Deskripsi
Kepintaran tenggelam tanpa keterampilan bahasa.
Kedunguan gemerlap berkat kepiawaian bahasa.
Bahasa tidak muncul dari ketiadaan. Kata muncul dari interaksi sehari-hari antarmanusia yang membentuk sebuah sistem komunikasi yang disepakati bersama. Inilah yang disebut bahasa.
Tak jarang, istilah-istilah receh yang kita sepelekan menjadi salah satu tonggak perkembangan bahasa. Misalnya kata segede gaban, alay, dan ambyar memunculkan citra yang melambangkan sebuah generasi tertentu.
Ivan Lanin mengumpulkan recehan bahasa yang berserakan di lini masa media sosial untuk kita nikmati bersama dalam buku ini, sebagai hiburan sekaligus penambah pengetahuan yang penuh cita rasa.
Sembil rebahan ataupun tirah baring, mari kita nikmati Recehan Bahasa #1: Baku Tak Mesti Kaku. Tak perlu malu dan kaku dalam berbahasa. Biarpun kamu jomblo atau jomlo, berbahasa, meski receh, tidak pernah dilarang.
APRESIASI
Ivan Lanin pernah berkata, “Keterampilan tenggelam tanpa keterampilan bahasa.” Buku Recehan Bahasa ini dengan lugas, ciamik, dan kadang jenaka akan “mengasah” keterampilan kita berbahasa lewat berbagai bahasan tentang penggunaan kata, bahkan pengenalan beragam istilah baru. Dengan padat tetapi ringan, buku ini jadi salah satu
buku favoritku untuk lebih “mengenal” bahasa Indonesia.
—Ika Natassa, penulis
Di tangan Ivan Lanin, bahasa Indonesia baku tidak lagi mengerikan. Ivan mampu menjadikannya arena bermain yang sarat tantangan, seru, sekaligus menghibur. Disusun dengan konsep grafis, penataan letak, ilustrasi kaya dan nyaman dipandang, Recehan Bahasa merupakan pengalaman membaca yang menyenangkan. Namun, tak berarti miskin bobot. Recehan Bahasa membuka wawasan dan menghibur kita secara bersamaan. Sungguh kombinasi juara. Bagi saya, itulah yang menjadikan buku ini berharga dan patut dikoleksi.
—Dee Lestari, penulis
Lewat cuitannya, kita dituntun. Lewat bukunya, kita dipandu.
Berbahasa Indonesia pun semakin luwes dan tidak kaku. Terima kasih Ivan Lanin atas Recehan Bahasa-nya.
—Deva Mahenra, actorpreneur
Buku ini tidak hanya memperkaya, tetapi juga memberi sensasi seperti kita berteman dengan kamus bahasa Indonesia. Sebagaimana seorang teman, dia sama sekali tidak kaku (ternyata).
—Zarry Hendrik, wordpreneur, pendiri dan perangkai kata Kapitulis
Ada hal-hal terselubung di balik Recehan Bahasa. Satu, Ivan Lanin dan bahasa Indonesia tak (pernah) seserius itu. Buku ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia tidak bersifat kaku dan kebakuan bukanlah batasan yang mengungkung perkembangannya. Dua, daripada “recehan”, apa yang ada di dalamnya lebih mirip “ceceran” bahasa Indonesia yang sengaja disebar Ivan Lanin untuk menuntun kita masuk ke perangkapnya, bersama-sama merawat bahasa Indonesia.
—Windy Ariestanty, penggagas patjarmerah, penulis, editor, dan penguji iman Ivan Lanin di grup WhatsApp
Prakata
Twitter rumah daring saya. Basis teks dari Twitter membuat saya nyaman berada di sana. Meski secara tidak berkala berpuasa selama beberapa saat dari Twitter, saya selalu terpanggil untuk kembali.
Saya tidak ingat persis kapan saya mulai aktif memakai Twitter sebagai sarana mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia. Saya juga tidak ingat persis apa yang mendorong saya melakukan itu. Yang selalu saya ingat ialah Twitter memberi saya tempat belajar yang bagus.
Saya terdaftar sebagai pengguna Twitter pada Juli 2007. Pada awalnya, saya menggunakan Twitter sebagai tempat menceritakan segala yang saya pikirkan tanpa filter. Bahasa yang saya pakai pun sembarangan. Saya kadang nginggris, kadang nyunda, tetapi tentu saja tetap lebih banyak memakai bahasa Indonesia.
Pada sekitar 2010, saya memutuskan untuk menggunakan ragam baku bahasa Indonesia di Twitter. Saya ingin berlatih menggunakan ragam baku. “Alah bisa karena biasa,” kata pepatah. Saya juga ingin menunjukkan berbahasa baku itu tidak mesti kaku. Twitter sarana yang tepat untuk mewujudkan itu.
Bahasa Indonesia memiliki perbedaan ragam formal dan informal yang sangat jauh. Ragam lisan dan tulisan bahasa Indonesia pun bagaikan bumi dan langit. Sebagai platform media sosial, bahasa di Twitter merupakan suatu hibrida: ragam lisan yang dituliskan.
Buku ini merupakan kumpulan terpilih kiriman saya di media sosial, khususnya Twitter. Ragam bahasa yang digunakan sesuai dengan sifat media sosial yang merupakan ragam lisan yang dituliskan. Topik yang dibicarakan pun acak dan bergantung pada pikiran dan perasaan saya ketika mengirim twit meski tetap seputar kebahasaan.
Buku ini bukan buku pelajaran bahasa Indonesia yang sistematis. Meski demikian, buku ini mengandung serpihan-serpihan pengetahuan yang saya pelajari dari pelbagai ilmu linguistik: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatika, dan wacana. Penyampaiannya saya buat seperti recehan yang kecil dan mudah dibagikan.
Saya berupaya menyampaikan ilmu kebahasaan praktis secara populer melalui media sosial. Ketika melakukan itu, saya kerap menyederhanakan teori linguistik. Saya juga sering mesti memilih salah satu dari beberapa teori untuk suatu topik. Saya terima jika ada ahli bahasa yang menganggap bahasan saya terlalu ugahari.
Kesederhanaan isi buku ini saya harap dapat memudahkan penerimaan pembaca terhadap kerumitan bahasa. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Kunyahan informasi kecil setiap hari lambat laun membuat pengetahuan kebahasaan kita semakin banyak dan kecintaan terhadap bahasa kita pun semakin tumbuh. Itu yang terjadi pada saya pada 2006 ketika saya jatuh cinta lagi kepada bahasa Indonesia dan mempelajari kembali bahasa kita secara autodidaktik.
Nikmatilah beragam trivia bahasa Indonesia dalam Recehan Bahasa #1. Semoga semakin banyak orang yang terbiasa dengan bahasa Indonesia melalui cara yang menyenangkan dan menghibur. Dari keterbiasaan itu, kecintaan niscaya akan lebih mudah mekar. Witing tresno jalaran soko kulino. Selamat membaca.
Persembahkan bagi para warganet tersayang
agar dapat lebih mencintai bahasa Indonesia.
Kita bisa saja makan “yang penting kenyang”
seperti berbahasa “yang penting mengerti”.
Namun, makanan dan bahasa yang bermutu
niscaya lebih baik.
“Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing.”
Kepintaran tenggelam tanpa keterampilan bahasa.
Kedunguan gemerlap berkat kepiawaian bahasa.
Kuasai Bahasa, Kuasai Dunia
Konten media sosial itu camilan.
Makanan utamanya adalah buku.
Camilan memang menarik, tetapi kurang bergizi.
Lahaplah buku.
Berikan nutrisi yang cukup untuk akal dan rasa.
Membaca konten media sosial ibarat makan camilan.
Itu bisa mengganjal perut, tetapi mesti dilengkapi dengan makanan utama:
buku atau bacaan lain yang lebih mengenyangkan dan bergizi.
Sudah baca buku hari ini?
Spesifikasi
| SKU | : | QA-73 |
| ISBN | : | 9786024414092 |
| Berat | : | 180 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 14 cm/ 20 cm/ 1 cm |
| Halaman | : | 152 |
| Tahun Terbit | : | 2026 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Belum ada ulasan


