Buku SEPTICTANK - PANDJI PRAGIWAKSONO | Mizanstore
  • SEPTICTANK
Ketersediaan : Tersedia

SEPTICTANK

Deskripsi Singkat

Politik adalah sesuatu yang rumit. Penuh kejutan seperti cerita misteri yang tak berujung. Dan, tidak pernah sesederhana seperti yang terlihat. Keterikatan Pandji dengan dunia politik berawal dari banyak hal yang membuatnya gelisah. Ia pun menuangkannya lewat lagu, buku, hingga stand up comedy. Namun, ketika akhirnya Pandji terseret lebih dalam lagi… Baca Selengkapnya...

Rp 79.000 Rp 67.150
-
+

Politik adalah sesuatu yang rumit. Penuh kejutan seperti cerita misteri yang tak berujung. Dan, tidak pernah sesederhana seperti yang terlihat.

Keterikatan Pandji dengan dunia politik berawal dari banyak hal yang membuatnya gelisah. Ia pun menuangkannya lewat lagu, buku, hingga stand up comedy. Namun, ketika akhirnya Pandji terseret lebih dalam lagi dan terlibat sebagai tim kampanye, ada banyak hal mengejutkan yang tidak ia duga sebelumnya.

Pengalaman Pandji nyemplung ke politik dibahas secara mendalam di buku ini. Mulai dari ketertarikan pertama, keterlibatannya dalam kampanye, hingga pandangannya terhadap politik pada masa depan. Tak hanya itu, ia juga memberikan starter kit demokrasi dan politik untuk kita semua, terutama bagi pemilih muda yang masih kebingungan dalam meletakkan aspirasinya.

Bagi Pandji, nyemplung ke kolam politik sama saja seperti nyemplung ke septictank. Temukan alasannya di buku ini.

Tentang PANDJI PRAGIWAKSONO

PANDJI PRAGIWAKSONO

Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo (lahir di Singapura, 18 Juni 1979; umur 39 tahun) adalah seorang aktor, penyiar radio, presentertelevisi, penulis buku, penyanyi rap, dan pelawak tunggal berkebangsaan Indonesia. 

Ia tercatat sebagai mahasiswa Desain Produk, Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB angkatan 1997. Pandji memulai kariernya sebagai penyiar radio di Hard Rock FM Bandung selama dua tahun sampai 2003 bersama Tike Priatnakusumah, sebelum pindah ke Jakarta dan menjadi penyiar Hard Rock di Jakarta selama tiga tahun, terkenal karena kolaborasinya bersama Steny Agustaf.

Pandji juga memandu acara reality show Kena Deh yang ditayangkan di Trans7 dan mendapat sambutan populer, dan ditayangkan semula di ANTV pada 2008. Dia juga pernah memandu acara siaran pertandingan NBA di JakTV, karena dia sangat berminat dengan olahraga basket.

Pada 2008, ia merilis album musik rap pertamanya berjudul Provocative Proactive, yang menampilkan beberapa artis seperti Tompi, Steny Agustaf dan istrinya sendiri, Gamila Arief.

Pada 2009, ia juga meluncurkan album kedua, You'll Never Know When Someone Comes In And Press Play On Your Paused Life. Dan di awal 2010, pada 21 Januari bersama para penyiar yang tergabung di MRA, Pandji menyumbangkan suaranya di album THIS IS ME, yang merupakan album amal. Penjualan dan keuntungan album ini diberikan pada Yayasan Onkologi Anak Indonesia. Ia tampil di beberapa acara musik seperti Soulnation. Albumnya pada 2010, Merdesa, menuai keuntungan besar dengan menerapkan strategi free lunch method yang diakui oleh Hermawan Kertajaya.

Pada tanggal 21 Mei 2012, bertepatan dengan 14 tahun turunnya Soeharto, Pandji mulai  meluncurkan album hiphop ke 4-nya berjudul 32. Lagu lagu seperti Demokrasi Kita dan Indonesia Free adalah musikalisasi dari pidato Mohammad Hatta. Album 32 juga berisi lagu seperti GR feat Abenk Ranadireksa (Soulvibe), lalu Untuk Sahabatku feat Davinaraja(The Extralarge) yang ia tulis sebagai persembahan kepada para penikmat musiknya selama 5 tahun berkarier.

Memulai kariernya sebagai seorang pelawak tunggal pada tahun 2010. Diawali dari Twivate Concert pertama yang ia lakukan di bulan April, Pandji akhirnya memantapkan niatnya untuk membangun awareness masyarakat tentang pelawak tunggal ini sendiri. Ia juga pencetus gagasan adanya kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) di Kompas TV

Pada 28 Desember 2011, Pandji memproduksi sendiri acara komedi tunggal spesialnya di Teater Usmar Ismail, Bhinneka Tunggal Tawa dimana dihadiri ratusan penggemar.[3] Ia tampil di dua show yang menampilkan pelawak tunggal pembuka Ernest Prakasa, Sam D. Putra, Luqman Baihaqi, dan lain-lain. Selain itu dia juga membuat special show lainnya, seperti Mesakke Bangsaku yang diselenggarakan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Tanggal 8 Desember dia menggelar pertunjukan spesial dengan nama INDONESIA: (baca: Indonesia titik dua) gabungan konser hip hop, dengan komedi tunggal yang bernamakan Merdeka Dalam Bercanda, peluncuran buku Berani Mengubah, dan peluncuran album keempatnya, Album 32. Pagelaran ini sungguh tidak biasa karena di selenggarakan di Museum Nasional atau yang lebih dikenal dengan Museum Gajah.

Dirinya pun sebagai orang Indonesia pertama yang keliling dunia dengan karyanya, Juru Bicara adalah karya terbaru dari special show komedi tunggalnya. Juru Bicara merupakan world tour keduanya Pandji, setelah Mesakke Bangsaku.

Sebagai seorang penulis Pandji telah menerbitkan Nasional.Is.Me (2011), Merdeka dalam Bercanda (2012), Berani Mengubah (2012), Degalings (2014), Menemukan Indonesia (2016), Juru Bicara (2016), Persisten (2017), Septictank (2019).
 




Keunggulan Buku

  • Aktifnya Pandji sebagai juru bicara calon gubernur pada tahun lalu membuat publik bertanya-tanya mengenai latar belakang dan motifnya. Semua rahasia dibahas lengkap di buku ini.
  • Tidak hanya membahas tentang pengalaman Pandji, para pemilih muda juga bisa mempelajari hal-hal yang perlu mereka tahu mengenai dunia perpolitikan di Indonesia.
 

Nukilan

Kalau ada yang bertanya bagaimana awal mula seorang Pandji Pragiwaksono bisa punya ketertarikan terhadap dunia politik, salah satu jawaban paling mendasar yang bisa saya berikan adalah faktor keadaan. Saya ingat betul, saat itu tahun 2007 dan Dipo baru lahir. Pada waktu yang bersamaan, kondisi ekonomi saya malah berantakan. Situasi ini dipicu dua hal. Pertama, karena saya berhenti mengambil pekerjaan yang disponsori produsen rokok.

Aneh rasanya jika saya memiliki yayasan kanker, tetapi masih mencari rezeki dari salah satu penyebab terbesar penyakit kanker. Tidak etis. Meninggalkan pekerjaan yang disponsori rokok berimbas pada turunnya penghasilan saya. Sangat drastis kalau dihitung-hitung karena hampir semua pekerjaan saya bersumber dari perusahaan rokok—mulai dari menjadi pembawa acara sampai tampil di festival musik. Perusahaan rokok sedang kuat-kuatnya ketika itu.

Pemicu kedua, karena saya juga membuat pernyataan tidak mau ikut-ikutan dalam praktik korupsi event organizer atau penyelenggara acara.3 Jadi, sedari dulu event organizer itu suka melakukan mark up. Misalnya, saya memasang harga menjadi pembawa acara Rp10 juta, tetapi di kontrak yang diberikan event organizer kepada pemilik acara ditulis Rp11 juta. Setelah acara, saya diminta untuk mentransfer balik yang Rp1 juta.

Berkali-kali menghadapi kenyataan tersebut, saya akhirnya berani berkata, “Lo, kok, ngelibatin gue dalam praktik korup lo?” Meski kemudian ada yang berdalih memang seperti itulah cara event organizer mencari uang, sehingga dianggap sah, saya yakin mereka tidak akan berani menunjukkan kontrak saya yang sebenarnya kepada si pemilik acara. So, kalau memang mau korup, tolonglah, jangan ajak-ajak saya! Pun semenjak saat itu banyak event organizer yang mundur teratur dan tidak mau menggunakan tenaga saya.

***

Bagi anak kuliahan zaman dulu seperti saya, sungguh kesalahan besar kalau sampai tidak tahu isu-isu politik. Kata “mahasiswa” identik dengan “pergerakan”. Siapa pun yang menyandang gelar mahasiswa, tentu memiliki tanggung jawab sosial untuk menunjukkan keberpihakan kepada rakyat, kritis terhadap setiap kebijakan pemerintah, dan rela pasang badan untuk berdiri paling depan mengatasnamakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai anak baru di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1997, saya merasakan langsung betapa kuatnya tekanan mahasiswa kepada pemerintahan Presiden Soeharto saat itu. Dan, ketika reformasi 1998 bergulir, saya menjadi bagian di dalamnya.

Kalau dibilang ikut berdemonstrasi, ya, saya memang ikut berdemo. Namun dalam setiap aksi, saya tidak pernah menjadi orator. Sebagai mahasiswa baru, peran saya cuma disuruh-suruh jadi pagar betis oleh senior. Dan segala sepak terjang saat menjadi mahasiswa hingga lulus mungkin merupakan titik awal saya dalam belajar mengenal politik.

Ada satu cara pandang identik yang hampir selalu dimiliki para mahasiswa terhadap pemerintah. Bagi para mahasiswa saat itu, pokoknya pemerintah bodoh. Cara pandang demikian terus melekat dalam diri saya terhadap pemerintah, entah siapa pun yang sedang berkuasa. Akan tetapi, pasca-Provocative Proactive cara pandang saya berubah. Saya sadar, pemerintah seharusnya jangan diserang, tetapi justru diselamatkan dari kebodohan mereka sendiri. Coba bayangkan, ada orang bodoh terus diserang ramai-ramai oleh banyak orang. Apa yang terjadi? Bukan bangkit dan jadi pintar, melainkan orang tersebut malah akan semakin ambruk. Semakin terbelakang. Jadi, jangan serang pemerintah, tetapi selamatkan!

***

Di dalam buku saya yang berjudul Berani Mengubah, ada satu bab yang diberi tajuk “Belajar Politik”. Dalam bab tersebut saya menuliskan, jika ingin mengubah Indonesia, kita harus belajar banyak hal. Kita harus belajar hukum, ekonomi, dan banyak hal lain, termasuk politik. Pada bagian akhir bab, saya menuliskan:

“Kalau kamu merasa mampu untuk mengubah sendiri, secara politis, terjunlah. Kalau kamu merasa belum mampu, jadilah kritis. Kalau masih belum bisa kritis, setidaknya belajar dengan benar.”

Kalimat itulah yang akhirnya membuat saya berpikir, Kalau ada kesempatan menghampiri, saya mau terlibat dalam dunia politik. Sebelum akhirnya benar-benar terjun ke dunia politik praktis, yang bisa saya lakukan hanyalah berbicara tentang politik. Materi stand-up saya membicarakan politik. Lagu-lagu rap saya tentang politik. Buku-buku yang saya tulis membahas dunia politik. Namun, ketika benar-benar telah terjun ke ranah politik praktis, saya akhirnya sadar bahwa mengamati dan menjalankan politik adalah dua hal yang berbeda. Sebagai pengamat, saya tidak perlu mengambil keputusan. Saya hanya menonton, lalu mengomentari apa yang dilihat, sedangkan jika menjadi orang yang menjalankan, saya harus mengambil keputusan. Dan, dari setiap keputusan yang saya ambil, risikonya hanya dua: ada yang suka dan tidak.

***
Bangsa ini selalu butuh orang-orang yang bisa bekerja sama dalam perbedaan. Sejarah mencatat akan selalu ada orang yang bisa diterima semua kalangan. Bung Karno salah seorangnya. Bung Karno mungkin bukan orang yang sangat pintar dalam hal-hal yang bersifat pragmatis. Namun dari segi gagasan, harus diakui Bung Karno sangat brilian. Yang terpenting dari semuanya, Bung Karno pintar ngomong. Kalau Bung Karno tidak punya kemampuan berbahasa seperti itu, saya yakin Indonesia tidak akan menjadi seperti sekarang. Berkat kemampuannya, Bung Karno bahkan berhasil mempersatukan orang-orang yang saat itu tidak sepaham dengannya.

Bangsa Indonesia sekarang ini begitu paham betapa kita serba-berbeda, serba-berbineka. Kita paham ada orang yang beretnis Tionghoa, Papua, Sumba, Jawa, Sunda, dan sebagainya di Indonesia. Kita paham bukan cuma ada orang Islam di sini, melainkan juga orang Kristen, Hindu, Buddha, dan para penganut Kepercayaan. Namun, ketika harus bekerja bersama dalam perbedaan, kita kadang pilih-pilih. Kita kadang merasa canggung untuk lebur bareng hingga menghasilkan sesuatu yang besar.

Resensi

Beri ulasan produk ini

Spesifikasi Produk

SKU BI-143
ISBN 978-602-291-560-7
Berat 200 Gram
Dimensi (P/L/T) 13 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
Halaman 200
Jenis Cover Soft Cover