Buku MORTAL ENGINES - Philip Reeve | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

MORTAL ENGINES

Deskripsi Singkat

Ini bukan lagi dunia yang kita kenal. Abad-abad telah berlalu, kota-kota kini melayang, digerakkan oleh mesin-mesin canggih, saling memakan satu sama lain agar bisa terus beroperasi. Negeri Luar, hamparan daratan yang tidak ditempati, adalah tempat berbahaya yang mengancam nyawa. London pun tengah berburu. Menyantap kota kecil dan kabur dari kota-kota… Baca Selengkapnya...

Rp 79.000 Rp 67.150
-
+

Ini bukan lagi dunia yang kita kenal. Abad-abad telah berlalu, kota-kota kini melayang, digerakkan oleh mesin-mesin canggih, saling memakan satu sama lain agar bisa terus beroperasi. Negeri Luar, hamparan daratan yang tidak ditempati, adalah tempat berbahaya yang mengancam nyawa. London pun tengah berburu. Menyantap kota kecil dan kabur dari kota-kota pemangsa yang lebih besar. Dan, dalam kemeriahan tangkapan terbaru, terjadilah serangan terhadap sang pahlawan kota, Thaddeus Valentine. Tom, seorang pemuda magang, yang mengidolakan Valentine-dan jatuh hati kepada anaknya, Katherine-langsung mengejar si tersangka, seorang gadis bermuka parut yang kabur dengan terjun dari London yang tengah melaju. Namun, saat Tom menanyai Valentine mengapa gadis bernama Hester Shaw itu ingin membunuhnya, Valentine menjawab dengan cara mendorong Tom hingga ikut terlempar menyusul gadis itu. Kini, Tom terdampar di Negeri Luar bersama Hester Shaw yang sinis dan terluka parah. Mereka bekerja sama menemukan jalan kembali ke London untuk alasan yang jauh berbeda: Tom ingin kembali ke rumah, Hester ingin membunuh Valentine. Yang belum mereka sadari, Negeri Luar akan menghajar mereka hingga babak belur sebelum mereka sampai di tujuan. Berhasilkah mereka bertahan?

Tentang Philip Reeve

Philip Reeve

Philip Reeve, lahir di Brighton, 28 Februari 1966, adalah penulis berkebangsaan Inggris dan ilustrator buku anak. Philip bersekolah di St. Luke's School di Queens Park, Brighton di mana dia menikmati waktu dengan menulis, menggambar, mempelajari sejarah dan akting, dan membenci matematika. Philip menerbitkan Mortal Engines pada 2001, yang kemudian memenangkan Smarties Gold Award, Blue Peter Book of the Year Award, dan Blue Peter 'Book I Couldn't Put Down' Award. Mortal Engines disusul oleh tiga buku lainnya: Predators Gold (2003), Infernal Devices (2005), dan A Darkling Plain (2006), yang semuanya tergabung dalam seri Hungry City Chronicles. A Darkling Plain sendiri memenangkan Guardian Children's Fiction Prize dan the Los Angeles Times Book Award. Philip dan istrinya, Sarah, pindah dari Brighton ke Devon pada 1998 dan kini tinggal di Dartmoor dengan putra mereka, Sam, yang lahir pada 2002.




Keunggulan Buku

''Menarik, dengan deskripsi yang sangat visual.'' -School Library Journal
''Sebuah petualangan di mana aksi kota-makan-kota akan membuat pembaca tercengang.'' -Booklist
''Reeve akan segera terkenal karena tulisannya yang penuh imajinasi, heboh, dan sarat adegan aksi yang memuaskan.'' -Horn Book Magazine
''Menarik, dengan deskripsi yang sangat visual.'' -School Library Journal review
''Sebuah petualangan di mana aksi kota-makan-kota akan membuat pembaca tercengang.'' -Booklist
''Reeve akan segera terkenal karena tulisannya yang penuh imajinasi, heboh, dan sarat adegan aksi yang memuaskan.'' -Horn Book Magazine
''Daya imajinasi yang liar, penuh detail menakjubkan, humor, dan petualangan mendebarkan.'' -KLIATT
''Para pembaca yang menyukai adegan aksi, pertarungan seru antara pihak baik dan jahat, akan tenggelam dalam kisah ini hingga akhir.'' -Kirkus Review

 

 

Resensi

Mortal Engines dipenuhi aksi, petualangan, dan para karakter yang penuh tipu daya. Philip Reeve telah menciptakan dunia “kota makan kota” yang orisinal dan penuh kekerasan di mana ada kapal udara yang memuat cyborg pemburu yang tercipta dari tubuh manusia yang sudah mati, dan orang-orang tak bersalah tidak bisa dijamin akan bertahan hidup.

            Buku ini tergabung dalam seri “The Hungry City Chronicles”, mengandung elemen-elemen kekayaan sejarah literatur fiksi ilmiah, seperti cerita klasik Mary Shelley, Frankeinstein, tapi masih memiliki orisinalitasnya sendiri. Reeve merilis buku debutnya dengan standar yang tinggi hingga pembaca hanya bisa berharap buku-buku berikutnya akan sama segar dan mengagumkan.

 

Sumber:

https://www.teenreads.com/reviews/mortal-engines

***

Kau perlu memahami teori Darwinisme Kota untuk membaca buku brilian ini. Hal pertama yang perlu kau tahu, buku ini menceritakan masa di mana kota makan kota, di Wilayah Perburuan Besar.

            Kota kecil itu sudah begitu dekat sampai-sampai dia dapat melihat bentuk-bentuk seperti semut yang kocar-kacir di geladak atas. Mereka pasti ketakutan, karena London sudah nyaris melahap mereka dan tak ada tempat untuk bersembunyi. Namun, Tom tahu semestinya dia tidak mengasihani mereka: sudah sewajarnya jika kota-kota besar melahap kota-kota yang lebih kecil, sementara kota-kota kecil menelan permukiman-permukiman statis yang menyedihkan. Demikianlah prinsip Darwinisme Kota, dan begitulah cara kerja dunia selama ribuan tahun, sejak ahli rekayasa hebat Nikolas Quirke mengubah London menjadi Kota Traksi pertama. “London! London!” pekiknya, menambahkan suaranya dalam sorak-sorai dan teriakan semua orang di platform itu, dan sesaat kemudian mereka dihadiahi pemandangan salah satu roda Salthook yang terlepas. Kota itu merambat pelan hingga terhenti, pipa-pipa berasap rubuh dan terjatuh ke jalan-jalan dengan warga yang panik, kemudian lantai-lantai bagian bawah London menghalanginya dari pandangan dan Tom merasakan lempeng dek bergetar selagi Rahang hidrolik raksasa kota itu mengatup tertutup.

Yah, mungkin itu tampak seperti kota yang luas dan mutakhir, tapi London terbuat dari gabungan sisa-sisa baja dan Teknologi-Lama. Beberapa peninggalan Teknologi Lama langsung dikirimkan kepada Serikat Sejarawan untuk diteliti, sebagian lagi diserahkan kepada Serikat Ahli Mesin yang berkuasa. Terkadang, para Ahli Mesin berhasil menemukan cara untuk menggunakan kembali benda-benda peninggalan masa lalu itu, tapi seringnya tidak.

Kisah ini menceritakan momen ketika Valentine, sang Penjelajah, kembali ke London membawa kepingan berbahaya Teknologi-Lama yang disebut Medusa. Masalahnya, jika London benar-benar berniat untuk menciptakan ulang senjata kuno yang akan menyebabkan penghancuran besar-besaran itu, jelas penghancuran besar-besaran akan menjadi salah satu konsekuensi yang tak terhindarkan. Karena itulah, Valentine memiliki cukup banyak musuh. Salah satunya gadis buruk rupa, Hester Shaw, yang orangtuanya dibunuh Valentine untuk merebut Medusa.

Bekas luka yang parah melintangi wajahnya dari kening hingga ke rahangnya, membuatnya tampak seperti sebuah lukisan potret yang dicoret dengan penuh kemarahan. Mulutnya tertarik miring membentuk seringai permanen, hidungnya bagai tunggul yang diremukkan dan satu matanya menatapnya dari reruntuhan itu, berwarna kelabu dan dingin seperti lautan pada musim dingin.

Dan ada Tom, Pegawai Magang Kelas Tiga dari Serikat Sejarawan. Dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Valentine mendorongnya jatuh ke tanah terbuang, menyusul Hester Shaw, karena Valentine takut Tom tahu terlalu banyak tentang gadis itu. Namun, baik Tom maupun Hester berhasil selamat dari kejatuhan itu. Mereka mendarat di lumpur lembut Negeri-Luar dan mulai membentuk persekutuan yang jelas tidak mudah, yang akhirnya membuat mereka semakin dekat dan akhirnya berteman.

Banyak hal tentang loyalitas dan kepercayaan dalam kisah yang liar dan berbahaya ini. Sangat menyenangkan! Sangat direkomendasikan!

Sumber:
https://www.readingmatters.co.uk/book.php?id=156

Fakta Menarik Mortal Engines

Mengambil setting waktu pasca-apokaliptik, di mana dunia hancur akibat “Perang Enam Puluh Menit”, yang mengakibatkan bencana alam besar-besaran: gempa bumi, ledakan gunung berapi, dan banyak lainnya. Kota-kota dipasangi mesin-mesin raksasa dan roda-roda, dan mampu ‘memakan’ kota-kota lain yang lebih kecil untuk mendapatkan sumber daya mereka yang berguna bagi keberlangsungan kota.

Kebanyakan teknologi dan pengetahuan sains hilang pada masa perang. “Teknologi Lama” pun menjadi sesuatu yang berharga, terutama buku-buku dan mesin-mesin dari benda-benda peninggalan masa lampau. Kebanyakan hewan dan tumbuhan lenyap dari eksistensi dan keberadaan mereka hanya diketahui dari buku-buku yang tersisa.

Eropa, beberapa daerah Asia, Afrika Utara, Kutub Selatan, dan Kutub Utara didominasi kota-kota Traksi. Sedangkan Amerika Utara sudah hancur total dan diidentifikasi sebagai “benua mati”. Bagian dunia lainnya bersatu menjadi Liga Anti-Traksi, yang berusaha menghentikan kota-kota yang terus bergerak sebelum menghabiskan semua sumber daya yang tersisa. Himalaya menjadi pusat peradaban mereka, di mana pegunungan yang mengelilingi wilayah itu membuat kota-kota pemburu mustahil untuk mendekat dan menyerang.

London menjadi ibu kota Traksi, dan semuanya kembali ke Era Victoria. London dibagi menjadi empat serikat: Ahli Mesin, Sejarawan, Navigator, dan Pedagang. Di London sendiri masih terdapat Katedral St Paul, satu-satunya bangunan yang selamat dari zaman perang.

Judul Mortal Engines diambil dari salah satu drama Shakespeare, Othello, pada Act III, Scene III: “And O you mortal engines whose rude throats / Th'immortal Jove's dread clamors counterfeit....” Hal ini mengacu pada prinsip Darwinisme Kota, di mana kota-kota besar menghabisi kota-kota kecil dan mesin-mesin kota memang terbukti mortal (bisa lenyap).

Philip Reeve telah merencanakan ide untuk novel fiksi ilmiah ini sejak akhir 1980. Pada awalnya, naskah ini dimaksudkan menjadi novel dewasa, tapi setelah mendapat penolakan berkali-kali, Scholastic berkata bahwa mereka mungkin akan tertarik untuk menerbitkan naskahnya jika Mortal Engines dijadikan cerita anak-anak. Kisahnya pun disederhanakan, beberapa tokoh dihilangkan, dan banyak adegan yang menurut Reeve tidak akan menarik minat anak-anak dihapus (terutama mengenai politik kota).

Philip Reeve menyatakan bahwa ide dasar tentang kota-kota traksi berasal dari orang-orang yang mengeluh tentang kota-kota besar yang berkembang dengan cara menindas kota-kota yang lebih kecil. Philip Reeve bekerja sebagai ilustrator pada saat menulis Mortal Engines dan butuh enam tahun baginya untuk menyelesaikan naskah tersebut karena harus membagi waktu.

Philip menerbitkan Mortal Engines pada 2001, yang kemudian memenangkan Nestlé Smarties Gold Award, Blue Peter Book of the Year Award, dan Blue Peter ‘Book I Couldn’t Put Down’ Award. Juga masuk nominasi 2002 Whitbread Award.

Mortal Engines disusul oleh tiga buku lainnya: Predators Gold, Infernal Devices, dan A Darkling Plain, yang semuanya tergabung dalam seri Hungry City Chronicles atau Predator Cities Quartet, meski Reeve sendiri keberatan dengan nama itu.

Difilmkan oleh Peter Jackson, produser Lord of the Rings. Estimasi rilis Desember 2018.

 

NUKILAN

1

TANAH BERBURU

Pada sore yang gelap dan berangin di musim semi, Kota London sedang memburu sebuah kota tambang kecil di seberang dasar Laut Utara tua yang telah mengering.

Dahulu, pada masa yang lebih bahagia, London tidak akan pernah memperhatikan mangsa yang begitu remeh. Kota Traksi yang hebat dulunya biasa memburu kota-kota yang jauh lebih besar daripada itu; membentang jauh ke utara hingga ke ujung Puing Es dan ke selatan hingga ke  pesisir Mediterania. Namun, akhir-akhir ini mangsa dalam bentuk apa pun mulai jarang ditemui, dan beberapa kota yang lebih besar mulai mengintai London dengan rakus. Selama sepuluh tahun, ia telah bersembunyi dari mereka, mengendap-endap di balik wilayah barat yang lembap dan bergunung-gunung—tempat yang dahulu disebut oleh Serikat Sejarawan sebagai Pulau Inggris.

Selama sepuluh tahun, ia tidak melahap apa pun selain kota-kota perkebunan kecil dan permukiman statis di perbukitan lembap itu. Kini, pada akhirnya, Wali Kota memutuskan bahwa telah tiba waktunya untuk membawa kotanya kembali menyeberangi jembatan darat menuju Tanah Berburu Utama.

Mereka belum separuh jalan menyeberang ketika para pengintai di menara-menara tinggi menemukan keberadaan sebuah kota tambang; menggerogoti endapan garam dalam jarak tiga puluh kilometer di depan. Bagi warga London, ia bagai pertanda dari para dewa. Bahkan Wali Kota—yang tidak percaya kepada dewa-dewi atau pertanda—menganggapnya sebagai awal

yang baik bagi perjalanan mereka ke arah timur, dan segera mengeluarkan perintah untuk memburunya.

Kota tambang itu melihat adanya ancaman bahaya dan bersiap kabur, tetapi trek-trek ulat raksasa di bawah Kota London mulai bergulir cepat. Segera saja kota itu perlahan melaju dalam aksi pengejaran; sebuah gunung logam bergerak yang menjulang dalam tujuh tingkat seperti kue pernikahan yang bertumpuktumpuk—lapisan bawah terselubungi asap mesin, vila-vila orang

kaya tampak putih berkilat di dek bagian atas, dan di bagian paling tinggi, tampak salib emas yang berkilauan di puncak Katedral St. Paul, enam ratus meter di atas Bumi yang hancur.

  • avatar
    2018-04-29 16:42:52

    Membaca novel ini seperti diajak bertualang menyusuri kehidupan kota yang penuh dengan rintangan. Visualisasi yang digambarkan dalam Mortal Engines mampu membentuk gambaran di kepala saya. Dunia tak lagi seperti yang kita kenal sekarang. Kota-kota digerakkan oleh mesin canggih layaknya sebuah mobil, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Diceritakan pada masa ini berlaku hukum Darwinisme Kota, di mana sebuah kota saling memakan satu sama lain untuk bertahan hidup. Sedangkan Negeri Luar, hamparan yang tidak ditempati, adalah tempat berbahaya yang mengancam nyawa. Philip Reeve mampu mengemas cerita dengan begitu apik. Jalan cerita dibuat begitu mengalir dengan visualisasi yang keren, membuat pembaca tak akan bosan menyusuri cerita demi cerita. Cover novel ini juga tampak menarik dengan warna yang serasi bervisualkan kota London yang sedang melumat kota kecil buruannya, dengan balon-balon udara mengembang di sekitarnya. Tak heran jika Philip Reeve mendapat banyak penghargaan lewat karyanya ini. Bagi penggemar cerita berlatar fantasi novel ini layak kalian baca. Terlebih Mortal Engines sedang dalam tahap penggarapan film oleh Peter Jackson, produser The Lord of The Rings, dan direncanakan akan tayang pada akhir tahun ini. Wah gak sabar pengin nonton :D

    balas review
    • avatar
      Administrator 2018-04-30 18:45:29

      terima kasih atas reviewnya kak :)

  • avatar
    2018-04-29 16:43:06

    Membaca novel ini seperti diajak bertualang menyusuri kehidupan kota yang penuh dengan rintangan. Visualisasi yang digambarkan dalam Mortal Engines mampu membentuk gambaran di kepala saya. Dunia tak lagi seperti yang kita kenal sekarang. Kota-kota digerakkan oleh mesin canggih layaknya sebuah mobil, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Diceritakan pada masa ini berlaku hukum Darwinisme Kota, di mana sebuah kota saling memakan satu sama lain untuk bertahan hidup. Sedangkan Negeri Luar, hamparan yang tidak ditempati, adalah tempat berbahaya yang mengancam nyawa. Philip Reeve mampu mengemas cerita dengan begitu apik. Jalan cerita dibuat begitu mengalir dengan visualisasi yang keren, membuat pembaca tak akan bosan menyusuri cerita demi cerita. Cover novel ini juga tampak menarik dengan warna yang serasi bervisualkan kota London yang sedang melumat kota kecil buruannya, dengan balon-balon udara mengembang di sekitarnya. Tak heran jika Philip Reeve mendapat banyak penghargaan lewat karyanya ini. Bagi penggemar cerita berlatar fantasi novel ini layak kalian baca. Terlebih Mortal Engines sedang dalam tahap penggarapan film oleh Peter Jackson, produser The Lord of The Rings, dan direncanakan akan tayang pada akhir tahun ini. Wah gak sabar pengin nonton :D

    balas review
    • avatar
      Administrator 2018-04-30 18:44:46

      hai kak, terima kasih atas reviewnya ya :) harus ditahan dulu ya kak tidak sabar buat nonton filmnya hehe

  • avatar
    2018-04-29 16:43:22

    Membaca novel ini seperti diajak bertualang menyusuri kehidupan kota yang penuh dengan rintangan. Visualisasi yang digambarkan dalam Mortal Engines mampu membentuk gambaran di kepala saya. Dunia tak lagi seperti yang kita kenal sekarang. Kota-kota digerakkan oleh mesin canggih layaknya sebuah mobil, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Diceritakan pada masa ini berlaku hukum Darwinisme Kota, di mana sebuah kota saling memakan satu sama lain untuk bertahan hidup. Sedangkan Negeri Luar, hamparan yang tidak ditempati, adalah tempat berbahaya yang mengancam nyawa. Philip Reeve mampu mengemas cerita dengan begitu apik. Jalan cerita dibuat begitu mengalir dengan visualisasi yang keren, membuat pembaca tak akan bosan menyusuri cerita demi cerita. Cover novel ini juga tampak menarik dengan warna yang serasi bervisualkan kota London yang sedang melumat kota kecil buruannya, dengan balon-balon udara mengembang di sekitarnya. Tak heran jika Philip Reeve mendapat banyak penghargaan lewat karyanya ini. Bagi penggemar cerita berlatar fantasi novel ini layak kalian baca. Terlebih Mortal Engines sedang dalam tahap penggarapan film oleh Peter Jackson, produser The Lord of The Rings, dan direncanakan akan tayang pada akhir tahun ini. Wah gak sabar pengin nonton :D

    balas review
    • avatar
      Administrator 2018-04-30 18:43:34

      hai kak, terima kasih atas reviewnya :)

Beri ulasan produk ini

Spesifikasi Produk

SKU ND-303
ISBN 978-602-385-309-0
Berat 360 Gram
Dimensi (P/L/T) 14 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
Halaman 388
Jenis Cover Soft Cover
DILAN DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990 (MOVIE TIE-IN)
15%
The Magical Balls
83%
The Magical Balls

Belum Ada Ulasan

Rp. 29.000 Rp. 5.000
Beli
KALISHA, DKK
NEVER FADE, TAKKAN PERNAH PUDAR
15%
NEVER FADE, TAKKAN PERNAH PUDAR

Belum Ada Ulasan

Rp. 98.500 Rp. 83.725
Beli
Alexandra Bracken
BAD ROMANCE
15%