Buku INILAH MAZHABKU - Haidar Bagir | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

INILAH MAZHABKU

    Deskripsi Singkat

    “Saya selalu percaya pada kebaikan fitri manusia. Kalaupun terjadi pertikaian, lebih sering itu akibat orang terbawa arus yang lebih besar, lebih sering arus politik. Pada kenyataannya, dalam sejarah, politik banyak dikendalikan oleh orang-orang yang manipulatif dan hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya. Dan bahwa selalu ada banyak hal subtil (lembut)… Baca Selengkapnya...

    Rp 59.000 Rp 50.150
    -
    +

    “Saya selalu percaya pada kebaikan fitri manusia. Kalaupun terjadi pertikaian, lebih sering itu akibat orang terbawa arus yang lebih besar, lebih sering arus politik. Pada kenyataannya, dalam sejarah, politik banyak dikendalikan oleh orang-orang yang manipulatif dan hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya. Dan bahwa selalu ada banyak hal subtil (lembut) yang terlibat di dalamnya—yang orang gagal melihatnya—padahal bisa menjadi sumber permakluman jika dipertimbangkan baik-baik.

    Setiap kelompok, setiap mazhab, pun punya kelebihan-kelebihannya sendiri, sebagaimana setiap kelompok, setiap mazhab, punya ruang yang bisa diisi mazhab lain untuk penyempurnaannya. Karena, pada akhirnya, mazhab bukanlah wahyu itu sendiri, tidak pula identik dengan Nabi (atau Imam-imam) yang ma‘shûm, melainkan penafsiran manusia atas sumber-sumber ilahi agama ini—yang tentu saja bisa salah. Orang lain boleh punya tafsir lain, dan masing-masing bisa sama-sama benar dan saling melengkapi, atau setidak-tidaknya bisa saling menyeimbangkan.”

    “… saya berharap buku ini bisa memberikan sumbangan, sekecil apa pun, dalam wacana keragaman mazhab dalam Islam. Dan, lebih dari itu, buku ini bisa ikut menyumbang dalam cita-cita besar umat Islam untuk mencapai persatuan di antara berbagai mazhab, kelompok, dan aliran yang ada.”

     

     

    SEKAPUR SIRIH

    Buku ini tak pernah direncanakan untuk saya susun. Seperti saya tulis di Bab “Mengklasifikasi Syi‘ah dari Tuduhan-Tuduhan terhadapnya”, sudah lama sebetulnya saya malas bicara tentang pertikaian Ahlus-Sunnah dan Syi‘ah. Lebih sering tak produktif dan makan hati. Maka, untuk waktu yang lama, saya memilih berbicara dan menulis tentang masalah-masalah lain yang saya anggap lebih mendesak dan, pada saat yang sama, lebih mudah diterima orang banyak.

    Hingga, suatu kali, kira-kira 6 bulan lalu, datang per­mintaan untuk menjadi narasumber di acara Orasi Budaya Syukuran Milad ke-22 IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia). IJABI adalah organisasi yang di­dirikan oleh Almarhum Pak Jalaluddin Rakhmat. Kalau bukan itu acaranya, mung­kin saya sudah akan langsung menolak. Tapi, Pak Jalal adalah salah seorang guru saya, selain Cak Nur, Gus Dur, Buya Syafii, Pak Kunto, Pak Quraish, dan banyak lagi.

    Kebetulan juga, sudah lama saya ingin menulis tentang tasawuf sebagai titik temu antara Ahlus-Sunnah dan Syi‘ah. Jadi, bukan terutama soal Ahlus-Sunnah dan Syi‘ahnya, melainkan soal tasawuf—yang memang sudah selama puluhan tahun menjadi fokus minat saya—sebagai muara bagi banyak mazhab dan aliran dalam Islam. Maka, saya tawarkan judul “Tasannun dan Tasyayyu‘, Bertemu Lagi dalam Tasawuf” sebagai topik bahasan saya. Ternyata, panitia langsung menerimanya. Lebih jauh dari itu, ternyata banyak orang merasa tercerahkan oleh orasi itu, terutama oleh upaya saya yang menunjukkan bahwa di awal-awal sejarah Islam—khususnya di kalangan penganut Islam, termasuk para ulamanya, yang jauh dari panggung politik—pertikaian Sunni-Syi‘i tidaklah sebesar itu.

    Bahkan, di awal-awal sejarahnya, batas-batas per­bedaan antara kedua mazhab ini sangatlah baur. Yang Ahlus-Sunnah menerima Syi‘ah sebagai mazhab yang “biasa-biasa” saja, se­hingga tak ada permusuhan di antara keduanya, demikian pula sebaliknya. Bahkan, seorang Sunni bisa ke-“Syi‘ah-Syi‘ah”-an (mutasyayyi‘), dan sebaliknya seorang Syi‘i bisa ke-“Sunni-Sunni”-an (mutasannin). Mereka saling mengambil dan belajar bahwa menjadi Sunni dan Syi‘i tak harus berarti saling bertikai, apalagi saling membenci.

    Saya pun mendapat respons positif dari mana-mana. Banyak orang merasa terbuka matanya, lalu menjadi lebih relaks terkait perbedaan mazhab dalam Islam ini. Maka, pelan-pelan terbentuklah keinginan mengembangkan—atau tepatnya mem-breakdown—pem­­bahasan dalam makalah orasi ter­sebut menjadi tulisan-tulisan ringkas dan sederhana untuk mengungkapkan apa yang saya tahu dan yakini terkait fakta-fakta yang jarang ditulis orang tentang apa saja yang ada di balik pertikaian kedua mazhab besar ini. Juga bahwa se­sungguhnya pertikaian itu tidak perlu.

    Setelah beberapa tulisan—yang hanya saya tulis dan sebarkan dengan medium WA (WhatsApp)—itu muncul, tiba-tiba ada beberapa teman yang meminta agar tulisan-tulisan tersebut dibukukan. Bahkan, suatu saat masuk ke meja saya sebuah calon buku se­tebal 200-an halaman, hasil suntingan seorang penulis baik hati,yang telah mengumpulkan tulisan-tulisan saya yang terkait dengan topik ini. Tentu saya senang. Tapi bukannya tak waswas juga. Apakah jika buku ini saya putuskan untuk diterbitkan, saya tak menjerumuskan diri saya sekali lagi pada suatu urusan yang terbukti tak produktif seperti dulu?

    Tapi, kemudian saya berpikir ulang. Umur saya sudah 65 tahun. Persoalan pertikaian Ahlus-Sunnah dan Syi‘ah ini, khususnya di Indonesia, ternyata juga tak kunjung mereda. Pada momen-momen tertentu bahkan makin marak dan selalu saja ada potensi suatu saat bisa meledak. Penyebabnya bisa datang dari sisi mana saja. Maka, intuisi saya menyatakan bahwa saya yang selama ini telah “menikmati” sebutan sebagai “pentolan Syi‘ah”—padahal saya sejak kapan pun tak pernah merasa terikat dengan satu mazhab apa pun—mungkin memang berada dalam posisi yang tepat untuk akhirnya angkat suara tentang persoalan yang umurnya sudah nyaris setua agama Islam ini sendiri. Dan, kalau nanti ternyata benar-benar ada manfaatnya, biarlah risiko ini saya tanggung. Maka, ide membuat buku sederhana tentang masalah ini pelan-pelan menjadi menarik buat saya.

    Betapapun, saya berharap buku ini memiliki suatu pers­pektif yang khas. Yakni, hasil dari perkembangan, untuk tak menyebut kulminasi, perenungan selama kurang-lebih 40 tahun, yang dilihat dari perspektif dan wawasan saya tentang masalah ini. Bagi yang ber­baik hati mau mengikuti perjalanan pemikiran saya tentang persoalan ini, sebetulnya amat mudah melihat bahwa sejak awal saya adalah orang yang percaya bahwa keberadaan mazhab-mazhab adalah wujud dari keragaman yang natural dalam keberagamaan. Tak ada sesuatu yang salah di dalamnya. Malah itu adalah suatu khazanah yang bisa mem­perkaya pemahaman kita akan agama yang kita anut. Jadi, se­ba­lik­nya dihindari, keberagaman ini adalah hal yang perlu disyukuri.

    Orang, misalnya, bisa dengan mudah melihat upaya saya mem­­buat buku pendekatan antarmazhab, yang bisa mendekat­kan pemahaman dan hati para peng­anut mazhab-mazhab yang berbeda, dengan menerbitkan—merencanakan, mewawancara, menyunting, dan mem­beri pengantar—buku Satu Islam, Sebuah Dilema. Juga ketika saya menulis buku Murtadha Muthahhari: Sang Mujahid, Sang Mujtahid. Saya memang mengagumi Muthahhari, yang notabene adalah salah seorang ulama Syi‘ah. Tapi, di antara sumber kekaguman saya adalah bahwa Muthahhari justru menonjol sebagai tokoh yang bersemangat mendekatkan mazhab-mazhab dalam Islam. Inilah kutipan dari Muthahhari yang saya serta­kan da­lam pengantar saya pada buku tersebut:


    “Di kalangan kaum Muslim terdapat perbedaan dalam masalah-masalah fikih sehingga hal ini me­nimbulkan ber­bagai mazhab fikih, seperti Ja‘fari, Zaidi, Hanafi, Syafi‘i, Maliki, dan Hanbali. Masing-masing mazhab itu memiliki fikih tersendiri. Dari sudut pandang doktrin, mereka terbagi pula menjadi berbagai mazhab kalam, dan masing-masing memiliki seperangkat doktrin tersendiri. Yang terpenting di antaranya adalah Syi‘ah, Mu‘tazilah, Asy‘ariyah (sering diidentikkan dengan Ahlus-Sunnah—penyunting/HB), dan Murji’ah.

    Perbedaan-perbedaan teoretis dan pandangan tentu terdapat dalam setiap masyarakat, meski ma­sya­rakat itu bersatu dan sepakat dalam prinsip. Selama perbedaan-perbedaan itu timbul akibat metode-metode penyimpulan, dan bukan karena vested-interest, maka perbedaan-perbedaan itu bah­­kan bermanfaat; sebab hal-hal ini menyebabkan adanya mobilitas, dinamisme, diskusi, keingintahuan, dan kemajuan. Perbedaan akan menyebabkan ke­sengsaraan apabila disertai prasangka-prasangka serta kutub-kutub emosional dan tidak logis, serta menimbulkan saling fitnah dan saling menghina, bukannya memacu ke arah upaya-upaya untuk mem­barui diri.

    Karena itu, perbedaan sendiri tidak dapat di­salahkan. Yang dapat disalahkan ialah perbedaan yang timbul karena niat-niat buruk dan kepentingan-kepentingan diri sendiri ....”

    Betapapun, uraian saya dalam buku ini sudah pasti subjektif juga. Tapi, tentu sumbernya bukan sekadar pikiran nyeleneh (whimsical) saya yang asal-asalan. Ya, perspektifnya bisa jadi subjektif, tapi bahan-bahannya saya ambil dari uraian para ahli di bidangnya. Maklum, dalam soal ini, seperti dalam hal apa pun, selalu ada beragam perspektif. Dan ini keyakinan saya juga. Barangkali memang inilah temperamen (isti’dâd/dis­posisi) saya. Temperamen rekonsiliatif, yang melihat semua orang dari kelompok apa pun, pada dasarnya sama. Yang baik dari kelompok mana pun, ya baik; yang tidak baik, ya tidak baik. Orang-orang yang cerdas dan terbuka ada di kelompok mana pun. Demikian pula yang bebal (ahmaq).

    Saya selalu percaya pada kebaikan fitri manusia. Kalaupun terjadi pertikaian, lebih sering itu akibat orang terbawa arus yang lebih besar, lebih sering arus politik. Pada kenyataannya, dalam sejarah, politik banyak di­kendalikan oleh orang-orang yang manipulatif dan hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya. Dan bahwa selalu ada banyak hal subtil (lembut) yang terlibat di dalamnya—yang orang gagal melihatnya—padahal bisa menjadi sumber permakluman jika diper­timbang­kan baik-baik.

    Setiap kelompok, setiap mazhab, pun punya ke­lebihan-kelebihannya sendiri, sebagaimana setiap ke­lompok, setiap mazhab, punya ruang yang bisa diisi mazhab lain untuk penyem­purnaannya. Karena, pada akhirnya, mazhab bukanlah wahyu itu sendiri, tidak pula identik dengan Nabi (atau Imam-imam) yang ma‘shûm, melainkan penafsiran manusia atas sumber-sumber ilahi agama ini—yang tentu saja bisa salah. Orang lain boleh punya tafsir lain, dan masing-masing bisa sama-sama benar dan saling melengkapi, atau setidak-tidaknya bisa saling menyeimbangkan.

    Saya pun pelan-pelan menulis bab-bab lain untuk meleng­kapi materi yang ada. Hingga, setelah memilah dan memilih dari bahan-bahan yang disampaikan penulis itu, serta melengkapinya dengan bab-bab baru, hingga lengkaplah bahan-bahan untuk me­ner­bitkan buku ini.

    Sekarang menjadi jelas kenapa buku ini dijuduli Inilah Mazhabku: Mazhab di Atas Mazhab. Judul ini saya ambil bukan­lah karena saya menganggap terlalu penting diri saya, dan pentingnya orang mengetahui mazhab saya. Sama sekali tidak. Mudah dipahami dari uraian saya sebelumnya, judul ini terkait dengan kenyataan bahwa perspektif saya, sedikit atau banyak, bersifat subjektif. Orang pun boleh punya perspektif yang berbeda. Dan, tak perlu dikatakan lagi bahwa perspektif saya belum tentu benar. Karena itu, ia boleh diterima semua atau dibuang semua. Atau, ia boleh diterima sebagian dan dibuang sebagian.

    Tentu saja saya bukannya tidak tahu bahwa perspektif saya ini bisa mengecewakan, setidaknya bagi sekelompok orang ter­tentu di dua kubu yang terlibat: Ahlus-Sunnah maupun Syi‘ah. Bagi yang Sunni dari kelompok ini, buku saya ini betapapun akan dianggap sebagai upaya pembelaan terhadap Syi‘ah. Karena, di mata mereka, bukankah saya memang “pentolan Syi‘ah”?

    Sedangkan bagi Syi‘i dari kelompok sejenis, buku ini bisa dianggap ingin menetralisasi kekhasan—untuk tak menyebut keunggulan—mazhab Syi‘ah di mata mereka. Selebihnya, subjudul “Mazhab di Atas Mazhab” dimaksudkan untuk me­nunjukkan bahwa saya tidak antimazhab. Saya tak memilih subjudul “menuju Islam tanpa mazhab”. Dan bahwa, meski buku ini berupaya menonjolkan persamaan-persamaan di antara Ahlus-Sunnah dan Syi‘ah, tawaran saya—jika diterima—akan membentuk semacam “mazhab” (baca juga: perspektif) tersendiri, yang tentu alami saja. Lagi pula, bagaimana orang bisa anti kepada pengelompokan, aliran, dan mazhab?

    Pengelompokan, aliran, dan mazhab adalah tabiat umat manusia. Tak ada yang salah di situ. Yang salah adalah justru menuntut keseragaman. Lebih-lebih lagi, keseragaman yang mengandung keyakinan bahwa se­mua harus mengikut mazhab, kelompok, atau aliran­nya sendiri, sembari menyalah-nyalahkan, menyesat-nyesat­­kan, dan mengafir-ngafirkan kelompok lain.

    Akhirnya, saya perlu sampaikan sebuah disclaimer. Buku ini, meski memiliki perspektif khas, berbicara mengenai topik ini secara umum saja, tidak mendetail, dan tidak pula menggali terlalu jauh ke dalam perbedaan-perbedaan dalam spektrum luas kelompok yang disebut sebagai Ahlus-Sunnah, demikian juga dalam hal Syi‘ah. Kita semua tahu bahwa dalam aliran Ahlus-Sunnah dan Syi‘ah, ada spektrum luas yang di dalamnya ada perbedaan-perbedaan yang terkadang cukup kontras (lihat Bab “Spektrum Sub-Sub–Mazhab di Luar Mainstream Ahlus-Sunnah dan Syi‘ah”).

    Dalam buku ini, saya mendefinisikan Ahlus-Sunnah sebagai yang bukan Syi‘ah, atau Khawarij, sebagai­mana dipahami secara umum. Kita tentu tahu bahwa aliran Salafiyah/Wahabiyah pun memiliki tak sedikit perbedaan—bahkan pertentangan—dengan kelompok-kelompok Ahlus-Sunnah wal-Jama‘ah yang selebihnya, termasuk dalam soal kalam (teologi) dan juga fikih. Tapi, dalam banyak hal, kelompok ini juga memiliki kesamaan dengan kelompok-kelompok Ahlus-Sunnah selainnya, khususnya dalam hal perbedaannya dengan Syi‘ah, termasuk terkait akidah Syi‘ah tentang imamah.

    Hal-hal terperinci seperti ini, sebagaimana banyak hal terperinci lainnya, pada umumnya tidak saya bahas dalam buku sederhana ini. Mengapa? Pertama, karena memang tujuan buku ini tak seambisius itu. Ia semata-mata hanya menawarkan sebuah perspektif rekonsiliatif dalam melihat masalah ini. Kedua, selain bukan ahli, saya pun tak pernah telaten membahas persoalan-persoalan yang terlalu terperinci dan bertele-tele. Seperti dalam tulisan atau wacana lain yang saya kemukakan melalui berbagai buku dan percakapan saya, betapapun juga saya adalah seorang aktivis. Saya lebih tertarik kepada transformasi konkret dalam masyarakat pada umumnya, bukan hanya me­nyumbang kepada kalangan masyarakat ilmiah. Meski aktivisme saya tak boleh tak berdasar ilmu. Ketiga, sudah banyak buku yang ditulis oleh orang-orang yang lebih ahli dalam topik ini—yang hampir semuanya menjadi rujukan saya dalam menulis buku sederhana ini.

    Meskipun demikian, saya berharap buku ini bisa memberi­kan sumbangan, sekecil apa pun, dalam wacana keragaman mazhab dalam Islam. Dan, lebih dari itu, buku ini bisa ikut menyumbang dalam cita-cita besar umat Islam untuk mencapai persatuan di antara berbagai mazhab, kelompok, dan aliran yang ada agar, pada akhirnya, lebih terbuka peluang bagi umat ini untuk memberikan kontribusi positif bagi peradaban dan ke­manusiaan. Karena, selain “menebarkan rahmat bagi semesta”, apa lagi misi pengutusan Nabi Muhammad kepada alam ini?

    Ya. Isi buku ini pasti belum tentu benar, malah bisa saja salah. Tapi, kalaupun demikian, perspektif khas buku ini yang bersifat merujukkan (rekonsiliatif) diharapkan bisa mendorong diskusi mengenai masalah yang dibahasnya, dan membuka jalur baru, yang me­nerobos kebuntuan wacana Ahlus-Sunnah dan Syi‘ah selama ini.

    Karenanya, buku kecil ini pasti tidak ditulis untuk seke­lompok orang yang dengan bangga melihat dirinya sebagai ulama, yang pendapatnya sudah tak bisa berubah (fixed) dan merasa pasti benar, sementara pendapat yang berbeda dicapnya salah, tanpa mau membuka diri dan belajar lagi.

    Buku kecil ini juga bukan ditulis bagi sekelompok orang yang membiarkan pikirannya tertutup, pemikir­annya berhenti, dan merasa bahwa pandangannya sudah final, sehingga menutup rapat-rapat pikirannya dari pencerahan baru.

    Buku ini hanya akan bermanfaat, sekecil apa pun, bagi lebih banyak orang “biasa”, yang apakah ilmunya tinggi atau rendah, mau terus memelihara kerendahhatian, kejujuran, dan semangat belajar bersama, yang selalu melihat ilmu dan wawasannya bersifat tentatif (bisa berubah dengan tambahan ilmu dan wawasan baru), dan karenanya mau secara terbuka belajar dari siapa pun juga.

    Semoga Allah selalu memberi petunjuk, pertolongan, dan taufik-Nya kepada saya dan para pembaca sekalian.

     

    Depok, 7 Oktober 2022

    Tentang Haidar Bagir

    Haidar Bagir

    Haidar Bagir lahir di Surakarta, 20 Februari 1957. Dia meraih S-1 dari Jurusan Teknologi Industri ITB (1982); S-2 dari Pusat Studi Timur Tengah, Harvard University, AS (1992); dan S-3 Jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI) dengan riset selama setahun (2000-2001) di Departemen Sejarah dan Filsafat Sains, Indiana University, Bloomington, AS.

    Nama penerima tiga beasiswa Fullbright ini selama beberapa tahun berturut-turut masuk di dalam daftar 500 Most Influential Muslims (The Royal Islamic Strategic Studies Centre, 2011). Pada 17 Agustus 2020, Haidar Bagir mendapat penghargaan Farabi International Award dari Kementerian Sains dan Teknologi Republik Islam Iran atas kontribusinya dalam pengembangan ilmu-ilmu budaya dan kajian Islam (Humanities and Islamic Studies).

    Selain sibuk mengurus yayasan pendidikan dan sosial serta menjadi presiden direktur sebuah rumah penerbitan, dia telah menulis beberapa buku, di antaranya: Era Baru Manajemen Etis (1995); Antara Al-Farabi dan Khomeini: Filsafat Politik Islam (2002); Buku Saku Tasawuf (2005); Buku Saku Filsafat Islam (2005); Buat Apa Shalat?! (2005); Surga di Dunia, Surga di Akhirat (2010); Belajar Hidup dari Rumi (2015); Semesta Cinta: Pengantar kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi (2015); Mereguk Cinta Rumi (2016); Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan (edisi-Inggrisnya diterbitkan oleh Kube Publishing, London, 2017); Epistemologi Tasawuf (2017); Dari Allah Menuju Allah (2019); Mengenal Tasawuf (2019); Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia (2019); Sains “Religius”, Agama “Saintifik” (2020); Mengenal Filsafat Islam (2020); Catatan untuk Diriku: Ihwal Hidup, Cinta, dan Bahagia (2021); Sang Belas Kasih (2021); Alkimia Cinta (2021); dan Manifesto Islam Cinta (2022). Dia juga masih aktif memberikan ceramah keagamaan dan pendidikan di sejumlah instansi; menjadi pembicara di sejumlah seminar keilmuan, khususnya kajian tentang filsafat dan pemikiran Islam kontemporer. Selain itu, dia pernah menjabat sebagai Editor-in-Chief Jurnal Kanz Philosophia, Jakarta; Koordinator Regional International Society for Islamic Philosophy; Board Member of Global Compassionate Council; Pendiri Gerakan Islam Cinta; serta menjadi dosen di ICAS dan STFI Sadra Jakarta.




    Keunggulan Buku

    1. Ditulis oleh Haidar Bagir, penulis ternama Indonesia yang karya-karyanya selalu bestseller.

    2. Buku ini menawarkan pembahasan berbeda yang lebih ringkas, padat, populer, mudah dipahami, dan mengalir.

    3. Pembahasan tentang pemikiran/aliran yang disajikan buku ini lengkap dan adil (cover both side).

    4. Buku ini menjunjung tinggi persatuan, keharmonisan, kesalingpahaman, dan Islam sebagai agama cinta.

    5. Buku ini cocok dibaca bagi pemeluk Islam di Indonesia yang jumlahnya banyak dan memiliki denominasi mazhab yang beragam.

    Resensi

    Spesifikasi Produk

    SKU UA-270
    ISBN 978-602-441-295-1
    Berat 230 Gram
    Dimensi (P/L/T) 13 Cm / 19 Cm/ 0 Cm
    Halaman 204
    Jenis Cover Soft Cover

    Produk Haidar Bagir

















    Produk Rekomendasi