Membaca Orang-orang Bloomington terasa seperti mengintip kehidupan orang lain lewat lubang pintu alias kepo banget.
Orang-orang Bloomington menghadirkan kumpulan cerpen dengan narasi yang mengalir, mirip seperti recount text, tapi dengan sentuhan yang tidak terduga di bagian akhir. Setiap cerita ditutup dengan kejutan yang membuat pembaca tertegun dan berpikir tentang peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya.
Kekuatan buku ini ada pada penggambaran karakter manusianya yang unik, konyol, dan tak terduga. Naratornya terasa seperti tetangga yang terlalu ingin tahu. Ia suka ikut campur, mengamati, dan menilai. Mirip tetangga di kampung halamanku.
Meski berbentuk cerpen, kisah-kisah dalam buku ini cukup konsisten menjaga ketertarikan pembaca, bahkan bagi yang biasanya kurang menyukai cerita pendek. Setiap cerita berdiri sendiri, tetapi meninggalkan kesan, dan menyajjkan potret manusia yang tidak selalu ideal.
Buku ini cocok untuk pembaca yang menyukai cerita tentang manusia dengan sisi-sisi ganjil dan realistis, serta menikmati kejutan yang membekas.
Di bagian kata pengantar, aku mendapat info bahwa buku ini adalah fiksi yang berdasarkan pada kenyataan berbentuk kumpulan cerpen mengenai kehidupan orang-orang Bloominton saat penulis sedang berkuliah di Indiana University. Ekspektasi awalku, ketujuh cerita yang berbeda di sini menceritakan tentang hubungan tokoh utama dengan orang-orang Bloominton yang mungkin terkesan 'unik'. Pada cerita pertama, semuanya oke, sesuai ekpektasi. Si tokoh utama ini terkesan kepo, tapi jujur dari kacamata orang Indo masih terbilang wajar hehe. Memasuki cerita kedua, aku pikir tokoh utama di setiap cerita itu sama karena selalu menggunakan pov "saya". Di sini aku mulai tidak nyaman, kayaknya ada yang salah deh sama "saya". Dia baik diluar, tapi pikiran dan hatinya licik? Sampai pada cerita ketiga, aku berubah keyakinan. Sepertinya setiap "saya" ini orang yang berbeda? Mulai dari bagian ini hingga akhir. Aku selalu mengumpat perbuatan "saya", psikopat gila. Aku ragu, apakah ada kata lain yang pantas disandang selain gila? tokoh-tokoh...
Di bagian kata pengantar, aku mendapat info bahwa buku ini adalah fiksi yang berdasarkan pada kenyataan berbentuk kumpulan cerpen mengenai kehidupan orang-orang Bloominton saat penulis sedang berkuliah di Indiana University.
Ekspektasi awalku, ketujuh cerita yang berbeda di sini menceritakan tentang hubungan tokoh utama dengan orang-orang Bloominton yang mungkin terkesan 'unik'. Pada cerita pertama, semuanya oke, sesuai ekpektasi. Si tokoh utama ini terkesan kepo, tapi jujur dari kacamata orang Indo masih terbilang wajar hehe.
Memasuki cerita kedua, aku pikir tokoh utama di setiap cerita itu sama karena selalu menggunakan pov "saya". Di sini aku mulai tidak nyaman, kayaknya ada yang salah deh sama "saya". Dia baik diluar, tapi pikiran dan hatinya licik?
Sampai pada cerita ketiga, aku berubah keyakinan. Sepertinya setiap "saya" ini orang yang berbeda? Mulai dari bagian ini hingga akhir. Aku selalu mengumpat perbuatan "saya", psikopat gila.
Aku ragu, apakah ada kata lain yang pantas disandang selain gila? tokoh-tokoh saya ini selalu berusaha membuat orang lain sengsara dan merasa bahagia ketika rencananya terlaksana. Disaat yang bersamaan, dia kasihan. Kasihan yang melahirkan kebaikan, tapi rasanya semua ini berakar dari rasa kesepian. Sehingga bisa siklusnya bisa disimpulkan: kesepian > jahat (untuk menarik perhatian orang) > menawarkan bantuan > orang menganggapnya "ada".
Kalo boleh dibandingkan, perasaanku saat membaca ini mirip ketika aku membaca buku Of Mice and Men karya John Steinback. Gelisah sepanjang jalan, inginnya cepat berakhir tapi penasaran. Trus ternyata ada ya manusia yang berada di kondisi seperti itu?
Lihat selengkapnya
Aku bakal bilang ini: Orang-Orang Bloomington adalah salah satu pembacaan terbaikku di tahun ini! Berawal dari dikasih teman (terima kasih teman-teman MOSMA-ku sayang), aku jadi berkenalan dengan bukunya Pak Budi Darma. Sebelumnya aku sudah pernah baca kumpulan esainya, "Solilokui", dan aku juga suka. Buku ini persis menjawab pertanyaanku pribadi tentang gaya penulisan dan topik cerpen yang dari dulu ingin sekali kuangkat: topik yang datang dari kegiatan orang-orang biasa. Di atas kertas, sebetulnya premis dari 7 cerita yang ditulis sebenarnya biasa saja, malah cenderung tidak menarik. Cerita di kumcer ini berkutat pada orang yang punya tetangga baru, orang yang ngegebet perempuan tapi gak berani ngomong, pasangan kena baby blues, dan lainnya. Tetapi, di sini magisnya. Pak Budi secara lihai mampu meramu keseharian Orang-Orang Bloomington dari yang biasa, menjadi sampai "Eh ko tiba-tiba jadi begini ceritanya ya?" Beliau pintar sekali menaikkan tensi cerita dan memainkan ekspektasi pembaca. Cerpen-cerpennya memang tergolong panjang dan...
Aku bakal bilang ini:
Orang-Orang Bloomington adalah salah satu pembacaan terbaikku di tahun ini!
Berawal dari dikasih teman (terima kasih teman-teman MOSMA-ku sayang), aku jadi berkenalan dengan bukunya Pak Budi Darma. Sebelumnya aku sudah pernah baca kumpulan esainya, "Solilokui", dan aku juga suka.
Buku ini persis menjawab pertanyaanku pribadi tentang gaya penulisan dan topik cerpen yang dari dulu ingin sekali kuangkat: topik yang datang dari kegiatan orang-orang biasa. Di atas kertas, sebetulnya premis dari 7 cerita yang ditulis sebenarnya biasa saja, malah cenderung tidak menarik. Cerita di kumcer ini berkutat pada orang yang punya tetangga baru, orang yang ngegebet perempuan tapi gak berani ngomong, pasangan kena baby blues, dan lainnya.
Tetapi, di sini magisnya. Pak Budi secara lihai mampu meramu keseharian Orang-Orang Bloomington dari yang biasa, menjadi sampai "Eh ko tiba-tiba jadi begini ceritanya ya?" Beliau pintar sekali menaikkan tensi cerita dan memainkan ekspektasi pembaca.
Cerpen-cerpennya memang tergolong panjang dan temponya terasa bertele-tele. Dari pengalamanku, misalnya kau disajikan 50 halaman cerpen, aku jami 20 halaman pertama pasti akan lamaaa sekali dibaca. Tetapi, menjelang akhir cerita tiba-tiba kau akan terkait ke dalam dunianya Pak Budi, membaca jadi cepat, sampai tidak sadar kita sudah sampai di akhir cerita menyisakan karakter-karakternya yang malang.
Terima kasih untuk sajiannya yang menggugah, Pak Budi! Lain waktu aku akan baca karya-karya Bapak lagi!
Lihat selengkapnya