Beberapa hari yang lalu baru namatin drakor yang salah satu dialognya kira-kira begini, "...semua permasalahan di dunia jika ditelusuri sumbernya berasal dari satu hal: uang." NAH, di buku ini, uang bisa didapetin dengan menukar darah. Konsekuensi dari pertukaran tersebut? Umur orang tersebut bakal berkurang sesuai dengan banyaknya darah yang diambil. Waktu adalah uang, dan di dunia tempat Jules hidup, pepatah itu berlaku secara literal. Jules sampe harus kembali ke Everless, tempat yang udah dia tinggalin karena suatu hal, buat kerja nyari uang alias tambahan waktu buat Papanya. Aku suka world-building buku ini. Menurutku konsepnya fresh, soalnya waktu sebagai alat pembayaran tuh mashoook banget buat menggambarkan kesenjangan kekayaan dan eksploitasi kelas bawah. Kurang lebih sama lah cara kerjanya kayak sistem kapitalis yang bikin orang miskin harus "jual nyawa" alias kerja keras banting tulang demi upah imut cuman buat survive, sementara orang kaya bisa hidup "abadi" dan ngehabisin waktu buat foya-foya. Tapi...
Beberapa hari yang lalu baru namatin drakor yang salah satu dialognya kira-kira begini, "...semua permasalahan di dunia jika ditelusuri sumbernya berasal dari satu hal: uang."
NAH, di buku ini, uang bisa didapetin dengan menukar darah. Konsekuensi dari pertukaran tersebut? Umur orang tersebut bakal berkurang sesuai dengan banyaknya darah yang diambil.
Waktu adalah uang, dan di dunia tempat Jules hidup, pepatah itu berlaku secara literal. Jules sampe harus kembali ke Everless, tempat yang udah dia tinggalin karena suatu hal, buat kerja nyari uang alias tambahan waktu buat Papanya.
Aku suka world-building buku ini. Menurutku konsepnya fresh, soalnya waktu sebagai alat pembayaran tuh mashoook banget buat menggambarkan kesenjangan kekayaan dan eksploitasi kelas bawah. Kurang lebih sama lah cara kerjanya kayak sistem kapitalis yang bikin orang miskin harus "jual nyawa" alias kerja keras banting tulang demi upah imut cuman buat survive, sementara orang kaya bisa hidup "abadi" dan ngehabisin waktu buat foya-foya.
Tapi JUJUR, karakter Jules ini agak ngetes kesabaran pembaca. Setiap kali orang lain ngelarang dia ngelakuin hal A, justru hal A lah yang dia lakuin, dan itu berlangsung sepanjang buku. I know dia ngelakuin itu karena mikir she's already got nothing to lose, TAPI masalahnyaaa abis ngelakuin itu dia tuh selalu nyesel dan bukannya ngehadapin konsekuensinya dengan berani. Huft.
Dan sayangnya, eksekusi konflik besarnya terlalu datar. Teka-teki tentang asal usul Jules, rahasia Ratu, misteri di balik kisah penenung-alkemis... hampir semua itu penyelesaiannya malah dibuat lewat hal yang kesannya sebagai "miskomunikasi" atau kebetulan.
Overall, if the whole time-as-currency thing intrigues you and you don't wanna commit to a huge series, you could give this a try, soalnya cuman ada dua buku. Tapiii, ending buku pertama ini gantung alias lanjut ke buku kedua: Evermore.
Lihat selengkapnya
Novel ini itu premis nya menarik karena gimana jadinya kalau mata uang itu dari darah. Awalnya pembaca dibuat bertanya tanya tentang apa yang terjadi dengan Jules dan apa kaitannya dengan everless.
Premisnya menarik, apalagi Liam Gerling yang bikin aku penasaran ????. Tapi di novel ini agak kesel juga sama Jules yang ngeyelan. Masalah tentang warisan tahta ini juga seru. Apa kaitannya si Jules dengan Sang Penenung yang ada di cerita-cerita rakyat. Sayangnya endingnya masih gantung. Jadi perlu baca buku selanjutnya supaya lebih jelas.
Everless punya world building yang kuat banget. Konsep darah sebagai alat pembayaran itu kejam, dingin, dan kerasa nggak adil sejak awal. Yang kaya bisa hidup panjang, yang miskin ya siap-siap kehabisan waktu. Ide ini sukses bikin dunia Everless terasa berat dan penuh tekanan.
Sayangnya, aku nggak terlalu klik sama tokoh utamanya. Jules itu keras kepala dan sering bikin keputusan yang bikin aku geram sendiri. Bukannya tipe karakter yang gampang disayang, malah sering terasa ngeselin.