Deskripsi
Shocking Confession from an Indonesian’s Ex-ASEAN Scholarship Recipient
Judul artikel itu mengguncang media sosial dalam semalam.
Martha, sang tersangka, panik. Keteledoran masa lalunya kini mencuat ke permukaan. Sebagai lulusan Computer Science, bagaimana bisa dia meninggalkan jejak digital yang menghantuinya dengan iming-iming penjara pada masa sekarang?
Pernikahannya guncang, kebebasannya terenggut, anak-anaknya terancam kehilangan sosok ibu hanya karena Martha memainkan “25 Question About Me” di blognya belasan tahun lalu dan menjawab terlalu jujur pertanyaan: “What is the wildest thing you’ve ever done when you’re 17 years old?”
I forged a legal document. Later, I used it to apply for a scholarship, and I got accepted!
Pujian/Endorsement
“Dengan persepsi tajam, empati, dan humor, Grace Tioso berhasil menunjukkan betapa beraneka ragamnya komunitas Tionghoa di Indonesia dan bagaimana dampak sejarah itu masih bergema hingga kini.”
—Tiffany Tsao, penulis The Majesties dan pemenang 2023 PEN Translation Prize Award
“Kita tak pernah benar-benar tahu kisah yang dimiliki orang lain sampai kita melepaskan prasangka dan stereotipe yang menyetir cara kita melihat. Dengan buku ini, Grace ingin kita melihat seutuhnya.”
—Chandra Bientang, penulis Dua Dini Hari dan Sang Peramal
“Perkumpulan Anak Luar Nikah adalah novel yang pasti saya rekomendasikan kepada mereka yang mencari kisah paket lengkap: fiksi sejarah, thriller, drama keluarga, romance ‘enemies to lovers’, politik, sampai komedi. Worth every seconds and every penny. Grace Tioso is a brilliant writer.”
—Altami N.D, penulis Penaka dan A Week-Long Journey
Resensi/Review
Keunggulan
• Top 10 Mizan Writing Bootcamp.
• Ditulis langsung oleh keturunan Tionghoa-Indonesia yang memang mengetahui seluk-beluk topik ini, ditambah riset mendalam untuk menyajikan fakta-fakta yang sesuai sejarah. Penulis juga melakukan wawancara dengan para jurnalis, beberapa pengacara di Singapura, hingga para associate professor di National University of Singapore dan Nanyang Technological University. Juga menghadiri beberapa persidangan di State Courts dan Supreme Courts.
• Membahas beragamnya subkultur Tionghoa-Indonesia, seperti Holland Spreken, peranakan, dan totok. Membuka mata bahwa komunitas Tionghoa-Indonesia bukan komunitas yang homogen.
• Memberikan representasi karakter Tionghoa-Indonesia dalam pendidikan maupun pekerjaan yang lebih kaya dan lebih dekat dengan kehidupan nyata, misal orang Tionghoa sebagai wartawan, dokter, dosen, artis, hingga mereka yang diam-diam terjun ke dunia politik. Orang Tionghoa tidak melulu buka toko, tetapi juga berkecimpung di bidang-bidang lain.
• Membahas kelamnya sejarah dengan gaya tulisan yang ringan. Sejarah mengenai para “anak luar nikah” jarang, bahkan hampir tidak pernah diangkat. Padahal penulisan anak luar nikah di akta merupakan salah satu akibat dari diskriminasi struktural di masa lalu.
• Menyoroti pergulatan kaum diaspora Indonesia di luar negeri, kegalauan antara ingin berkontribusi, tetapi juga kecewa terhadap sistem politik dan pemerintahan Indonesia yang tak kunjung membaik.
• Mencatat mengenai generasi peralihan yang mengalami masa kecil dalam dunia analog, lalu berpindah ke dunia digital, serta kegagapan mereka menyikapi teknologi.
• Rentang cerita yang cukup panjang, mengikuti perjalanan tokoh utama dari anak-anak hingga menjadi ibu, jadi cocok
dibaca oleh para remaja hingga dewasa.
Spesifikasi
| SKU | : | ND-517 |
| ISBN | : | 9786232423985 |
| Berat | : | 380 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 14 cm/ 21 cm/ 2 cm |
| Halaman | : | 396 |
| Tahun Terbit | : | 2023 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Sebagai generasi millennials, saya banyak terbantu melalui pembahasan pada buku ini. Diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa pernah saya dengar, namun tidak pernah saya ketahui dengan jelas karena tidak ada sumber informasi yang bisa didapatkan selama di usia aktif pendidikan.
"Bagi Mama, politik dan Chinese adalah dua kata yang tidak boleh berada dalam kalimat yang sama. Ada garis tegas tak kasatmata yang memisahkan kaum mereka dengan politik."
"'Kita, Chinese, harus hati-hati. Hati-hati bicara, hati-hati bertindak.' Suara mamanya dalam dan serak. 'Jangan bikin rusuk. Bisa gawat! Kamu perempuan ..., jangan sampai kamu di—“
Kerusuhan pada tahun '98 merupakan salah satu momok yang paling menakutkan bagi Indonesia, khususnya keturunan Tionghoa saat itu. Toko dijarah, para wanita dilecehkan, para... Lihat selengkapnya
Lalu juga tentang diskriminasi dan sejarah etnis Tionghoa, aku baru tau kalo permasalahannya sekompleks itu lewat buku ini. Dan semuanya diselipin lewat konflik keluarga, relasi yang rapuh, dan ketakutan akan masa lalu yang bisa muncul kapan aja.
Rasanya related banget sama keadaan sekarang. Novel ini juga nyentil keras soal penghakiman publik. Gimana empati bisa hilang begitu cerita seseorang jadi konsumsi ramai-ramai.
Buku ini juga membuat kita berpikir ulang tentang keadilan, tentang kebenaran, dan tentang luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Termasuk hisfic favoritku sepanjang masa.
Di tengah isu huru hara buzzer politik, pemalsuan dokumen, nggak menyangka tahun 2026 pun novel ini masih relate!!!
Pilihan Martha untuk memasukkan dokumen akta kelahiran tuh kayaknya sepele banget tapi ternyata pada masa itu orang yang pengen mencantumkan nama ayahnya benar-benar susah.
Aku suka banget sama cara penulis mengupas trauma dan flashback kejadian kejadian masa lalu setiap tokohnya menurut aku itu tuh bagus sekaligus sedih banget karena aku bisa membayangkan gimana mencekamnya situasi pada saat itu dan bagaimana trauma diturunkan sampai generasi berikutnya. Baca novel ini tuh benar-benar bikin aku sadar kalo cinta bertepuk sebelah tangan sama negara sendiri itu nyakitin banget. Mereka enggak bisa memilih lahir dari ras apa dari keturunan apa tapi mereka dapat imbas diskriminasi karena situasi politik yang bahkan mereka pun nggak ikut-ikutan.
Part paling ngena tuh yang katanya negara ini... Lihat selengkapnya
Tertarik banget baca buku ini sejak baca judulnya. Judul yang thought provoking karena ada kata "Anak Luar Nikah" tapi di sampulnya kok fotonya keluarga bahagia.. Ternyata, kata Anak Luar Nikah yang dibahas di sini beda dengan anak di luar perkawinan seperti ungkapanku semula.
Novel ini membahas tentang persoalan identitas keturunan Indonesia-Tionghoa, yang dikisahkan lewat tokohnya Martha Goenawan yang tersangkut kasus pemalsuan dokumen ketika dia masuk perguruan tinggi. Ternyata, kasus yang menyeretnya gak sesederhana itu. Dari sini cerita beralih jauh menilik masa lalu Martha, teman-temannya, hingga kedudukan orang keturunan Tionghoa yang selama ini dianggap sebagai masyarakat kelas 2 di Indonesia.
Buku yang membahas tentang etnis Tionghoa ini berbeda dari beberapa buku dengan tema serupa yang sudah pernah kubaca. Kalau biasanya tokohnya digambarkan agak "stereotip" sebagai wartawan, aktivis, pesakitan, atau bahkan orang miskin, di sini sudut pandang yang dihadirkan malah dari orang-orang Cina "biasa", malah... Lihat selengkapnya


