia bisa memulai hidup yang baru.

Namun, di sana Jihad kembali dihadapkan pada kenyataan yang sudah terlalu akrab baginya: nama dan keyakinannya membuat orang-orang merundungnya. Karena itu, dia tidak mengerti mengapa Jamie terus berada di sisinya, sementara orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru berbalik pergi.

Ketika mural yang Jihad gambar di buku sketsa peninggalan ibunya secara ajaib muncul di dinding-dinding New York, dia menggunakan cara itu untuk menyuarakan semua yang selama ini dipendam. Namun, suaranya itu justru membawanya pada masalah yang baru. Akankah perjuangan Jihad berhasil mengembalikan warna pada dunianya?

 

Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh tidak bisa lagi melihat warna. 

Dunia yang dulu penuh warna kini berubah menjadi abu-abu. Demi membantunya bangkit, sang ayah mengirim Jihad ke Braxton Academy dengan harapan dia bisa memulai hidup yang baru.

Namun, di sana Jihad kembali dihadapkan pada kenyataan yang sudah terlalu akrab baginya: nama dan keyakinannya membuat orang-orang merundungnya. Karena itu, dia tidak mengerti mengapa Jamie terus berada di sisinya, sementara orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru berbalik pergi.

Ketika mural yang Jihad gambar di buku sketsa peninggalan ibunya secara ajaib muncul di dinding-dinding New York, dia menggunakan cara itu untuk menyuarakan semua yang selama ini dipendam. Namun, suaranya itu justru membawanya pada masalah yang baru. Akankah perjuangan Jihad berhasil mengembalikan warna pada dunianya?

Spesifikasi

SKU  :  QN-171
ISBN  :  9786024414146
Berat  :  490 gram
Dimensi (P/L/T)  :  13 cm/ 21 cm/ 2 cm
Halaman  :  488
Tahun Terbit  :  2026
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Ca Ca
Ca Ca 24-09-2026 23:09
Judul : The Ocean Would Paint Me Blue
Penulis : Zoulfa Katouh
Penerbit : Mizan
Jumlah Halaman : 484

Overview :
Buku ini page turner buat aku. Bahasanya ringan dan bikin mengalir aja bacanya. Topik yang diangkat ada 2. Islamophobia dan Bullying.

Islamophobia digambarkan sebagai isu yg erat banget sama keluarga Jihad. Kebahagiaan kabar ibunya sembuh dari kanker hanya sementara. Karna tak lama, ibu Jihad meninggal setelah ditembak org yg benci sama Islam.

Sepeninggal ibunya, Jihad masih belum bisa sepenuhnya berdamai sama trauma. Eh, Jihad malah harus pindah ke sekolah baru. Ditambah lagi sang kakak, Amal harus pindah dari New York ke Qatar. Jihad merasa gapunya siapa siapa.

Perjalanan Jihad di sekolah barunya, Braxton Academy pun sangat terjal. Jihad menjadi korban bullying yg tidak bisa berbuat apa2 selain bertahan. Namun, di setiap perjuangan jihad, ada kehadiran Jamie dan Audrey yang selalu berusaha membantu.
????????????????????????????????????
The Main Character

Jihad Dabbagh. Seorang muslimah berdarah Suriah-Amerika yang menetap New York.
Jihad digambarkan sbg sosok...
Lihat selengkapnya
▶
alifa amila
alifa amila 24-09-2026 10:58
dari aku buat buku ini 4.5/5 satu kata buat buku ini: indah banget! the ocean would paint me blue karya zoulfa katouh ini bener-bener seajaib itu, gak cuma sampulnya aja yang estetik tapi isinya juga luar biasa menyentuh. apalagi terjemahannya enak dan nyaman banget buat dipahami. ini jadi buku kedua karya zoulfa katouh yang gak pernah bikin kecewa, setelah sebelumnya dibuat jatuh cinta sama karya pertamanya, as long as the lemon trees grow.

ceritanya ngikutin perjalanan jihad, cewek keturunan suriah di new york yang dunianya mendadak kehilangan warna sejak ibunya meninggal. buat bantu dia bangkit dari rasa duka, keluarganya memindahkan jihad ke sekolah baru. tapi di sana dia malah harus ngadepin perundungan dan hidup sebagai minoritas berhijab yang sering disalahpahami. kisah di balik meninggalnya sang ibu jujur sedih banget pas dibaca. kadang emang kerasa gemes kenapa jihad gak ngelawan pas dibully, tapi pas liat dari sudut pandangnya, semua alasannya tuh kerasa...
Lihat selengkapnya