Buku NIGHT FLIGHTS - Philip Reeve | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

NIGHT FLIGHTS

Deskripsi Singkat

From the Universe of MORTAL ENGINES Anna Fang adalah seorang mata-mata. Seorang penerbang. Seorang budak yang kabur. Namun, tidak seorang pun tahu cerita sesungguhnya—hingga sekarang. Baca Selengkapnya...

Rp 49.000 Rp 41.650
-
+

From the Universe of MORTAL ENGINES

Anna Fang adalah seorang mata-mata. Seorang penerbang. Seorang budak yang kabur. Namun, tidak seorang pun tahu cerita sesungguhnya—hingga sekarang.

Tentang Philip Reeve

Philip Reeve, lahir di Brighton, 28 Februari 1966, adalah penulis berkebangsaan Inggris dan ilustrator buku anak. Philip bersekolah di St. Luke’s School di Queens Park, Brighton di mana dia menikmati waktu dengan menulis, menggambar, mempelajari sejarah dan akting, dan membenci matematika.

Philip menerbitkan Mortal Engines pada 2001, yang kemudian memenangkan…



Keunggulan Buku

“Hebat, berani, brilian”
Guardian

“Buku yang menakjubkan, sepenuhnya memikat dalam energy imajinatifnya. Satu-satunya kekuarangan hanyalah fakta betapa sulitnya meletakkan buku ini sebelum tamat.”
Daily Telegraph

“Imajinasi yang luar biasa …. Reeve adalah penulis yang mengagumkan.”
The Times

“Sebuah Mahakarya.”
Sunday Telegraph

“Cerdas, lucu, dan bijak.”
Literary Review

“Matang dan cerdas.”
The Sunday Times

 

“Menarik, dengan deskripsi yang sangat visual.”

School Library Journal

 

 “Sebuah petualangan di mana aksi kota-makan-kota akan membuat pembaca tercengang.”

Booklist

 

“Reeve akan segera terkenal karena tulisannya yang penuh imajinasi, heboh, dan sarat adegan aksi yang memuaskan.”

Horn Book Magazine

 

Menarik, dengan deskripsi yang sangat visual.

School Library Journal review

Sebuah petualangan di mana aksi kota-makan-kota

akan membuat pembaca tercengang.

Booklist

Reeve akan segera terkenal karena tulisannya yang

penuh imajinasi, heboh, dan sarat adegan aksi yang

memuaskan.

Horn Book Magazine

Daya imajinasi yang liar, penuh detail menakjubkan,

humor, dan petualangan mendebarkan.

KLIATT

 

Para pembaca yang menyukai adegan aksi, pertarungan

seru antara pihak baik dan jahat, akan tenggelam dalam

kisah ini hingga akhir.

Kirkus Review

Resensi

Kau perlu memahami teori Darwinisme Kota untuk membaca buku brilian ini. Hal pertama yang perlu kau tahu, buku ini menceritakan masa di mana kota makan kota, di Wilayah Perburuan Besar.

            Kota kecil itu sudah begitu dekat sampai-sampai dia dapat melihat bentuk-bentuk seperti semut yang kocar-kacir di geladak atas. Mereka pasti ketakutan, karena London sudah nyaris melahap mereka dan tak ada tempat untuk bersembunyi. Namun, Tom tahu semestinya dia tidak mengasihani mereka: sudah sewajarnya jika kota-kota besar melahap kota-kota yang lebih kecil, sementara kota-kota kecil menelan permukiman-permukiman statis yang menyedihkan. Demikianlah prinsip Darwinisme Kota, dan begitulah cara kerja dunia selama ribuan tahun, sejak ahli rekayasa hebat Nikolas Quirke mengubah London menjadi Kota Traksi pertama. “London! London!” pekiknya, menambahkan suaranya dalam sorak-sorai dan teriakan semua orang di platform itu, dan sesaat kemudian mereka dihadiahi pemandangan salah satu roda Salthook yang terlepas. Kota itu merambat pelan hingga terhenti, pipa-pipa berasap rubuh dan terjatuh ke jalan-jalan dengan warga yang panik, kemudian lantai-lantai bagian bawah London menghalanginya dari pandangan dan Tom merasakan lempeng dek bergetar selagi Rahang hidrolik raksasa kota itu mengatup tertutup.

Yah, mungkin itu tampak seperti kota yang luas dan mutakhir, tapi London terbuat dari gabungan sisa-sisa baja dan Teknologi-Lama. Beberapa peninggalan Teknologi Lama langsung dikirimkan kepada Serikat Sejarawan untuk diteliti, sebagian lagi diserahkan kepada Serikat Ahli Mesin yang berkuasa. Terkadang, para Ahli Mesin berhasil menemukan cara untuk menggunakan kembali benda-benda peninggalan masa lalu itu, tapi seringnya tidak.

Kisah ini menceritakan momen ketika Valentine, sang Penjelajah, kembali ke London membawa kepingan berbahaya Teknologi-Lama yang disebut Medusa. Masalahnya, jika London benar-benar berniat untuk menciptakan ulang senjata kuno yang akan menyebabkan penghancuran besar-besaran itu, jelas penghancuran besar-besaran akan menjadi salah satu konsekuensi yang tak terhindarkan. Karena itulah, Valentine memiliki cukup banyak musuh. Salah satunya gadis buruk rupa, Hester Shaw, yang orangtuanya dibunuh Valentine untuk merebut Medusa.

Bekas luka yang parah melintangi wajahnya dari kening hingga ke rahangnya, membuatnya tampak seperti sebuah lukisan potret yang dicoret dengan penuh kemarahan. Mulutnya tertarik miring membentuk seringai permanen, hidungnya bagai tunggul yang diremukkan dan satu matanya menatapnya dari reruntuhan itu, berwarna kelabu dan dingin seperti lautan pada musim dingin.

Dan ada Tom, Pegawai Magang Kelas Tiga dari Serikat Sejarawan. Dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Valentine mendorongnya jatuh ke tanah terbuang, menyusul Hester Shaw, karena Valentine takut Tom tahu terlalu banyak tentang gadis itu. Namun, baik Tom maupun Hester berhasil selamat dari kejatuhan itu. Mereka mendarat di lumpur lembut Negeri-Luar dan mulai membentuk persekutuan yang jelas tidak mudah, yang akhirnya membuat mereka semakin dekat dan akhirnya berteman.

Banyak hal tentang loyalitas dan kepercayaan dalam kisah yang liar dan berbahaya ini. Sangat menyenangkan! Sangat direkomendasikan!

 

Sumber:

https://www.readingmatters.co.uk/book.php?id=156

 

Fakta Menarik Mortal Engines

Mengambil setting waktu pasca-apokaliptik, di mana dunia hancur akibat “Perang Enam Puluh Menit”, yang mengakibatkan bencana alam besar-besaran: gempa bumi, ledakan gunung berapi, dan banyak lainnya. Kota-kota dipasangi mesin-mesin raksasa dan roda-roda, dan mampu ‘memakan’ kota-kota lain yang lebih kecil untuk mendapatkan sumber daya mereka yang berguna bagi keberlangsungan kota.

Kebanyakan teknologi dan pengetahuan sains hilang pada masa perang. “Teknologi Lama” pun menjadi sesuatu yang berharga, terutama buku-buku dan mesin-mesin dari benda-benda peninggalan masa lampau. Kebanyakan hewan dan tumbuhan lenyap dari eksistensi dan keberadaan mereka hanya diketahui dari buku-buku yang tersisa.

Eropa, beberapa daerah Asia, Afrika Utara, Kutub Selatan, dan Kutub Utara didominasi kota-kota Traksi. Sedangkan Amerika Utara sudah hancur total dan diidentifikasi sebagai “benua mati”. Bagian dunia lainnya bersatu menjadi Liga Anti-Traksi, yang berusaha menghentikan kota-kota yang terus bergerak sebelum menghabiskan semua sumber daya yang tersisa. Himalaya menjadi pusat peradaban mereka, di mana pegunungan yang mengelilingi wilayah itu membuat kota-kota pemburu mustahil untuk mendekat dan menyerang.

London menjadi ibu kota Traksi, dan semuanya kembali ke Era Victoria. London dibagi menjadi empat serikat: Ahli Mesin, Sejarawan, Navigator, dan Pedagang. Di London sendiri masih terdapat Katedral St Paul, satu-satunya bangunan yang selamat dari zaman perang.

Judul Mortal Engines diambil dari salah satu drama Shakespeare, Othello, pada Act III, Scene III: And O you mortal engines whose rude throats / Th'immortal Jove's dread clamors counterfeit .... Hal ini mengacu pada prinsip Darwinisme Kota, di mana kota-kota besar menghabisi kota-kota kecil dan mesin-mesin kota memang terbukti mortal (bisa lenyap).

Philip Reeve telah merencanakan ide untuk novel fiksi ilmiah ini sejak akhir 1980. Pada awalnya, naskah ini dimaksudkan menjadi novel dewasa, tapi setelah mendapat penolakan berkali-kali, Scholastic berkata bahwa mereka mungkin akan tertarik untuk menerbitkan naskahnya jika Mortal Engines dijadikan cerita anak-anak. Kisahnya pun disederhanakan, beberapa tokoh dihilangkan, dan banyak adegan yang menurut Reeve tidak akan menarik minat anak-anak dihapus (terutama mengenai politik kota).

Philip Reeve menyatakan bahwa ide dasar tentang kota-kota traksi berasal dari orang-orang yang mengeluh tentang kota-kota besar yang berkembang dengan cara menindas kota-kota yang lebih kecil. Philip Reeve bekerja sebagai ilustrator pada saat menulis Mortal Engines dan butuh enam tahun baginya untuk menyelesaikan naskah tersebut karena harus membagi waktu.

Philip menerbitkan Mortal Engines pada 2001, yang kemudian memenangkan Nestlé Smarties Gold Award, Blue Peter Book of the Year Award, dan Blue Peter ‘Book I Couldn’t Put Down’ Award. Juga masuk nominasi 2002 Whitbread Award.

Mortal Engines disusul oleh tiga buku lainnya: Predators Gold, Infernal Devices, dan A Darkling Plain, yang semuanya tergabung dalam seri Hungry City Chronicles atau Predator Cities Quartet, meski Reeve sendiri keberatan dengan nama itu.

Difilmkan oleh Peter Jackson, produser Lord of the Rings. Estimasi rilis Desember 2018.

 

Nukilan Buku

Airhaven berayun-ayun dibawa angin malam. Kantong-kantong gas yang melambungkan kota terbang itu dijamah oleh cahaya keemasan, alhasil menyerupai awan-awan kala matahari terbenam. Namun, daratan di bawah sudah berselubung bayangan, terkecuali di tempat-tempat air memantulkan langit, yakni di trek-trek kebanjiran yang berserakan di dataran dan perbukitan. Di sana sini, sekumpulan cahaya bergerak menunjukkan letak sebuah permukiman atau Kota Traksi yang sedang menempuh perjalanan di tengah senja yang kian lama kian pekat. Kota perdagangan tua nan lamban sedang menuju selatan lewat celah di pegunungan, dikejar oleh sekawanan desa predator yang tengah menanti kesempatan untuk menyerang. Di bawah sana, hanya ada dua pilihan: memburu atau diburu.

Namun, kemungkinan semacam itu tak perlu dikhawatirkan di Airhaven. Tidak ada yang memburu Airhaven, tempat penerbang dan pedagang udara dari Kota-Kota Traksi berbaur secara hampir-hampir bersahabat, beserta para pilot dari kota-kota statis anggota Liga Anti-Traksi. Di ruang-ruang publik Kantong Gas dan Gondola, di pub terbaik Airhaven yang beratap rendah dan diterangi lampu-lampu, pedagang dari London berbisnis dengan saudagar dari Lahore, sedangkan musafir dari Traktiongrad mempelajari lagu-lagu terkini dari Maya Baru. Tersedia makanan lezat dan minuman enak, pun kasur empuk untuk para penerbang yang menginginkan pergantian suasana selepas sekian lama beristirahat di tempat tidur sempit dalam kapal udara mereka. Yang terbaik di atas sana adalah cerita-cerita yang dipertukarkan, sebab para pria dan wanita yang menyambung hidup di Jalan Burung memiliki cerita-cerita terseru dan mereka paling suka berbagi kisah.

Malam itu, sekelompok besar orang telah terbentuk di seputar meja bundar di bar utama, di bawah baling-baling lama pesawat cepat Tardigrade yang dialihgunakan menjadi kipas langit-langit. Kapten pesawat angkut Garden Aeroplane Trap, Nils Lindstrom, sempat membuat semua orang merinding gara-gara paparannya tentang macam-macam hal mencekam yang dia saksikan di Puing Es. Kini, Yasmina Rashid dari kapal penyerang swasta Zainab tengah menceritakan upayanya untuk melawan dan kabur dari layang-layang kotak kiriman perompak di atas perbukitan merah kering Yaman, sedangkan Jean-Claude Reynault dari La Belle Aurore ikut mengisahkan pertarungan serupa yang dia alami di atas Laut Kuning. Coma Korzienowski, komandan pesawat pantau bersenjata Todewurst dari Traktionstadt Coblenz, menyimak dengan ekspresi yang menyiratkan bahwa dia memiliki cerita sendiri yang layak disampaikan dan sama serunya.

Kau bagaimana, Anna Fang? tanya Reynault, ketika Yasmina usai berkisah mengenai perompak. Kau sudah terbang lebih jauh daripada kami semua. Masa kau tidak punya cerita untuk dibagi?

Perempuan yang dia ajak bicara duduk di ujung meja. Kursinya telah dia putar hingga menyandar ke dinding dan wajahnya digelapkan oleh bayangan. Perempuan itu rupawan, berkulit kecokelatan, dan berambut pendek hitam berselang-seling putih. Dia mendengarkan semua cerita sepanjang petang dan tertawa sekeras siapa saja pada bagian-bagian yang lucu, tetapi dia tidak berkata-kata. Saat ini, dia juga tidak berkata-kata, semata-mata tersenyum kepada Reynault. Gigi-giginya merah terkena sari biji pinang.

Anna tidak pernah menceritakan kisah hidupnya, kata Yasmina. Jawaban pendek-pendek untuk pertanyaan panjang, seperti itulah kebiasaannya. Dia akan berujar, Aku tumbuh besar di palka budak Arkangel dan merakit kapal udara dari komponen-komponen yang kucuri, tapi dia tidak akan menceritakan bagaimana caranya atau kapan kejadiannya.

Kalau bukan itu, dia akan berujar, Aku pernah terbang di atas gurun Amerika yang berhantu,’” kata Lindstrom, tapi dia tidak akan menceritakan apa-apa saja yang dia lihat di sana. Orang-orang bercerita macam-macam tentang Anna, tapi Anna sendiri tidak pernah menceritakannya.

Dia mata-mata untuk Liga Anti-Traksi, kata Coma Korzienowski. Dia sudah dilatih untuk tidak menceritakan apa pun kepada siapa pun. Kalaupun dia menceritakan sesuatu, cerita itu kemungkinan besar bohong. Bukan begitu, Anna?

Anna Fang tertawa. Mari kita dengar cerita Coma, katanya. Dia sudah gatal ingin bercerita sedari tadi.

Coma memprotes bahwa dia tidak begitu, tetapi setelahnya dia memang bercerita. Kisah itu sudah pernah Anna dengar, maka dia tidak repot-repot menyimak kata demi kata. Dia semata-mata menikmati suara Coma, tawa orang-orang lain, wajah mereka yang diterangi sinar lampu. Dia menyukai mereka semua; sebagian adalah kawan lama dan sebagian lain lawan lama, tetapi di Airhaven sini, perbedaan tersebut tidaklah penting-penting amat. Walau demikian, Anna tidak ingin berbagi cerita dengan mereka. Cerita niscaya berubah ketika kita sampaikan. Kita mengarang embel-embel baru untuk menyenangkan pendengar, kita membesar-besarkan atau menutup-nutupi ini itu, alhasil cepat atau lambat kita sendiri akan meyakini bahwa cerita versi baru tersebut adalah yang sesungguhnya. Anna ingin ceritanya tetap seperti sediakala, seakurat yang dapat dikenang oleh ingatannya.

Namun, barangkali dia harus menceritakan kisah hidupnya kepada seseorang, pikirnya. Mungkin, kali berikut dia pulang ke Shan Guo, dia akan memberi tahu Sathya, anak berkaki telanjang yang dia selamatkan di Kerala dan merupakan sosok paling mendekati keluarga yang Anna miliki. Dia akan memulai dari awal, dari cerita tentang Anna Fang yang diketahui oleh semua orang, yaitu pelariannya dari kurungan budak di Arkangel semasa muda, menggunakan kapal udara yang dia rakit sendiri.

Yang menjadi persoalan, kejadian sebenarnya, sama seperti kenyataan itu sendiri, jauh lebih rumit daripada yang dikesankan dalam cerita-cerita .[]

Beri ulasan produk ini

Spesifikasi Produk

SKU ND-391
ISBN 978-602-385-600-8
Berat 250 Gram
Dimensi (P/L/T) 14 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
Halaman 196
Jenis Cover Soft Cover
DILAN DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990 (MOVIE TIE-IN)
15%
The Magical Balls
83%
The Magical Balls

Belum Ada Ulasan

Rp. 29.000 Rp. 5.000
Beli
KALISHA, DKK
NEVER FADE, TAKKAN PERNAH PUDAR
15%
NEVER FADE, TAKKAN PERNAH PUDAR

Belum Ada Ulasan

Rp. 98.500 Rp. 83.725
Beli
Alexandra Bracken
BAD ROMANCE
15%