Perkumpulan Anak Luar Nikah (PALN) merupakan salah satu buku terbaik yang pernah aku baca sepanjang masa. Aku akan menyampaikan rasa terima kasihku kepada temanku, yang pernah menyebut dirinya sebagai buzzer PALN, yang telah berhasil membuatku tertarik untuk membaca buku ini.
Awal membaca judul buku ini, aku sudah sedikit kaget. Perkumpulan Anak … Luar Nikah? Ini ceritanya bakalan tentang apa, sih? Kisah kehidupan orang-orang yang hidup dan besar tanpa orang tua, kah? Lalu, aku baca deskripsi bukunya, dan makin bingung.
“Shocking Confession from an Indonesian’s Ex-ASEAN Scholarship Recipient. Judul artikel itu mengguncang media sosial dalam semalam. Martha, sang tersangka, panik. Keteledoran masa lalunya kini mencuat ke permukaan. Sebagai lulusan Computer Science, bagaimana bisa dia meninggalkan jejak digital yang menghantuinya dengan iming-iming penjara pada masa sekarang? Pernikahannya guncang, kebebasannya terenggut, anak-anaknya terancam kehilangan sosok ibu hanya karena Martha memainkan “25 Question About Me” di blognya belasan tahun lalu dan menjawab terlalu jujur pertanyaan:...
Perkumpulan Anak Luar Nikah (PALN) merupakan salah satu buku terbaik yang pernah aku baca sepanjang masa. Aku akan menyampaikan rasa terima kasihku kepada temanku, yang pernah menyebut dirinya sebagai buzzer PALN, yang telah berhasil membuatku tertarik untuk membaca buku ini.
Awal membaca judul buku ini, aku sudah sedikit kaget. Perkumpulan Anak … Luar Nikah? Ini ceritanya bakalan tentang apa, sih? Kisah kehidupan orang-orang yang hidup dan besar tanpa orang tua, kah? Lalu, aku baca deskripsi bukunya, dan makin bingung.
“Shocking Confession from an Indonesian’s Ex-ASEAN Scholarship Recipient. Judul artikel itu mengguncang media sosial dalam semalam. Martha, sang tersangka, panik. Keteledoran masa lalunya kini mencuat ke permukaan. Sebagai lulusan Computer Science, bagaimana bisa dia meninggalkan jejak digital yang menghantuinya dengan iming-iming penjara pada masa sekarang? Pernikahannya guncang, kebebasannya terenggut, anak-anaknya terancam kehilangan sosok ibu hanya karena Martha memainkan “25 Question About Me” di blognya belasan tahun lalu dan menjawab terlalu jujur pertanyaan: “What is the wildest thing you’ve ever done when you’re 17 years old?” I forged a legal document. Later, I used it to apply for a scholarship, and I got accepted!”
Sebentar … deskripsi buku yang menggunakan dua bahasa? Lulusan Computer Science?? Ini sebenarnya buku tentang apa? Lalu, tanpa mampir ke manapun lagi untuk mencari tahu lebih lanjut tentang buku ini, aku memutuskan untuk langsung membacanya saja.
Mungkin ini agak spoiler alert, ya, walau sebisa mungkin aku akan coba untuk tidak membeberkan major events yang terjadi di buku ini. Chapter pertama buku ini sudah membuatku tertarik, karena buku dibuka dengan adegan yang berlatar di Singapura. Jujur, aku ikut hanyut dalam susunan kalimat yang kubaca, seakan-akan aku sedang berada langsung di depan karakter Martha dan bisa mengamati dia sekaligus isi hatinya secara real-time. Belajar hal-hal baru seperti bagaimana MRT di Singapura bekerja dengan peraturan-peraturannya yang kedengarannya jauh lebih disiplin dibanding di Indonesia. Sebuah point plus tersendiri untukku ketika membaca buku yang penulisnya menggunakan diksi yang lugas tetapi tidak flat. Aku masih belum tahu arah buku ini mau membawaku ke mana, tapi aku cukup menikmati perjalananku mengamati Martha. Jadi, aku terus membaca, dan terus membaca.
Banyak humor yang disajikan di buku ini dan masuk ke aku, jadi aku merasa terhibur di tengah fokus membaca.
Kemudian sampai di bagian yang membuatku akhirnya paham buku ini utamanya mau menceritakan tentang apa: sejarah. Aku sadar, aku bukan pelajar yang baik tiap kali sekolah tengah membuatku belajar mata pelajaran sejarah, tetapi aku betul-betul baru tau kisah sebesar ini terjadi di negaraku sendiri dari sebuah novel. Apa aku yang sebegitu lalai belajar hingga melewatkan pengetahuanku tentang hal ini, atau memang ini merupakan sejarah yang sengaja dibiarkan agar terlupakan oleh orang-orang, terutama generasi masa kini?
Sebenarnya banyak sekali isi dari buku ini yang mau aku bahas, tapi aku takut akan jadi spoiler, jadi mungkin akan aku lepaskan di sini. Sekali lagi aku dengan kepala tegak akan bilang bahwa buku ini adalah buku yang perlu dibaca oleh lebih banyak orang, karena banyak sekali ilmu yang bisa didapat. Mulai dari membahas pemimpin-pemimpin yang sebenarnya tidak kompeten, bagaimana banyak berlian di negeri ini yang memilih pergi dari negara tercinta itu sendiri karena faktor struktural yang sudah sangat sulit untuk diubah bahkan dari dalam sekalipun, kesenjangan antara si miskin dan si kaya yang sangat besar, dan bagaimana hukum di negara ini bisa berlaku dengan sangat tidak adil.
Setiap kali membaca buku yang genre utamanya bukan romance, aku selalu ingin melakukan shout-out kepada guru Bahasa Indonesiaku di SMA dulu. Waktu itu, kami para murid diminta untuk membuat sebuah fiksi singkat, dan aku bertanya, “Bu, apa boleh fiksi yang saya tulis tentang cinta?” aku tidak bisa melupakan senyuman tipis beliau yang seraya berkata, “Apapun cerita yang kamu tulis atau baca, kamu selalu dapat menemukan cinta di dalamnya.”
PALN adalah salah satu buku yang membuatku sekali lagi percaya akan omongan guru Bahasa Indonesiaku saat SMA itu. Setelah menyelesaikan membaca PALN, dan aku kulik di platform reviu buku, ternyata memang tag buku ini bergenre utama Fiksi Sejarah dan Keluarga. Tapi, aku banyak belajar dan kagum akan hubungan rumah tangga dua karakter utama di sini, yaitu Martha dan Ronny.
Ronny itu logical. Mengetahui sifatnya, kurasa dapat dimengerti jika respons pertama dia saat Martha kena masalah yang cukup besar adalah memikirkan kariernya. Tapi, lebih wajar lagi bagi Martha untuk merasa kecewa karena suaminya terkesan tidak memedulikannya. Dan, “ujian” mereka membuat Ronny berhasil to learn it the hard way, apa yang telah ia lewatkan dalam memahami istrinya sendiri. Aku terharu, di momen-momen genting di mana mereka saling kecewa, mereka justru terbawa pada serangkaian memori yang membawa mereka sampai ke titik pernikahan dan rumah tangga yang sekarang. Ternyata, untuk sebagian orang, jatuh cinta tidak perlu dibuktikan dengan gestur romantis klise yang besar, tetapi ada cara tersendiri untuk membuktikannya.
Contohnya saat Martha sakit. “...Ronny tidak menggenggam tangan Martha, dia memegang laptopnya, mengedit tesis. But, he's there.” aku pas pertama kali baca kayak: WOAAAAAAAAAAAH. Martha sendiri yang bilang kalau “Ronny bukan pria romantis, tetapi Martha merasa suaminya pria yang bisa diandalkan, bisa dipercaya. She feels safe when he's nearby. Perasaan tenang adalah perasaan yang langka ketika merantau sendirian di negeri orang tanpa sanak saudara.” “Ketika Ronny muncul dalam hidupnya, rasanya seperti ada dinding kukuh yang bisa dijadikan tempat bersandar. Namanya dinding, tentu saja kaku—kalau empuk namanya bantal…”
Ketika sedang dihadapkan dengan masalah yang lumayan serius, Ronny jadi kehilangan Martha. Baru sehari ditinggal Martha, dia sudah menyadari banyak hal yang selama ini ia anggap remeh: pekerjaan rumah tangga dan urusan anak-anak mereka yang biasa setiap hari Martha lakukan dengan mudah dan gesit, connectivity dengan anak-anak dia sendiri, kayak … gak deket dan gak kenal sama anak sendiri, gitu. Dan yang terakhir … kehadiran Martha as she is.
That’s the irony dalam menjadi ibu rumah tangga, I suppose… karena sekalinya kamu memutuskan untuk menjadi seorang istri sekaligus ibu, status kamu sebagai diri sendiri mungkin akan menyusut sedikit demi sedikit, walau kamu sudah sepenuhnya yakin atas keputusan yang kamu ambil. Dari sesederhana media sosial yang isinya jadi suami dan anak-anak aja udah bikin hati aku mencelos sedikit… walaupun aku tau, gak semua Ibu merasa memposting wajahnya sendiri itu penting, tapi, semoga paham maksudku… it’ll eventually happen, you know? Dan untuk itu, aku akan selalu respect sama semua Ibu rumah tangga out here. Aku nangis saat baca penggalan kalimat ini, “...Padahal Ronny tahu di balik postingan itu, ada ex Deans’ List recipient, super organized project manager, best TA awardee.”
Satu lagi yang membuatku terharu adalah, dari pembelajaran berharga yang Ronny alami dalam memahami ulang istrinya sendiri yaitu cara dia cope dengan semua hal yang membuat dia merasa bersalah dan langsung yakin dengan bilang, “I must keep my wedding vow. For better, for worse.” Jujur, di situ aku terharu banget. Despite all the imperfections of being humans, maybe I can indeed trust that love is eventually real, after all.
Anyways, it’s really such a good read. Tiada hentinya aku menyarankan orang-orang terdekatku untuk baca, atau setidaknya, membuat mereka aware akan eksistensi buku ini. Barangkali, di masa depan mereka sedang jalan-jalan ke toko buku dan melihat Perkumpulan Anak Luar Nikah dan jadi ingat sama perkataan aku yang ingin mereka baca, dan akhirnya mereka beli. Atau lagi scrolling e-commerce terus lihat buku PALN lagi diskon di Mizan Store, tiba-tiba mau check out karena pada akhirnya penasaran juga. Who knows? Hahaha.
Lihat selengkapnya
Aku menobatkan novel ini sebagai Best Read ku di tahun 2026.
Menceritakan ketidakadilan yang dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia. Novel ini bergenre historical slight romance.
-
Martha sudah hidup nyaman dengan keluarganya di Singapura. Sampai suatu hari terkuak bahwa dia pernah memalsukan dokumen ketika mendaftar beasiswa di Singapura.
Yang jadi pertanyaan adalah apa yang mendasari Martha melakukan tindakan tersebut? Dokumen apa yang sebenarnya dipalsukan olehnya? Semuanya nanti akan mengarah pada kejadian yang dialami etnis Tionghoa pada tahun '65 dan juga '98
-
Novel ini menggambarkan kekejian dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, tapi tetap berhasil menyayat hati dan berakhir menangis membacanya. Nggak berlebihan kalau aku bilang, aku nangis sampai pusing baca buku ini.
Aku suka dengan penggambaran kisah dari berbagai sisi. Tidak hanya Martha, tetapi juga suaminya dan sahabat-sahabatnya. Dari situ kita bisa melihat berbagai sudut pandang kisah masa lalu, dan bagaimana kemudian hal tersebut berdampak pada mereka di masa ini. Ada yang tetap...
Aku menobatkan novel ini sebagai Best Read ku di tahun 2026.
Menceritakan ketidakadilan yang dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia. Novel ini bergenre historical slight romance.
-
Martha sudah hidup nyaman dengan keluarganya di Singapura. Sampai suatu hari terkuak bahwa dia pernah memalsukan dokumen ketika mendaftar beasiswa di Singapura.
Yang jadi pertanyaan adalah apa yang mendasari Martha melakukan tindakan tersebut? Dokumen apa yang sebenarnya dipalsukan olehnya? Semuanya nanti akan mengarah pada kejadian yang dialami etnis Tionghoa pada tahun '65 dan juga '98
-
Novel ini menggambarkan kekejian dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, tapi tetap berhasil menyayat hati dan berakhir menangis membacanya. Nggak berlebihan kalau aku bilang, aku nangis sampai pusing baca buku ini.
Aku suka dengan penggambaran kisah dari berbagai sisi. Tidak hanya Martha, tetapi juga suaminya dan sahabat-sahabatnya. Dari situ kita bisa melihat berbagai sudut pandang kisah masa lalu, dan bagaimana kemudian hal tersebut berdampak pada mereka di masa ini. Ada yang tetap mencintai Indonesia, tetapi ada yang berakhir membenci Indonesia
Novel ini juga memiliki sentuhan romansa dengan porsi yang pas, tapi tetap bikin senyam-senyum sendiri.
-
Kalau kalian cari novel hisfic yang masih cocok untuk pemula, kalian bisa baca novel ini. Bahasanya ringan dan ada sentuhan romansanya.
Solid 5 stars!
Lihat selengkapnya
PALN merupakan salah satu buku yang masuk sebagai nominasi best read 2023 di kalangan bookstagrammer yang saya ketahui. Tentu saya tidak ingin ketinggalan, dan patut saya akui bahwa ini tidak overhype, dan malah saya ingin merekomendasikan ini kepada semua orang.
Sebagai generasi millennials, saya banyak terbantu melalui pembahasan pada buku ini. Diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa pernah saya dengar, namun tidak pernah saya ketahui dengan jelas karena tidak ada sumber informasi yang bisa didapatkan selama di usia aktif pendidikan.
"Bagi Mama, politik dan Chinese adalah dua kata yang tidak boleh berada dalam kalimat yang sama. Ada garis tegas tak kasatmata yang memisahkan kaum mereka dengan politik."
"'Kita, Chinese, harus hati-hati. Hati-hati bicara, hati-hati bertindak.' Suara mamanya dalam dan serak. 'Jangan bikin rusuk. Bisa gawat! Kamu perempuan ..., jangan sampai kamu di—“
Kerusuhan pada tahun '98 merupakan salah satu momok yang paling menakutkan bagi Indonesia, khususnya keturunan Tionghoa saat itu. Toko dijarah, para wanita dilecehkan, para...
PALN merupakan salah satu buku yang masuk sebagai nominasi best read 2023 di kalangan bookstagrammer yang saya ketahui. Tentu saya tidak ingin ketinggalan, dan patut saya akui bahwa ini tidak overhype, dan malah saya ingin merekomendasikan ini kepada semua orang.
Sebagai generasi millennials, saya banyak terbantu melalui pembahasan pada buku ini. Diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa pernah saya dengar, namun tidak pernah saya ketahui dengan jelas karena tidak ada sumber informasi yang bisa didapatkan selama di usia aktif pendidikan.
"Bagi Mama, politik dan Chinese adalah dua kata yang tidak boleh berada dalam kalimat yang sama. Ada garis tegas tak kasatmata yang memisahkan kaum mereka dengan politik."
"'Kita, Chinese, harus hati-hati. Hati-hati bicara, hati-hati bertindak.' Suara mamanya dalam dan serak. 'Jangan bikin rusuk. Bisa gawat! Kamu perempuan ..., jangan sampai kamu di—“
Kerusuhan pada tahun '98 merupakan salah satu momok yang paling menakutkan bagi Indonesia, khususnya keturunan Tionghoa saat itu. Toko dijarah, para wanita dilecehkan, para pria ditangkap, dan tak sedikit anak-anak juga terkena imbasnya. Namun, ini tidak pernah saya baca dalam buku sejarah (pada waktu itu, nggak tahu sekarang), seolah-olah ini bukan merupakan kejadian yang wajib diketahui oleh generasi saat ini. Justru saya mengetahui ini dari penggalan kisah tokoh di sini.
"Engkong Aming (suaminya Yuni, sepupu Martha) dulu tinggal di desa sekitar Klaten. Perjuangan bisnis keluarga mereka naik turun. Ketika presiden mengeluarkan keppres bahwa WNA tidak boleh memiliki toko, toko mereka dirampas. engkong Aming berjuang kembali dari bawah. mereka pindah ke area kota Klaten setelah mengumpulkan rupiah demi rupiah, berhasil membeli ruko, lalu dengan susah payah dan proses berbelit, engkong Aming menjadi WNI."
Plot twist pertama yang menjadi 'gong' dari PALN adalah anak-anak yang orangtuanya tidak memiliki kewarganegaraan (stateless) akan tercantum sebagai anak luar nikah di akta kelahirannya. Aku shock mengingat betapa ribetnya birokrasi status kewarganegaraan pada saat itu. Padahal, mereka dilahirkan di Indonesia dan tidak pernah pergi ke Tiongkok, tapi diperlakukan sebagai orang luar. Apa rasanya tinggal di tanah kelahiran tapi tak dianggap karena asal usul leluhur?
"Pada 22 April 1955, bertepatan dengan Konferensi Asia-Afrika, Perdana Menteri Zhou Enlai dan Mr. Sunario, menteri luar negeri Indonesia pada saat itu, menandatangani perjanjian Sino-Indonesia Dual Nationality yang menyatakan bahwa setiap warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang memiliki dwikenegaraan, harus memilih salah satu. Proses pendaftaran kewarganegaraan yang berbelit, kurangnya sosialisasi, dan banyaknya keturunan Tionghoa yang tinggal di pelosok dan tidak mendapat akses terhadap informasi ini, menyebabkan kekacauan masif."
Isu ini diangkat di PALN melalui pengalaman Martha, sampai-sampai ia harus 'memalsukan' akta kelahirannya karena di-bully oleh teman sekelasnya... dan akhirnya menjadi boomerang buat dia di masa depannya. Suffering? Yes! Hidup bertahun-tahun dipandang sebelah mata oleh orang lain sangat tidak mengenakkan. ‘Kesalahan’ yang ia lakukan sekali pun murni tidak bermaksud jahat, murni ia hanya menginginkan akta dengan bunyi yang sama dengan teman-temannya, tanpa tertulis 'luar nikah' dan nama orangtuanya bisa tertulis di dalamnya. Tak bisa mengharapkan pemerintah, ia mempertahankan hak kewarganegaraannya melalui pemalsuan ini.
"I was born out of wedlock. My father was stateless ... I tried to defend my my birthright, to have my father's name written on my birth certificate."
Untuk mendapatkan status WNI, mereka mesti membuat sebuah dokumen yang lagi-lagi sulit didapatkan. Bayangkan hidup di masa itu begitu sulit sampai memperjuangkan kewarganegaraan di tanah kelahiran sendiri saja sampai berbelit-belit. Lagi-lagi, perlu banyak yang tentunya.
"Setahun kemudian, pada akhir tahun 1996, entah berapa uang yang dihabiskan, akhirnya Papa mendapat SBKRI. Surat Bukti Kewarganegaraaan Republik Indonesia. Papanya berkata itu surat sakti. Papa tidak lagi stateless."
Penamaan juga tidak bisa sembarangan. Saya mengenal beberapa orang yang masih menggunakan nama Chinese sebagai nama di akta kelahiran mereka, karena tidak punya (tidak diberikan) nama non-Chinese. Sekarang malah jadi penasaran perlakuan yang mereka terima pada saat itu.
"Bukan hal yang aneh untuk memiliki dua nama: nama di akta dan nama Chinese. Nama di akta untuk kepentingan surat-menyurat, sedangkan nama Chinese dianggap lebih rendah derajatnya. Bahkan seorang pejabat pemerintah pernah menganjurkan tidak menggunakan nama Chinese. Padahal, bagi keluarga Tionghoa, nama Chinese adalah nama baik pemberian orangtua."
Sebagai keturunan Tionghoa yang lahir di Kalimantan, saya cukup bangga masih bisa menggunakan dialek Khek. Ketika tiba di Jakarta untuk bekerja, saya menemukan banyak orang keturunan Chinese yang lahir & dibesarkan di sini tidak mampu menggunakan dialek tersebut karena tidak pernah diajarkan, karena mereka adalah qiaoshen. Merasa lucu ketika mereka nyengir kedapatan mendengar saya berbicara dengan menggunakan dialek tersebut kepada orang lain melalyi telepon.
"Kalau jij marry that singkek, jij cuma makan mi sama sumpit seumur hidup jij!"
"... singkek atau totok adalah keturunan para pekerja kasar yang dulu datang merantau sebagai buruh di Sumatra dan Kalimantan, menikah di antara sesama totok, dan masih fasih menggunakan dialek mereka."
"Pa manggil Ma noni qiaoshen, Kata Pa, Ma Chinese yang sudah enggak punya akar."
Hal yang tidak kalah menarik lainnya adalah mitos yang nggak tahu darimana usulnya, adalah pemanggilan terhadap orangtua. Terkait dengan ‘cara penyebutan’, saya juga pernah mendengar kisah adiknya teman saya yang perlu 'mengganti nama', karena selama belasan tahun ia sakit-sakitan. Menurut orang pintar yang setelah melihat feng shui, nama (adiknya teman saya) itu membawa penyakit, untuk itu perlu diubah supaya energinya bisa pulih kembali. Dan.. percaya atau tidak, setelah ganti nama, konon ia tidak sakit-sakitan lagi.
"Linda sendiri tidak memanggil orangtuanya dengan sebutan'Papa Mama', tetapi Acek, yang sebenarnya sebutan untuk adik laki-laki papa, dan Aem, sebutan untuk istri adik laki-laki papa. Orangtuanya pernah mendatangi orang pintar, lalu mendapat petunjuk. Jika ingin keluarga mereka sukses dan bisnis mereka lancar, Linda dan kakaknya harus memanggil orangtua mereka dengan sebutan lain."
Terakhir, salah satu quote yang aku suka banget dari Papa Martha, adalah dengan sadar secara utuh bahwa hidup ada pasang surutnya dan tidak melihat dari satu sisi yang tampak saja. Ini sebagai penutup bahwa kita nggak bisa mengontrol semuanya dalam hidup ini; ketika ada kesulitan ya bisa jadi mesti bertahan meskipun lama, namun itu semua akan berlalu. Hal-hal baik juga akan datang, dan mestinya ini dirayakan. Dengan demikian, hidup berasa seimbang dan tidak sedih melulu.
"... hidup memang sering tidak adil. Tapi, bukan berarti semua dalam hidup itu jelek. Ada hal-hal baik yang Papa syukuri. ... Tata jangan jadi manusia yang getir, ya. Hidup, meski berat, tetap punya hal-hal yang bisa dinikmati. Sekecil apa pun. Hidup itu ada masanya. Masa buat lahir; masa buat pergi. Kalau masanya sudah tiba, Tata harus ikhlas, ya."
Lihat selengkapnya
Buku ini bagussss banget! Isu “anak luar nikah” di sini nggak cuma soal label moral, tapi soal bagaimana satu status bisa ngunci hidup seseorang dari kecil sampai dewasa. Dari situ, ceritanya melebar ke soal identitas, dokumen, dan pilihan hidup yang diambil bukan karena mau, tapi karena terpaksa.
Lalu juga tentang diskriminasi dan sejarah etnis Tionghoa, aku baru tau kalo permasalahannya sekompleks itu lewat buku ini. Dan semuanya diselipin lewat konflik keluarga, relasi yang rapuh, dan ketakutan akan masa lalu yang bisa muncul kapan aja.
Rasanya related banget sama keadaan sekarang. Novel ini juga nyentil keras soal penghakiman publik. Gimana empati bisa hilang begitu cerita seseorang jadi konsumsi ramai-ramai.
Buku ini juga membuat kita berpikir ulang tentang keadilan, tentang kebenaran, dan tentang luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ini adalah novel best readku 2023 dan akan selalu aku rekomendasikan!!!
Termasuk hisfic favoritku sepanjang masa.
Di tengah isu huru hara buzzer politik, pemalsuan dokumen, nggak menyangka tahun 2026 pun novel ini masih relate!!!
Pilihan Martha untuk memasukkan dokumen akta kelahiran tuh kayaknya sepele banget tapi ternyata pada masa itu orang yang pengen mencantumkan nama ayahnya benar-benar susah.
Aku suka banget sama cara penulis mengupas trauma dan flashback kejadian kejadian masa lalu setiap tokohnya menurut aku itu tuh bagus sekaligus sedih banget karena aku bisa membayangkan gimana mencekamnya situasi pada saat itu dan bagaimana trauma diturunkan sampai generasi berikutnya. Baca novel ini tuh benar-benar bikin aku sadar kalo cinta bertepuk sebelah tangan sama negara sendiri itu nyakitin banget. Mereka enggak bisa memilih lahir dari ras apa dari keturunan apa tapi mereka dapat imbas diskriminasi karena situasi politik yang bahkan mereka pun nggak ikut-ikutan.
Part paling ngena tuh yang katanya negara ini...
Ini adalah novel best readku 2023 dan akan selalu aku rekomendasikan!!!
Termasuk hisfic favoritku sepanjang masa.
Di tengah isu huru hara buzzer politik, pemalsuan dokumen, nggak menyangka tahun 2026 pun novel ini masih relate!!!
Pilihan Martha untuk memasukkan dokumen akta kelahiran tuh kayaknya sepele banget tapi ternyata pada masa itu orang yang pengen mencantumkan nama ayahnya benar-benar susah.
Aku suka banget sama cara penulis mengupas trauma dan flashback kejadian kejadian masa lalu setiap tokohnya menurut aku itu tuh bagus sekaligus sedih banget karena aku bisa membayangkan gimana mencekamnya situasi pada saat itu dan bagaimana trauma diturunkan sampai generasi berikutnya. Baca novel ini tuh benar-benar bikin aku sadar kalo cinta bertepuk sebelah tangan sama negara sendiri itu nyakitin banget. Mereka enggak bisa memilih lahir dari ras apa dari keturunan apa tapi mereka dapat imbas diskriminasi karena situasi politik yang bahkan mereka pun nggak ikut-ikutan.
Part paling ngena tuh yang katanya negara ini adalah Ibu pertiwi. Tapi ibu macam apa yang menyusahkan anaknya? ???????? sumpah jleb banget????????
Lihat selengkapnya
Saya tertarik pada buku ini karena judulnya. Dan setelah membaca isinya, wow banyak sekali hal yang saya baru tahu dari buku ini. Saya banyak mendengar tentang diskriminasi etnis keturunan Tionghoa, tetapi tidak sampai sedalam yang dibahas di buku ini. Terima kasih banyak untuk penulis, karena buku ini meningkatkan awareness kepada orang-orang yang awam, seperti saya. Disuguhkan lewat plot yang sangat menarik sehingga tidak bosan membacanya. Tapi ending-nya... yah, saya hanya bersyukur karena Martha akhirnya bisa move on.