Buku Tanpa Rencana (Softcover) - Dee Lestari | Mizanstore.com

(0) KERANJANG

Rp 0

Tanpa Rencana (Softcover)


Rp 101,150
15% Rp 119,000

Deskripsi

Aku Perlu Tahu

“Apa yang sebetulnya kamu lihat dari aku?” kataku, bertahun-tahun kemudian.

Ia tersenyum lagi. Senyum yang kuhafal betul. Senyum yang menyiratkan proses berpikir, ketika konsep bergumul hebat dengan perasaan lalu mengaduk-aduk perbendaharaan kata, untuk akhirnya ia temukan sebuah jawaban.

“Tidak tahu,” jawabnya. 

Sudah kuduga. Ia bukan penelusur verbal yang tabah. Ia lebih suka bertindak, berbuat, menyentuh, bahkan meracau jika perlu. Singkatnya, apa pun. Selama tak usah menjelaskan lewat konsep dan kalimat.

= Cerpen yang pernah terbit di Porter Press dan dirilis di Ubud Writers and Readers Festival 2023 berkisar tentang perbedaan cara mengekspresikan cinta dalam pasangan. Aku yang lebih ekspresif dengan kata-kata sementara Ia menunjukkan cinta dengan tindakan. Cerpen diceritakan dari sudut pandang Aku yang nyaris putus asa untuk mengetahui bagaimana dan seberapa Ia mencintainya. 

Kita yang Terurai

Meski langkahku ragu, tak pelak tubuhku berbalik. Siap meninggalkan dek kapal. Mataku tertuju pada tangga menuju kabin. Dua lantai di bawahku, di situ engkau berada. Keajaibanku. Meski sejujurnya, pada saat ini, engkau bukan seperti keajaiban. Aku masih bisa merasakan amarah yang mencapmu sebagai musibah. Namun, apalah aku dan amarahku? Rancangan kau dan aku terlalu mewah, terlalu rumit dan megah untuk jadi musnah. 

Masih menggunakan sudut pandang Aku, cerpen Kita yang Terurai mengeksplorasi tegangan dilema antara mengakhiri atau memperbaiki hubungan.

Musafir

Aku belajar bahwa sembilan puluh persen upayaku merekam akan berakhir sia-sia. Dari sepuluh persen yang terabadikan, semua hasil gambar dan videoku itu tampak tumpul dan lusuh jika dibandingkan dengan pemandangan aslinya. Aku belajar untuk menerima kondisi sekeliling yang tak bisa kukendalikan.

= Dee menunjukkan bagaimana Aku mengalami dan menghayati perjalanan bukan sebagai cara mencapai tujuan, melainkan tujuan itu sendiri. Di dalamnya, tokoh Aku menjumpai hal-hal yang membawanya ke penghayatan baru atas perjalanan tersebut.

Tanpa Banyak Pilihan

Aku di sini, menyibak samudra,

menabur abumu.

Tanpa banyak pilihan.

= Puisi ini berangkat dari pengalaman Dee saat melarung abu Bapak-nya. Puisi ini jadi salah satu cara Dee memproses kehilangan. 

Tentang Jakarta

Setiap petakmu padat oleh histori, janji, mimpi, dan sakit hati.

= Puisi ini adalah persembahan seorang perantau kepada Jakarta dengan segala love-hate relationship-nya. Di puisi ini, Dee menumpahkan kekesalan sekaligus kecintaannya terhadap Jakarta, isi dan orang-orangnya.

Bapak Aku Mencoba

Bapak, aku mencoba.

Aku mencoba menelan segala kesungkanan, kecanggungan, dan kejanggalan. Sepanjang hidup kita berdua, tidak pernah kita bicara dari hati ke hati. Hubungan kita hangat sekaligus praktis, tak pernah melankolis. “Bagaimana Bapak melihatku sebagai seorang anak?” Tiga tahun lalu, aku menanyakan satu pertanyaan itu. Pertanyaan yang tak sempat kutanyakan kepada Ibu. Denganmu, aku tak ingin kehilangan kesempatan itu. Pertanyaanku membuatmu tergemap. Kau tak siap. Setelah diam sesaat, kau menjawab, “Kau anak yang baik.” Percakapan yang kupikir akan memakan setengah hari, tuntas hanya dalam setengah jam. Kalimat-kalimatmu terdengar seperti rangkuman. Aku memaklumi. Ini bukan percakapan yang berada di zona nyamanmu. Dengan segala kecanggungan, kau telah mencoba sebisanya. Itu yang berharga bagiku.

= Salah satu prosa paling personal yang pernah dibuat Dee. Bila Tanpa Banyak Pilihan menunjukkan perkabungan Dee secara ritualis (penaburan abu), dalam Bapak Aku Mencoba pembaca diizinkan mengintip isi hati Dee yang kalut dan terus berusaha untuk mencoba berdamai dengan kehilangan atas Bapaknya, betapapun sulitnya itu.

Di Balik Papan Ketik

Beri tahu aku, wahai roh yang tersimpan di balik papan ketik, yang kini kuharap tengah bisa menggerakkan jari-jemariku seperti raga kesurupan, apa yang bisa kutulis hari ini?

= Prosa ini bisa dibilang sebagai prosa yang paling ilustratif terhadap keseluruhan konsep dan judul kumpulan cerpen Tanpa Rencana. Di sini, Dee hendak memberi sisi lain proses berkaryanya yang, betapapun sering bilang semuanya adalah tentang konsistensi dan riset, baginya selalu ada tempat bagi spontanitas yang kadang sulit dipahami. Ada masanya "sesuatu" itu membuatnya begitu bergelora dalam menuliskan kisah, ada masanya "sesuatu" itu sulit betul diajak bekerja sama. Tentu, pembaca bisa menebak-nebak, siapa "sesuatu" yang dimaksud di sini. Kekuatan teksnya bukan pada pembaca yang menebak-nebak, melainkan pada kelincahan Dee dalam bercakap-cakap tentang kebuntuan menulisnya.

Doa Orang Tak Percaya

Berdoa bagi orang tak percaya bukanlah perkara sederhana.

 

Pertama, kami tak tahu sedang bicara kepada apa dan siapa.

Tentu, para agamais akan mengusulkan kepada “Tuhan”.

Kaum spiritualis urban akan mengusulkan kepada “Semesta.”

= Puisi yang paling "spiritual" dalam Tanpa Rencana. Di sini, Dee hadir sebagai seorang yang terus mencari--mencari kebenaran Yang Maha Menerima Doa. Renungannya provokatif sekaligus mendalam, tanpa tendensi merendahkan kepercayaan orang lain, sembari menunjukkan betapa berat dan pentingnya proses pencarian keyakinan.

 

Asam Garam

Kendati napasku masih tersengal, naluri wartawanku mengambil alih. “Saya sempat coba garam hitam selain Pengawet Kenangan, yang dibuat dari pelepah nipah dan air payau. Rasa di lidah, jujur saja, tidak beda jauh keduanya. Tapi, apa yang bikin garam Pak Rian berbeda?”

“Berbeda bagaimana?” tanyanya.

Kuceritakanlah kejadian aneh itu, saat aku diserang rasa sedih yang kuat dan mendadak. “Saya yakin ada hubungannya dengan garam Bapak, tapi saya tidak tahu apa,” kataku.

Pak Rian lama terdiam. Aku bahkan mulai berpikir dia tidak mau menjawab pertanyaanku. Kuamati mukanya yang muram. Aku mulai curiga pertanyaanku tadi bahkan menyinggungnya. “Pak, maaf kalau saya—”

“Berapa banyak kehilangan yang sudah kamu alami, Gaspar?”

Aku gelagapan. “Mmm… kucing saya baru mati, Pak. Lalu, ibu saya, tiga tahun lalu. Bapak saya, lima tahun lalu. Kakek, nenek, paman sudah beberapa.” Kusebutlah satu-satu mereka yang sudah tiada dalam hidupku. Ketika sudah diurut seperti absen, aku menyadari ternyata jumlah mereka cukup banyak.

“Hidup mengambil banyak dari saya, Gaspar. Tapi, saya juga diberi banyak. Salah satunya, mata air ini.” Dia menunjuk ke kubangan kecil di bawah sana, yang masih sibuk digarap oleh Elias dan kedua rekannya. “Tidak ada yang tahu kenapa bisa ada mata air asin di pegunungan. Sementara di dekat sini banyak mata air lain yang rasanya tawar. Lalu, kenapa yang satu ini bisa asin? Mungkin kalau ada ilmuwan meneliti kemari, mereka akan menemukan alasan-alasan ilmiahnya. Tapi, saya ingin punya jawaban sendiri,” katanya dengan suara lembut. “Saya percaya mata air ini bekerja sebagai pengawet kenangan. Garamnya diperoleh dari air mata para leluhur. Kita bisa membantu mengawetkannya dengan menyumbang air mata. Meski setetes. Bukan jumlah garamnya yang utama, melainkan dalamnya duka yang kita sumbangkan.” Pak Rian mengangkat wajahnya, menatap mataku. Senyum misteriusnya kembali timbul. “Itu dongeng saya,” tandasnya.

“Buat apa duka diawetkan?” tanyaku tak tertahankan. “Kita di dunia ini penginnya bahagia, Pak. Kenapa sedih malah dirawat?”

“Gaspar. Apa rasanya setelah kamu menangis hari itu?”

Aku tergagap. “L-lega, Pak.”

“Leluhur Bapa Elias mencari sesuatu yang hilang dari hidup mereka. Mereka punya pahit dari dedaunan. Mereka punya manis dari ubi. Mereka punya asam dari buah-buah di gunung. Tapi, ada yang belum lengkap, Gaspar. Rasa asin.” Mata Pak Rian tampak berkaca-kaca. “Air mata adalah rasa asin yang sudah dipersiapkan untuk melengkapi kita. Jangan anak tirikan kesedihanmu. Garam-mu. Ia menggenapi.”

= Salah satu cerpen signature Dee. Menguak kompleksitas makanan dan kelindannya pada kehidupan para karakternya. Setelah bermain-main dengan kopi di Filosofi Kopi dan roti di Madre, kali ini Dee mengambil garam sebagai "mainan" baru-nya.

 

Surat Cinta di Botol Kaca

“Semalam, kami ngobrol. Dia bilang, dia pengin punya hubungan kayak kita sama pasangannya nanti.”

“Interesting,” gumam Tinus. “Dan, menurutmu itu masalah? Sampai kamu bela-belain nyetir ke sini?”

Aku menganga. “Ya, iyalah, Nus. Aku menikah sama Fian dua puluh tahun. Dua puluh tahun! Lili anak kami! Dan, dia malah menjadikan hubungan kita sebagai patokan masa depannya? Jadi aspirasinya? Seolah-olah hubunganku sama Fian nggak ada artinya buat dia?”

“Kamu dan Fian bercerai,” balas Tinus lembut. “Wajar kalau itu meninggalkan trauma buat Lili. Makanya, dia nggak menjadikan pernikahanmu dan Fian sebagai contoh. Sementara, Lili melihat kita…,” Tinus tampak berusaha keras merumuskan kalimatnya, “baik-baik saja.”

“Aku sama Bang Jupri hubungannya juga baik-baik aja. Please, deh.” Aku geleng-geleng kepala.

“Memangnya kita seburuk itu, Fi? Sampai kamu segitu nggak relanya?”

“I just don’t want her to have this twisted concept, you know? Kalau yang namanya cinta, yang namanya relationship itu….” Makin dibicarakan, rasanya aku makin tersesat. “Apa kita harus… berjarak dulu, ya? Nggak usah ketemu sementara, gitu?”

“Come on, Fia. Itu nggak adil buat kita semua. Dan, nggak ada gunanya. Kamu nggak bisa mengubah persepsi Lili hanya dengan menjauhi aku.”

“Bayangin. Lili tanya kenapa aku nggak nyoba sama kamu aja. Aku harus jawab apa?”

“Kamu jawab apa?”

Pertanyaanku tidak dianggap retoris oleh Tinus. Dia malah ikut-ikutan menuntut jawaban. “Aku jawab, kita cuma teman,” tandasku.

“We are, right?”

“Are we?” tangkisku. “Kita ini aneh, nggak, sih? Kita teman, tapi kita liburan bareng. Kita bisa tidur sekamar nggak pakai geli-gelian. Seranjang, bahkan! Kamu kencan sama entah berapa lusin cewek, tapi siapa yang paling sering kamu ajak keluar? Konsisten, selama bertahun-tahun? Aku! Lili bukannya dekat sama Fian, malah dekatnya sama kamu.”

“Buatmu itu salah?”

“B-bukan soal salah atau benar… tapi, ini aneh! Ini nggak normal!”

“Jadi, harus gimana, Fia? You want us to date? You want us to fuck?”

“Enggak,” bisikku.

“Sama,” balasnya.

“Kenapa nggak?”

Sebuah keanehan terjadi. Tinus tampak gugup. Barangkali tak menyangka aku akan menodongnya balik. Laki-laki yang selama ini begitu percaya diri, selalu punya tangkisan untuk setiap argumentasi, kini termangu dan gagu.

“Buat kamu. Kenapa enggak?” ulangku. Aku perlu tahu.

“Ya enggak aja!” tukasnya. “Dan, kupikir kamu memang nggak pernah mau….”

“Memangnya kamu pernah tanya?” potongku.

Tinus terdiam. Ada proses berpikir yang tergambar jelas di mukanya. “Oh, fuck,” geramnya seraya bangkit berdiri, “don’t you play this game with me, Fia. Berharap aku bisa menebak isi kepalamu, bikin aku jadi pihak yang merasa idiot, padahal semua kode yang kamu tunjukkan sudah jelas dari dulu. You never wanted me. You love me as a friend, but you never wanted me more than that.”

Aku ikut berdiri, mendekatinya satu langkah. “Pertanyaanku sederhana, Nus. Memangnya kamu pernah tanya?”

Suaraku yang tetap rendah dan tenang berhasil melunakkannya. Perlahan, Tinus menggeleng. “Sekarang aku tanya, oke?” desisnya.

Aku menahan napas. Kepada Tinus aku bisa bicara apa saja, tetapi sanggupkah aku jujur tentang yang satu ini?

“Do you love me more than a friend?” Tinus bertanya pelan. Matanya membundar, sorot itu rapuh. Tinus yang kukenal hilang. Kejailannya, kecerkasannya, sarkasmenya, semua sirna. Aku berhadapan dengan versi Tinus yang tak pernah kutahu ada.

“I don’t know,” bisikku, parau. “But, you are someone that I cannot live without.”

Kami bertatapan, lama. Kureguk serakus-rakusnya versi Tinus yang satu ini, yang entah kapan lagi akan muncul di hadapanku.

“Kalau kayak gitu, apa artinya?” tanyaku lagi.

Tinus tersenyum. “Aku juga nggak tahu. Tapi, itu persis yang aku rasakan sama kamu,” balasnya. “I cannot survive without you.”

Aku menggigit bibir, cemas. “So, should we date?” kataku pelan, “Should we… fuck?”

Tinus mengelus rambutku. “Nggak. Nggak harus.”

Napasku mengembus lega. “Jujur, nggak kebayang.”

“Sama.”

Aku maju lagi selangkah, memeluknya. Tinus menyambut hangat. Pelukan itu lembut dan hangat seperti selimut  beledu.

“What are we then?” bisikku di telinganya.

“Dua orang yang nggak bisa hidup tanpa satu sama lain,” bisiknya di telingaku. “Itu lebih dari cukup.”

= Cerpen yang menunjukkan betapa Dee adalah penulis yang terus bertumbuh. Setelah menuliskan kisah cinta remaja SMA di seri Rapijali sebagai penuntasan proyek masa kecilnya, Dee yang sebentar lagi menginjak kepala lima berupaya menuliskan problematika asmara orang-orang seumurannya dengan penuh manis dan getir.

 

Transendensi Ampas Insani

“Ada pandangan spiritual yang menganggap bahwa gerbang menuju pencerahan adalah penyadaran tentang sunyata. Void. Kekosongan. Bagaimana konsep TAI menjawab itu?” tanya si Airbender.

Kang Guru tersenyum hangat. Lama mereka berdua bertatapan seperti orang jatuh cinta. Aku rasa ada semacam komunikasi nonverbal yang terjadi antara Kang Guru dan si Airbender.

“Besok pagi, atau kapan pun, amati taik kita. Benar-benar amati. Lalu, cermati perasaan yang muncul dalam hati. Taik begitu mengusik. Baunya, bentuknya, sangat mengganggu. Ya, kan? Tapi, apakah itu nyata, atau justru sunyata?” tanya Kang Guru. “Pernahkah kalian mengamati taik yang terurai di ruang terbuka?”

Sumpah. Aku kira tidak akan ada yang bilang “sudah”. Namun, ruang itu memang penuh kejutan. Seseorang di belakangku mengangkat tangan. “Sudah, Kang. Taik ayam.”

Jawaban itu, sialnya, malah memancing jawaban-jawaban lain.

“Taik burung.”

“Taik kucing.”

“Taik anjing.”

“Taik cicak.”

“Ini dia yang saya suka dari Meditasi TAI. Objek meditasi kita ada di mana-mana.” Kang Guru terlihat puas. “Kalau kita meluangkan waktu untuk mengamati proses taik terdekomposisi, kita akan menyaksikan bagaimana bau menyengat itu pelan-pelan memudar, kehilangan karakteristik baunya, dan bersatu dengan udara. Kita juga akan melihat bagaimana wujud taik pelan-pelan lebur kehilangan karakteristik fisiknya, lebur bersama bumi. Taik, Saudara-Saudara, ternyata tidak punya esensi yang bertahan. Pada akhirnya ia menjadi tiada. Nothingness. Inilah kondisi sunyata yang bisa kita renungkan dari TAI. The Shitty Sunyata.”

Cerpen Dee yang paling eksperimental dan bermain-main. Keputusan tepat untuk menutup antologi dengan akrobat seperti Transendensi Ampas Insani ini.

 

Kutipan

Asam Garam

  1. Hidup begitu kejam karena memilih saya sebagai satu-satunya yang selamat. Harusnya saya ikut terbakar saja bersama mereka

  2. Hidup mengambil banyak dari saya, Gaspar. Tapi saya juga diberi banyak. Salah satunya, mata air ini

  3. Mata air ini bekerja sebagai pengawet kenangan. Kita bisa mengawetkan mata air dengan air mata. Bukan jumlah air mata yang utama, melainkan dalamnya duka.

  4. Jangan anak tirikan kesedihanmu. Garam-mu. Dia menggenapi.

  5. Dadaku sesak. Kucingku, kedua orangtuaku, kerabatku, mimpi-mimpi yang pupus, kisah cinta yang kandas, cinta yang tak berbalas, utang yang tak lunas, dendam yang tak tunai, cita-cita yang tak sampai, barang-barangku yang raib, permusuhan, kemarahan, kekecewaan. Tak ada kenangan jenis lain yang menyeruak selain kehilangan dan rasa sakit.

  6. Kami, dua laki-laki di depan mata air asin, bertelut dan bersimbah air mata asin.
     

Temu dan Power Rangers

  1. Salma [anakku] melesat memelukku. Beberapa bagian memar di tubuhku terasa nyeri terkena tekanan, tetapi aku tak pernah mengeluh. Pelukan itu yang selama ini kucari. Pelipurku.

  2. Banyak keajaiban yang terjadi hari itu… . Namun, keajaiban terbesar adalah seorang ayah yang kembali percaya, meski sudah tersungkur dan terluka, bahwa hidup akan terus menyembuhkannya.
     

Supernova Lounge

  1. Creating a world for my characters took such a huge effort and usually a long time. Supernova? It’s extra.

  2. “Why did you kill me?” tanya Alfa

“Because you’re my favorite,” jawabku.

 

Surat Cinta di Botol Kaca

  1. “Kamu nggak mau punya [anak] sendiri?”
    “Kalau segalanya di dunia ini harus punya sendiri, Bumi nggak bakalan kuat, Fia. Kita harus banyak berbagi.”

(Fia bertanya, Tinus menjawab—soal anak)

  1. Kata orang-orang, itulah tanda sahabat sejati. Seberapa lama pun mesin koneksi kami padam, sekali putar kunci kontak, mesin kembali hangat dengan cepat.

  2. “Kan, katanya jodoh terbaik itu sahabat kita sendiri.”

  3. “Aku nggak ngerti Mama sama Om Tinus itu apa. Pokoknya, aku suka lihat kalian. Aku suka Mama kalau pas lagi bareng Om Tinus. You’re happy, and you’re free. Aku pengin bareng seseorang yang bisa bikin aku begitu.”

  4. “Do you love me more than a friend?”
    “I don’t know. But you’re someone that I cannot live without”
    (Tinus bertanya, Fia menjawab—soal hubungan mereka)

  5. “What are we then?”
    “Dua orang yang nggak bisa hidup tanpa satu sama lain,” bisik Tinus di telingaku. “Itu lebih dari cukup”
    (Fia bertanya, Tinus menjawab—masih soal hubungan mereka)
     

Transendensi Ampas Insani

  1. Kita selalu melepas taik dengan kerelaan. Taik pun tidak pernah mengejar kita buat pulang ke usus besar. Taik mengajarkan kita hidup tanpa sesal, tanpa beban, tanpa pamrih.
    (Prinsip pertama dalam meditasi TAI: Ikhlas)

  2. Taik merupakan cermin sempurna…. Tidak bisa kita makan pepaya lalu berharap yang keluar durian. 

  3. Bersakit-sakit dahulu, berenang-renang kemudian
    Bermulas-mulas dahulu, tercerahkan kemudian

  4. “Jangan ingin seperti Buddha. Jadilah Buddha. Jangan ingin ikhlas, jadilah ikhlas. Keinginanmulah yang menjadi penghalangmu.”

Spesifikasi

SKU  :  BJ-030
ISBN  :  9786231864352
Berat  :  240 gram
Dimensi (P/L/T)  :  14 cm/ 20 cm/ 1 cm
Halaman  :  220
Tahun Terbit  :  2024
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Belum ada ulasan