Buku URBAN ROMANCE :… - Visa Ranico | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

URBAN ROMANCE : MARRIAGEPHOBIA

    Deskripsi Singkat

    FARANISA Pernikahan itu mengerikan! Bagaimana jika setelah menikah, pasangan melihat semua kekuranganmu, menjadi bosan, dan pergi begitu saja? Bagaimana jika ternyata kalian tidak bahagia bersama? Dan, yang lebih buruk: para suami yang menganiaya istri sendiri? Kemudian, pria ini datang dan pertanyaanku berubah. Bagaimana jika dialah orangnya? Pria yang tepat? Apakah… Baca Selengkapnya...

    Rp 59.000 Rp 50.150
    -
    +

    FARANISA

    Pernikahan itu mengerikan!
    Bagaimana jika setelah menikah, pasangan melihat semua kekuranganmu, menjadi bosan, dan pergi begitu saja?
    Bagaimana jika ternyata kalian tidak bahagia bersama?
    Dan, yang lebih buruk: para suami yang menganiaya istri sendiri?
    Kemudian, pria ini datang dan pertanyaanku berubah.
    Bagaimana jika dialah orangnya? Pria yang tepat?
    Apakah aku sudah terlambat?


    DANENDRA

    “Keluarlah dari zona nyaman.
    Tidak ada yang tahu hasilnya sebelum mencoba.”
    Itulah yang terus kukatakan.
    Dia? Tetap keras kepala.
    Aku? Terus saja mencoba dengan bodohnya.
     

    Tentang Visa Ranico

    Visa Ranico

    Visa Ranico lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan, 13 September 2000. Merupakan alumnus SMA Negeri 2 Prabumulih dan anak ketiga dari tiga bersaudara. Visa hobi berdiskusi dan menulis. Dia juga mengikuti beberapa organisasi semasa sekolah, seperti Pramuka dan PMR.

    Marriagephobia merupakan novel ketiganya, setelah dua novel sebelumnya terbit secara indie.
    Jejaknya bisa dilacak melalui:

    Facebook : Visa Ranico
    Instagram : @ranico13
    Wattpad : Ranico13
     




    Keunggulan Buku

    Telah dibaca ratusan ribu kali di Wattpad.

    Resensi

    Kesan-Kesan Menulis Marriagephobia
    Oleh: Visa Ranico

    Cerita Marriagephobia ini awalnya saya publikasikan di platform Wattpad pada 5 Januari 2018, dengan  judul awal Dictator Boss. Kemudian, seiring berjalannya waktu dan untuk kesesuaian alur cerita, saya ganti lagi dengan judul Gamophobia, yakni sebuah sindrom rasa takut yang dirasakan seseorang untuk menjalin komitmen ikatan pernikahan. Dan, pada akhirnya, berganti judul lagi menjadi Marriagephobia atas saran editor yang menangani naskah saya.

    Inspirasi saya dalam menulis cerita ini adalah ketika saya tidak sengaja menemukan sebuah artikel yang isinya membahas tentang sindrom gamofobia. Ketika saya membaca artikel tersebut, yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya adalah beberapa orang terdekat saya yang masih memilih untuk melajang pada umur yang sudah matang. Apa mereka ini juga merasakan ketakutan seperti apa yang sindrom ini gambarkan? Atas rasa penasaran, saya semakin tertarik untuk mengulasnya.

    Berbagai artikel tentang sindrom ini terus saya cari tahu dan saya cermati. Beberapa pengalaman orang terdekat saya yang saya duga mengidap sindrom ini pun juga saya pancing untuk bercerita, walaupun informasi yang saya dapatkan sangat sedikit. Namun, hal tersebut mampu saya kaitkan dengan beberapa isi artikel yang sempat saya kumpulkan.

    Dan, ternyata, ketika saya menulis cerita ini dan memublikasikannya di platform Wattpad, banyak sekali yang mengaku mengalami hal yang sama seperti tokoh utama cerita ini. Khususnya wanita. Padahal, yang biasanya diketahui mengidap fobia terhadap komitmen ini sebagian besar adalah laki-laki.

    Selain rasa antusias pembaca karena merasakan hal yang sama seperti sang tokoh utama wanita, bumbu-bumbu percintaan yang saya tambahkan dengan menghadirkan sosok Danendra, si bos tampan yang sifatnya angkuh dan tidak gampang ditebak, ternyata semakin membuat pembaca Wattpad memberikan komentar positif akan cerita yang saya ciptakan ini.

    Momen interaksi sederhana antara Danendra dan Faranisa (nama tokoh utama) ternyata mampu membuat cerita ini lebih segar dan tidak membosankan. Momen PDKT yang awkward, serta sikap bertolak belakang di antara keduanya merupakan bagian favorit pembaca saya sejauh ini  sehingga membuat saya semakin bersemangat dalam memublikasikan bab demi bab.

    Saat menulis, tentu saja ada kesulitan yang saya alami, semisal istilah-istilah kantor dan mekanisme pekerjaan yang digeluti tokoh utama. Karena ketika menulis cerita ini saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas sehinggga kurang paham akan istilah kantor dan akuntansi. Istilah-istilah tersebut akhirnya saya cari satu per satu lewat Google, kadang juga membaca cerita yang berlatar sama; sebagian lagi saya dapatkan ketika pelajaran akuntansi semasa SMA.

    Hal-hal sederhana semacam itulah yang saya aplikasikan dalam penulisan kisah Danendra dan Faranisa. Dan hasilnya lumayan membuat orang yang membacanya merasa paham dan nyaman.

    Ada juga yang pernah mengatakan kepada saya bahwa saya salah menulis genre cerita. Seharusnya, anak seusia saya menulis bacaan yang sesuai usia saja, seperti genre Teen Fiction. Memang, kebanyakan pembaca cerita ini adalah wanita dewasa yang berumur 25 tahun ke atas. Hal tersebut sempat membuat saya minder dan ragu untuk melanjutkan, tetapi ketika banyak respons yang menyuruh saya untuk melanjutkan cerita, saya pilih untuk meneruskannya saja hingga selesai dan mengabaikan permasalahan genre tersebut.

    Semoga isi dari novel Marriagephobia ini mampu mengubah pola pikir kalian yang telah membacanya, terutama untuk para wanita dan pria yang sempat merasakan ketakutan menjalin komitmen. Ketakutan akan risiko yang belum tentu terjadi hanya akan membuat kalian stuck dan tidak bisa melangkah maju. Meski mencoba tidak selalu berakhir bagus, tetapi juga tidak selalu berakhir buruk. Yang penting adalah keinginan untuk mau berubah.


    NUKILAN

    1
    Faranisa Pratista

    Penulis skenario terbaik adalah Tuhan .
    Penulis best seller mana pun tak akan mampu menandingi alur kehidupan yang telah Dia atur sedemikian rupa.


    Alarm ponselku berbunyi nyaring. Dengan mata yang masih setengah terpejam, tanganku meraba-raba sisi tempat tidur yang kosong, mencari ponsel asal Cina yang kreditnya baru akan lunas dua bulan lagi itu.

    Tap!

    Kumatikan nada berisik alarm yang memecah keheningan pagi, lalu duduk di atas ranjang dengan rambut acak-acakan, terlalu malas untuk bersiap berangkat kerja. Badanku serasa remuk redam setelah lembur semalaman.

    Si Pak Tua cerewet pasti akan mengomel lagi jika pekerjaanku belum tergeletak rapi di atas mejanya saat dia datang.

    Setengah jam kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh yang lumayan segar. Berpakaian kantor seperti biasa: kemeja dan celana bahan. Aku lebih nyaman mengenakan celana daripada rok, lebih suka flat shoes daripada high heels, serta lebih suka mengikat satu rambutku daripada menggelungnya seperti gaya wanita karier yang serius dan elegan. Selain tidak efisien, ketiga hal tersebut tidak kusukai karena terlalu memperlihatkan sisi feminin. Terlalu manis. Apalagi, aku sering lembur dan pulang malam. Kendaraan umum dan transportasi online sudah menjadi langgananku sehari-hari, jadi berpakaian senyaman mungkin adalah hal yang paling penting.

    Aku menutup pintu kamar kosku yang berukuran em empat kali lima meter itu, kemudian memasukkan kuncinya ke tas selempang yang kusampirkan di bahu kiri.

    Kamar kosku tidak bisa dibilang besar, tetapi tidak terlalu sempit juga. Fasilitas kamar mandi dan dapur sudah menjadi satu di dalamnya. Aku memilihnya karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari tempatku bekerja. Dengan kendaraan umum hanya memakan waktu lima belas menit saja.

    Aku tiba di kantor sepuluh menit sebelum jam kerja dimulai, puncak dari arus kedatangan karyawan. Bukan pemandangan asing, sebenarnya. Terutama bagian berdesakan di lift. Apakah aku bosan? Ya. Lelah? Apalagi. Namun, demi gaji yang lumayan, semua itu bukan perkara besar.

    Sesungguhnya, aku tidak perlu buru-buru seperti ini seandainya laporanku telah tergeletak manis di meja Bos. Sayangnya, aku memilih untuk lembur di rumah alih-alih menyelesaikan semuanya di kantor, mengingat Mas Adi dan Mbak Tari yang biasanya sering lembur bersamaku, tidak memiliki beban kerja yang harus segera diselesaikan, jadi mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama keluarga masing-masing di rumah.

    Ya, hampir semua rekan kerjaku di kantor sudah tidak available lagi, alias sold out! Rata-rata sudah berkeluarga dan memiliki anak. Usia para karyawan di sini memang relatif sudah matang karena staf yang diinginkan memang mereka yang telah memiliki pengalaman kerja. Setidaknya tiga tahun, terhitung setelah lulus bangku kuliah, bukan SMA. Minimal mereka yang sudah berusia dua puluh limalah yang diterima bekerja di perusahaan yang bergerak dalam bidang elektronik ini.

    Aku bisa dibilang anomali. Jangankan menikah, menjalin hubungan saja aku takut. Keterikatan dengan seseorang, itulah yang membuatku mundur jauh-jauh meski banyak juga yang pernah mendekatiku. Pada umurku yang sudah menginjak dua puluh tujuh, aku merasa terlalu nyaman dengan kesendirian yang kumiliki.

    “Kok Pak Jackie jadi murah senyum, ya, hari ini? Apa jangan-jangan sudah masuk hari keempat puluh, ya?”

    Bisik-bisik wanita dalam lift yang kutumpangi sampai juga ke telingaku. Mengapa nama bos tua cerewet itu disebut-sebut? Meski itu bukan topik langka juga di gedung ini.

    “Hus! Ya, kali, mau mati. Lo kalo benci difilter dikit kenapa? Lagian, bukan cuma lo doang yang kena senyum maut dia, gue juga!” Teman si wanita yang tadi berbisik membalas dengan nada yang tak kalah pelannya. Mungkin takut ada yang menguping, seperti yang kulakukan sekarang.


    Tunggu …, Pak Jackie jadi ramah? Sepertinya ada yang salah. Namun, jika dua wanita di sampingku ini sudah melihat pria tua itu, berarti dia sudah datang, ‘kan? Astaga! Mampus! Matilah kau, Nisa!

    Lift berdenting dan membuka di lantai yang kutuju. Aku langsung bergegas. Si Pak Tua biasanya selalu datang tepat waktu, tetapi biasanya tidak pernah lebih dari lima menit sebelum jadwal. Ini di luar prediksi.

    Aku sampai di depan ruangan sang pemilik perusahaan. Napasku terengah-engah karena berlari dari lift yang terletak paling ujung hingga ke sini.

    Beri ulasan produk ini

    Spesifikasi Produk

    SKU ND-400
    ISBN 978-602-385-780-7
    Berat 200 Gram
    Dimensi (P/L/T) 13 Cm / 20 Cm/ 0 Cm
    Halaman 240
    Jenis Cover Soft Cover