PALN merupakan salah satu buku yang masuk sebagai nominasi best read 2023 di kalangan bookstagrammer yang saya ketahui. Tentu saya tidak ingin ketinggalan, dan patut saya akui bahwa ini tidak overhype, dan malah saya ingin merekomendasikan ini kepada semua orang.
Sebagai generasi millennials, saya banyak terbantu melalui pembahasan pada buku ini. Diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa pernah saya dengar, namun tidak pernah saya ketahui dengan jelas karena tidak ada sumber informasi yang bisa didapatkan selama di usia aktif pendidikan.
"Bagi Mama, politik dan Chinese adalah dua kata yang tidak boleh berada dalam kalimat yang sama. Ada garis tegas tak kasatmata yang memisahkan kaum mereka dengan politik."
"'Kita, Chinese, harus hati-hati. Hati-hati bicara, hati-hati bertindak.' Suara mamanya dalam dan serak. 'Jangan bikin rusuk. Bisa gawat! Kamu perempuan ..., jangan sampai kamu di—“
Kerusuhan pada tahun '98 merupakan salah satu momok yang paling menakutkan bagi Indonesia, khususnya keturunan Tionghoa saat itu. Toko dijarah, para wanita dilecehkan, para...
PALN merupakan salah satu buku yang masuk sebagai nominasi best read 2023 di kalangan bookstagrammer yang saya ketahui. Tentu saya tidak ingin ketinggalan, dan patut saya akui bahwa ini tidak overhype, dan malah saya ingin merekomendasikan ini kepada semua orang.
Sebagai generasi millennials, saya banyak terbantu melalui pembahasan pada buku ini. Diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa pernah saya dengar, namun tidak pernah saya ketahui dengan jelas karena tidak ada sumber informasi yang bisa didapatkan selama di usia aktif pendidikan.
"Bagi Mama, politik dan Chinese adalah dua kata yang tidak boleh berada dalam kalimat yang sama. Ada garis tegas tak kasatmata yang memisahkan kaum mereka dengan politik."
"'Kita, Chinese, harus hati-hati. Hati-hati bicara, hati-hati bertindak.' Suara mamanya dalam dan serak. 'Jangan bikin rusuk. Bisa gawat! Kamu perempuan ..., jangan sampai kamu di—“
Kerusuhan pada tahun '98 merupakan salah satu momok yang paling menakutkan bagi Indonesia, khususnya keturunan Tionghoa saat itu. Toko dijarah, para wanita dilecehkan, para pria ditangkap, dan tak sedikit anak-anak juga terkena imbasnya. Namun, ini tidak pernah saya baca dalam buku sejarah (pada waktu itu, nggak tahu sekarang), seolah-olah ini bukan merupakan kejadian yang wajib diketahui oleh generasi saat ini. Justru saya mengetahui ini dari penggalan kisah tokoh di sini.
"Engkong Aming (suaminya Yuni, sepupu Martha) dulu tinggal di desa sekitar Klaten. Perjuangan bisnis keluarga mereka naik turun. Ketika presiden mengeluarkan keppres bahwa WNA tidak boleh memiliki toko, toko mereka dirampas. engkong Aming berjuang kembali dari bawah. mereka pindah ke area kota Klaten setelah mengumpulkan rupiah demi rupiah, berhasil membeli ruko, lalu dengan susah payah dan proses berbelit, engkong Aming menjadi WNI."
Plot twist pertama yang menjadi 'gong' dari PALN adalah anak-anak yang orangtuanya tidak memiliki kewarganegaraan (stateless) akan tercantum sebagai anak luar nikah di akta kelahirannya. Aku shock mengingat betapa ribetnya birokrasi status kewarganegaraan pada saat itu. Padahal, mereka dilahirkan di Indonesia dan tidak pernah pergi ke Tiongkok, tapi diperlakukan sebagai orang luar. Apa rasanya tinggal di tanah kelahiran tapi tak dianggap karena asal usul leluhur?
"Pada 22 April 1955, bertepatan dengan Konferensi Asia-Afrika, Perdana Menteri Zhou Enlai dan Mr. Sunario, menteri luar negeri Indonesia pada saat itu, menandatangani perjanjian Sino-Indonesia Dual Nationality yang menyatakan bahwa setiap warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang memiliki dwikenegaraan, harus memilih salah satu. Proses pendaftaran kewarganegaraan yang berbelit, kurangnya sosialisasi, dan banyaknya keturunan Tionghoa yang tinggal di pelosok dan tidak mendapat akses terhadap informasi ini, menyebabkan kekacauan masif."
Isu ini diangkat di PALN melalui pengalaman Martha, sampai-sampai ia harus 'memalsukan' akta kelahirannya karena di-bully oleh teman sekelasnya... dan akhirnya menjadi boomerang buat dia di masa depannya. Suffering? Yes! Hidup bertahun-tahun dipandang sebelah mata oleh orang lain sangat tidak mengenakkan. ‘Kesalahan’ yang ia lakukan sekali pun murni tidak bermaksud jahat, murni ia hanya menginginkan akta dengan bunyi yang sama dengan teman-temannya, tanpa tertulis 'luar nikah' dan nama orangtuanya bisa tertulis di dalamnya. Tak bisa mengharapkan pemerintah, ia mempertahankan hak kewarganegaraannya melalui pemalsuan ini.
"I was born out of wedlock. My father was stateless ... I tried to defend my my birthright, to have my father's name written on my birth certificate."
Untuk mendapatkan status WNI, mereka mesti membuat sebuah dokumen yang lagi-lagi sulit didapatkan. Bayangkan hidup di masa itu begitu sulit sampai memperjuangkan kewarganegaraan di tanah kelahiran sendiri saja sampai berbelit-belit. Lagi-lagi, perlu banyak yang tentunya.
"Setahun kemudian, pada akhir tahun 1996, entah berapa uang yang dihabiskan, akhirnya Papa mendapat SBKRI. Surat Bukti Kewarganegaraaan Republik Indonesia. Papanya berkata itu surat sakti. Papa tidak lagi stateless."
Penamaan juga tidak bisa sembarangan. Saya mengenal beberapa orang yang masih menggunakan nama Chinese sebagai nama di akta kelahiran mereka, karena tidak punya (tidak diberikan) nama non-Chinese. Sekarang malah jadi penasaran perlakuan yang mereka terima pada saat itu.
"Bukan hal yang aneh untuk memiliki dua nama: nama di akta dan nama Chinese. Nama di akta untuk kepentingan surat-menyurat, sedangkan nama Chinese dianggap lebih rendah derajatnya. Bahkan seorang pejabat pemerintah pernah menganjurkan tidak menggunakan nama Chinese. Padahal, bagi keluarga Tionghoa, nama Chinese adalah nama baik pemberian orangtua."
Sebagai keturunan Tionghoa yang lahir di Kalimantan, saya cukup bangga masih bisa menggunakan dialek Khek. Ketika tiba di Jakarta untuk bekerja, saya menemukan banyak orang keturunan Chinese yang lahir & dibesarkan di sini tidak mampu menggunakan dialek tersebut karena tidak pernah diajarkan, karena mereka adalah qiaoshen. Merasa lucu ketika mereka nyengir kedapatan mendengar saya berbicara dengan menggunakan dialek tersebut kepada orang lain melalyi telepon.
"Kalau jij marry that singkek, jij cuma makan mi sama sumpit seumur hidup jij!"
"... singkek atau totok adalah keturunan para pekerja kasar yang dulu datang merantau sebagai buruh di Sumatra dan Kalimantan, menikah di antara sesama totok, dan masih fasih menggunakan dialek mereka."
"Pa manggil Ma noni qiaoshen, Kata Pa, Ma Chinese yang sudah enggak punya akar."
Hal yang tidak kalah menarik lainnya adalah mitos yang nggak tahu darimana usulnya, adalah pemanggilan terhadap orangtua. Terkait dengan ‘cara penyebutan’, saya juga pernah mendengar kisah adiknya teman saya yang perlu 'mengganti nama', karena selama belasan tahun ia sakit-sakitan. Menurut orang pintar yang setelah melihat feng shui, nama (adiknya teman saya) itu membawa penyakit, untuk itu perlu diubah supaya energinya bisa pulih kembali. Dan.. percaya atau tidak, setelah ganti nama, konon ia tidak sakit-sakitan lagi.
"Linda sendiri tidak memanggil orangtuanya dengan sebutan'Papa Mama', tetapi Acek, yang sebenarnya sebutan untuk adik laki-laki papa, dan Aem, sebutan untuk istri adik laki-laki papa. Orangtuanya pernah mendatangi orang pintar, lalu mendapat petunjuk. Jika ingin keluarga mereka sukses dan bisnis mereka lancar, Linda dan kakaknya harus memanggil orangtua mereka dengan sebutan lain."
Terakhir, salah satu quote yang aku suka banget dari Papa Martha, adalah dengan sadar secara utuh bahwa hidup ada pasang surutnya dan tidak melihat dari satu sisi yang tampak saja. Ini sebagai penutup bahwa kita nggak bisa mengontrol semuanya dalam hidup ini; ketika ada kesulitan ya bisa jadi mesti bertahan meskipun lama, namun itu semua akan berlalu. Hal-hal baik juga akan datang, dan mestinya ini dirayakan. Dengan demikian, hidup berasa seimbang dan tidak sedih melulu.
"... hidup memang sering tidak adil. Tapi, bukan berarti semua dalam hidup itu jelek. Ada hal-hal baik yang Papa syukuri. ... Tata jangan jadi manusia yang getir, ya. Hidup, meski berat, tetap punya hal-hal yang bisa dinikmati. Sekecil apa pun. Hidup itu ada masanya. Masa buat lahir; masa buat pergi. Kalau masanya sudah tiba, Tata harus ikhlas, ya."
Lihat selengkapnya
Buku ini bagussss banget! Isu “anak luar nikah” di sini nggak cuma soal label moral, tapi soal bagaimana satu status bisa ngunci hidup seseorang dari kecil sampai dewasa. Dari situ, ceritanya melebar ke soal identitas, dokumen, dan pilihan hidup yang diambil bukan karena mau, tapi karena terpaksa.
Lalu juga tentang diskriminasi dan sejarah etnis Tionghoa, aku baru tau kalo permasalahannya sekompleks itu lewat buku ini. Dan semuanya diselipin lewat konflik keluarga, relasi yang rapuh, dan ketakutan akan masa lalu yang bisa muncul kapan aja.
Rasanya related banget sama keadaan sekarang. Novel ini juga nyentil keras soal penghakiman publik. Gimana empati bisa hilang begitu cerita seseorang jadi konsumsi ramai-ramai.
Buku ini juga membuat kita berpikir ulang tentang keadilan, tentang kebenaran, dan tentang luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ini adalah novel best readku 2023 dan akan selalu aku rekomendasikan!!!
Termasuk hisfic favoritku sepanjang masa.
Di tengah isu huru hara buzzer politik, pemalsuan dokumen, nggak menyangka tahun 2026 pun novel ini masih relate!!!
Pilihan Martha untuk memasukkan dokumen akta kelahiran tuh kayaknya sepele banget tapi ternyata pada masa itu orang yang pengen mencantumkan nama ayahnya benar-benar susah.
Aku suka banget sama cara penulis mengupas trauma dan flashback kejadian kejadian masa lalu setiap tokohnya menurut aku itu tuh bagus sekaligus sedih banget karena aku bisa membayangkan gimana mencekamnya situasi pada saat itu dan bagaimana trauma diturunkan sampai generasi berikutnya. Baca novel ini tuh benar-benar bikin aku sadar kalo cinta bertepuk sebelah tangan sama negara sendiri itu nyakitin banget. Mereka enggak bisa memilih lahir dari ras apa dari keturunan apa tapi mereka dapat imbas diskriminasi karena situasi politik yang bahkan mereka pun nggak ikut-ikutan.
Part paling ngena tuh yang katanya negara ini...
Ini adalah novel best readku 2023 dan akan selalu aku rekomendasikan!!!
Termasuk hisfic favoritku sepanjang masa.
Di tengah isu huru hara buzzer politik, pemalsuan dokumen, nggak menyangka tahun 2026 pun novel ini masih relate!!!
Pilihan Martha untuk memasukkan dokumen akta kelahiran tuh kayaknya sepele banget tapi ternyata pada masa itu orang yang pengen mencantumkan nama ayahnya benar-benar susah.
Aku suka banget sama cara penulis mengupas trauma dan flashback kejadian kejadian masa lalu setiap tokohnya menurut aku itu tuh bagus sekaligus sedih banget karena aku bisa membayangkan gimana mencekamnya situasi pada saat itu dan bagaimana trauma diturunkan sampai generasi berikutnya. Baca novel ini tuh benar-benar bikin aku sadar kalo cinta bertepuk sebelah tangan sama negara sendiri itu nyakitin banget. Mereka enggak bisa memilih lahir dari ras apa dari keturunan apa tapi mereka dapat imbas diskriminasi karena situasi politik yang bahkan mereka pun nggak ikut-ikutan.
Part paling ngena tuh yang katanya negara ini adalah Ibu pertiwi. Tapi ibu macam apa yang menyusahkan anaknya? ???????? sumpah jleb banget????????
Lihat selengkapnya
Saya tertarik pada buku ini karena judulnya. Dan setelah membaca isinya, wow banyak sekali hal yang saya baru tahu dari buku ini. Saya banyak mendengar tentang diskriminasi etnis keturunan Tionghoa, tetapi tidak sampai sedalam yang dibahas di buku ini. Terima kasih banyak untuk penulis, karena buku ini meningkatkan awareness kepada orang-orang yang awam, seperti saya. Disuguhkan lewat plot yang sangat menarik sehingga tidak bosan membacanya. Tapi ending-nya... yah, saya hanya bersyukur karena Martha akhirnya bisa move on.
This is easily one of my best read in 2026
Tertarik banget baca buku ini sejak baca judulnya. Judul yang thought provoking karena ada kata "Anak Luar Nikah" tapi di sampulnya kok fotonya keluarga bahagia.. Ternyata, kata Anak Luar Nikah yang dibahas di sini beda dengan anak di luar perkawinan seperti ungkapanku semula.
Novel ini membahas tentang persoalan identitas keturunan Indonesia-Tionghoa, yang dikisahkan lewat tokohnya Martha Goenawan yang tersangkut kasus pemalsuan dokumen ketika dia masuk perguruan tinggi. Ternyata, kasus yang menyeretnya gak sesederhana itu. Dari sini cerita beralih jauh menilik masa lalu Martha, teman-temannya, hingga kedudukan orang keturunan Tionghoa yang selama ini dianggap sebagai masyarakat kelas 2 di Indonesia.
Buku yang membahas tentang etnis Tionghoa ini berbeda dari beberapa buku dengan tema serupa yang sudah pernah kubaca. Kalau biasanya tokohnya digambarkan agak "stereotip" sebagai wartawan, aktivis, pesakitan, atau bahkan orang miskin, di sini sudut pandang yang dihadirkan malah dari orang-orang Cina "biasa", malah...
This is easily one of my best read in 2026
Tertarik banget baca buku ini sejak baca judulnya. Judul yang thought provoking karena ada kata "Anak Luar Nikah" tapi di sampulnya kok fotonya keluarga bahagia.. Ternyata, kata Anak Luar Nikah yang dibahas di sini beda dengan anak di luar perkawinan seperti ungkapanku semula.
Novel ini membahas tentang persoalan identitas keturunan Indonesia-Tionghoa, yang dikisahkan lewat tokohnya Martha Goenawan yang tersangkut kasus pemalsuan dokumen ketika dia masuk perguruan tinggi. Ternyata, kasus yang menyeretnya gak sesederhana itu. Dari sini cerita beralih jauh menilik masa lalu Martha, teman-temannya, hingga kedudukan orang keturunan Tionghoa yang selama ini dianggap sebagai masyarakat kelas 2 di Indonesia.
Buku yang membahas tentang etnis Tionghoa ini berbeda dari beberapa buku dengan tema serupa yang sudah pernah kubaca. Kalau biasanya tokohnya digambarkan agak "stereotip" sebagai wartawan, aktivis, pesakitan, atau bahkan orang miskin, di sini sudut pandang yang dihadirkan malah dari orang-orang Cina "biasa", malah cenderung kaya. Tetapi di situ letak menariknya. Buku ini menjawab pertanyaan bahwa pada dasarnya persoalan tentang identitas akan selamanya menghantui mereka yang terdampak, di mana pun, meskipun hidup barangkali telah memberikan hal lain bagi para korban.
Ceritanya seruu banget. Ada aspek novel detektif, romansa, serta sejarah yang dijahit begitu rapi jadi satu. Meskipun POV tokoh orang-orang di novel ini cukup sering ganti-ganti, entah kenapa Saya gak pernah keberatan ketika cerita beralih dari Martha si tokoh utama. Penokohan novel ini sangat kuat. Para tokoh seperti Ronny suaminya Martha, Fanny dan Linda temannya Martha, serta Yuni masing-masing membawa luka pasca kejadian 98 dan punya pandangan masing-masing.
Sangat sangat direkomendasikan untuk dibaca
Lihat selengkapnya
Awalnya aku berpikir buku ini akan membahas kisah anak-anak yang tak diinginkan akibat lahir di luar pernikahan namun fakta yang disajikan ternyata lebih menyeramkan dari itu. Hal ini berkaitan dengan waktu dimana warga keturunan Tionghoa kesulitan untuk mendapatkan surat kewarganegaraan sehingga mereka tidak memiliki surat lengkap mengenai data kelahiran. Itulah mengapa mereka mendapatkan sebutan sebagai anak luar nikah apalagi dengan adanya peristiwa 1998 membuat Martha yang memiliki cita-cita tinggi terpaksa harus memalsukan akta kelahirannya. Semua berjalan lancar, Martha mendapatkan beasiswa dan hidup tenang di Singapura. Namun di satu sisi dia tetap ingin mengungkap kebenaran dan kebobrokan di NKRI. Melalui akun sosmed anonim dia merasa aman dan berani namun siapa sangka semuanya terbongkar. Bukan hanya tentang siapa dirinya namun tentang surat yang dipalsukannya. Martha tak tahu harus bagaimana, penjara dan hukuman sudah menunggunya. Di sinilah empati dan emosional pembaca dipermainkan bagaimana bisa mereka justru dipersulit padahal negara sendiri yang mempersulit kehidupan...
Awalnya aku berpikir buku ini akan membahas kisah anak-anak yang tak diinginkan akibat lahir di luar pernikahan namun fakta yang disajikan ternyata lebih menyeramkan dari itu. Hal ini berkaitan dengan waktu dimana warga keturunan Tionghoa kesulitan untuk mendapatkan surat kewarganegaraan sehingga mereka tidak memiliki surat lengkap mengenai data kelahiran. Itulah mengapa mereka mendapatkan sebutan sebagai anak luar nikah apalagi dengan adanya peristiwa 1998 membuat Martha yang memiliki cita-cita tinggi terpaksa harus memalsukan akta kelahirannya. Semua berjalan lancar, Martha mendapatkan beasiswa dan hidup tenang di Singapura. Namun di satu sisi dia tetap ingin mengungkap kebenaran dan kebobrokan di NKRI. Melalui akun sosmed anonim dia merasa aman dan berani namun siapa sangka semuanya terbongkar. Bukan hanya tentang siapa dirinya namun tentang surat yang dipalsukannya. Martha tak tahu harus bagaimana, penjara dan hukuman sudah menunggunya. Di sinilah empati dan emosional pembaca dipermainkan bagaimana bisa mereka justru dipersulit padahal negara sendiri yang mempersulit kehidupan itu. Mereka masih mau mengakui NKRI namun mereka tak diberikan kewarganegaraan sehingga hidupnya tak tahu harus dibawa kemana. Kita akan melihat bagaimana perjuangan Martha, dukungan suami dan teman-teman untuk menyelamatkannya. Apakah keadilan berpihak pada Martha dan bagaimana kehidupan selanjutnya. Meskipun kisah ini fiksi namun rasa sedih, sakit dan emosinya dapet banget bahkan tulisannya page turner cocok untuk pembaca hisfic awal yang ingin merasakan vibes serupa.
Lihat selengkapnya