Buku Mindful At Work - Pambudi Sunarsiharto… | Mizanstore.com
Rp 135,150
15% Rp 159,000

Deskripsi

Overthinking sebelum meeting?
Burnout gara-gara kerjaan numpuk?
Insecure lihat pencapaian orang lain di story?


Nggak apa-apa kalau kamu lagi nggak baik-baik aja. Mindful at Work bakal nemenin kamu agar kamu bertumbuh dan berkembang, tak sekadar bertahan hidup, dengan:

•           mengasah kecerdasan emosi;
•           memahami kesehatan dan kesejahteraan mental;
•           mengenali kecemasan, depresi, dan stres;
•           mengelola comparison, validation, dan burnout;
•           membangun hubungan yang sehat; dan
•           mengingatkan kapan kamu butuh bantuan.

Lengkap dengan cerita nyata dari sesama zoomer. So, kamu nggak bakal jadi budak korporat atau cuma ikut trend. Feel it, heal it, lead it!


 

“Relevan banget dengan dunia kerja sekarang. Berasa ngobrol sama mentor yang paham banget tantangan anak muda di dunia kerja.”
—Ir. Antonius Hasian, Senior Associate Social Performance

“... menyajikan pengalaman autentik bagaimana menghadapi tantangan hidup dan mengatasi emosinya sehingga membuka perspektif baru yang inspiratif.”
—Lentera Ilma, Learning Designer

“... sangat aktual bagi gen Z. Buku ini berhasil memperluas perspektif saya dalam menavigasi dunia kerja.”
—Muhammad Rafly, Corporate Transformation

“... menarik, konkret, mengajak pembaca memahami diri sekaligus berkembang di dunia kerja.”
—Mahatma Razavi Rahman, Audit Senior Associate

 

 

ISI BUKU

 

KATA ZOOMER TENTANG MINDFUL AT WORK: TETAP WARAS DI DUNIA KERJA YANG KERAS — v

 

PROLOG — xi
LIFE BEYOND CAREER: TETAP WARAS DI DUNIA KERJA YANG KERAS — xii


01 KECERDASAN EMOSI DAN KESEHATAN/KESEJAHTERAAN MENTAL: KOMBINASI YANG PENTING KAMU PAHAMI DALAM DUNIA KERJA — 3
Emotional Intelligence 101 — 7
Jadi, Apa Sih Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence)? — 9
Apa Saja Komponen EI dan Perbedaan dengan IQ? — 11

The World is Now Crazy and Scary: Saat Ini Kita Membutuhkan EI Lebih daripada Masa Sebelumnya — 17


Kesehatan dan Kesejahteraan Mental (Mental Health and Well-Being) — 21

Mitos dan Realitas Kesehatan Mental: Jangan Terlalu Percaya Kata Orang! — 40

Termometer Emosi: “Sehat” Mental vs. “Sakit” Mental — 42

Masalah “Hati” dan Memahami Emosi — 51

 

02 TAK ADA DUNIA KERJA YANG MUDAH — 75

Yuk, Kenali Kecemasan, Depresi, dan Stres — 79

Kapan Kamu Perlu Bantuan? — 87

Cari Cara yang Efektif: Jangan Pernah Menyerah! — 93


Mentalitas Media Sosial: Bahagia Itu (Harusnya) Bukan Cuma di Story — 100

Like, Filters, and FOMO! — 104

Mengelola Comparison, Validation, dan Burnout — 111

Teknologi Seharusnya Bukan Ancaman, Justru Solusi — 120


Bekerja Bukan sebagai Budak Korporat, Bukan juga Cuma Ikut Tren — 127

Mencari Tahu Siapa Dirimu: Improve Your Visibility — 130


Kesehatan Mental di Dunia Kerja: Perempuan vs. Laki-Laki — 135

Tekanan Menjadi Sempurna dalam Segala Peran: Kesehatan Mental versi Perempuan — 137

Tekanan Maskulinitas: Kesehatan Mental versi Laki-Laki — 140

Menghadapi Tekanan dan Tantangan dengan Nuansa Berbeda — 142

 

03 BELAJAR KETERAMPILAN EMOSI DI DUNIA (KERJA) NYATA — 158

Kesadaran Diri: Mengenali Emosi Diri — 164

Kegagalan Adalah Sumber Terbaik untuk Melatih Emosi — 166

Melatih Kesadaran Diri (Self-Awareness) — 170


Pengaturan Diri: Menyikapi Gelombang Perasaan — 186

Mengelola Kehilangan Kendali Emosi (Meltdown) dan Perasaan Kewalahan (Overwhelmed) — 193

From Reacting to Responding: “Pensiun Muda” Bukan Escape Plan — 198


Empati di Era Digital — 209

Dekat secara Virtual, Menjauh secara Emosional? — 212

Ngobrol Tanpa Canggung — 218
Kita Boleh Tidak Sepakat, tetapi Tidak Boleh Merendahkan — 225


Hubungan yang Sehat — 233

Menggabungkan Batasan, Komunikasi, dan Saling Percaya — 242

Mengelola Persahabatan, Hubungan, dan Keluarga — 255

 

04 TUMBUH DAN BERKEMBANG, BUKAN SEKADAR BERTAHAN HIDUP — 267

Sehat Adalah Kekayaan — 276

Kebiasaan Rutin yang Membantu Kerja Otak — 281

Energi Sehat: Tidur, Nutrisi, dan Bergerak — 283

 

Ga apa-apa kalau sedang apa-apa: Ada Saatnya Kita Butuh Bantuan — 293

Terapi, Konseling, dan Dukungan Krisis — 297

Bicaralah dan Ceritakan Apa yang Kamu Butuhkan — 305


Suara dari Zoomer — 312

Kita Enggak Hidup Sendiri, Kok — 315

Menemukan Tempat Bernaung dan Terhubung — 328

 

EPILOG — 335
FEEL IT, HEAL IT, LEAD IT: DI TENGAH HIDUP YANG TAK SELALU NYAMAN — 336

INDEKS — 341

TENTANG PENULIS — 348


 

PROLOG

 

LIFE BEYOND CAREER:
Tetap Waras di Dunia Kerja yang Keras


Serial Squid Game, drama Korea yang sangat viral di Netflix, dan digemari banyak penonton muda, menghadirkan episode terakhirnya pada season 3. Episode terakhir season ini mempertontonkan semua karakter (busuk) manusia: pengkhianat, pengecut, peneror, serakah, tidak berperikemanusiaan, kejam, dan sadis, dalam seri ini.

Keserakahan merasuki jiwa mereka sehingga tergoda untuk terus bermain walaupun harus membunuh orang-orang yang tadinya bagian hidup mereka. Tanpa penyesalan, nyaris setiap pemain tidak peduli, terus melakukan hal tidak terperikan hingga di ujung film ketika seorang bayi dipertaruhkan nyawanya. Bahkan oleh ayah kandungnya sendiri!

Di tengah kegelapan tersebut, Gi Hun hadir sebagai antitesis. Meskipun dihantui trauma dan dendam masa lalu, dia memilih mengikuti hati nuraninya. Alih-alih meraih hadiah kemenangan dengan mudah, dia justru mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan sang bayi. Dia mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan: pengorbanan, kasih sayang, harga diri, dan kemampuan memilih—hal-hal yang sangat terkait dengan kecerdasan emosi tinggi.

Meskipun ini cuma drama film, dan dalam situasi yang amat ekstrem, pesannya sangat mengena terkait kecerdasan emosi: Gi Hun menunjukkan bahwa dia adalah manusia yang memiliki pilihan—kemanusiaan yang masih tersisa dalam hatinya di tengah lingkungan tekanan mental yang luar biasa. Dialah manusia dengan kecerdasan emosi super.

***
Sekarang, mari perhatikan kondisi nyata sehari-hari yang terjadi di lingkungan kerja.


Pernahkah kamu merasa kesal, tapi tidak tahu mengapa kesal? Atau, tiba-tiba bete cuma karena perlakuan atasan yang kamu rasa tidak fair terhadapmu? Dan, detik itu juga, rasanya emosimu meledak, terdorong memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tersebut.

Yup, itu salah satu tanda kamu sedang “disetir” oleh emosi.

Dan, di sinilah emotional intelligence (EI) atau kecerdasan emosi punya peran penting—kekuatan yang sebenarnya sudah ada di dalam diri kamu, cuma mungkin belum kamu kenali.

 

Singkatnya,
kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk peka, memahami, dan mengelola emosi—baik emosi diri sendiri maupun orang lain.

Kecerdasan ini adalah kemampuan dasar yang sangat berguna dalam kehidupan nyata, hubungan, kerja, komunikasi, bahkan self-care (tindakan sadar untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosional diri sendiri). Ini mencakup berbagai aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan diri, seperti menjaga pola makan sehat, berolahraga, tidur yang cukup, meluangkan waktu untuk hobi, atau terhubung dengan orang-orang terkasih.

Nah, walaupun sangat penting, kecerdasan emosi sendiri tidak cukup tanpa dukungan kesehatan mental yang baik. EI membantu kita mengelola emosi, berempati, berkomunikasi efektif, dan membangun hubungan yang baik di tempat kerja. Namun, bila kesehatan mental terganggu (misalnya karena stres berat, depresi, burnout), kemampuan untuk menerapkan EI akan sangat menurun. Seseorang mungkin tahu cara menenangkan konflik (EI), tapi jika sedang mengalami kecemasan berat, dia tidak akan punya energi atau fokus untuk melakukannya.

Dunia kerja modern menuntut ketahanan menghadapi tekanan: target tinggi, kompetisi, multitasking, dan jam kerja yang panjang. Tanpa kesehatan mental yang stabil, risiko kelelahan (burnout), kehilangan motivasi, bahkan putus asa sangat besar, meskipun orang tersebut memiliki EI yang tinggi.

EI bisa membuat kita tampil lebih baik dalam tim, leadership, dan komunikasi. Dan, kinerja jangka panjang hanya bisa dicapai bila pikiran dalam keadaan sehat—tidak cemas berlebihan, tidak mudah terpicu stres, dan mampu mengambil keputusan dengan jernih.

Dunia kerja modern juga kini lebih kompleks dan menuntut adaptasi terus-menerus, dalam hitungan cepat. Perubahan teknologi, sistem kerja hybrid, dan tekanan sosial membuat pekerja harus adaptif secara emosional dan mental.

Kecerdasan emosi membantu beradaptasi dengan orang, tapi kesehatan mental membantu beradaptasi dengan perubahan internal (misalnya kehilangan arah, jenuh, atau krisis identitas karier).

Apabila kecerdasan emosi adalah “kemudi”, kesehatan mentalnya adalah “mesin”. Tanpa mesin yang sehat, kemudi tak akan mengantar ke mana-mana.

Atau, analogi lainnya, kapal dan laut.

Kecerdasan emosi adalah cara kita mengendalikan kapal, sementara kesehatan mental adalah kondisi lautnya, sedang tenang atau di tengah badai.

Dari survei report 2025 gen Z (selanjutnya disebut zoomer) juga diperoleh fakta bahwa

 

  • lebih 50% zoomer memiliki concern tentang kesehatan mental dan kesejahteraan mental (mental well-being), tetapi banyak yang belum mendapatkan bantuan profesional secara memadai.
  • 40% merasa stres dan gelisah nyaris setiap saat.
  • 48% merasa tidak aman secara finansial.
  • 54% mengatakan kerja yang bermakna sangat penting untuk mengevaluasi tempat bekerja. Dan,
  • 66% termotivasi oleh perkembangan personal.

 

Saat ini, kita hidup di dunia dengan lulusan universitas melimpah, korban PHK membeludak, pengangguran bertambah terus, lowongan kerja sedikit, cari kerja susah. Dan, begitu mendapat pekerjaan, tekanan dan tuntutannya, tinggi. Bos terkadang tidak perhatian kepada kita, rekan kerja menjilat dan saling sikut untuk mendapatkan promosi kerja yang lebih baik. Saat dunia sedang tidak waras, kita dituntut untuk tetap waras.

Di sinilah pentingnya kesehatan dan keseimbangan mental. Kesehatan dan keseimbangan mental menjadi semakin penting bagi generasi saat ini karena tekanan dan tantangan yang unik pada era digital, yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Generasi zoomer dilabeli dengan istilah strawberry generation (Rhenald Kasali) atau anxious generation (Jonathan Haidt) yang merepresentasikan kondisi (diri) para zoomer.

Generasi ini dianggap lebih rentan terhadap stres, cemas, dan depresi karena paparan media sosial, tekanan akademik, dan ketidakpastian masa depan. Kita temukan banyak istilah terkait kesehatan mental yang begitu populer di kalangan generasi saat ini: overthinking, languishing, FOMO, YOLO, gaslighting, healing, insecure, burnout, dan banyak lagi yang menggambarkan betapa isu ini menjadi sangat penting bagi generasi saat ini.

Kesehatan mental yang buruk memperparah stres, membuat kecemasan bahkan depresi yang berpengaruh buruk pada kinerja. Sebaliknya, kesehatan mental yang baik dapat membantu kita mengelola stres, membangun hubungan yang sehat, dan mencapai potensi penuh dalam prestasi/karier.

Kecerdasan emosi bukan saja tentang menjadi baik secara sosial, melainkan juga kunci untuk bertahan secara mental. Keduanya saling memengaruhi.

Seseorang yang memiliki kecerdasan emosi

yang baik bisa membantu kesehatan mentalnya.

Penjelasannya sederhana. Orang dengan kemampuan EI tinggi dapat mengelola stres lebih baik, dapat mengelola emosi negatifnya, memperkuat hubungan sosial, bahkan dia dapat mengenali tanda-tanda gangguan mental sehingga cepat sadar untuk mencari bantuan lebih awal.

Dari analogi kecerdasan emosi sebagai pengendali kapal dan kondisi laut adalah kesehatan mental, dapat dibayangkan apabila lautnya dalam kondisi bergolak, peran pengendali kapal sangat penting agar dapat berhasil melewati kondisi laut yang mengombang-ambing tersebut.

***

Saat menulis Prolog buku ini, kami belum menemukan buku yang secara eksplisit menggabungkan ketiga elemen sekaligus: kecerdasan emosi, kesehatan mental, dan dunia kerja secara khusus bagi para milenial maupun zoomer. Banyak buku yang fokus pada salah satu aspek saja (misalnya EI, atau kesehatan mental, atau lingkungan kerja generik). Termasuk juga, unsur budaya lokal Indonesia tidak banyak dibahas dalam buku-buku internasional, padahal tantangan yang dialami zoomer di Indonesia bisa berbeda.

Oleh karena alasan itulah, buku ini kami tulis. Mindful at Work berarti bekerja dengan penuh hadir, sadar sepenuhnya terhadap apa yang sedang kamu lakukan, apa yang kamu rasakan, dan bagaimana kamu merespons situasi di tempat kerja—tanpa bersikap reaktif secara berlebihan. Untuk itu, ada Ada sedikit teori tentang kecerdasan emosi atau kesehatan/kesejahteraan mental. Namun, buku ini lebih banyak menyoroti pengalaman praktis yang terkait kecerdasan emosi dan kesehatan/ kesejahteraan mental ketika seorang karyawan/calon karyawan yang dilabeli zoomer (bahkan berlaku juga untuk milenial) meniti karier di dunia kerja. Semua pengalaman ini kami dapatkan dari interaksi puluhan tahun sebagai profesional di dunia kerja dan sebagai orangtua anak-anak milenial dan zoomer.

Disajikan lewat kisah nyata yang terjadi di dunia kerja, pembaca kami harapkan dapat melakukan evaluasi/self-reflection dari pertanyaan yang diberikan, apakah pernah mendapatkan pengalaman yang sama? Bagaimana menyikapinya?

Ada kisah saat persoalan yang muncul membuat yang bersangkutan harus mencari solusi dari eksternal (apakah dari HR, resign, bahkan harus mencari bantuan profesional). Ada pula kisah ketika persoalan yang dihadapi dapat diselesaikan sendiri oleh yang bersangkutan. Keduanya relevan dengan kondisi yang dihadapi zoomer pada saat ini di dunia kerja.

Kami juga melengkapi buku ini dengan gambar dan ilustrasi yang dapat membuat pengalaman membaca menjadi lebih menyenangkan.

Kami berharap, dari kisah nyata dan saran yang diberikan di dalam buku ini: untuk (i) para staf, mampu menerapkan manajemen diri dalam peran mereka; untuk (ii) pemimpin, dapat mengelola timnya sehingga setiap individu bisa terus mengikuti perkembangan dan bersikap inovatif di tengah kondisi yang serba-tidak pasti saat ini. Dengan demikian, dunia usaha atau perusahaan bisa memadukan idealisme dan fleksibilitas dalam dunia kerja—yang semua ini tentu membutuhkan tak hanya IQ, tetapi juga EI serta kesehatan/ kesejahteraan mental setiap individunya.

Selamat membaca.

Spesifikasi

SKU  :  AA-41
ISBN  :  9786024414177
Berat  :  360 gram
Dimensi (P/L/T)  :  14 cm/ 21 cm/ 2 cm
Halaman  :  376
Tahun Terbit  :  2026
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Belum ada ulasan, jadilah yang pertama memberikan ulasan buku ini. Masuk untuk memberikan ulasan!