Buku DIET MINIMALIS - Dr. Yoshinor… | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

DIET MINIMALIS

    Deskripsi Singkat

    -Trik Sehat Mengurangi Kalori -Pola Makan Satu Lauk, Satu Sayur -Memanfaatkan Gen Vitalitas untuk Hidup Sehat dan Cantik -Mengatasi Gangguan Metabolisme -Memicu dan Mengoptimalkan Hormon: Pelangsing, Pembakar Lemak, dan Peremajaan -Terapi Ultraviolet Tahukah Anda? -Perut lapar baik untuk kesehatan. -Bunyi perut lapar akan mengaktifkan sel-sel dalam tubuh. -Tidur setelah makan… Baca Selengkapnya...

    Rp 75.000 Rp 63.750
    -
    +

    -Trik Sehat Mengurangi Kalori
    -Pola Makan Satu Lauk, Satu Sayur
    -Memanfaatkan Gen Vitalitas untuk Hidup Sehat dan Cantik
    -Mengatasi Gangguan Metabolisme
    -Memicu dan Mengoptimalkan Hormon: Pelangsing, Pembakar Lemak, dan Peremajaan
    -Terapi Ultraviolet

    Tahukah Anda?
    -Perut lapar baik untuk kesehatan.
    -Bunyi perut lapar akan mengaktifkan sel-sel dalam tubuh.
    -Tidur setelah makan adalah waktu emas.
    -Menghitung kalori yang masuk tubuh adalah sia-sia.
    -Otak bekerja optimal saat lapar.
    -Gula berdampak lebih buruk daripada rokok.

    Dalam buku praktis yang sudah terjual lebih dari 500.000 eksemplar di Jepang ini, Dr. Yoshinori Nagumo—Onkolog & Spesisalis Bedah Kecantikan—menepis mitos dan menguak rahasia:
    -Makan sekali-sehari tidak menyebabkan kekurangan gizi.
    -Makan berlebih justru awal dari penyakit.
    -Minum air pun tetap jadi gemuk.
    -Metabolik yang dapat memperpendek usia.
    -Makanan sehat adalah makanan “utuh”.
    -Menghindari ngantuk setelah makan siang.
    -Memperkuat tulang tanpa mengonsumsi kalsium.
    -Trik menghilangkan bau badan.
    -Membentuk tubuh dan memiliki otot yang kuat hanya dengan tidur, tanpa ke gym.

    Tentang Dr. Yoshinor Nagumo

    Dr. Yoshinor Nagumo

    Yoshinori Nagumo—Direktur Umum Klinik Nagumo yang fokus melayani kesehatan payudara, dosen di Jikei Medical University dan Kinki University, serta dosen tamu di Dong-A University, Korea Selatan, dan Dalian Medical University di Cina—memegang prinsip, “memelihara kecantikan, kesehatan, dan fungsi payudara sangat penting bagi wanita seumur hidup”. Untuk itu, Yoshinori melakukan operasi kanker di empat rumah sakit di Tokyo, Nagoya, Osaka, dan Fukuoka. Ketua Kehormatan Asosiasi Antiaging Internasional ini sering menjadi pembicara di berbagai seminar yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Kanker Payudara Jepang, Ikatan Ahli Bedah Plastik dan Rekonstruksi Jepang, serta Ikatan Ahli Bedah Kecantikan Plastik Jepang, selain secara rutin muncul sebagai komentator di acara TV dan menulis sejumlah buku tentang awet muda.




    Keunggulan Buku

    Isi buku memberikan tips n triks praktis untuk berdiet minimalis: Diet Minimal dengan Hasil Maksimal untuk Tubuh Ideal tidak ribet, tidak repot, mudah dilakukan sehari-hari, yakni dengan makan sekali-sehari

    Isi Buku
    Prolog: Gen yang Bekerja ketika Perut Lapar 
    1 – Mengapa Lapar Baik untuk Kesehatan? 
    2 – Pola Makan Sekali Sehari 
    3 – Makan Sekali-Sehari yang Mengubah Tubuh
    4 –  Makan Sekali-Sehari sebagai Kebiasaan 
    5 – Hiduplah dengan Mengikuti Suara Hati yang Paling Dalam
    Epilog: Pancaran Kesehatan dari Dalam Diri

    Menyingkap dan memaparkan:
    - Bagaimana Memaksimalkan Gen-Gen Vitalitas yang Merupakan Kunci Keberhasilan Manusia dalam Hidup
    - Gen vitalitas hanya aktif saat keadaan lapar.
    - Tubuh Manusia Modern yang Tidak Mengenal Rasa Kenyang
    - Pola Makan dan Diabetes
    - Makan Sekali dalam Sehari, Cara Luar Biasa untuk Sehat 
    - Memakan Makanan Seutuhnya
    - Baik buruknya garam, gula, minyak
    - Makan berlebihan adalah awal penyakit

    Memberikan tips n tricks:
    - Cara Mudah Mengurangi Porsi Makan
    - Makan Sekali-Sehari Tanpa Terpaksa
    - Waktu Terbaik Makan
    - Makan Sekali-Sehari yang Tidak Membuat Kekurangan Gizi
    - Empat Langkah Mengatasi Gangguan Metabolisme
    - Tulang Kuat dengan Berjalan Kaki
    - Pola Makan Sekali-Sehari 
    - “Waktu Emas” bagi Peremajaan Sel 
    -  Hanya 3 Menit, Sama dengan Berjalan 10.000 Langkah 
    - Suhu Tubuh dan Kekebalan Tubuh
    - Gaya Hidup yang Menjadikan Anda Luar Biasa
    - Sehat hingga Akhir Hayat 

    PROLOG
    Gen yang Bekerja ketika Perut Lapar
    Dewasa ini, semakin jelas bahwa keadaan perut kosong—alias lapar—memiliki peran yang penting bagi tubuh. Bagaimana mungkin lapar justru baik bagi tubuh? Bukankah perut yang kosong terlalu lama dapat berakibat buruk? Kebanyakan orang memang berpikir demikian. Namun, sebagai seorang dokter, saya memiliki pandangan tersendiri berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya. Saya pun tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut secara tepat. Tetapi, gagasan bahwa tubuh yang sehat adalah tubuh yang mendapatkan pasokan gizi terus-menerus merupakan pemikiran kuno. Percayakah Anda jika saya mengatakan bahwa ketika perut berbunyi karena lapar, sel-sel baru justru akan tumbuh sehingga dapat meremajakan tubuh?
    Sejak dekade lalu ketika masih berumur 45 tahun, saya sudah menerapkan pola makan “sekali sehari”. Pada usia 30-an tahun, saya sempat mengalami trauma pada kematian. Pada waktu itu, saya masih melakukan penelitian tentang kanker payudara di perguruan tinggi, sementara Ayah masih berpraktik sebagai dokter. Semua berjalan dengan lancar sebelum ayah saya terserang penyakit jantung koroner pada usia 62 tahun. Ketika itu, saya berusia 35 tahun. Meskipun Ayah tidak sampai meninggal dunia, saya tidak dapat lagi melanjutkan kuliah sejak saat itu. Saya menghentikan penelitian di kampus dan kembali ke rumah untuk mengurus rumah sakit yang sebelumnya dikelola oleh Ayah.
    Kehidupan saya seketika menjadi berbeda dengan ketika saya masih melakukan penelitian. Di klinik, saya sempat merasa stres karena harus berhubungan secara langsung dengan puluhan pasien dan menanggapi keluhan mereka setiap hari. Akibat stres tersebut, pola makan saya menjadi tidak teratur. Saya mulai lebih sering makan dan minum. Berat badan saya naik sebanyak 15 kilogram hingga mencapai 77 kilogram. Kenaikan berat badan sebesar itu saya capai dengan banyak makan makanan bergizi.
    Setelah itu, mulai muncul gejala yang meresahkan. Sebelumnya, saya memang sudah menderita sembelit yang cukup parah. Saat mengejan ketika buang air besar, saya sering mengalami aritmia*. Sembelit memang berkaitan dengan aritmia. Ketika sembelit, aliran darah ke kepala akan meningkat. Kemudian, otak menerima sinyal untuk menurunkan aliran darah ke jantung agar kembali seimbang. Mekanisme ini disebut refleks valsalva**. Oleh karena itulah, mengejan sering membuat detak jantung menjadi tidak beraturan. Terkadang, gejala tersebut dapat berlangsung sepanjang hari.
    Aritmia akan mengakibatkan sesak napas sehingga tekanan darah menurun. Terkadang, penderitanya dapat merasa pusing bahkan jatuh pingsan di dalam toilet. Akan tetapi, dampak yang lebih parah—yaitu gagal jantung atau penyakit jantung koroner—dapat terjadi jika pembuluh darah di jantung tersumbat. Peristiwa yang sama dapat mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah di otak atau paru-paru. Ketiganya dapat mengakibatkan kematian mendadak ketika kita sedang berada di dalam toilet. Hal itu membuat saya sungguh merasa takut jika ke toilet. 
    Berawal dari hal tersebut, saya mencoba berbagai cara untuk menjaga kesehatan. Saya pergi ke tempat kebugaran, berenang, dan berlatih menggunakan alat-alat olahraga secara rutin. Saya melakukan semua itu demi menurunkan berat badan. Akan tetapi, hal yang terjadi justru sebaliknya. Dengan berolahraga, berat badan saya justru bertambah. Saya tidak dapat melanjutkan pola diet yang menyiksa dan mulai merasa bosan mengukur jumlah kalori dalam makanan saya setiap hari.
    Dalam usaha coba-coba tersebut, saya mengubah pola makan dengan menghentikan konsumsi daging, lalu menggantinya dengan sayur-sayuran. Dalam waktu singkat, sembelit yang sudah menyiksa hidup saya sejak lama berangsur-angsur berkurang hingga hilang sama sekali. Namun, sesekali, timbul keinginan untuk makan daging. Setelah makan daging pada pagi hari, sembelit yang sebelumnya sudah hilang itu mendadak kambuh. Saya merasa kesakitan ketika di kamar mandi. Cukup sudah! Saya tidak akan makan daging lagi. Makan daging bisa mengakibatkan sembelit.
    Ada hal yang tidak masuk akal. Orang yang semula merokok kemudian berhenti, ternyata menjadi peka terhadap asap rokok. Bagi orang yang tidak makan daging, memakan daging bistik yang mahal sekalipun, hanya akan terasa seperti menggigit kertas hingga membuatnya seakan-akan ingin muntah. Selain itu, dengan tidak mengonsumsi daging, kita tidak akan menghadapi masalah bau badan. Orang yang suka makan daging dan orang-orang yang menderita sindrom metabolik* memiliki kulit yang amat berminyak. Minyak tersebut akan mengalami oksidasi hingga menghasilkan bau yang menyengat. Bau badan yang biasa disebut “nonanal”** atau “bau badan lansia” ini akan hilang jika kita mengonsumsi sayur-sayuran.
    Ketika kita mengurangi jumlah makanan yang kita konsumsi saat menerapkan pola makan “satu lauk-satu sayur”, berat badan kita akan berkurang, kesehatan tubuh kita pun akan menjadi lebih baik. Apabila dilihat dari sisi kecukupan gizi, mengonsumsi gizi sempurna yang terdapat di dalam bahan makanan sederhana semacam itu akan meningkatan vitalitas tubuh. Menerapkan pola makan satu-lauk-satu-sayur setiap hari memang terlihat berat. Meskipun pola makan tersebut baik, sedikit sekali orang yang mau menerapkannya karena mereka memandang hal itu terlalu sulit. Kebanyakan orang tidak berselera makan pada pagi dan siang hari, sehingga melahap makanan dalam porsi besar pada waktu makan malam tampaknya merupakan hal yang dapat diterima. 
    Setelah mempertimbangkan dan memikirkan bermacam-macam cara, tibalah saya pada pola makan sekali-sehari yang telah saya terapkan selama kurang-lebih sepuluh tahun hingga saat ini. Sekarang, kondisi kesehatan saya sangat baik, berat badan saya stabil pada angka 62 kilogram, kulit saya pun tampak lebih muda. Setelah menjalani pemeriksaan umum (general check-up) di rumah sakit, pembuluh darah saya dikatakan seperti orang yang masih berusia 26 tahun! Meskipun demikian, saya bertanya-tanya di dalam hati, “Apakah pola makan sekali-sehari benar-benar baik untuk kesehatan, dan apakah tidak salah jika saya menularkan prinsip itu kepada orang lain?” Untuk menghilangkan kekhawatiran tersebut, mari kita simak sebuah informasi mutakhir dalam dunia kesehatan.
    Belum lama berselang, para ilmuwan menemukan “gen panjang umur”. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mengurangi jumlah makanan hewan percobaan sebanyak 40% membuat hewan tersebut
    Penampilan yang awet muda merupakan gambaran kesehatan organ dalam tubuh. Organ-organ tubuh yang bekerja dengan sempurna membuat warna kulit terlihat cerah, pinggang pun menjadi ramping. Sebaliknya, apabila organ dalam tubuh seseorang tidak bekerja dengan baik, betapa pun seseorang memoles wajah dengan kosmetik yang mahal dan melakukan perawatan di salon kecantikan, kecantikan sejati diri orang tersebut tidak akan muncul.
    Penampilan yang awet muda merupakan gambaran kesehatan organ dalam tubuh.
    Indikator kesehatan yang paling mudah dipantau adalah penampilan. Kesehatan menurut sebagian orang hanya sebatas pada keadaan tidak (atau belum) terkena penyakit parah atau hasil pemeriksaan kesehatan yang normal. Sedikit sekali orang yang bangga akan kecantikan kulit dan bentuk tubuh mereka. Timbunan lemak di dalam tubuh akan mengurangi keindahan penampilan seseorang sekaligus merupakan bukti adanya timbunan risiko sindrom metabolik di dalam tubuhnya. Apabila sindrom metabolik tersebut tidak dicegah, kita tidak akan mendapatkan kecantikan dan penampilan menawan yang sesungguhnya.
    Pada awalnya, tujuan yang paling ingin saya capai dengan menerapkan pola makan sekali-sehari adalah mendapatkan kulit yang indah dan pinggang yang ramping. Namun, sejak saya mendengar tentang penemuan gen panjang umur, saya menjadi lebih bersungguh-sungguh dalam menekuni pola makan sekali-sehari. Saya semakin banyak memberikan kuliah dalam berbagai kesempatan serta dalam sejumlah acara di televisi. Penulis yang membahas topik anti-penuaan juga semakin bertambah. Saya juga menjadi ketua ke lompok asosiasi kedokteran anti-penuaan internasional.
    Buku ini merupakan buku pertama yang mengupas pola makan sekali-sehari. Buku ini membahas tentang penerapan pola makan sekali-sehari untuk meraih kehidupan yang sehat. Pembahasan tersebut dilengkapi dengan cara-cara yang semestinya ditempuh dan alasan-alasan yang mendukung hal itu. Selanjutnya, buku ini juga memaparkan perubahan-perubahan yang akan terjadi pada diri seseorang, terutama perubahan-perubahan yang dapat dilihat secara langsung, setelah ia menerapkan pola makan sekali-sehari. Buku ini akan meruntuhkan pemikiran tentang kesehatan yang selama ini telah Anda ketahui secara umum. Saya berharap Anda membacanya dan menikmatinya sampai halaman terakhir.

    Resensi

    Beri ulasan produk ini

    Spesifikasi Produk

    SKU QB-81
    ISBN 978-602-402-139-9
    Berat 240 Gram
    Dimensi (P/L/T) 17 Cm / 19 Cm/ 0 Cm
    Halaman 184
    Jenis Cover Soft Cover