Deskripsi
PROYEK BERBURU RESTU DEMI MEMPERSUNTING AJENG-KU YANG GINUK-GINUK
TARGET 1: TANTE CITRA
Si bungsu yang eksentrik dan ogah nikah.
Suka nge-prank. Suaranya enggak pernah didengerin dalam musyawarah keluarga.
TARGET 2: OM GENTA
Olahraga versi Om Genta: keliling GBK 5x buat pemanasan doang. Olahraga versi Dipa: salat.
TARGET 3: BULIK RATIH
Doyan tas mahal.
Anaknya mau nikah dengan pesta besar-besaran. Pasti bakal dibandingin sama Dipa yang PRO NIKAH DI KUA 0 RUPIAH.
TARGET 4: PAK GUNTUR
Pejabat Eselon 2 Kementerian Pertahanan. Ajeng putri semata wayang.
Dinding baja antitembus. Dipa bakal mental.
*mending mental doang, kalau dilarang ketemu Ajeng selamanya?
Pujian/Endorsement
“Sebuah eksekusi luar biasa dari ide yang biasa. Relatable in so many levels. Romance dapat, kocaknya juga ngegas. Cerita yang bikin banyak insan ngebet nikah ngerasa “ini gue banget”. Girls, get yourself
a guy like Dipa. Selain jago ngegombal, dia juga bisa bikin ketawa.
Makin sulit saja menggapai lelaki dunia nyata, karena yang sempurna hanyalah cowok fiksi.”
—Handi Namire, penulis Marriage with Benefit
Dua kata buat novel Berburu Restu: apik tenan! Cerita dibuka dengan hal-hal ringan. Banyolan dan gombalan Dipa bikin aku terpikat. Aku enggak bisa berhenti nyengir baca celetukan Dipa yang kadang di luar angkasa saking banyak dan ada aja. Masalah utama novel ini sederhana, tapi ternyata enggak sesederhana itu. Cerita juga related, apalagi buat yang mau married. Satu lagi, walaupun bikin nyengir, tapi Mas Dimas berhasil juga bikin perasaanku campur aduk dan menitikkan air mata. Pokoknya, apik tenan!”
—Desy Miladiana, penulis Under the Kitchen Table
“Udah lama enggak baca novel semenghibur ini, bikin beban hidup terasa berkurang. Hehehe …. Ide novel tentang Dipa yang lagi berburu restu ini kerasa fresh banget, dan eksekusinya juga pas. Pastinya relate banget sama kaum milenial serba mendang-mending. Btw, Ajeng sabar banget, ya, ngadepin Dipa. Tapi, sabar dan dibutakan cinta emang beda tipis, sih! ????”
—Thessalivia, penulis dan bloger
“Sesuai judulnya, Berburu Restu bercerita seputar Dipa yang berniat menikahi Ajeng tanpa resepsi, sementara Dipa tahu keluarga Ajeng pasti enggak bakal setuju. Dipa pun memutuskan untuk berburu restu keluarganya Ajeng.
Kocak! Novel ini masuk ke selera humorku! Enggak nyangka kalau ngikutin perjalanan Dipa dalam berburu restu bisa seasyik ini! Punya pasangan kayak Dipa sepertinya seru, hahaha …. Belum lagi keluarga Ajeng yang unik-unik.
Selain cerita dan para tokohnya yang kocak, baca ini juga bikin aku terharu. Banyak insight mengenai pernikahan yang terasa super duper relate.”
—Despersa, penulis Fallen Gladly
Keunggulan
• Top 10 Mizan Writing Bootcamp.
• Isunya sangat relevan dari masa ke masa, mengenai nikah di KUA vs resepsi yang selalu ramai dibicarakan.
• Ringan dan menyenangkan. Dikemas dengan unsur komedi yang kental dan menghibur.
• Bab-babnya pendek, jadi cocok dibaca dalam sekali duduk.
• Tokoh-tokohnya unik, tetapi tetap relate, sederhana dan apa adanya. Akan menjadi pengalihan yang segar dari tema cowok- cowok kaya atau anak geng yang sedang menjamur di pasaran. Dipa dan Ajeng, dua tokoh utama Berburu Restu, bekerja di puskesmas, dengan permasalahan sehari-hari yang dialami banyak orang.
• Cocok dibaca oleh remaja hingga dewasa, dari yang belum menikah, ingin menikah, akan menikah, atau bahkan mereka yang sudah menikah dan ingin bernostalgia dengan masa-masa rempong sebelum hari-H.
Spesifikasi
| SKU | : | ND-518 |
| ISBN | : | 9786232423992 |
| Berat | : | 320 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 14 cm/ 21 cm/ 2 cm |
| Halaman | : | 344 |
| Tahun Terbit | : | 2023 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Jadi, buku ini bercerita tentang perjuangan Mas Dipa untuk berburu restu ayah Ajeng, camernya, buat menikah di KUA aja. Pemburuannya dimulai dari mengumpulkan dukungan, lewat sanak saudara. Mas Dipa ditemani Ajeng bertekad untuk menemui kakak adik camernya. Tapi, sebelum menyampaikan maksud dan tujuan, ia akan melakukan sesuatu demi meloloskan visi dan misi. Biasalah, tipe-tipe udang dibalik bakwan.
Menariknya, pemburuan ini di penuhi berbagai humor, karena kebiasaan Dipa memang bergurau dan ngebanyol. Setiap bab, akan diselingi gombalan receh yang gak pasaran dan berbagai tips seputar kesehatan, karena profesi tokohnya memang tenaga kesehatan.
Aku suka usaha Dipa selama berburu restu. Bener-bener all in, segalanya dia lakuin. Karena tantangan para om tante, juga gak main-main :v
Dibuat makin manis, sama chemistry dan sikap bahu membahu yang ditawarkan Ajeng. Karena sebagai pihak perempuan pun, dia gak berpangku tangan aja. Justru ia yang paling sadar perjuangan Dipa... Lihat selengkapnya
"Buka bisnis di mana pun itu sama aja. sama-sama butuh keberanian. Asal kita punya mindset yang tepat, insyaallah profit akan datang." — Tante Citra (Hal 74).
"Cinta enggak butuh alasan, Jeng. Kalau ada alasannya, itu bukan cinta, tapi argumentasi." — Dipa (Hal. 110).
Q : Kalian tim nikah di KUA saja atau nikah dengan resepsi?
Kalau aku pribadi, aku lebih suka akad nikah itu di rumah. Lebih terasa khidmatnya buatku dan aku ingin tetap ada resepsi cuma sesuai dengan budget yang ada tanpa dipaksakan harus megah dan sampai berhutang ke mana-mana karena menurutku nikah hanya sekali seumur hidup, aku ingin mengabadikan momen tersebut dan sebagai wanita aku ingin menjadi ratu dalam sehari.
Menikah dengan ada resepsi atau tanpa resepsi hanya di KUA saja itu selera serta pilihan masing-masing individu. Begitu pun dengan seorang wanita yang setelah... Lihat selengkapnya
Dipa ketiban sial ketika kakak perempuannya Raras, menikah dengan uang pinjaman. Ketidakmampuan orang tua (ayahnya) membiayai pernikahan tersebut turut serta menyeretnya ke dalam masalah yang menjadi traumanya saat ini. Gimana enggak, akibat dari “pemborosan” itu, ia mesti ikutan menanggung utang dan kuliahnya sempat terbebani pula.
Awalnya sempet bersimpati pada Dipa, tapi belakangan aku menyadari dia sebetulnya belum layak untuk Ajeng yang baik, pengertian, dan sabarnya selevel mythical immortal. Tingkat keegoisannya sangat tinggi; pokoknya gak kuat, gak kuat, gak kuat. Somehow aku merasa dia berpikir dunia hanya berputar di sekelilingnya. Saking gondoknya, aku sampai... Lihat selengkapnya
Konfliknya berpusat di Dipa yang trauma sama pengalaman keluarga, sampai akhirnya maksa pilihan nikah hemat. Jujur, di sini aku agak gemes sih sama Dipa. Traumanya bisa dipahami, tapi caranya ngehadapin keluarga dan pasangannya terasa egois.
Justru Ajeng yang bikin aku kasian. Dia sabar, pengertian, tapi Dipa nggak melibatkan Ajeng dalam keputusan-keputusannya. Dilema dua keluarga yang beda kelas sosial juga kerasa riil.
Overall, novel ini punya banyak insight dan pandangan baru.
Yang aku suka dari buku ini adalah cerita perjuangan berburu restu yang dibalut dengan komedi receh yang membuat ngikik ????. Ditambah lagi, setiap tokoh dalam buku ini memiliki sisi uniknya masing-masing. Misalnya Tante Citra yang hobi ngeprank, Rina yang jadi PNS hanya untuk mengisi waktu luang ????, dan Gugum selebtok gym ????, semua tokohnya sangat menghibur dan dialog antar tokohnya bikin ngikik. Hal lain yang aku suka adalah aku dapat beberapa pengetahuan baru dari buku ini, misalnya aku jadi tau rutinitas pegawai puskesmas ????, aku jadi tau juga bagaimana prosesi pernikahan... Lihat selengkapnya
Buku ini bercerita tentang perjuangan Dipa si Jambul Khatulistiwa untuk mempersunting Ajeng-nya yang Ginuk-ginuk tanpa perlu melaksanakan resepsi pernikahan dan cukup menikah di KUA. Dipa dan Ajeng pun akhirnya membuat serangkaian proyek dan strategi untuk memperoleh "restu" seluruh keluarga.
Dengan alur yang tidak terburu-buru dan bahasa yang digunakan sederhana, komunikatif, dan penuh nuansa reflektif yang diselingi humor, pembaca dapat dengan mudah turut merasakan pergolakan batin para tokoh dengan natural tanpa drama berlebihan. Penokohannya pun digarap dengan cukup matang; hubungan antara anak dan orang tua yang kompleks dan manusiawi, penuh kasih sayang yang sering kali terselubung oleh ego, ketakutan, dan perbedaan sudut pandang. Nilai-nilai spiritual dan moral juga disisipkan secara halus melalui dialog dan komedi.
Yang saya suka dari buku ini, Pembaca akan diajak merefleksi kembali budaya pernikahan di Indonesia dan beberapa perilaku buruk yang sering dianggap "sudah biasa" dan menjadi kebiasaan... Lihat selengkapnya


