Deskripsi
Robert Langdon diundang menghadiri acara pengungkapan penemuan Edmond Kirsch, seorang miliarder sekaligus ilmuwan komputer, di Museum Guggenheim, Spanyol. Kirsch yang ateis, sesumbar temuannya akan mengubah wajah dunia selamanya. Temuan yang diklaim akan menjawab dua pertanyaan fundamental eksistensi manusia itu digelar secara langsung melalui Internet dan disiarkan ke seluruh dunia.
Namun, terjadi kekacauan. Kirsch terbunuh, sementara Langdon malah dituduh terlibat dalam pembunuhan dan menculik tunangan calon raja Spanyol. Langdon harus berkejaran dengan waktu untuk membuktikan bahwa dia tak bersalah, sekaligus mengungkap apa sebenarnya temuan Kirsch yang membuat pria itu harus kehilangan nyawa. Menyusuri koridor-koridor gelap rahasia sejarah dan agama, Langdon harus berpikir cepat untuk mengungkapkan rahasia sekaligus menghindari musuh yang sepertinya tahu segala dan mendapat dukungan dari Istana Kerajaan Spanyol.
Berhasilkah Langdon memecahkan teka-teki temuan Kirsch yang sepertinya menyalakan api konspirasi jahat di seluruh dunia? Tokoh-tokoh agama terbunuh, kaum fanatik menebarkan ancaman, sementara musuh tersembunyi terus bisa menebak langkah mereka. Pada saat sepertinya tak ada jalan keluar, satu sosok misterius membantu Langdon di sepanjang jalan. Siapakah sosok dingin tanpa emosi ini? Akankah dia benar membantu Langdon mengungkapkan temuan Kirsch atau malah menjebak Langdon dalam kelindan konspirasi yang akan menghancurkan kemanusiaan?
FAKTA:
Semua karya seni, arsitektur, lokasi, sains, dan organisasi keagamaan dalam novel ini nyata.
PROLOG
Ketika kereta api kuno dengan roda bergerigi itu merayap mendaki tanjakan curam yang memusingkan, Edmond Kirsch mengamati puncak gunung bergerigi yang menjulang di depan. Dari kejauhan, biara batu kokoh yang dibangun di permukaan tebing curam itu tampak menggantung di udara, seakan-akan telah disihir menempel ke tebing vertikal di belakangnya.
Tempat suci tak lekang waktu di Catalonia, Spanyol, ini telah menahan daya tarik gravitasi selama lebih dari empat abad dan tak pernah menyimpang dari tujuan awalnya: memisahkan para penghuninya dari dunia modern.
Ironisnya, mereka akan menjadi yang pertama mengetahui kebenaran itu, pikir Kirsch seraya membayangkan reaksi mereka. Secara historis, orang paling berbahaya di dunia adalah para fanatik pengikut Tuhan ... terutama ketika tuhan-tuhan mereka terancam. Dan aku hendak melontarkan tombak menyala ke dalam sarang lebah.
Ketika kereta api mencapai puncak gunung, Kirsch melihat sosok yang menantinya di peron. Tubuh keriput lelaki itu berbalut jubah ungu Katolik tradisional dan jubah-luar putih, dilengkapi topi zucchetto di atas kepalanya. Kirsch mengenali sosok ramping tuan rumahnya dari foto-foto dan merasakan dorongan adrenalin yang tak terduga.
Valdespino menyambutku secara pribadi.
Uskup Antonio Valdespino adalah sosok yang disegani di Spanyol—dia bukan hanya teman dan penasihat terpercaya Raja, melainkan juga salah seorang penganjur paling vokal dan berpengaruh di negara itu dalam mempertahankan nilai-nilai Katolik konservatif dan standar-standar politik tradisional.
“Edmond Kirsch?” sapa sang Uskup ketika Kirsch turun dari kereta api. “Benar sekali,” jawab Kirsch seraya tersenyum dan menjulurkan tangan untuk menjabat tangan kurus tuan rumahnya. “Uskup Valdespino, saya ingin berterima kasih kepada Anda karena telah mengatur pertemuan ini.”
“Aku berterima kasih karena Anda telah meminta-nya.” Suara uskup itu lebih lantang daripada dugaan Kirsch—jernih dan tajam, seperti suara lonceng. “Kami jarang diajak berkonsultasi oleh orang-orang sains, terutama salah satu yang ternama. Silakan, lewat sini.”
Ketika Valdespino memandu Kirsch melintasi peron, udara dingin gunung meniup jubah sang Uskup.
“Harus kuakui,” kata Valdespino, “Anda tampak berbeda dengan yang kubayangkan. Aku membayangkan penampilan seorang ilmuwan, tetapi Anda sangat ....” Matanya mengamati setelan elegan Kiton K50 dan sepatu kulit burung unta Barker yang dikenakan tamunya dengan sedikit menghina. “Sepertinya, ‘perlente’ adalah kata yang tepat?”
Kirsch tersenyum sopan. Kata “perlente” sudah ketinggalan zaman beberapa dekade silam.
“Ketika membaca daftar prestasi Anda,” kata uskup itu, “aku masih belum yakin sepenuhnya mengenai apa yang Anda kerjakan.”
“Spesialisasi saya adalah game theory dan computer modeling.”
“Jadi Anda membuat games komputer yang biasa dimainkan anak-anak?” Kirsch merasa uskup itu berpura-pura tidak tahu agar dianggap kuno.
Lebih tepatnya lagi, Kirsch tahu bahwa Valdespino adalah pembelajar teknologi yang berpengetahuan sangat luas dan sering memperingatkan orang tentang bahaya teknologi. “Tidak, Pak, sesungguhnya game theory adalah bidang matematika yang mempelajari pola-pola untuk membuat prediksi mengenai masa depan.”
“Ah, ya. Aku sepertinya pernah membaca bahwa Anda memprediksi krisis moneter Eropa beberapa tahun silam? Ketika tak seorang pun mendengarkan, Anda menjadi penyelamat dengan menciptakan program komputer yang menyelamatkan Uni Eropa dari kematian. Apa kutipan terkenal Anda? ‘Di usia tiga puluh tiga tahun, aku sebaya dengan Kristus ketika Dia bangkit dari kematian.’”
Kirsch meringis. “Analogi yang buruk, Yang Mulia. Waktu itu saya masih muda.”
“Muda?” Sang Uskup terkekeh. “Dan berapa usia Anda kini ... mungkin empat puluh?”
“Tepat sekali.”
Lelaki tua itu tersenyum, sementara angin terus mengibarkan jubahnya.
“Yah, kabarnya, orang lemah lembut yang akan memiliki bumi, tetapi bumi malah jatuh ke tangan orang muda—yang cenderung teknis, mereka yang menatap layar video alih-alih jiwa mereka sendiri. Harus kuakui, aku tak pernah membayangkan akan menemui orang muda yang berada di garda depannya. Anda tahu, mereka menjuluki Anda sebagai nabi.”
“Prediksi saya tak akurat kali ini, Yang Mulia,” jawab Kirsch. “Ketika saya bertanya apakah boleh menemui Anda dan kolega-kolega Anda secara pribadi, menurut kalkulasi saya hanya ada dua puluh persen kemungkinan Anda setuju.”
“Dan, seperti yang kukatakan kepada para kolegaku, orang beriman bisa selalu menarik manfaat dari mendengarkan orang yang tidak beriman. Dengan mendengar suara iblis, kami bisa lebih menghargai suara Tuhan.” Lelaki tua itu tersenyum. “Aku bergurau, tentu saja. Maafkan selera humorku yang ketinggalan zaman. Terkadang filterku gagal berfungsi.”
Seiring perkataan itu, Uskup Valdespino menunjuk ke depan. “Yang lain sudah menunggu. Harap lewat sini.”
Kirsch mengamati tujuan mereka, benteng batu kelabu kolosal yang bertengger di pinggir tebing curam setinggi ratusan meter di atas permadani rimbun kaki pegunungan yang berhutan. Merasa gentar dengan ketinggian itu, Kirsch mengalihkan pandangan dari jurang dan mengikuti uskup itu menyusuri jalan setapak tidak rata di sisi lereng, berusaha berkonsentrasi pada pertemuan yang akan terjadi.
Kirsch telah meminta audiensi dengan tiga pemimpin agama terkemuka yang baru saja selesai menghadiri sebuah konferensi di sini.
Parlemen Agama-Agama Dunia.
Semenjak 1893, ratusan pemimpin spiritual dari hampir tiga puluh agama dunia berkumpul di lokasi berbeda setiap beberapa tahun sekali dan menghabiskan waktu seminggu untuk melakukan dialog antar-agama. Pesertanya mencakup tokoh agama Kristen, Yahudi, dan Islam berpengaruh dari seluruh dunia, bersama-sama dengan para pemuka agama Hindu, Buddha, Jain, Sikh, dan lain-lain.
Tujuan yang dinyatakan oleh parlemen itu sendiri adalah “membina keharmonisan di antara agama-agama dunia, membangun jembatan di antara berbagai kerohanian, dan merayakan pertemuan semua keyakinan”.
Tujuan mulia, pikir Kirsch, walaupun dia menganggap itu sebagai upaya kosong—pencarian sia-sia terhadap titik-titik kesesuaian acak di antara berbagai macam fiksi, fabel, dan mitos kuno.
Saat Uskup Valdespino memandunya di sepanjang jalan setapak, Kirsch mengintip ke bawah lereng gunung dengan pikiran sinis. Musa mendaki gunung untuk menerima Perkataan Tuhan … dan aku mendaki gunung untuk melakukan hal yang sebaliknya.
Motivasi Kirsch dalam mendaki gunung ini, seperti yang sudah dia katakan pada diri sendiri sebelumnya, adalah kewajiban etis. Namun, dia menyadari adanya cukup banyak keangkuhan yang memicu kunjungan ini—dia ingin merasakan kepuasan duduk berhadapan dengan semua tokoh agama ini dan meramalkan kepunahan mereka dalam waktu dekat.
Cukup sudah kalian mendapat kebebasan untuk mendefinisikan kebenaran kami.
“Aku sudah membaca daftar riwayat hidup Anda,” kata sang Uskup mendadak sambil melirik Kirsch. “Kulihat Anda lulusan Universitas Harvard?”
“Sarjana. Ya.”
“Begitu. Baru-baru ini aku membaca bahwa, untuk pertama kalinya dalam sejarah Harvard, mahasiswa yang masuk lebih banyak yang ateis dan agnostik daripada mereka yang menyatakan diri sebagai penganut agama tertentu. Itu statistik yang cukup mengejutkan, Mr. Kirsch.”
Aku bisa bilang apa, Kirsch ingin menjawab begitu, mahasiswa kami semakin pintar.
Angin bertiup lebih kencang ketika mereka mencapai bangunan batu kuno itu. Dalam cahaya suram jalan masuk gedung, udaranya sarat oleh aroma kental dupa yang dibakar. Kedua lelaki itu berjalan berkelok-kelok melewati labirin koridor gelap, dan mata Kirsch berjuang menyesuaikan diri saat dia mengikuti tuan rumah. Akhirnya, mereka tiba di pintu kayu yang sangat kecil. Uskup itu mengetuk, merunduk, lalu masuk, mengisyaratkan tamunya agar mengikuti.
Dengan bimbang, Kirsch melangkah melintasi ambang pintu.
Dia mendapati dirinya berada di dalam bilik persegi panjang yang dinding-dinding tingginya dipenuhi buku kuno bersampul kulit. Rak-rak buku tambahan yang berdiri sendiri tampak menjorok dari dinding-dinding seperti tulang rusuk, diselingi radiator-radiator besi-tempa yang berdentang dan mendesis, mendatangkan perasaan ngeri bahwa ruangan itu hidup. Kirsch mendongak memandang rampa dengan langkan berhias rumit yang mengitari lantai dua dan dia tahu pasti di mana dirinya berada.
Perpustakaan Montserrat yang legendaris, pikirnya menyadari, terkejut karena diizinkan masuk. Ruangan sakral ini didesas-desuskan berisi teks-teks langka unik yang hanya bisa diakses oleh para biarawan yang telah membaktikan hidup mereka untuk Tuhan dan mengasingkan diri di gunung ini.
“Kau meminta kerahasiaan,” kata uskup itu. “Ini ruangan kami yang paling privat. Hanya segelintir orang luar yang pernah masuk.”
“Keistimewaan yang luar biasa. Terima kasih.”
Spesifikasi
| SKU | : | UC-122 |
| ISBN | : | 9786024414047 |
| Berat | : | 540 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 13 cm/ 21 cm/ 3 cm |
| Halaman | : | 620 |
| Tahun Terbit | : | 2026 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Belum ada ulasan


