Bukunya bikin aku sesak napas. Pernikahan Adam dan Amelia ini sangat problematik. Keduanya sama-sama jadi narator cerita. Jadi, kita akan mendengar suara hati dan pikiran mereka tentang situasi rumah tangga dan hubungan mereka yang mendingin dari waktu ke waktu.
Amelia bercerita dengan narasi kekaguman bercampur patah hati tentang Adam, suaminya yang sangat terobsesi dengan pekerjaannya sebagai penulis. Sementara Adam bercerita tentang kekecewaannya atas perubahan Amelia antara sebelum dan setelah pernikahan mereka.
Di antara pengisahan dari sudut pandang Amelia dan Adam, ada surat-surat yang juga berkisah dengan sudut pandang sendiri. Tetapi aku baru nyadar arti penting surat itu hanya sesaat sebelum ceritanya berakhir.
Dari awal, aku tahu, buku domestic thriller itu pasti "menyimpan sesuatu", tapi tetap saja aku merasa dibohingi habis-habisan begitu rahasia antara Amelia dan Adam terkuak.
Rock Paper Scissors bikin aku merenungkan arti pernikahan dan bagaimana rapuhnya cinta jika hanya menjadi satu-satunya elemen pembangun komitmen pernikahan. Ini domestic thriller yang asyik menurutku,...
Bukunya bikin aku sesak napas. Pernikahan Adam dan Amelia ini sangat problematik. Keduanya sama-sama jadi narator cerita. Jadi, kita akan mendengar suara hati dan pikiran mereka tentang situasi rumah tangga dan hubungan mereka yang mendingin dari waktu ke waktu.
Amelia bercerita dengan narasi kekaguman bercampur patah hati tentang Adam, suaminya yang sangat terobsesi dengan pekerjaannya sebagai penulis. Sementara Adam bercerita tentang kekecewaannya atas perubahan Amelia antara sebelum dan setelah pernikahan mereka.
Di antara pengisahan dari sudut pandang Amelia dan Adam, ada surat-surat yang juga berkisah dengan sudut pandang sendiri. Tetapi aku baru nyadar arti penting surat itu hanya sesaat sebelum ceritanya berakhir.
Dari awal, aku tahu, buku domestic thriller itu pasti "menyimpan sesuatu", tapi tetap saja aku merasa dibohingi habis-habisan begitu rahasia antara Amelia dan Adam terkuak.
Rock Paper Scissors bikin aku merenungkan arti pernikahan dan bagaimana rapuhnya cinta jika hanya menjadi satu-satunya elemen pembangun komitmen pernikahan. Ini domestic thriller yang asyik menurutku, easy reading, dan mengajak kita membaca suram dan rapuhnya sebuah pernikahan yang dibangun di atas pengkhianatan, kebohongan, dan manipulasi.
Lihat selengkapnya
10 TAHUN PERNIKAHAN. TIAP TAHUN DIA NULIS SURAT BUAT SUAMINYA. TAPI NGGAK PERNAH DIKASIH.
Surat itu numpuk. 10 versi kebenaran yang nggak pernah sampai.
Lalu di kapel terpencil Skotlandia, badai salju, nggak ada sinyal, dan suaminya akhirnya tahu semua kebenarannya.
Dan itu bukan cerita yang akan lo kira selama membacanya
INILAH REVIEW ROCK PAPER SCISSORS KARYA ALICE FEENEY
Cerita novel ini diawali dari Adam Wright, penulis skenario, punya kondisi medis langka: prosopagnosia (face blindness).
Dia literally nggak bisa ngenali wajah. Nggak tau wajah teman, keluarga, bahkan istrinya, Amelia.
Di hari pernikahan, mereka "memenangkan" liburan ke kapel terpencil di Skotlandia dengan tujuan menyelamatkan pernikahan mereka.
Saat sampai, kondisinya mulai badai salju. Nggak ada sinyal. Dan seseorang nggak mau mereka pulang hidup-hidup
Di novel unreliable narrator lain seperti Gone Girl, Girl on the Train, naratornya bohong karena trauma atau dendam.
Di sini? Adam nggak bohong. Dia nggak tau siapa yang ada di depannya.
Keraguan lo bukan soal "dia bohong nggak?" tapi "dia...
10 TAHUN PERNIKAHAN. TIAP TAHUN DIA NULIS SURAT BUAT SUAMINYA. TAPI NGGAK PERNAH DIKASIH.
Surat itu numpuk. 10 versi kebenaran yang nggak pernah sampai.
Lalu di kapel terpencil Skotlandia, badai salju, nggak ada sinyal, dan suaminya akhirnya tahu semua kebenarannya.
Dan itu bukan cerita yang akan lo kira selama membacanya
INILAH REVIEW ROCK PAPER SCISSORS KARYA ALICE FEENEY
Cerita novel ini diawali dari Adam Wright, penulis skenario, punya kondisi medis langka: prosopagnosia (face blindness).
Dia literally nggak bisa ngenali wajah. Nggak tau wajah teman, keluarga, bahkan istrinya, Amelia.
Di hari pernikahan, mereka "memenangkan" liburan ke kapel terpencil di Skotlandia dengan tujuan menyelamatkan pernikahan mereka.
Saat sampai, kondisinya mulai badai salju. Nggak ada sinyal. Dan seseorang nggak mau mereka pulang hidup-hidup
Di novel unreliable narrator lain seperti Gone Girl, Girl on the Train, naratornya bohong karena trauma atau dendam.
Di sini? Adam nggak bohong. Dia nggak tau siapa yang ada di depannya.
Keraguan lo bukan soal "dia bohong nggak?" tapi "dia bahkan tau nggak ini siapa?" dan kita nggak juga jadi nggak tahu apakah Amelia juga bohong dari deskripsi ekspresi wajahnya.
Beda level masalahnya
Menariknya, cerita dibagi tiga sudut pandang: Adam, Amelia, dan satu karakter yang identitasnya nggak dikasih tau sampai halaman terakhir.
Plus tiap segmen ada surat ulang tahun yang ditulis sang istri, tapi nggak pernah dikasih ke Adam. 10 tahun tertahan.
Waktu nanti lo baca, lo mulai ngerti kenapa
Di Goodreads, 663.000+ pembaca udah rating buku ini.
Reaksi para pembaca yg gw tau:
- "My brain is still trying to recover"
- "Plot twist shocked me, which NEVER happens"
- "3 bintang buat ceritanya, 5 bintang buat twistnya"
Satu yang paling banyak ditanyain: "Ini bener nggak ya si Adam face blindness"
Novel ini bakal gw rekomendasiin, kalau lo:
- Udah familiar sama unreliable narrator tapi mau yang lebih kompleks
- Suka thriller atmosferik: kapel tua, badai salju, terisolasi
- Tipe yang questioning seluruh cerita setelah baca ending
- Penasaran sama Alice Feeney tapi belum tau mulai dari mana
GW HARUS JUJUR:
Separuh pertama novel ini lambat. Banyak pembaca ngomen: "slow starter."
Alice Feeney juga cukup royal soal twist, ada yang ngerasa memuaskan, ada yang ngerasa kebanyakan.
Endingnya? Masih diperdebatkan. "Confused but satisfied" adalah reaksi paling umum
Rock Paper Scissors ngajarin lo bahwa unreliable narrator paling menarik bukan yang sengaja bohong. Tapi yang genuinely nggak bisa tau kebenarannya sendiri.
Alice Feeney nggak cuma nulis thriller. Dia bikin pembaca questioning apa itu "versi cerita yang bisa dipercaya."
Lihat selengkapnya
Buku ini simpel, tokohnya sedikit, plotnya juga ga ribet.
Diceritakan melalui pov Amelia, Adam, dan Robin. Robin ini satu-satunya tetangga terdekat (jarak 20 menit jalan kaki). Juga ada beberapa surat yang ditulis tiap anniversary selama 10 tahun.. Dari surat² ini kita bisa tau gimana kehidupan rumah tangga yang mereka jalani selama ini.
Aku ga kuat banget baca bagian surat ini. Berasa jadi konselor rumah tangga aku tuhh, dengerin orang curhat, galau. Dramaa kek sinetron wkwkwk seketika alur jadi lambat kalo udah nyampe di bagian surat. ?????????
Tapiii... begitu di bagian cerita mereka pada masa sekarang di kapel, itu seru banget.. Kapelnya sangat misterius nan creepy. Alurnya jadi kerasa cepat, karena penasaraan.. xixi
Dann.. bukan Alice Feeney, kalau gak bisa membohongi kita semua.. Kukira aku cukup memahami beliau setelah baca Sometimes I Lie, but she lied to me once again. Baru kali ini ada penulis yang bikin trust issue, wkwk which is good, I think...
Buku ini simpel, tokohnya sedikit, plotnya juga ga ribet.
Diceritakan melalui pov Amelia, Adam, dan Robin. Robin ini satu-satunya tetangga terdekat (jarak 20 menit jalan kaki). Juga ada beberapa surat yang ditulis tiap anniversary selama 10 tahun.. Dari surat² ini kita bisa tau gimana kehidupan rumah tangga yang mereka jalani selama ini.
Aku ga kuat banget baca bagian surat ini. Berasa jadi konselor rumah tangga aku tuhh, dengerin orang curhat, galau. Dramaa kek sinetron wkwkwk seketika alur jadi lambat kalo udah nyampe di bagian surat. ?????????
Tapiii... begitu di bagian cerita mereka pada masa sekarang di kapel, itu seru banget.. Kapelnya sangat misterius nan creepy. Alurnya jadi kerasa cepat, karena penasaraan.. xixi
Dann.. bukan Alice Feeney, kalau gak bisa membohongi kita semua.. Kukira aku cukup memahami beliau setelah baca Sometimes I Lie, but she lied to me once again. Baru kali ini ada penulis yang bikin trust issue, wkwk which is good, I think haha. Love-hate relationship detected..
Di buku ini memang gak disajikan klimaks cerita yang menegangkan, yang kejar-kejaran segala macem. Cukup pengungkapan 1 twist aja, langsung bengong. Rasanya pengen balik baca dari awal lagi. ????
Lihat selengkapnya
Aku mengalami love-hate relationship secara berulang pada buku ini. Sepasang suami isteri memenangkan undian untuk liburan di suatu kapel tua di Skotlandia. Yasss, sejak pertama kali mereka sampai di lokasi, unsur creepy-nya berasa, mana nggak ada sinyal & listrik pula. Berasa (sikit-sikit) ada vibes-nya The Turn of the Key oleh Ruth Ware yang bikin nagih di awal.
Cerita menjadi lebih menarik ketika mereka mengalami kejadian aneh terus-menerus yang kebanyakan nggak make sense. Ada sedikit kesan horror yang ditunjukkan dengan tokohnya serasa diawasi sejak mereka masuk dalam kapel tersebut. Niatnya ingin menikmati akhir pekan dengan bahagia malah dihantui dengan berbagai kejadian ajaib. Tapi, justru di sinilah letak keseruannya yang membuatku sanggup (dengan rela, tanpa paksaan) untuk membaca sampai dengan pertengahan.
Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, Adam & Amelia mendapatkan pergantian bab dengan porsi yang setara. Sebagai pembaca, aku bisa merasuk ke dalam pemikiran mereka. Selain itu, ada diselingi pula bab-bab khusus yang...
Aku mengalami love-hate relationship secara berulang pada buku ini. Sepasang suami isteri memenangkan undian untuk liburan di suatu kapel tua di Skotlandia. Yasss, sejak pertama kali mereka sampai di lokasi, unsur creepy-nya berasa, mana nggak ada sinyal & listrik pula. Berasa (sikit-sikit) ada vibes-nya The Turn of the Key oleh Ruth Ware yang bikin nagih di awal.
Cerita menjadi lebih menarik ketika mereka mengalami kejadian aneh terus-menerus yang kebanyakan nggak make sense. Ada sedikit kesan horror yang ditunjukkan dengan tokohnya serasa diawasi sejak mereka masuk dalam kapel tersebut. Niatnya ingin menikmati akhir pekan dengan bahagia malah dihantui dengan berbagai kejadian ajaib. Tapi, justru di sinilah letak keseruannya yang membuatku sanggup (dengan rela, tanpa paksaan) untuk membaca sampai dengan pertengahan.
Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, Adam & Amelia mendapatkan pergantian bab dengan porsi yang setara. Sebagai pembaca, aku bisa merasuk ke dalam pemikiran mereka. Selain itu, ada diselingi pula bab-bab khusus yang memuat kisah ulang tahun pernikahan Adam—setiap tahun—dari perspektif istri (melalui surat).
Sebenernya aku cukup terganggu dengan pergantian POV yang terkadang sulit dibedakan, bingung di bagian-bagian tertentu. Jadi ada beberapa kali aku mesti menengok judul bab untuk mengetahui tokoh mana yang lagi disorot, baru kemudian bisa masuk lagi ke ceritanya.
Sebagai background, Adam mengidap masalah neurologis yang dikenal sebagai prosopagnosia, yakni ketidakmampuan membedakan bentuk wajah orang. Ia adalah seorang penulis skenario & mencita-citakan naskahnya—Rock, Paper, Scissors—untuk bisa sukses di pasaran.
Sementara itu, Amelia bekerja di badan amal pada sebuah rumah penampungan anjing Battersea. Dia sudah kenal dengan Adam +/- 25 tahun silam, semenjak tragedi kematian ibunya. Dia juga mengalami hard time karena selalu dioper sana-sini oleh keluarga asuhnya.
Selain mereka berdua, masih ada lagi tokoh-tokoh yang disebutkan di sini, yakni Robin, Henry Winter, dan October. Robin sang misterius, Henry Winter sang penulis terkenal yang menutup diri (nggak suka diekspos & memiliki ruang kerja sendiri), serta October sang aktris (CMIIW) yang cukup melegenda juga.
50% pertama buku ini sangat menjanjikan, walaupun alurnya nggak cepet tapi nggak slow juga sih. Namun, setelahnya agak sedikit loss setelah unsur creepy-nya berkurang seiring berjalannya waktu.
Nah… sampai ketika plot twist besar terungkap dan BANG?? —seketika merasa tertipu oleh Alice Feeney dari awal cerita. Part ini cukuuup menohok & membuat semangat bacaku kembali untuk segera mengetahui ending kisahnya. Part ini entah kenapa mengingatkanku sama cerita Maia & Mulan sih. Wkwk.
Main conflict menurutku cukup sederhana sebetulnya, agak terlalu diromantisasi dengan menambahkan beberapa komponen tapi tidak berkelindan satu sama lain yang dapat memengaruhi cerita. Akan tetapi, detail-detail & riset (terutama tempat) dilakukan dengan baik.
Lihat selengkapnya
Novel thriller ini tentang Adam dan Amelia, pasangan suami istri yang liburan ke kapel di tengah badai salju Skotlandia. Niatnya buat memperbaiki pernikahan, tapi dari awal suasananya udah dingin, canggung, dan penuh jarak.
Ceritanya pakai dua sudut pandang plus surat-surat rahasia yang bikin semuanya terasa ganjil. Sedikit demi sedikit kebuka kalau pernikahan mereka dibangun di atas kebohongan, dendam, dan rasa saling curiga.
Authornya pinter banget ngasih clue kecil yang baru kerasa penting di belakang. Pas twist-nya muncul, I'll belike: “ohh iya juga ya” wkwk.
Ini thriller domestik yang gelap, licik, dan satisfying. Plot twist nya sangat dar der dor sekaliiii!
"Yang tidak dia ketahui adalah fakta bahwa jika semua ini tidak berlangsung sesuai rencana, hanya salah seorang dari kami yang akan pulang ke rumah. —Hal. 60
Pernikahan Adam dan Amelia terancam kandas. Mereka pun memutuskan liburan ke sebuah kapel di Skotlandia. Terpencil. Tidak ada sinyal. Tidak listrik. Mereka terjebak. Dan seseorang mengawasi mereka.
Gila! The suspense, the plot, the story, the twist, the words, everything! This book is very well-written. Hats off sebagai karya debut dari sang penulis.
Sepanjang baca novel ini rasanya deg-degan. Ini akan ada apa selanjutnya, akan terjadi apa. Really psychological thriller. Cara penulis menuliskannya dari dua sudut pandang Adam dan Amelia, sepasang suami istri yang mencoba mempertahankan pernikahan mereka, setiap surat yang dibuat di hari jadi pernikahan, sudut pandang [redacted] yang ... speechless. Ini novel sungguh mengguncang nalar.
Nggak cuma bikin merinding dengan penulisannya yang "menggiring" opini pembaca, tetapi bagaimana penulis menuliskan kalimat-kalimat yang ambigu, membuat aku sebagai pembaca merasa...
"Yang tidak dia ketahui adalah fakta bahwa jika semua ini tidak berlangsung sesuai rencana, hanya salah seorang dari kami yang akan pulang ke rumah. —Hal. 60
Pernikahan Adam dan Amelia terancam kandas. Mereka pun memutuskan liburan ke sebuah kapel di Skotlandia. Terpencil. Tidak ada sinyal. Tidak listrik. Mereka terjebak. Dan seseorang mengawasi mereka.
Gila! The suspense, the plot, the story, the twist, the words, everything! This book is very well-written. Hats off sebagai karya debut dari sang penulis.
Sepanjang baca novel ini rasanya deg-degan. Ini akan ada apa selanjutnya, akan terjadi apa. Really psychological thriller. Cara penulis menuliskannya dari dua sudut pandang Adam dan Amelia, sepasang suami istri yang mencoba mempertahankan pernikahan mereka, setiap surat yang dibuat di hari jadi pernikahan, sudut pandang [redacted] yang ... speechless. Ini novel sungguh mengguncang nalar.
Nggak cuma bikin merinding dengan penulisannya yang "menggiring" opini pembaca, tetapi bagaimana penulis menuliskan kalimat-kalimat yang ambigu, membuat aku sebagai pembaca merasa "tertipu". Ternyata aku tidak sepeka itu untuk melihat petunjuk-petunjuk yang sudah ditinggalkan sang penulis.
Selain ketegangan yang mencekam, cerita tentang kehidupan pernikahan pun dibahas dengan dalam. Bahwa sebuah biduk rumah tangga sudah bukan lagi aku dan kamu, tetapi kita. Dan penulis begitu apik membagi sudut pandang sang suami dan sang istri. Jadi, sedih dan keselnya seimbang, hehe.
Buat karya debut ini sungguh sangat brilian.
Fasenya mungkin lambat. Banyak detail yang ingin disampaikan. Namun, sedikit demi sedikit mulai terkuak dan "BOOM!" di akhir. It will being one of my thriller book.
The twist after the twist. Mind blowing! Must read!
Lihat selengkapnya