Deskripsi
Al-Qur’an diyakini sebagai mukjizat terbesar Nabi—dan sekaligus yang terindah. Tetapi, keindahan bahasa Al-Qur’an umumnya baru sebatas diyakini, tanpa benar-benar dipahami di mana letak keindahannya. Apakah itu terletak pada pilihan kata; susunan kata dalam membentuk kalimat; susunan kalimat dalam membentuk gugus makna; atau susunan “gagasan” yang terkandung di dalam kata, kalimat, dan gugus maknanya?
Buku Daqâ’iq Al-Qur’ân karya Miftah F. Rakhmat ini mencoba menyingkap keindahan bahasa Al-Qur’an melalui penyelidikan secara ilmiah aspek-aspek kebahasaan Al-Qur’an. Siapa saja yang membaca buku ini akan mendapati bahwa keindahan Al-Qur’an memang benar-benar tersaji dengan sempurna dan bisa dinikmati dengan sepenuh hati. Lebih dari itu, semuanya bisa dibuktikan dengan kaidah-kaidah kebahasaan yang diterima luas.
Buku ini juga membawa pembaca ke dalam eksplorasi mendalam tentang keajaiban dan presisi Al-Qur’an, dengan mengurai makna di balik huruf, angka, dan pola-pola unik dalam Kitab Suci.
Melalui pendekatan yang inklusif, penulis memadukan wawasan dari mazhab Ahlus Sunnah dan tradisi Ahlul Bait Nabi, menawarkan perspektif yang kaya dan seimbang. Setiap bab mengungkap hikmah Al-Qur’an yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, mendorong pembaca untuk memahami dan menghayati isinya.
Ditulis dengan gaya yang ramah dan penuh kehangatan, Daqâ’iq Al-Qur’ân bukan hanya bacaan biasa, melainkan juga panduan spiritual bagi mereka yang ingin lebih dekat dengan pesan-pesan luhur Al-Qur’an.
“Ajengan Kiai Miftah F. Rakhmat mampu menyingkap rahasia dan estetika wahyu—keajaiban di balik angka dan huruf Al-Qur’an—membuktikan kepakaran autentik dan wawasannya yang melampaui teks.”
—Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum., Guru Besar Ilmu Religi dan Budaya UIN Sunan Kalijaga
“Dengan ketajaman, kejelian, dan kedetailan penulis, sajian buku ini mengungkap makna tersembunyi, dari yang terdalam hingga permukaan.”
—Dr. K.H. M. Sholeh Qosim, M.Si., Pengurus Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU)
“Buku Daqâ’iq Al-Qur'ân ini sungguh sangat menarik. Ia memberikan pengetahuan yang mencerahkan kepada kita tentang percik-percik keindahan, kedalaman, dan keluasan makna pada ayat-ayat Kitab Suci. Buku ini penting untuk dibaca siapa saja.”
—K.H. Husein Muhammad, Pendiri Fahmina Institute Cirebon
Pendahuluan
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammad
wa âli Sayyidinâ Muhammad
Ini adalah sebuah pekerjaan yang tidak akan pernah tuntas. Teriring syukur ke hadirat Allah Swt., salam shalawat kepada Baginda Nabi Saw. dan keluarganya yang suci. Terhatur juga doa untuk para saleh terdahulu dari para sahabat, tabi‘in, dan ulama; terkhusus bagi setiap pengajar Al-Qur’an; kedua orangtua kita; guru-guru di madrasah; dan setiap mereka yang mengajarkan alif ba ta pertama cinta. Semoga keberkahan hadis Baginda Nabi Saw., “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya,” Khairukum man ta‘allamal-Qur’âna wa ‘allamahû,1 meliputi kita dan mereka semuanya. Al-Fâtihatu ma‘ash-shalawât.
Awalnya adalah perjalanan hidup. Begitu looking back, segalanya seperti bertautan. Ibarat keping puzzle yang tersusun rapi. Arus hidup yang membawa ke sana kemari, ke berbagai penjuru angin, terasa selalu membawa ke satu titik. Pada titik yang sama: ketertarikan terhadap Al-Qur’an. Adalah Allah yarham kedua orangtua yang menjadi titik sentralnya. Ketika berangkat belajar nyantri di negeri orang, restu mereka berdua menjadi bekal yang teramat besarnya. Doa-doa yang mengalir menjadi nikmat yang tak pernah dapat ditunaikan hak syukurnya. Setelah selesai satu tahap dan hendak melanjutkan ke tahap berikutnya, Allah yarham Ayahanda menyampaikan, “Bagaimana bila Miftah lanjut belajar di Australia? Miftah perlu belajar keterampilan.” Bapak, demikian saya biasa memanggil beliau, menyampaikan, “Dakwah itu misi, bukan profesi. Untuk menopang hidupmu, kau perlu keahlian lainnya.”
Berangkatlah saya. Walaupun kawan-kawan sepesantren bercanda dengan mengatakan, “Dari pesantren ke kampus di Australia, kau ibarat pergi dari cahaya menuju kegelapan, minan-nûri ilazh-zhulumât.” Saya tahu kami sekadar menghibur diri karena hendak terpisahkan untuk waktu yang tak diketahui. Tapi, saya yakin pada sami‘nâ wa atha‘nâ terhadap kedua orangtua. Ikuti petunjuk mereka. Sedapat mungkin pilih jalan yang membuat mereka ridha. Maka, bergabunglah saya dengan keluarga yang telah berangkat terlebih dahulu, meninggalkan adik saya yang sedang menuntaskan sekolah menengahnya. Program studi yang ingin saya ambil adalah Media Studies. Tentu saja terinspirasi oleh jejak Ayahanda, tapi takdir punya goresan lain.
Sebelum meninggalkan negeri para mullah, setelah belajar ilmu-ilmu dasar kepesantrenan, saya istikharah kepada seorang ulama arif. Seorang guru khas. Beliau biasa menerima jamaah yang meminta diistikharahkan untuk berbagai keperluan. Usai shalat berjamaah, jamaah akan berbaris rapi menunggu giliran. Setelah wiridan dan beragam doa, beliau akan berbalik, bersila. Lalu, dengan kipas bambu di tangannya, satu per satu jamaah mendekat. Tidak perlu menyampaikan maksud karena Sang Maha Tahu sudah tahu segalanya. Cukup dengan tatapan dan niat dalam hati, lalu wajah yang seperti paras bayi itu akan berkata, “Lakukan, ini baik untukmu.” “Tinggalkan, ia tidak baik bagimu.” Dan seterusnya. Tiba giliran saya. Saya mengambil keberkahan dari hadir ke hadapan beliau. Sambil menatap, beliau menyampaikan, “Perkara ini baik bagimu.” Bismillah, saya pun berketetapan untuk berangkat ke Australia. Meskipun kawan-kawan berkata, “Minan-nûri ilazh-zhulumât,” saya sudah tahu jawaban bagi saya dari ulama itu.
Setelah mempersiapkan segala dokumen di Tanah Air, waktu berangkat pun tiba. Sehari sebelum hari H, saya silaturahmi kepada beberapa kawan, menemui mereka dan berpamitan. Sore hingga malam, hujan turun dengan derasnya. Malam itu, saya ambruk. Esok hari, saya terbangun dalam kondisi tubuh yang menurun. Pusing, lemah, demam. Saya tak bisa berangkat hari itu. Bapak mengarahkan agar saya menunda jadwal keberangkatan hingga minggu berikutnya. Beruntung, Bu Erika dari agen perjalanan Natrabu teramat membantu. Padahal, sudah hari H. Saya pun berangkat minggu berikutnya.
Bagaimana ia menjadi goresan lain dalam takdir itu? Jarak seminggu membuat program studi Media Studies telah penuh terisi. Jurusan yang saya inginkan tak bisa lagi saya ikuti. Ditawarkanlah sebagai “pengganti” program studi yang dekat dengan itu. Namanya keren (atau akan terdengar aneh) dan mungkin waktu itu program studi (prodi) yang semisal itu hanya ada di Melbourne, Australia. Prodi itu adalah Professional Writing and Editing (PWE).
Awalnya, saya ragu. Berbekal TOEFL Bahasa Inggris dengan nilai sedikit di atas standar untuk mahasiswa asing, mengambil jurusan menulis dan menyunting dalam bahasa lain adalah pilihan yang tak mudah. Bahkan, mungkin untuk native speaker berbahasa Inggris sendiri. Menulis dan menyunting dalam bahasa sendiri saja saya masih perlu banyak belajar. Bismillah, doa dan restu kedua orangtua menguatkan, saya pun mengambil prodi PWE.
Mata kuliah pertama adalah The Construction of English. Benar saja, ia mulai dengan perkenalan figure of speech, fitur-fitur berbahasa dalam bahasa Inggris. Lebih dari sekadar grammar dan tenses. Dosen-dosen di sana adalah praktisi di dunia profesional, seorang di antara mereka, Mr. John Mortimore, memberikan kesan berbeda. Beliau mengampu mata kuliah Non-Fiction Writing. Bukan materinya yang saya ingat, melainkan tugas media-watch, yaitu memperhatikan kesalahan bahasa, konteks, atau fallacies media dalam memberikan kesimpulan. Kita mesti membaca media, baik cetak maupun visual, menganalisisnya dan mengkritisinya. Tugasnya memang mirip-mirip mencari kesalahan, tapi sebenarnya berkaitan erat dengan memandang satu subjek secara keseluruhan, memperhatikan bila pemberitaan mengandung pesan yang dititipkan oleh pemilik kantor berita atau perusahaan media, misalnya. Rupert Murdoch pada zaman itu dikenal sebagai raja media. Dan tidak ada yang netral ternyata. Media sangat mungkin berpihak pada pihak-pihak yang menguntungkannya.
Ambil contoh penggunaan kata “teroris” dan “pejuang”. Media pro-Palestina akan mengatakan: para pejuang Hamas. Media yang anti akan menyebutnya: teroris. Atau pemilihan kata “otoritas” dan “pemerintah” untuk kabinet terpilih hasil Pemilu Palestina. Otoritas digunakan bagi yang tidak ingin mengakui kedaulatan penuh negeri Palestina. Mereka tidak menganggapnya pemerintahan yang sah. Di balik pemilihan kata ada narasi yang dibangun, ada kepentingan yang bermain. Di satu sisi menunjukkan kompleksitas, di sisi lain membentangkan karunia Tuhan dari pikiran dan pengalaman yang membentuk manusia dengan segala permasalahannya. Mengikuti kelas media-watch itu telah memberi saya wawasan untuk berusaha mencari berbagai perspektif yang mungkin ada. Memahami sudut pandang dan berperang dengan monopoli pemaksaan satu makna pada beragam kekayaan makna yang ada.
Kemudian saya membaca ayat Al-Qur’an, Ar-Rahmân ‘allamal-Qur’ân, khalaqal-insân, ‘allamahul-bayân. “Sang Maha Pengasih, yang mengajarkan Al-Qur’an, menciptakan manusia dan mengajarinya al-bayân.” Pertanyaan demi pertanyaan seakan-akan datang bertubi setelahnya. Mengapa dari seluruh nama, Ar-Rahmân yang dipilih? Mengapa pengajaran Al-Qur’an didahulukan dari penciptaan manusia? Mengapa yang diajarkan kepada manusia adalah al-bayân? Apakah maknanya? Dan seterusnya, dan seterusnya.
Setelah belajar menulis dan mengedit, dalam perjalanan studi, saya lanjut ke Jerman. Di sana saya menuntaskan ZDAF (Zertifikat Deutsch als Fremdsprache), sekarang TestDaf (Test Deutsch als Fremdsprache), di Braunschweig Universitat. Di buku kamus bahasa Jerman, saya menulis puisi, “Aku angkat topiku tinggi-tinggi. Untuk bahasa, filsafat, dan Kafka.” Apa pasal?
Pernah, saya bertemu seorang kenalan di Pusat Bahasa, Fakultas Adab, Universitas Damaskus. Ini terjadi tiga tahun setelah belajar bahasa di Jerman itu. Namanya Alex. Dia mewarisi kerajaan bisnis ayahnya. Dia punya banyak uang, tapi kehilangan makna. Dia menemukan kebahagiaan dengan bepergian ke berbagai negara, bukan sebagai turis, melainkan tinggal di setiap negeri itu dan menjadi satu di antara penduduk negeri. Dia pernah kos di Yogykarta, belajar bahasa Indonesia dan Jawa. Dia berkeliling ke Asia Timur, Timur Jauh, Eropa, dan bertemu saya di Damaskus. Usai studi kami, saya bertanya kepadanya sekarang mau ke mana lagi? Dia menjawab, “Yaman. Di sana masih banyak kehidupan yang tak tersentuh dunia modern.” Dia mencari sensasi. Anak-anak sekarang menyebutnya adrenalin rush. Harta ternyata tak menjamin hidup bermakna.
Kepada Alex yang bisa banyak bahasa itu, saya bertanya, “Bahasa mana yang paling sulit kau pelajari?” Dia menjawab, “Jerman.” Kemudian, dalam bahasa Arab, dia bergumam, “Majânîn …,” artinya “Orang-orang gila.” Dia berkomentar demikian karena menurutnya bahasa Jerman sulit dipelajari. Dan saya setuju. Kelak saya membandingkannya dengan bahasa Arab. Kompleksitas tata bahasa Arab memberikan kedalaman makna, sedangkan bahasa Jerman tidak. Bukan membandingkan, karena setiap bahasa punya kekhasan dan keistimewaannya masing-masing. Setidaknya, bahasa Belanda yang berasal dari satu akar yang dekat dengan bahasa Jerman memilih untuk menyederhanakannya. Bahasa Jerman tidak. Rechtschreibung, Dewan Autografi Bahasa Jerman, kerap berkumpul untuk merevisi aturan berbahasa Jerman. Di sinilah saya belajar bagaimana sebenarnya sifat dari bahasa itu. Apakah ia ditentukan oleh otoritas ahli atau oleh penggunaan yang beredar secara kolektif di tengah masyarakat dan ahli yang mesti mengikutinya?
Selesai ZDAF di Jerman, saya menelepon orangtua. Setelah bertanya kabar, saya sampaikan niat untuk kembali ke Iran. Jerman lebih dekat ke Iran dibandingkan dengan ke Indonesia. Di ujung telepon, Allah yarham Ayahanda tercinta berkata, “Mif, bagaimana kalau Miftah magang dulu. Cari pengalaman bekerja. Bapak ada teman yang mencari editor. Miftah bisa belajar di sana.” Saya sami‘nâ wa atha‘nâ. Saya pun kembali ke Tanah Air. Dan dimulailah pertualangan di dunia penerbitan. Mulai dari editor magang hingga manajer divisi. Mulai dari proofreader, editor bahasa, dan editor isi. Saya bersyukur dipertemukan dengan kawan-kawan bahasa. Saya bersilaturahmi dengan banyak penulis. Saya bertemu orang-orang besar dan gagasan-gagasan mereka. Saya belajar bahasa mereka. Saya belajar bagaimana menyusun kata dan membentang makna. Terima kasih tak terkira kepada setiap mereka yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita. Saya mengikuti konferensi internasional di Bali hingga mewakili Indonesia di Frankfurter Buchmesse. Saya ikut andil dalam memberikan masukan pada sesi usulan untuk mengurangi pajak perbukuan melalui Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) masa itu. Buku yang sampai di tangan kita tidak kurang melalui berbagai pungutan resmi yang kita sebut pajak. Ada pajak kertas, pajak penulis, pajak kirim, pajak jual, dan masih banyak lagi. Teriring sebaik doa untuk perbukuan Indonesia pada era digital ini.
Yang paling menarik dari pengalaman membaca tulisan orang lain dan mengeditnya adalah sudut pandang. Bagaimana kalimat itu memberi ragam penafsiran. Contoh yang paling sering saya ulang adalah kalimat berikut ini.
“Kilometer 90-an Tol Cipularang rawan kecelakaan.” Saya akan bertanya, apakah itu artinya sering terjadi kecelakaan atau sedikit? Umumnya kita akan menjawab: sering. Lalu, kalimat kedua, “Daerah terdampak musibah rawan pangan dan air bersih.” Apakah itu artinya banyak air bersih dan pangan atau sedikit? Kali ini kita akan menjawab: sedikit. Kok, berbeda? Mari kita sandingkan keduanya.
Kilometer 90-an Tol Cipularang rawan kecelakaan.
Daerah terdampak musibah rawan pangan dan air bersih.
Apakah arti rawan itu “banyak” atau “sedikit”? Ketika saya sampaikan kepada para mahasiswa, setelah kebingungan, mereka akan menjawab: bergantung konteksnya. Baik, bila demikian, seandainya saya mahasiswa asing yang belajar bahasa Indonesia, kapankah rawan bermakna “banyak” dan kapan bermakna “sedikit”? Para mahasiswa bingung menjawabnya. Mereka berusaha mempertahankan argumentasi dengan berkata, “Kalau negatif seperti kecelakaan, itu artinya banyak. Kalau positif seperti air bersih, itu artinya sedikit.”
Menarik juga. Rawan copet, begal, curanmor … itu semua negatif. Maka, rawan berarti banyak. Sedangkan rawan pangan, air bersih, obat-obatan … itu semua positif. Maka, rawan di sini berarti sedikit. Pintar juga mereka. Kemudian, saya tanyakan kepada mereka penggunaan kata “rawan” yang akan membuat mereka terbelah dalam memaknai apakah ini positif atau negatif. Misalnya, daerah X rawan bujangan. Daerah Y rawan perawan. Daerah XY rawan duda dan janda. Masihkah pemaknaan berdasarkan konteks itu dapat kita pertahankan?
Saya sebetulnya mengarahkan. Di sinilah kita memerlukan arti makna “rawan” yang sesungguhnya. Rawan tidak berarti banyak atau sedikit. Rawan artinya rentan, berisiko. Tulang rawan? Bukan tulang banyak atau sedikit, melainkan tulang yang rentan, yang berisiko. Bahkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rawan punya makna lebih dalam. Rawan artinya rindu bercampur sedih; pilu; terharu. Rawan juga bermakna menimbulkan gangguan keamanan atau gawat. Melalui simulasi seperti ini yang saya temukan di dunia editorial, saya belajar bahwa makna kata dapat diarahkan. Bahwa sangat mungkin ada hegemoni pada makna. Kalau sejarawan berkata, “History was written by those who have hanged heroes,” bahwa sejarah ditulis oleh mereka yang sudah menggantung para pahlawan, maka ia ditulis oleh para “pemenang”. Maka narasi, makna, tradisi, dan budaya ditulis oleh para bahasawan. Bahkan, pada satu titik, agama akan bergantung pada kata, pada pemilihan maknanya.
Buku ini juga tidak lepas darinya. Bahkan, setiap di antara kita tidak ada yang pernah lepas darinya. Ketika saya memperkenalkan dan mungkin memopulerkan istilah daqâ’iq Al-Qur’ân, seorang sahabat bertanya: apakah ini tafsir? Mungkin, sebuah bentuk dari tafsir? Tafsir lughawi misalnya, saya jawab tidak. Bukan sama sekali. Untuk menafsirkan Al-Qur’an diperlukan disiplin ilmu tersendiri. Ada tafsir ‘irfâni, bayâni, burhâni, falsafi … ada banyak jenis tafsir. Buku ini bukan semua itu. Ia merupakan pendekatan yang lebih menyasar pada keunikan yang dimiliki Al-Qur’an, khususnya dengan bahasa Arab yang menjadi wasilahnya.
….
Spesifikasi
| SKU | : | UB-517 |
| ISBN | : | 9786024414061 |
| Berat | : | 550 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 16 cm/ 24 cm/ 3 cm |
| Halaman | : | 412 |
| Tahun Terbit | : | 2026 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Belum ada ulasan


