Buku ini memberikan pelajaran bahwa manusia itu hebat, ia bisa bertahan di segala macam kondisi dengan satu syarat: Tau apa makna hidupnya kemudian berusaha untuk hidup. Aku rasa buku ini masih sangat relatable untuk dibaca saat ini.
Menelurusi kisah tahanan nomor 119.104 di kamp konsentrasi tentara Nazi banyak hal yang bisa kita renungkan dan pelajari:
1. Manusia diselamatkan oleh cinta.
2. Dunia ternyata bisa menjadi sangat indah jika kita mau memperhatikan hal-hal kecil disekitar kita.
3. Kesadaran bahwa cepat atau lambat kita akan mati. Jadi sambil menunggu waktunya, kita siapkan sesuatu yang berarti.
4. Memiliki iman, dapat meningkatkan semangat untuk tetap hidup.
Menurutku, membanding-bangingkan dalam suatu titik itu tidak salah. Jika saat ini kamu sedang merasa terpuruk dan gugup sebagai manusia. Kamu bisa coba baca buku ini. Karena kenyataannya, manusia yang diperlakukan mirip hewan pun masih bisa hidup. Don't give up.
Buku ini adalah salah satu buku yang saya rekomendasikan jika ditanya sama orang, "Saya mau suka baca, enaknya mulai baca apa ya?" Man's Search For Meaning adalah cerita tentang tragedi kemanusiaan pembantaian Orang Yahudi yang dituturkan oleh salah satu penyintasnya, Victor Frankl. Frankl yang juga merupakan seorang psikoterapis kemudian menggunakan pengalamannya selama di kamp konsentrasi untuk menyempurnakan konsep Logoterapi, salah satu aliran psikoterapi yang berargumen kalau tujuan hidup adalah untuk mencari makna. Awalnya saya kira buku ini bakal banyak membahas hal teknis, ternyata tidak. Saya yang belum pernah belajar psikoterapi sama sekali (let alone baca buku2 psikologi) bisa menangkap kira-kira apa yang ingin disampaikan Frankl. Terus juga, cerita pengalaman dia selama di kamp konsentrasi berkali-kali bikin saya berpikir "kok bisa ya zaman dulu, manusia bisa kepikiran berbuat sesadis itu kepada sesama manusia," Beberapa argumen dari buku ini masih saya pegang sampai saat ini, salah satunya mengenai kesulitan hidup. Frankl mengajari...
Buku ini adalah salah satu buku yang saya rekomendasikan jika ditanya sama orang, "Saya mau suka baca, enaknya mulai baca apa ya?"
Man's Search For Meaning adalah cerita tentang tragedi kemanusiaan pembantaian Orang Yahudi yang dituturkan oleh salah satu penyintasnya, Victor Frankl. Frankl yang juga merupakan seorang psikoterapis kemudian menggunakan pengalamannya selama di kamp konsentrasi untuk menyempurnakan konsep Logoterapi, salah satu aliran psikoterapi yang berargumen kalau tujuan hidup adalah untuk mencari makna.
Awalnya saya kira buku ini bakal banyak membahas hal teknis, ternyata tidak. Saya yang belum pernah belajar psikoterapi sama sekali (let alone baca buku2 psikologi) bisa menangkap kira-kira apa yang ingin disampaikan Frankl. Terus juga, cerita pengalaman dia selama di kamp konsentrasi berkali-kali bikin saya berpikir "kok bisa ya zaman dulu, manusia bisa kepikiran berbuat sesadis itu kepada sesama manusia,"
Beberapa argumen dari buku ini masih saya pegang sampai saat ini, salah satunya mengenai kesulitan hidup. Frankl mengajari pembacanya untuk bertanggung jawab. Meskipun saat ini kita hidup barangkali di lingkungan yang menawarkan kenyamanan, Frankl gak bilang kalau orang harus "mengalami kamp konsentrasi" dulu untuk bisa memahami makna hidupnya. Justru, upaya-upaya tersebut perlu dialihkan untuk mencegah agar hal buruk tidak terjadi. Meskipun begitu, ia tidak sangsi kalau hidup tentu penuh dengan lika likunya. Di situlah kita harus berani.
Lihat selengkapnya
Separuh awal buku ini adalah memoar penulis tentang pengalamannya sendiri waktu jadi tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Jujur... waktu baca bagian awal ini aku speechless & ga habis pikir (in a good way) sama penulisnya karena bisa menjabarkan pengalaman se-mengerikan itu selayaknya mempresentasikan data dari observasi ilmiah atau semacamnya. Narasi di buku ini bukan tipe yang "emosional" at the point aku sampe mikir kok bisaaa sih penulisnya mempertahankan objektivitas pas ditaruh di tempat yang kemungkinan survivenya nggak lebih besar dari 1:28 itu? Dan tentu, jawabannya juga masih ada di buku ini. Di bagian separuhnya lagi, penulis ngejelasin teorinya yang disebut Teori Logoterapi (btw, penulis adalah psikiater). Dari yang aku tangkep, intinya, masalah utama manusia bukan trauma, stres, atau kesedihan... tapi kehilangan makna hidup. Penulis percaya manusia bisa bertahan di situasi sebrutal apapun selama masih punya seenggaknya satu pegangan makna (orang, tujuan, prinsip, atau hal yang belum selesai). Penulis juga bener-bener...
Separuh awal buku ini adalah memoar penulis tentang pengalamannya sendiri waktu jadi tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Jujur... waktu baca bagian awal ini aku speechless & ga habis pikir (in a good way) sama penulisnya karena bisa menjabarkan pengalaman se-mengerikan itu selayaknya mempresentasikan data dari observasi ilmiah atau semacamnya. Narasi di buku ini bukan tipe yang "emosional" at the point aku sampe mikir kok bisaaa sih penulisnya mempertahankan objektivitas pas ditaruh di tempat yang kemungkinan survivenya nggak lebih besar dari 1:28 itu?
Dan tentu, jawabannya juga masih ada di buku ini. Di bagian separuhnya lagi, penulis ngejelasin teorinya yang disebut Teori Logoterapi (btw, penulis adalah psikiater). Dari yang aku tangkep, intinya, masalah utama manusia bukan trauma, stres, atau kesedihan... tapi kehilangan makna hidup. Penulis percaya manusia bisa bertahan di situasi sebrutal apapun selama masih punya seenggaknya satu pegangan makna (orang, tujuan, prinsip, atau hal yang belum selesai). Penulis juga bener-bener menekankan kalau makna hidup itu kontekstual, unik, dan spesifik buat tiap individu di tiap momen. Nggak ada "meaning of life" yang universal, yang ada "meaning in life" yang harus kita cari dan temuin sendiri.
Menurutku, ini bukan buku self-help yang emosional, puitis, atau nawarin tutorial ke pembaca tentang apa yang harus dilakuin atau nggak dilakuin. Malahan, di bagian kedua pas bahas teori-teorinya, bahasa yang dipake menurutku akademik banget dan jatuhnya kayak textbook perkuliahan. Tapi, untungnya masih readable buat orang yang backgroundnya non-psikologi & kalau ada istilah yang asing pasti bakal dijelasin (dan kebantu juga karena dikasih contoh-contoh langsung plus konteksnya masih nyambung banget sama memoar penulis di bagian sebelumnya).
Yang aku suka, penulis tuh nggak ngelempar narasi kalau "penderitaan itu indah" dan justru menyampaikan sejelas-sejelasnya kalau hidup bisa se-kejam dan se-nggak adil itu. And rather than pushing comfort yang jatuhnya malah kayak toxic positivity, this book digs into WHY some people can still endure life at its absolute worst.
Sooo, if you're not into self-help or self-improvement books that lowkey gaslight the reader, this one's worth checking out.
Lihat selengkapnya
Aku baca buku ini untuk jadi referensi utama skripsi aku yang meneliti tentang makna hidup. Subjek penelitian aku mengalami dua peristiwa psikologis dimana hal yang dia lakukan memberikan dia pengalaman emosi kedukaan dan lain sebagainya, tapi sekaligus kebersyukuran. Ini relevan sama pengalamannya Frankl yang tetep bisa melihat keindahan di tengah-tengah derita an ancaman hidupnya dia selama jadi tahanan Nazi. Di tengah-tengah kehilangan keluarga, kenalan, diri sendiri, pada akhirnya dia menyadari kalo ternyata di tengah-tengah derita, justru hal-hal yang selama ini keliatan kaya biasa aja, malah jadi sesuatu yang indah.
Mungkin kalo dianalogi, saat kita terbiasa melihat lingkaran putih, setitik hitam bakal bikin kita fokus ke situ. Karena titik itu akan terlihat seperti noda. Tapi ketika kita terbiasa melihat lingkaran hitam, setitik putih bakal ngasih harapan buat kita(?)