Buku SLILIT SANG KIAI… - Emha Ainun… | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

SLILIT SANG KIAI (REPUBLISH-4)

    Deskripsi Singkat

    Ide-ide dan sepak terjangnya sering bernada kritis dan mengejutkan. Minatnya luas, mencakup berbagai masalah hangat di bidang sosial, budaya, dan politik. Buku ini jelas memperlihatkan sosok penulisnya, Emha Ainun Nadjib, sebagai cendekiawan yang kritis sekaligus penyair yang kerap lebih suka menafikan aturan-aturan konvensional. Di dalamnya, Emha menuangkan segenap gagasan dan… Baca Selengkapnya...

    Rp 85.000 Rp 72.250
    -
    +

    Ide-ide dan sepak terjangnya sering bernada kritis dan mengejutkan. Minatnya luas, mencakup berbagai masalah hangat di bidang sosial, budaya, dan politik. Buku ini jelas memperlihatkan sosok penulisnya, Emha Ainun Nadjib, sebagai cendekiawan yang kritis sekaligus penyair yang kerap lebih suka menafikan aturan-aturan konvensional. Di dalamnya, Emha menuangkan segenap gagasan dan uneg-uneg-nya tentang “persoalan-persoalan darurat bagi bangsa yang berduka”.




    Kata Pengantar

    SLILIT sang kiai adalah “kumpulan kolom”, bukan “buku”. Artinya, kumpulan ini bukan paparan gagasan yang sejak semula secara sadar disusun dalam suatu rakitan sistemik, sebagaimana lazimnya sebuah buku disusun. Ibarat pementasan di panggung, kolom-kolom ini adalah sederetan lagu yang masing-masing mengalir sendiri-sendiri, meskipun penyusunannya diupayakan agar aliran-aliran itu bertemu di sana-sini dan membangun suatu keutuhan nuansa.
    Cara membaca “kumpulan kolom” dengan demikian juga berbeda pola intensitas, konsentrasi, dan ritmenya dibanding dengan cara membaca “buku”. Kita bisa mendengarkan satu nomor lagu pada suatu sore yang senggang, kemudian esok harinya kita putar lagi kaset untuk sebuah lagu lain yang bisa tak usah ada hubungannya dengan lagu kemarin sore.

    Juga, kolom bukan artikel ilmiah, makalah diskusi, atau lembaran kertas kerja. Kolom tidak berambisi untuk menyajikan sebuah argumen yang dibangun secara ketat dengan dukungan data empirik yang “akurat”. Kolom lebih merupakan obrolan yang ringkas, namun cerdas dan memikat.
    Barangkali hal itu yang menyebabkan kolom tidak terjebak oleh bahasa-bahasa teknis yang kelewat akademis sehingga kaku dan kering. Sebuah kolom lebih suka menggedor perasaan dan kesadaran manusia tanpa harus terjatuh pada beban discourse akademis. Bahkan, terkadang berangkat dari “sekadar” fenomena keseharian yang mungkin remeh, meskipun tidak menabukan tema-tema makro, gelombang sejarah manusia, persoalan politik, ekonomi, serta problem-problem kebudayaan.

    Sejumlah tulisan yang dihimpun dalam kumpulan ini berasal dari kolom-kolom yang dipublikasikan di media massa dalam rentang waktu yang panjang. Dan sesungguhnya, masing-masing bersifat otonom serta berdiri sendiri secara utuh. Oleh karena itu, pembaganan dan sistematisasi sebenarnya bukanlah sesuatu yang mutlak diperlukan. Siapa pun bisa memulai membaca dengan membelahnya di tengah, atau bahkan dari paling belakang.
    Meskipun demikian, kolom-kolom ini dikumpulkan tetap dengan upaya sistematika, atas sejumlah pertimbangan.
    Pertama, kolom-kolom yang berdekatan secara tematik, ketika dibaca berurutan akan menjanjikan sesuatu nuansa wacana sendiri. Dengan begitu, kedua, kita bisa mencoba mengenali obsesi sang penulis tentang ideal-ideal tertentu. Kita bisa pula lebih mengenali sudut pandang dan sikap penulis yang khas tentang berbagai macam persoalan.
    Bagian Pertama kumpulan ini diikat oleh tema-tema keagamaan, dalam hal ini Islam, meskipun bukan tidak merambah perspektif religiositas dalam arti luas. Teristimewa berkisar pada—kami menyebutnya—“pe relatif-an” syariat, di tengah situasi pemelukan Islam di mana syariat “dipuja” sedemikian rupa dan diposisikan paling substantif di antara dimensi-dimensi ke-Islam-an lainnya. Penulis memaparkan berbagai ilustrasi untuk menggambarkan “keringnya penghayatan” karena “konsentrasi ritus” dan “kecenderungan menuhankan syariat, bahkan fiqih”.
    Secara tak langsung jadinya penulis juga melakukan semacam ijtihad atau reinterpretasi atas nilai-nilai agama. Sebuah contoh lugas dapat kita temukan dalam tulisan “Makan-Minum Dak Tentu”: aktivitas makan, dalam pengertian baku syariat dikategorikan sebagai mubah atau boleh. Namun, dalam situasi tertentu, menurut penulis, kegiatan makan bisa berubah menjadi sunnah, wajib, bahkan bisa juga haram. Tampaknya yang dimaksudkan oleh penulis adalah illat suatu pekerjaan, atau rujukan terhadap kontekstualisasi suatu kegiatan.
    Pada tulisan lainnya tampak sekali “pe-relatif-an” syariat ini merupakan tema yang paling “rajin” disentil. Tentulah yang sesungguhnya ia upayakan adalah proses pendewasaan manusia dalam memahami dan menghayati agamanya. Sebagai ilustrasi barangkali bisa dituturkan ungkapan penulis tentang stratifikasi kualitatif bahwa, “di atas fiqih ada akhlak, di atas akhlak ada takwa”. Dijelaskan bahwa fiqih harus mengacu (baca: meningkatkan taraf kualitasnya) ke akhlak, agar akhlak berorientasi ke tingkat kematangan religius yang lebih tinggi, yakni takwa. Shalat lima waktu adalah fiqih. Tetapi output-nya adalah akhlak sosial. Tolok ukur mutu beragama seseorang terutama terletak pada output sosial tersebut. Demikian juga takwa di atasnya: serat-serat halus ruhaniah yang tecermin tidak terutama pada jumlah dan kerajinan shalatnya, tetapi pada kepribadian seseorang dan perilaku sosialnya.
    Dalam sejumlah ceramah lepas, penulis sering menjelaskan masalah tersebut melalui ilustrasi keseharian. “Kalau ada pengemis di jalan, kita tidak diwajibkan oleh fiqih maupun pasal hukum formal apa pun untuk menyantuninya. Artinya, kita tak akan dipersalahkan kalau mentakacuhkannya. Tapi dimensi akhlak mempersalahkan kita, apalagi takwa. Itu bukti bahwa fiqih ‘belum dewasa’ dibanding dengan akhlak dan takwa. Fiqih mewajibkan kita berzakat dua setengah persen, umpamanya, sementara akhlak mungkin 20 persen, takwa 90 persen ….”
    Pada sisi lain dari kumpulan tulisan ini penulis banyak menekankan fungsi ganda tasawuf. Di satu sisi, tasawuf memperkaya proses penghayatan keagamaan seseorang atau komunitas Muslim, di sisi lain membuka pintu masuk untuk merambah persoalan aktual masyarakat luas. Bahwa agama tidak semata-mata berkomponen ritus. Tetapi, di setiap jengkal persoalan umat— ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan—dituntut juga keberangkatan agama. Bahwa Islam bukan hanya peraturan dan hukum-hukum, melainkan juga ilmu, cinta kasih, solidaritas, pembebasan, dan pembelaan atas kaum lemah, apa lagi kaum yang dilemahkan.
    Barangkali kita bisa melacak akar tema ini dari konflik klasik antara—katakanlah—tasawuf dengan fiqih. Pada masa Dinasti Umayyah, para fuqaha berada di garis depan untuk menata pola-pola hubungan sosial dan sistem-sistem kemasyarakatan. Dan sejarah umat Islam di Indonesia dalam banyak hal menyangga beban yang kurang lebih sama. Sebagaimana pada awal 1980-an, perdebatan tentang masalah ini sempat ramai terjadi. Namun, pada saat yang bersamaan, tatkala terjadi perubahan besar-besaran yang terjadi di masyarakat, banyak problem yang tak bisa diselesaikan melulu dengan pendekatan syar’i.
    Penulis berusaha menyumbangkan upaya-upaya yang khas untuk memoderasikan kutub fiqih dengan kutub tasawuf. Tetapi, mungkin karena pemaparannya “sekadar” memakai bahasa kolom saja, maka kita tidak segera menemukan inovasi pemikiran dan ijtihad yang telah dikontribusikannya dalam kadar yang sebenarnya.

    Pada Bagian Kedua, tulisan-tulisan yang tersajikan memaparkan berbagai problem yang dihadapi oleh berbagai kelompok masyarakat. Yakni, mereka yang mengalami “sunyi” ekonomi, politik, dan budaya, serta tertepikan dalam pergulatan sejarah.
    Diperlihatkan betapa agama lantas berhadapan dengan problem-problem nyata yang harus diselesaikan. Pada tahap ini, kolom-kolom yang tertuang menohok bermacam-macam ketidak beresan di setiap lapis ekonomi dan kekuasaan. Seolah-olah dalam pemahaman awam, tema-tema kolom seperti ini memasuki wilayah non-agama. Pembicaraan menyentuh soal tata krama dan budaya politik, umpamanya, bahkan mempersoalkan patriotisme dan mengurusi tema-tema emansipasi kaum perempuan di Indonesia.
    Namun, senantiasa tampak jelas bahwa itu semua tetap berada dalam konteks “kerja agama” setiap Muslim dan pemimpin umat. Dengan itu, tampak jelas pula bahwa landasan dan kerangka Islam selalu merupakan pilihan approach yang dipergunakan oleh penulis dalam memahami dan mengupas persoalan apa pun. Adapun pada Bagian Ketiga, tulisan-tulisan ini memasuki persoalan-persoalan yang lebih makro dan universal. Setiap tema yang diajukan selalu ditarik ke dalam skala makro sejarah dan peradaban yang luas. Kasus sadisme, misalnya, yakni tentang kekejaman pembunuhan yang terjadi di Indonesia, oleh penulis dilihat tidak sekadar sebagai kasus psikologis-personal atau kasus kelainan kejiwaan, melainkan juga sebagai bagian dari kecenderungan-kecenderungan sosial—bahkan sistemik—dari keberlangsungan sejarah.
    Pada tulisan paling ujung bahkan Anda bisa menemukan sebuah kolom yang berbicara tentang bakat bangsa yang berbeda-beda, yang sesungguhnya akan juga melahirkan cita-cita, pilihan kebudayaan, atau cara-cara memodernisasi diri yang juga berbeda.
    Penulis mencoba membayangkan suatu peradaban yang tidak berporos tunggal. Dan tentulah, ini sebuah pertanyaan yang penting terhadap apa yang makin populer kita sebut globalisasi pada skala kebudayaan.

    Pada akhirnya, kita bisa membaca rangkaian kolom-kolom ini sebagai teman dialog, lebih dari sekadar deretan informasi. Mungkin kita bisa berangkat dari angle yang santai untuk berbicara tentang sebuah problem besar. Sementara pada saat yang lain, kita bisa mengawalinya dengan angle lain yang serius bahwa fenomena-fenomena di sekeliling kita selalu menuntut pemikiran yang juga sungguh-sungguh.
    Kolom senantiasa menjanjikan dua kemungkinan itu.

    Toto Rahardjo
    Kuskridho Ambardi


     

    Tentang Emha Ainun Nadjib

    Emha Ainun Nadjib

    Emha Ainun Nadjib lahir di Jombang, Jatim, 27 Mei 1953. Dia adalah seorang budayawan multi-talenta: penyair, esais, pegiat teater, pemusik, dan lain-lain. Sebagai seorang penulis, Emha sangat produktif, telah menghasilkan puluhan buku. Di antara karya-karya emasnya yang diterbitkan Mizan adalah Dari Pojok Sejarah, Seribu Masjid Satu Jumlahnya, Secangkir Kopi Jon Pakir, Markesot Bertutur, Markesot Bertutur Lagi, dan Surat kepada Kanjeng Nabi. Selain berkiprah di dunia tulis-menulis, Emha juga merupakan motor penggerak di balik kelompok musik Kiai Kanjeng dan pengajian komunitas Jamaah Maiyah yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.     




    Keunggulan Buku

    Penulis:
    Dikenal pula dengan panggilan Cak Nun adalah tokoh seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui tulisan-tulisannya. Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensi rakyat. Kegiatan lengkapnya bisa ditemukan lewat https://www.caknun.com/

    Isi buku:
    - Tema yang sangat variatif dan intensitas yang berbeda-beda.
    - Gaya bertutur yang memberikan keasyikan tersendiri.
    - Obrolan-obrolan bernas dan cerdas tentang permasalahan masyarakat.
    - Dibalut oleh canda (guyonan) yang segar.
    - Mengajak kita memandang realitas, bukan sekadar menerima dan mengikuti.
    - Tema yang abadi.

    Kemasan menarik:
    - Terbagi menjadi 3 Bagian:
    Islam Itu Islam
    Slilit sang Kiai
    Berniaga dengan dan dalam Allah
    Aku Sakit, Kau Tak Menjengukku
    Koin Sukses
    Kami Takjub, Ya Akbar
    Islam Itu Islam
    Empat Kapasitas
    Watak Dialog
    Makan-Minum Dak Tentu
    Maha Satpam
    Angket
    Gontor, Shaolin, dan Trimurti
    Mencintai dan Membenci
    Melodi Perjalanan
    Perjanjian di Telaga

    Matahariku Gerhana
    Wawancara
    Mas Pinter yang Genit
    Tamu Entah Siapa
    Hujan Menangis
    Sang Garuda, Bebek, Ayam Horn
    Belajar Ngomong Tidak
    Pasal Ketela
    Matahari Memata-matai Hari
    Beras PBB
    Nahdlatul Bank
    Bandot
    Tetangga
    Glangsing, Rileks, dan Ringan
    Orang yang Tak Pernah Lohor
    Paha Itu, Cahaya Itu
    Kupu-Kupu Sekolah Dasar
    Allah Maha Menepati Janji
    Goyang Kiai Sekati
    Kakang Kawah
    Pendekar: Siapakah Dia
    17.000 Kartu Nama
    Matahariku Gerhana
    Ketonggeng
    Ibu-Ibu dari Surga
    Ban Bin Bun
    Wanita-Wanita yang Tak Kita Bayangkan
    Kalengan Cinta yang Bocor
    Bu Tono dan Pak Tini
    Dilarang Menjemur Pakaian Dalam
    Subjektivisme Cihideung
    Si Pipit Bajunya Hitam
    Mahasiswa Baru
    Keroncong Sunyi Anak Buangan
    Pesantren di Ketiak Berlin
    Pingpong Kedungombo
    Demokrasi Kotak-Kotak

    Bumi Tuhan
    Masyarakat Tumpeng Raya
    Sadisme
    Daripada Kromo Inggil
    Sastra Dewa, Sastra Macan, Sastra Tank
    Humanisme Tropis: Realisme Senen Kemis
    Ustad Umbu
    Sensus Penduduk Kerajaan Sulaiman
    Dahil Sayo Hanggang Mamatay
    Si Pincang, si Penangis
    Belajar Lahir
    Di Vilbel, di Ladang-Ladang
    Nyewa Langit
    Pagar Surga Neraka
    Dicari: Manusia
    Yang Berteriak Tinggal Serak
    Air Liur
    Bumi Tuhan
    Etnotalentolog


    - Sudah cetak lebih dari 10.000 eks.

    Resensi

    Beri ulasan produk ini

    Spesifikasi Produk

    SKU UA-241
    ISBN 978-602-441-112-1
    Berat 280 Gram
    Dimensi (P/L/T) 14 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
    Halaman 312
    Jenis Cover Soft Cover