Buku HAPPY BIRTH-DIE (Coach… - Risma Ridha… | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

HAPPY BIRTH-DIE (Coach by Pit Sansi)

    Deskripsi Singkat

    Pijar sering kali dipanggil zombi oleh teman-temannya. Cewek itu dikenal misterius karena penampilannya yang seram, wajah datar, dan nggak pernah senyum. Banyak yang nggak mau berurusan dengannya, ngeri! Sayangnya, Heksa mau nggak mau harus berdekatan dengan Pijar karena harus tampil bareng di acara sekolah. Heksa sebenarnya malas, takut popularitasnya turun.… Baca Selengkapnya...

    Rp 84.000 Rp 58.800
    -
    +

    Pijar sering kali dipanggil zombi oleh teman-temannya. Cewek itu dikenal misterius karena penampilannya yang seram, wajah datar, dan nggak pernah senyum. Banyak yang nggak mau berurusan dengannya, ngeri!
    Sayangnya, Heksa mau nggak mau harus berdekatan dengan Pijar karena harus tampil bareng di acara sekolah. Heksa sebenarnya malas, takut popularitasnya turun. Lagian, zombi mau ngapain sih di panggung nanti? Bisa-bisa semua penonton kabur ketakutan.
    Karena acara itu, Pijar dan Heksa jadi dekat. Pijar tahu kelemahan Heksa yang memalukan. Heksa juga tahu kemampuan mistis Pijar. Ternyata cewek itu bisa melihat tanggal kematian seseorang saat berulang tahun. Fakta ini membuat hari-hari keduanya dipenuhi ketegangan.
     



    Keunggulan Buku

    Keunggulan
    Happy Birthdie merupakan novel pemenang kompetisi Belia Writing Marathon 3 yang paling populer. Cerita ini telah dibaca lebih dari 1,4 juta kali di Wattpad Belia Writing Marathon. Yang menjadikan kisah ini menarik adalah bumbu misteri dan teka-teki di dalamnya. Cerita ini nggak hanya berkisah tentang cerita cinta remaja biasa, tapi penuh dengan kejutan dan bumbu-bumbu misteri fantasi yang akan membuat pembaca muda ketagihan.
    Tentang BWM Batch 3

    Umumnya penerbit bergerilya mencari bakat-bakat cemerlang yang tersembunyi di akun-akun penulis Wattpad. Kali itu, Bentang Belia bikin gebrakan baru dengan ngadain Belia Writing Marathon (BWM)! Apa sih, itu?  BWM merupakan program menulis bareng di akun Wattpad @beliawritingmarathon (akun milik Bentang Belia) secara marathon selama 180 hari. BWM kali pertama diunggah pada 11 Oktober 2016 dan berakhir pada April 2017. Penerbit Bentang Belia mengajak 11 penulis novel remaja untuk meramaikan ajang ini. Hasilnya? Seru bangeeeet! Akun Wattpad @beliawritingmarathon kebanjiran followers juga vote, dan comments. 11 Judul yang diunggah di sana sepertinya membuat para pembaca baper berjamaah. Kini 10 dari 11 judul cerita di BWM telah diterbitkan oleh Bentang Belia.

    Karena antusiasme pembaca yang luar biasa, BWM diadakan lagi pada 2017. Karena nggak cuma pembaca yang pengin gabung, tetapi juga penulis, BWM Batch 2 dibuka untuk umum! Yey! Penerbit Bentang Belia menyeleksi semua ide cerita dari para penulis yang terdiri dari berbagai kalangan, dari penulis pemula sampai yang sudah melanglang buana ke banyak penerbit. Lebih dari 500 formulir masuk ke redaksi dan menelurkan 16 penulis dengan 16 kisah cinta remaja berbalut komedi. Kali ini, para penulis harus berkompetisi karena hanya 8 saja yang akan diterbitkan berdasarkan popularitas cerita dan penilaian juri. BWM Batch 2 mulai diunggah kali pertama pada 21 Oktober 2017 dan berakhir pada Januari 2018.

    Saat ini novel hasil dari kompetisi BWM 2 telah terbit dan beredar di seluruh toko buku di Indonesia, yaitu Modus, Pelik, Rival, Janji, Mimpi, Mantan, Keki, dan Drama.
    Karena brand Belia Writing Marathon sudah semakin kuat, Bentang Belia kembali menggelar Batch ketiga yang dihelat pada Januari-Mei 2019 di akun Wattpad Beliawritingmarathon. Kesepuluh finalis merupakan peserta yang berhasil lolos dari 1750 pendaftar kompetisi bergengsi ini. Para finalis ini menulis cerita mereka dengan tema #loveyourselfmore didampingi oleh penulis populer di Wattpad, yaitu Pit Sansi, Asri Aci, Arumi E, Innayah Putri, dan Ainun Nufus.
    Lima dari sepuluh finalis berhak mendapat kontrak penerbitan, yaitu Happy Birthdie, Not in Wonderland, Starstruck Syndrome, Find a Way to My Heart, dan The Memories of Algebra.
    Testimoni


     “Narasi tentang Pijar, sukses membuat cerita ini beraura mistis. Kontras dengan karakter pasangannya yaitu Heksa, yang bakal bikin pembaca ngakak sampai guling-guling. Membaca cerita ini bisa bikin kita ter-jeng-jeng di setiap part-nya. Pengin banget novel ini difilmin biar karakter-karakternya bisa dilihat secara nyata.”
    —Indriani Ambarwati, pembaca Happy Birth-die di Wattpad
    “Sampe dicap gila gara-gara gue selalu ketawa sendiri tiap baca novel ini. Tokoh Heksa emang sarapnya kebangetan. Berbanding 180 derajat dengan Pijar yang polosnya minta ampun bikin ngelus dada. Author-nya keren (keren halunya, hihi.) Pokoknya salut sama Kak Risma udah bisa ciptain tokoh-tokoh yang berbeda dari kebanyakan cerita di Wattpad. Sukses terus ya, Kak.”
    —Belva Thalia, pembaca Happy Birth-die di Wattpad

    Maret 2002
    Wanita berpenampilan berantakan itu berusaha menenangkan bayinya yang terus menangis dalam gendongan. Mungkin bayi laki-laki itu kehausan karena diajak berlari jauh oleh ibunya. Atau, mungkinkah bayi tak berdosa itu mengetahui niat busuk ibunya?
    Kartika menitikkan air mata melihat bayi malang yang dilahirkannya itu tak berhenti menangis. Apa ini pertanda Tuhan tidak ingin nyawa sang bayi terenggut begitu saja?
    “Berhenti!”
    Terdengar suara memekik. Tangan Kartika yang siap menjatuhkan keranjang bayi ke sungai kecil pun terhenti di udara. Kepalanya yang kaku digerakkan perlahan ke sumber suara.
    “Ja … ngan …!” Suara sesosok wanita yang rupanya juga memeluk seorang bayi itu nyaris tersekat. “Ja … ngan! Bayi itu nggak bersalah.” Wanita bernama Ajeng itu mengeleng-geleng panik kepada Kartika.
    Deras hujan malam diiringi petir kencang yang menyambar membuat suasana di jalanan sepi itu kian mencekam. Suram. Ajeng mencoba mencari pertolongan. Ditengoknya situasi di sekitar yang masih hening.
    Bagaimana ini? Kenapa tidak ada orang yang lewat?
    “Jangan ikut campur, ini hidupku dan pilihanku,” jawab Kartika, mencoba mencegah wanita penyelamat di depannya yang terlihat ingin mendekat.
    Matanya yang menatap nyalang tiba-tiba berubah sendu saat tak sengaja menatap bayi di gendongan Ajeng. Melihat sepasang mata tak berdosa bayi perempuan itu, Kartika lantas berganti menatap iba bayinya sendiri.
    Apakah yang aku lakukan kepada bayiku ini adil? Tapi, aku sungguh tidak punya pilihan.
    “Namaku Ajeng,” wanita penyelamat itu mencoba mendekat, “dan ini putriku, namanya Pijar. Mungkin sepantaran dengan anakmu.” Ajeng melirik bayi dalam keranjang milik Kartika, yang nyawanya sudah di ujung tanduk.
    “Tolong jangan kamu apa-apakan bayi yang nggak bersalah itu,” pesan Ajeng sambil menahan tubuhnya yang mulai menggigil. Didekapnya semakin erat bayi perempuan dalam gendongannya.
    Merasa terpojok, Kartika mundur perlahan. Berusaha menjauh dari si pengacau yang bisa jadi nanti membahayakan dirinya sendiri. Bagaimana kalau wanita tak dikenal itu melaporkannya kepada polisi?
    Aaargh, Kartika menggeram kesal. Saat emosinya nyaris meluap, sorot lampu dari kejauhan tiba-tiba menyentak kesadarannya.
    Gawat. Ada kendaraan yang lewat? Bagaimana ini?
    Dalam situasi genting, Kartika kembali mengayun langkah. Cepat dan gesit. Bahkan Ajeng, yang sudah memasang kuda-kuda, tak berhasil mengejarnya.
    Ajeng pun berbalik, teringat dengan tujuan utamanya membeli obat demam untuk bayi perempuannya. Pegangan tangannya pada payung semakin erat. Ia dilanda kebimbangan. Ingin menyelamatkan nyawa bayi tak berdosa itu, tetapi bayinya sendiri juga butuh pertolongan.
    Sementara itu, Kartika kini terjebak dalam muara kebimbangan. Sepasang kakinya berhenti berlari. Hujan tidak sederas tadi, tetapi rintik air yang terlalu rapat membuat kepalanya mendadak pening. Matanya memandang sekitar, menyelisik tempat aman yang bisa meneduhkan tubuh dan juga hatinya.
    Rumah Sakit Medika.
    Dengan langkah terseok, Kartika mendekati bangunan itu. Tidak terlalu megah, tetapi terlihat cukup nyaman dan luas.
    Diletakkan pelan-pelan bayi laki-lakinya yang terdiam karena mulai mengantuk. Di salah satu sudut halaman rumah sakit itu, Kartika merapal doa agar tidak ada yang memergokinya. Paling tidak, kini bayinya lebih aman.
    Ibu macam apa aku ini? Hampir saja aku menjatuhkan bayiku ke sungai. Untungnya, aku bertemu mereka. Wanita asing dan tatapan bayi perempuan tadi tiba-tiba membuatku luluh.
    Tak ingin mengulur waktu, Kartika bergegas meninggalkan bayinya dan berusaha untuk tidak menoleh lagi.
    Papamu pergi begitu saja saat Ibu melahirkanmu. Dan, sekarang Ibu juga meninggalkanmu. Berat memang, tapi Ibu pikir hidupmu akan lebih baik setelah ini.
    Oh, sebentar.
    Kartika hampir melupakan sesuatu. Sepucuk kertas berlipat yang dibalut plastik berlapis-lapis sudah ia persiapkan di dalam dompet kecilnya. Aman. Tidak basah. Tulisan yang tertera di sana juga masih terbaca jelas.
    MAHESA PUTRA PRADANA.
    Pertengahan Februari 2019
    “Hei, Zombi!”
    Gadis berkulit pucat itu menoleh cepat ke arah ketua kelas yang memanggilnya. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang agak awut-awutan, membuat siapa pun yang melihatnya seketika bergidik, tak terkecuali Gigih—si Ketua Kelas.
    “Lo dipanggil Bu Seli,” ucap Gigih begitu sampai di meja Pijar. “Kayaknya ada sesuatu yang penting, deh,” sambungnya dengan bulu kuduk meremang.
    Kenapa tiap kali ia di dekat Pijar, ada semilir angin yang tiba-tiba lewat?
    Pijar memiringkan kepala, berusaha mengingat. “Apa belakangan ini gue pernah bikin masalah?”
    Gigih menggeleng-geleng mantap. “Nggaklah, murid anteng kayak lo mana mungkin bikin guru marah?”
    Memori Pijar menyusuri kejadian beberapa bulan lalu. Situasi masih aman dan terkendali. Label “murid baru yang baik” berhasil ia pertahankan selama hampir satu semester ini.
    Lalu, ada angin apa sampai Bu Seli memanggilnya?
    Dengan langkah sedikit diseret, Pijar menyusuri koridor kelas X. Beberapa murid yang sedang mengobrol di luar kelas langsung menepi, memberi ruang kepada Pijar untuk berjalan.
    Mereka baik hati atau takut sebenarnya?
    Begitu sampai di ruang guru, Pijar segera mengetuk pintu dan mengucap salam. Namun sayangnya, tak ada yang merespons.
    Kemana perginya Bu Seli? Bukankah tadi Gigih bilang bahwa ia menunggu di ruang guru?
    Tunggu ... sebentar ....
    Dada Pijar tiba-tiba terasa sesak. Tatapannya menajam saat mendapati sebuah kerumunan di salah satu meja di baris belakang.
    “Eh, Pijar! Sini, Nak.” Suara yang ditunggu-tunggu akhirnya menyapa. “Dari sana Ibu nggak kelihatan, ya?” tanya Bu Seli dengan nada bergurau.
    Seperti terkena lem super, sepasang kaki Pijar berhenti mengentak. Berat. Seketika indra penciumannya mengendus aroma yang khas.
    Aroma itu …. Aroma lilin yang baru saja dimatikan. Itu berarti ....
    “Guru-guru baru aja kasih kejutan ke Bu Ghina. Hari ini Bu Ghina ulang tahun,” jelas Bu Seli seakan membaca isi kepala Pijar. “Sana, kamu kasih ucapan dulu ke Bu Ghina. Kamu murid kesayangannya, lho.”
    Deg!
    Dada Pijar serasa diguncang gempa dahsyat.
    “Eh, Pijar?” Sosok yang berulang tahun kini melambaikan tangan kepadanya. Beberapa guru menyingkir. Ada yang kembali ke meja masing-masing, ada pula yang sibuk menikmati camilan dari Bu Ghina. Guru Bahasa Indonesia itu tampak bahagia dengan kedatangan Pijar. “Sini dulu, Nak.”
    Pijar mendongak. Samar-samar muncul bayangan angka-angka yang membentuk kombinasi bulan dan tahun di atas kepala Bu Ghina.
    Ah, Pijar mendesah lemah. Lagi-lagi pertanda itu. Kenapa cuma mata ajaibnya yang bisa melihat pertanda buruk itu?
    0319
    Apa? Satu bulan lagi? Tidak mungkin, kan?
    Sekarang, tugas Pijar adalah mencari cara untuk tidak melakukan kontak fisik dengan guru yang sedang berulang tahun itu. Segera ditenggelamkan kepalanya dalam-dalam, lantas ia memejam sebelum sebuah seruan lagi-lagi memanggilnya.
    “Pijar, cepetan, dong. Kasih ucapan dan doa ke Bu Ghina. Udah nungguin, tuh,” Bu Seli memanggil lagi karena tak sabar ingin memakan kue tar yang belum dipotong.
    Pijar meneguk ludah, mencari cara untuk keluar secepatnya dari sana. Aarrrgh, apa lebih baik langsung kabur aja?
    “Pijar, kok malah diem?” Pak Gustav, yang meja kerjanya berada di samping Bu Ghina, sampai mencondongkan bahu ke belakang. “Tenang aja, Bu Ghina nggak nagih kado, kok.”
    Perlahan, Pijar menggerakkan tangannya yang dibanjiri keringat dingin. Tegang. Was was. Desakan itu semakin nyata. Paksaan dari para guru membuat telinga Pijar berdengung. Tak
    ada pilihan lain, gadis itu akhirnya mengangkat tangan dengan kaku seperti robot.
    Tuhan, haruskah terjadi lagi?
    Tok-tok-tok.
    “Permisi!”
    Teriakan yang cukup membahana itu seketika membuat suasana di ruang guru menjadi lengang. Seluruh tatapan terfokus pada satu titik, ambang pintu.
    Gilaaaaaa! Suara TOA siapa itu? Yes! Kesempatan kabur!
    Spontan Pijar menarik kembali tangannya yang menggantung di udara. Cepat-cepat ia mengambil langkah seribu untuk meloloskan diri dari ruang guru. Sebelum kabur, gadis itu sempat kebingungan mencari-cari deretan angka di atas kepala Bu Ghina yang sedikit mengabur.
    Aneh. Kenapa tulisannya jadi nggak jelas gitu?
    “Pijar, tunggu di sini sebentar,” perintah Bu Seli sambil mengadangnya di depan pintu ruang guru.
     

    Resensi

    Spesifikasi Produk

    SKU BE-127
    ISBN 978-602-430-559-8
    Berat 500 Gram
    Dimensi (P/L/T) 15 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
    Halaman 352
    Jenis Cover Soft Cover

    Produk Risma Ridha Annisa

















    Produk Rekomendasi