Buku MBAH NUN BERTUTUR - Emha Ainun… | Mizanstore
  • MBAH NUN BERTUTUR
Ketersediaan : Tersedia

MBAH NUN BERTUTUR

    Deskripsi Singkat

    Apa yang kita petik hari ini adalah yang kita tanam kemarin. Apa yang kita miliki atau tak kita miliki sekarang adalah hasil dari yang kita semaikan sebelumnya. Apa yang kita syukuri dan kita sesali, adalah hasil dari pilihan kita dahulu untuk menyirami atau membiarkannya kering. Teman-teman di Markas Maiyah menugasi… Baca Selengkapnya...

    Rp 69.000 Rp 58.650
    -
    +

    Apa yang kita petik hari ini adalah yang kita tanam kemarin. Apa yang kita miliki atau tak kita miliki sekarang adalah hasil dari yang kita semaikan sebelumnya. Apa yang kita syukuri dan kita sesali, adalah hasil dari pilihan kita dahulu untuk menyirami atau membiarkannya kering.

    Teman-teman di Markas Maiyah menugasi saya untuk menuliskan secara berkala rentang proses yang saya semaikan, tanam dan siram, sejak era Dipowinatan, Kadipaten, Patangpuluhan, Kasihan, hingga Kadipiro. Termasuk cerita di balik kelahiran KiaiKanjeng dan Dinasti. Tujuannya supaya semua yang mengenyam buah, mengerti kembang dan daun kisahnya, ranting dan dahan kisah sejarahnya, serta batang pohon dan akar asal-usulnya, bahkan tanah bumi dan kebun surga sangkan paran-nya.

    ***

    Buku ini merupakan catatan ingatan Emha Ainun Nadjib tentang bagaimana benih sebuah komunitas dituai dan ditumbuhkan. Sebuah memoar yang menceritakan masa muda Emha ketika bertemu dengan berbagai sosok penting dalam hidupnya.

    Apa yang kita petik hari ini adalah yang kita tanam kemarin. Apa yang kita miliki atau tak kita miliki sekarang adalah hasil dari yang kita semaikan sebelumnya. Apa yang kita syukuri dan kita sesali, adalah hasil dari pilihan kita dahulu untuk menyirami atau membiarkannya kering.

    Teman-teman di Markas Maiyah menugasi saya untuk menuliskan secara berkala rentang proses yang saya semaikan, tanam dan siram, sejak era Dipowinatan, Kadipaten, Patangpuluhan, Kasihan, hingga Kadipiro. Termasuk cerita di balik kelahiran KiaiKanjeng dan Dinasti. Tujuannya supaya semua yang mengenyam buah, mengerti kembang dan daun kisahnya, ranting dan dahan kisah sejarahnya, serta batang pohon dan akar asal-usulnya, bahkan tanah bumi dan kebun surga sangkan paran-nya.

    ***

    Buku ini merupakan catatan ingatan Emha Ainun Nadjib tentang bagaimana benih sebuah komunitas dituai dan ditumbuhkan. Sebuah memoar yang menceritakan masa muda Emha ketika bertemu dengan berbagai sosok penting dalam hidupnya.

    Tentang Emha Ainun Nadjib

    Emha Ainun Nadjib

    EMHA AINUN NADJIB, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur. Pernah meguru di Pondok Pesantren Gontor, dan “singgah” di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Emha Ainun Nadjib merupakan cendekiawan sekaligus budayawan yang piawai dalam menggagas dan menoreh katakata. Tulisan-tulisannya, baik esai, kolom, cerpen, dan puisi-puisinya banyak menghiasi pelbagai media cetak terkemuka. Pada 1980-an aktif mengikuti kegiatan kesenian internasional, seperti Lokakarya Teater di Filipina (1980); International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984); serta Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985). Cukup banyak dari karya-karyanya, baik sajak maupun esai, yang telah dibukukan. Di antara sajak yang telah terbit, antara lain “M” Frustasi (1976), Sajak Sepanjang Jalan (1978), Syair Lautan Jilbab (1989), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), dan Cahaya Maha Cahaya (1991). Adapun kumpulan esainya yang telah diterbitkan oleh Bentang Pustaka, antara lain Arus Bawah (2014), Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (2015 dan 2018), Gelandangan di Kampung Sendiri (2015 dan 2018), Sedang Tuhan pun Cemburu (2015 dan 2018), 99 untuk Tuhanku (2015), Istriku Seribu (2015), Kagum kepada Orang Indonesia (2015), Orang Maiyah (2015) Titik Nadir Demokrasi (2016), Tidak. Jibril Tidak Pensiun! (2016), Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia (2017), Daur II: Iblis Tidak Butuh Pengikut (2017), Daur III: Mencari Buah Simalakama (2017), Daur IV: Kapal Nuh Abad 21 (2017), Kiai Hologram (2018), Pemimpin yang Tuhan (2018), Markesot Belajar Ngaji (2019), Siapa Sebenarnya Markesot? (2019), Sinau Bareng Markesot (2019), Lockdown 309 Tahun (2020), Apa yang Benar Bukan Siapa yang Benar (2020), dan Indonesia Bukan Bagian dari Desa Saya (2020).




    Keunggulan Buku

    • Otobiografi Emha Ainun Nadjib dalam menumbuhkan dan merawat komunitas maiyah, dinasti, dan KiaiKanjeng.
    • Mengungkap berbagai peristiwa menarik yang dialami oleh Emha secara langsung, yang ceritanya jarang/tidak pernah kita dengarkan.
    • Membahas cikal bakal lahirnya kelompok musik KiaiKanjeng.
    • Buku Emha pada umumnya menceritakan tentang kegelisahan berpikirnya. Di buku ini, Emha lebih banyak menuliskan rekam jejak kehidupannya serta orang-orang yang membersamai dan berjasa kepadanya.

     

    Menyemai, Menanam, Menyiram

    Apa yang kita petik hari ini adalah yang kita tanam kemarin. Apa yang kita miliki atau tak kita miliki sekarang adalah hasil dari yang kita semaikan sebelumnya. Apa yang kita syukuri dan kita sesali, adalah hasil dari pilihan kita dahulu untuk menyirami atau membiarkannya kering.

    Teman-teman di Markas Maiyah menugasi saya untuk menuliskan secara berkala rentang proses yang saya semaikan, tanam dan siram, sejak era Dipowinatan, Kadipaten, Patangpuluhan, Kasihan, hingga Kadipiro. Tujuannya supaya semua yang mengenyam buah, mengerti kembang dan daun kisahnya, ranting dan dahan kisah sejarahnya, serta batang pohon dan akar asal-usulnya, bahkan tanah bumi dan kebun surga sangkan paran-nya.

    Meminjam terminologi hikmah Jawa dari Gusti Yudhaningrat Kraton Yogya, “Kalau sekarang mulai menikmati tetinggal, sebaiknya menelusuri, mendalami, menghayati, dan mensyukuri tahap bebakal dan cecikal-nya”. Dengan kata lain, kalau saya dan para anak cucu saya menikmati anugerah Allah yang bernama Maiyah—yang menakjubkan secara sosial, budaya, keilmuan, dan kerohanian—akan bisa benar-benar menjadi DNA peradaban baru apabila kita napak tilas prosesnya sejak ia disemai, ditanam, dan disirami.

    Jadi, kisah yang saya rentang ini harus balik menelusuri jejak sejarah sejak dari Dipowinatan, Kadipaten, Patangpuluhan, Kasihan, hingga Kadipiro. Banyak dimensi nilai yang bisa kita temukan apabila mem-flashback ke Gontor dan Menturo.

    Tentu saja semua yang saya alami hampir tiga perempat abad hidup saya berposisi hanya “diperjalankan” oleh Allah. Artinya, tidak sejak awal kita punya blueprint riwayat hidup, punya konsep, maupun outline menuju masa depan. Sangat banyak hal yang semasa usia kanak-kanak dan muda kita perjuangkan, baru kita sadari esensi maknanya ketika uzur usia seperti saya. Misalnya kesadaran menyemai, menanam, dan menyirami, bukanlah suatu ideologi dengan rangka perencanaan dan rundown yang tertata ketika semua tahap itu dilakukan dan diperjuangkan.

    Man yazra’ yahshud [siapa menanam, mengetam]”, saya mendengar kata mutiara ini dari Guru mata pelajarah Mahfudlat tatkala nyantri di Pondok Gontor Ponorogo. Puluhan tahun saya hafal kata-kata itu, tapi baru belakangan ini saya tenggelam ke kedalaman maknanya. Terutama setelah mengalami duka derita kekisruhan negara dan masyarakat yang memang dulu salah pilih benih yang disemaikan, keliru orientasi sejarah soal apa yang mesti ditanam, kemudian salah-salah dan luput-luput juga menyirami yang apa dan tidak menyirami yang mana.

    Provokator atau pendorong saya menuliskan semua ini adalah Kiai Tohar, sahabat saya hampir setengah abad. Rangsangannya berasal dari rencana acara romantik Festival Dipowinatan, Yogya. Sahabat-sahabat lama saya diminta untuk mempersembahkan kembali karya-karya musik-puisi yang dulu menghiasi jagat budaya Yogya akhir 1970-an sampai awal 1980-an.

     

    Puisi-Puisi di dalam Buku

    Memandang pantaimu Bali
    Batu karang di timur itu adalah seorang Yogi
    Duduk bersila dalam samudra.
    Tidak bergeming ia oleh gelombangnya
    Langit yang perkasa, menyelipkan kembang di telinganya
    Bulan cantik berkunjung ke pura dan ia berkata,
    “Aku persembahkan napasku kepada tanah yang merendah
    dan kepada gunung, si pertapa.”

     

    ***

    Berdekatankah kita
    Berdekatankah kita
    Sedang rasa teramat jauh
    Tapi berjauhankah kita
    Sedang rasa begini dekat
    Seperti langit dan warna biru
    Seperti sepi menyeru
    O, Kekasih
    Kau kandung aku
    Kukandung Engkau
    Seperti mengandung mimpi
    Terendam di kepala
    Namun sayup tak terhingga
    Hanya sunyi, mengajari kita
    Untuk tak mendua
    Untuk tak mendua

    ***

    Jakarta meraung
    Kehidupan berderak-derak
    Jakarta mengaum
    Manusia berserak-serak
    Kita hanya debu
    Lekat di ban mobil
    Terimpit aspal panas
    Kita terlempar
    Di parit busuk kita terkapar
    Di balik gemuruh
    Terdengar tangis
    Dari daerah asing
    Di tengah keringat dan makian
    Menyelinap pisau rahasia
    Menunggu saat penikaman tiba
    Hujan turun

    ***

     

    Adapun aku. Adapun aku, saudaraku, hanyalah ayam budak
    Keringat mengucur tubuh cokelat yang keruh
    Kujilat tapak kakimu di pasir tanah kurus
    Kami harus membangun dunia. Kami diseret oleh zaman
    Kami harus belajar A…B…C…D…
    Kami dirangkul, kami disetubuhi oleh para bule
    “Ini tanah kami, Tuan, silakan ambil
    Sepuluh dolar, Sir, borong saja
    Ini seni, seni khas Bali, ini martabat bangsa kami
    Dan ini gigolo kami, Madame
    Tuan-Tuan, mari telanjang bulat menyatu dengan alam
    Silakan copot pakaian, kami juga sudah telanjang
    Tuan perlu hiburan, kami butuh uang”

    ***

    Tuhan, aku berguru kepada-Mu
    Mendengarkan batu dan angin yang bisu
    Kedunguan memberiku pengertian
    Buta mata menganugerahi penglihatan
    Kelemahan menyimpan berlimpah kekuatan
    Jika aku tahu, terasa betapa tak tahu
    Waktu melihat, betapa penuh rahasia gelap
    yang dikandung cahaya
    Tuhanku, aku berguru kepada-Mu
    tidak tidur di kereta waktu
    lebur dalam ruang
    karena setiap satu mengandung seribu
    Tuhan aku berguru kepada-Mu
    Meragukan setiap yang kutemu
    Kutimba ilmu dari yang paling dungu
    Tuhan, aku berguru kepada-Mu
    Gelap dan terang saling menegaskan
    Garis batasnya memusnahkan jaraknya
    Pada pertentangannya memancarkan kesatuannya

    ***

    Bermakna lebih dari segala ilmu
    Ialah mentertawakan diri sendiri
    Sesudah kegagahan dipacu
    Tahu langkah tak sedalam tangis bayi
    Kelahiran dan maut memain-mainkan
    Kita jadi perlu sekeras ini bersitegang
    Padahal, gua Ibunda tak di masa silam
    Dan, kematian tak nunggu di usia petang
    Nyembah puisi, buku dikeloni, sejarah dibongkar
    Kemudian sumpek dan ngerti kita terbongkar sendiri
    Maka, laron tahu usia tak sampai semalam
    Maka, kita pilih saat wajah sendiri dilecehkan
    Membantu malaikat ngerjakan tugas dari Ki Dalang
    Melakonkan cilukba wayang pergantian siang malam
    Heran, kenapa Chairil minta cuma seribu tahun lagi
    Padahal, jelas jatah kita abadi

    ***

     

    Jabang bayi jantan betina!
    Inikah yang disebut gelagat zaman yang luwes,
    warna yang samar, atau pelajaran bagaimana memahami
    inti nilai yang lebih tersembunyi?!

    Hari-hari berputar kita terserimpung dari engsel dalam
    roda mesin yang lancar
    Ketika makin jelas bahwa hidup adalah pentas Barong
    yang tidak pernah bubar-bubar
    Kita terimpit beku dalam lingkaran setan,
    karena itu berdoalah semoga malaikat juga sempat
    bikin-bikin lingkaran
    Hei … ini gereja, ini masjid, ini kuil, ini Diamond Night
    Club, ini negara itu agama, ini penari-penari bugil itu
    wakil-wakil rakyat, ini peradaban tinggi itu kehancuran
    yang dianggap siluman, ini kultur ultra modern itu
    primitivisme dan ultra-jahiliah, ini hak asasi manusia itu
    daging kehormatan perempuan, dengan dua ribu perak
    silakan pesan.

    ***

    Bayangan suara Tuhan dan pinggul yang digoyang-goyang
    Kenapa kamu merasa gatal memandangnya sebagai wayang
    yang jejer berhadapan
    Kata orang inilah lanskap yang membingungkan
    Tapi di pandanganku: apa salahnya Kitab Suci dilombakan
    sebab toh kitab suci memang hanya untuk dilomba-lombakan,
    sebab kalau dipraktikkan dan dilaksanakan akan justru
    menimbulkan permusuhan dan pertengkaran
    Dan, apa salahnya pinggul digoyang-goyang kalau memang
    untuk jiwa kita yang menggelegak bagai lautan tidak ada lain
    yang bisa memberi tawaran
    Hei … wahai kamu bintang gemintang
    Hei … kami telah ditipu oleh arah, arah, arah
    Utara dan selatan hanyalah arah, tapi utara bisa menjadi
    selatan dan selatan bisa menjadi arah. Dan, selatan bisa
    menjadi utara.
    Jadi, ayo! Ayolah ayo ini bayangan suara Tuhan. Dan, ini
    pinggul yang digoyang-goyang.

    Resensi

    Spesifikasi Produk

    SKU BS-542
    ISBN 978-602-291-793-9
    Berat 250 Gram
    Dimensi (P/L/T) 13 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
    Halaman 228
    Jenis Cover Soft Cover

    Produk Emha Ainun Nadjib

















    Produk Rekomendasi