Buku AM I THERE… - Mari Andrew | Mizanstore
  • AM I THERE YET?
Ketersediaan : Tersedia

AM I THERE YET?

Deskripsi Singkat

Dalam perjalanan menuju kedewasaan, Mari Andrew—seorang ilustrator yang berbasis di New York, dengan lebih dari 840.000 followers di Instagram—melihat sekitar dan beberapa teman sebaya yang tampaknya sudah menemukan tujuan hidup mereka. Dia lalu bertanya kepada dirinya sendiri: Akankah kutemukan tujuan hidupku di kelas kuliah S-2? Di kantor? Di kota lain?… Baca Selengkapnya...

Rp 89.000 Rp 75.650
-
+

Dalam perjalanan menuju kedewasaan, Mari Andrew—seorang ilustrator yang berbasis di New York, dengan lebih dari 840.000 followers di Instagram—melihat sekitar dan beberapa teman sebaya yang tampaknya sudah menemukan tujuan hidup mereka. Dia lalu bertanya kepada dirinya sendiri: Akankah kutemukan tujuan hidupku di kelas kuliah S-2? Di kantor? Di kota lain?

Sepanjang usia kepala dua, Mari selalu cemas tentang menemukan tujuan hidup, seolah-olah semua itu terkubur dalam sebuah peti harta karun, lengkap dengan peta untuk menemukannya. Namun, bagaimana jika tidak ada peta untuk memandu ke arah yang dituju?

Buku ini adalah catatan rute perjalanannya menuju dunia orang dewasa. Perjalanan ini akan dipenuhi berbagai pemandangan dan ilustrasi yang terinspirasi oleh cinta, persahabatan, rumah, karier, sakit hati, dan penemuan diri. Rute ini enggak langsung mengantarkanmu ke titik akhir, kamu justru diajak melompat ke sana kemari di atas peta kehidupan Mari. Tak hanya sekali kamu bakal bilang, “Eh, gue juga kayak gitu!” tetapi juga tanpa sadar buku ini akan membantumu menyingkap satu jalan setapak misterius di depan. Jalan yang tidak lagi terasa menakutkan.

 

Tentang Mari Andrew

Mari Andrew

Ilustrator berbasis di New York,  Mari Andrew (Instagram @bymariandrew) mulai hobi coret-coretnya saat dia bekerja di toko roti—dia menggambar pada label di etalase—tetapi baru benar-benar menyadari bakatnya, ketika ada yang berkata bahwa gambarnya membuat hari orang lain lebih cerah. Dia sadar bahwa hobi corat-coret ini bisa dia gunakan untuk terhubung dengan orang lain, yang mungkin turut merasa yang sama.

Mari Andrew menuliskan kisah/celetukan/kutipan tentang kehidupan 20 tahunannya dalam bentuk goresan gambar yang atraktif. Tentang patah hati, jatuh cinta, kebingungan, karier, petualangan, dan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu di pikirannya.
 




Keunggulan Buku

Dalam perjalanan menuju kedewasaan, kamu bisa meminjam buku “Panduan Menjadi Orang Dewasa” milik orang tuamu, dan mencapai titik-titik yang sama dalam peta yang dipakai mereka dulu. Mungkin peta itu, yang berhasil mengantarkan orang tuamu pada kehidupan mereka sekarang, menjadi satu-satunya yang kamu tahu. Peta yang sudah kusut karena berkali-kali dipakai itu bisa saja menunjukkan rute untuk kamu ikuti dan melakukan pencapaian pada usia-usia tertentu. Peta dalam buku panduan itu adalah jalan mulus beraspal yang aman.

Akan tetapi, bagaimana kalau enggak ada seorang pun yang memberimu peta? Atau, bagaimana kalau rute ideal yang ditunjukkan di peta ternyata enggak berlaku buatmu? Bagaimanapun, hidupmu belum tentu sama dengan kehidupan orang tuamu.

Kamu punya pilihan menciptakan jalanmu sendiri. Jalan itu mungkin mengharuskanmu menerobos kawat pembatas pabrik-pabrik di kawasan industri, mendobrak pagar tetangga, menggali tanah berumput hijau di taman perumahan, bahkan mendaki gunung paling berbahaya di dunia. Jalan itu mungkin berliku, terjal, dan berbatu—sehingga kamu harus mengubah rute. Perjalanan itu bisa jadi sangat panjang dan kamu tertinggal jauh dibanding teman-temanmu. “Ini benar enggak, sih, harus lewat sini?” tanyamu, sementara teman-teman lain sudah sampai di pantai dan sedang duduk santai menyaksikan matahari terbenam. Jalan itu mungkin menarik (setidaknya Ayah-Ibumu akan berkata demikian), tapi ada banyak belokan berbahaya serta sudut-sudut menakutkan dan enggak terlalu bagus untuk difoto.

Ketika beranjak dewasa, berkali-kali saya harus berbelok, bermanuver zig-zag, berhenti, dan putar balik dalam perjalanan. Kalau setiap langkah saya ditarik garis di atas peta, gambar yang muncul adalah semacam benang kusut. Berkali-kali saya mempertanyakan, apakah jalan ini mengantarkan saya melewati hutan lebat dan gelap menuju jalan yang benar—atau malah enggak ke mana-mana?

Kalau diingat-ingat lagi, ternyata jelas bahwa setiap belokan, zig-zag, pemberhentian, dan setiap putaran itu tidak membuat saya tersesat; mereka mendorong saya maju. Saya jalan terus. Jalan yang penuh liku itu mulai terasa lebih baik, lancar, dan lurus sejak saya menjadi ilustrator pada usia 28. Saya memang selalu suka membuat coretan dan dekorasi huruf di bagian tepi buku catatan. Itu selalu membuat saya bahagia. Tapi, pada akhir usia 20, saya mulai serius memaknai “kebahagiaan”. Ayah saya meninggal dunia dan saya putus hubungan dengan pacar saya. Keduanya terjadi pada waktu bersamaan. Saya kemudian sadar bahwa kebahagiaan saya kini bergantung diri saya sendiri, dan itu dimulai dari rutinitas sehari-hari. Saya pun mulai “menggambar” kebahagiaan di kalender saya. Saya menggambar satu ilustrasi setiap hari, selama satu tahun. Saya beli beberapa peralatan menggambar yang harganya enggak mahal, lalu membuat akun baru di Instagram. Saya mulai mengunggah hasil gambar yang menceritakan hari-hari saya: kencan online, pekerjaan baru, patah hati, nongkrong bareng sahabat-sahabat. Setelah beberapa bulan bercerita tentang hari-hari saya melalui goresan pena dan cat air, banyak orang mulai mengikuti ilustrasi harian saya di Instagram. Mereka bahkan meninggalkan komentar “Gue banget”, yang menyadarkan saya bahwa ternyata kita enggak pernah sendirian.

Tiba-tiba saja, jalan berliku dan berbatu menuju kedewasaan yang saya lalui berubah menjadi peta yang masuk akal. Jalan itu dimulai di Chicago, ketika saya masuk perguruan tinggi dan mengalami kecemasan soal jalur karier yang sempurna. Pada pertengahan 20, saya pindah ke Washington DC, lalu menemukan pekerjaan yang—setidaknya—saya suka, serta banyak episode salah belok dan jalan buntu dalam hal kisah cinta. Selama bertahun-tahun kemudian, saya berkeliling dunia: ke Berlin, Lisbon, Rio de Janiero, lalu Granada. Selama pengembaraan itu saya memetik banyak pelajaran yang terus-menerus mendorong saya ke arah-arah mengejutkan. Saya gambar semua pelajaran, kebingungan, dan petualangan. Saya bertemu orang-orang berbeda dari seluruh dunia, mereka ternyata berada di jalan yang sama berlikunya dengan saya.

Buku ini adalah catatan rute perjalanan saya menuju dunia orang dewasa. Perjalanan ini akan dipenuhi berbagai pemandangan dan ilustrasi yang terinspirasi oleh cinta, persahabatan, rumah, karier, sakit hati, dan penemuan diri. Rute ini enggak langsung mengantarkan kamu dari titik A ke titik B, kamu justru diajak melompat ke sana kemari di atas peta kehidupan saya. Dengan membagi rute personal ini, saya berharap bisa berbagi juga hal-hal yang pernah saya dapatkan di setiap fase tumbuh dewasa.

Ini bukanlah buku panduan yang akan membantumu mendapatkan pekerjaan atau membuatmu bisa melipat rapi seprai dengan pinggiran berkaret (yang ternyata tetap saja susah). Ini adalah scrapbook tentang perjalanan saya—sejauh ini—menuju hidup dewasa. Saya berharap buku ini bisa menenangkan dan meyakinkanmu bahwa kamu enggak sedang tersesat di perjalanan kehidupanmu. Sejalan saya memasuki usia dua puluhan, kisah-kisah orang lain adalah lampu bagi saya. Setiap perasaan yang saya dapatkan ketika mendengar kisah mereka dan bilang, “Eh, gue juga kayak gitu!” telah membantu menyingkap satu jalan setapak misterius di depan saya. Jalan itu pun tidak lagi terasa menakutkan.

Teman dan kekasihmu mungkin akan datang dan pergi selama hidup. Ada saatnya kamu ditinggalkan, tetapi dirimu akan terus bersamamu. Maka, sebagai orang yang memiliki kedewasaan, kamu harus menjadi orang yang benar-benar kamu inginkan sepanjang hidupmu.

Kamu sudah pernah patah hati. Lalu, kamu patah hati lagi. Memang ia selalu terjadi dalam hidup. Namun, jangan sampai ia membuatmu takut memulai lagi, mengirim pesan kepada orang yang kamu sukai, menyatakan cinta duluan, mencoba lagi, dan melepaskan orang itu pergi jika dia memang harus pergi.

Kebanyakan orang, termasuk saya, sering kali tak tahu apa yang harus dilakukan saat orang lain dilanda krisis. Mendiskusikan masalah yang membuat kawan kita susah memang membingungkan dan kadang berisiko. Apalagi jika masalahnya berat, tak biasa, dan mengubah hidup kawan kita. Benakmu dipenuhi dengan, “Aku enggak tahu harus bilang apa”, kamu pun enggak tahu harus berbuat apa, jadi kamu diam saja. Itu wajar.

Tahun ini, saya baru mengerti betapa menyenangkannya ketika ada seseorang yang “nekat” mendekati saya pada masa-masa sulit. Saya bertemu seorang cewek bernama Rachel di sebuah pesta. Kami ngobrol singkat, bilang “Senang bertemu denganmu”, dan bercanda ringan. Sudah, itu saja. Sebulan kemudian, ketika dia mendengar dari teman saya bahwa apartemen saya kebakaran, dia mengirimkan bunga dan brownies bikinannya sendiri. Kirimannya ini begitu berarti buat saya. Mungkin awalnya dia ragu, aneh nggak ya, kan, kita baru kenal, tapi akhirnya dia tetap mengirimkannya. Saya enggak akan pernah melupakan Rachel dan kirimannya itu. Dia telah menginspirasi saya untuk menjadi teman yang lebih baik.

Pada suatu senja yang hangat di Lisbon, saat saya sedang patah hati, saya berjalan kaki sambil melihat-lihat. Saya merasa sangat kesepian dan iri pada jiwa-jiwa bebas dan indah yang ada di sekeliling saya. Mereka bermain gitar, melukis, menari salsa, dan merajut dengan benang berwarna neon. Saya merasa tak memiliki apa pun untuk menambah keindahan pemandangan itu, saya hanya bisa duduk dan menulisi buku harian ditemani sebotol air mineral. Rasanya pemandangan di depan saya itu adalah dunia lain.

Kemudian, saya menyadari bahwa saya bisa membangun jembatan ke dunia lain itu. Saya bisa menjadi seseorang yang bermain gitar di taman. Selanjutnya, saya mendaftar kursus gitar dan menghadiri kelas sebanyak mungkin agar saya bisa memulai petualangan bergitar secepat mungkin. Intinya, saya mulai membangun diri saya yang dewasa.

Saya memutuskan untuk menjadi pelukis cat air yang menggoreskan kuasnya untuk bersenang-senang karena bagi saya aktivitas itu menenangkan dan menenteramkan. Oleh karena itu, saya mulai menggambar ilustrasi harian dan mewarnainya dengan cat air murah, sisa “bekal” saya saat bekerja sambilan sebagai pengasuh anak. Saya menjadi seniman hanya dengan membuat karya seni.

Bagian terbaik dari patah hati, penolakan, dan kehilangan—atau tantangan apa pun—adalah dorongan untuk berhenti berharap kamu akan bahagia suatu hari nanti, alih-alih kamu menciptakan sendiri kebahagiaanmu, sekarang juga. Menjadi dewasa adalah proses, perubahan yang terus berjalan hingga kamu menjadi seseorang yang selalu kamu impikan.

Teruslah menggali pengalaman, hadapkan dirimu pada tantangan, dan jangan lupa bersenang-senang!

Saya menulis buku ini dengan harapan bahwa perasaan “gue juga” yang muncul saat kamu membacanya, dapat sedikit menerangi jalan setapak gelap yang menunggumu di depan sana.

 

Resensi

“Mari memiliki kemampuan mengilustrasikan hal-hal yang kita pikirkan diam-diam.” —Cup of Jo
“Ilustrasinya menggambarkan kebenaran tentang kencan, self-care, karier, kegundahan, dan semua pikiran rahasia menuju kedewasaaan.” — Elle.com 
“Bacaan yang menyenangkan, lucu, dan terasa dekat.” —Hello Giggles
“Di tengah membanjirnya buku-buku self-help, debut Andrew ini menonjol karena ketulusannya.”
—Publishers Weekly
“Dengan mengilustrasikan esai pemikiran, Mari Andrew menginspirasi para pembaca untuk mengambil jalan yang jarang dilalui dalam kehidupan.” —CNN.com

 

Beri ulasan produk ini

Spesifikasi Produk

SKU BI-091
ISBN 978-602-430-289-4
Berat 240 Gram
Dimensi (P/L/T) 16 Cm / 24 Cm/ 0 Cm
Halaman 200
Jenis Cover Soft Cover
DILAN DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990-NEW
15%
DILAN DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990-NEW

Belum Ada Ulasan

Rp. 69.000 Rp. 58.650
Beli
Pidi Baiq
The Magical Balls
83%
The Magical Balls

Belum Ada Ulasan

Rp. 29.000 Rp. 5.000
Beli
KALISHA, DKK
NEVER FADE, TAKKAN PERNAH PUDAR
15%
NEVER FADE, TAKKAN PERNAH PUDAR

Belum Ada Ulasan

Rp. 98.500 Rp. 83.725
Beli
Alexandra Bracken
BAD ROMANCE
15%