Aku mengalami love-hate relationship secara berulang pada buku ini. Sepasang suami isteri memenangkan undian untuk liburan di suatu kapel tua di Skotlandia. Yasss, sejak pertama kali mereka sampai di lokasi, unsur creepy-nya berasa, mana nggak ada sinyal & listrik pula. Berasa (sikit-sikit) ada vibes-nya The Turn of the Key oleh Ruth Ware yang bikin nagih di awal. Cerita menjadi lebih menarik ketika mereka mengalami kejadian aneh terus-menerus yang kebanyakan nggak make sense. Ada sedikit kesan horror yang ditunjukkan dengan tokohnya serasa diawasi sejak mereka masuk dalam kapel tersebut. Niatnya ingin menikmati akhir pekan dengan bahagia malah dihantui dengan berbagai kejadian ajaib. Tapi, justru di sinilah letak keseruannya yang membuatku sanggup (dengan rela, tanpa paksaan) untuk membaca sampai dengan pertengahan. Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, Adam & Amelia mendapatkan pergantian bab dengan porsi yang setara. Sebagai pembaca, aku bisa merasuk ke dalam pemikiran mereka. Selain itu, ada diselingi pula bab-bab...
Aku mengalami love-hate relationship secara berulang pada buku ini. Sepasang suami isteri memenangkan undian untuk liburan di suatu kapel tua di Skotlandia. Yasss, sejak pertama kali mereka sampai di lokasi, unsur creepy-nya berasa, mana nggak ada sinyal & listrik pula. Berasa (sikit-sikit) ada vibes-nya The Turn of the Key oleh Ruth Ware yang bikin nagih di awal.
Cerita menjadi lebih menarik ketika mereka mengalami kejadian aneh terus-menerus yang kebanyakan nggak make sense. Ada sedikit kesan horror yang ditunjukkan dengan tokohnya serasa diawasi sejak mereka masuk dalam kapel tersebut. Niatnya ingin menikmati akhir pekan dengan bahagia malah dihantui dengan berbagai kejadian ajaib. Tapi, justru di sinilah letak keseruannya yang membuatku sanggup (dengan rela, tanpa paksaan) untuk membaca sampai dengan pertengahan.
Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, Adam & Amelia mendapatkan pergantian bab dengan porsi yang setara. Sebagai pembaca, aku bisa merasuk ke dalam pemikiran mereka. Selain itu, ada diselingi pula bab-bab khusus yang memuat kisah ulang tahun pernikahan Adam—setiap tahun—dari perspektif istri (melalui surat).
Sebenernya aku cukup terganggu dengan pergantian POV yang terkadang sulit dibedakan, bingung di bagian-bagian tertentu. Jadi ada beberapa kali aku mesti menengok judul bab untuk mengetahui tokoh mana yang lagi disorot, baru kemudian bisa masuk lagi ke ceritanya.
Sebagai background, Adam mengidap masalah neurologis yang dikenal sebagai prosopagnosia, yakni ketidakmampuan membedakan bentuk wajah orang. Ia adalah seorang penulis skenario & mencita-citakan naskahnya—Rock, Paper, Scissors—untuk bisa sukses di pasaran.
Sementara itu, Amelia bekerja di badan amal pada sebuah rumah penampungan anjing Battersea. Dia sudah kenal dengan Adam +/- 25 tahun silam, semenjak tragedi kematian ibunya. Dia juga mengalami hard time karena selalu dioper sana-sini oleh keluarga asuhnya.
Selain mereka berdua, masih ada lagi tokoh-tokoh yang disebutkan di sini, yakni Robin, Henry Winter, dan October. Robin sang misterius, Henry Winter sang penulis terkenal yang menutup diri (nggak suka diekspos & memiliki ruang kerja sendiri), serta October sang aktris (CMIIW) yang cukup melegenda juga.
50% pertama buku ini sangat menjanjikan, walaupun alurnya nggak cepet tapi nggak slow juga sih. Namun, setelahnya agak sedikit loss setelah unsur creepy-nya berkurang seiring berjalannya waktu.
Nah… sampai ketika plot twist besar terungkap dan BANG?? —seketika merasa tertipu oleh Alice Feeney dari awal cerita. Part ini cukuuup menohok & membuat semangat bacaku kembali untuk segera mengetahui ending kisahnya. Part ini entah kenapa mengingatkanku sama cerita Maia & Mulan sih. Wkwk.
Main conflict menurutku cukup sederhana sebetulnya, agak terlalu diromantisasi dengan menambahkan beberapa komponen tapi tidak berkelindan satu sama lain yang dapat memengaruhi cerita. Akan tetapi, detail-detail & riset (terutama tempat) dilakukan dengan baik.
Lihat selengkapnya
Novel thriller ini tentang Adam dan Amelia, pasangan suami istri yang liburan ke kapel di tengah badai salju Skotlandia. Niatnya buat memperbaiki pernikahan, tapi dari awal suasananya udah dingin, canggung, dan penuh jarak.
Ceritanya pakai dua sudut pandang plus surat-surat rahasia yang bikin semuanya terasa ganjil. Sedikit demi sedikit kebuka kalau pernikahan mereka dibangun di atas kebohongan, dendam, dan rasa saling curiga.
Authornya pinter banget ngasih clue kecil yang baru kerasa penting di belakang. Pas twist-nya muncul, I'll belike: “ohh iya juga ya” wkwk.
Ini thriller domestik yang gelap, licik, dan satisfying. Plot twist nya sangat dar der dor sekaliiii!
"Yang tidak dia ketahui adalah fakta bahwa jika semua ini tidak berlangsung sesuai rencana, hanya salah seorang dari kami yang akan pulang ke rumah. —Hal. 60 Pernikahan Adam dan Amelia terancam kandas. Mereka pun memutuskan liburan ke sebuah kapel di Skotlandia. Terpencil. Tidak ada sinyal. Tidak listrik. Mereka terjebak. Dan seseorang mengawasi mereka. Gila! The suspense, the plot, the story, the twist, the words, everything! This book is very well-written. Hats off sebagai karya debut dari sang penulis. Sepanjang baca novel ini rasanya deg-degan. Ini akan ada apa selanjutnya, akan terjadi apa. Really psychological thriller. Cara penulis menuliskannya dari dua sudut pandang Adam dan Amelia, sepasang suami istri yang mencoba mempertahankan pernikahan mereka, setiap surat yang dibuat di hari jadi pernikahan, sudut pandang [redacted] yang ... speechless. Ini novel sungguh mengguncang nalar. Nggak cuma bikin merinding dengan penulisannya yang "menggiring" opini pembaca, tetapi bagaimana penulis menuliskan kalimat-kalimat yang ambigu, membuat...
"Yang tidak dia ketahui adalah fakta bahwa jika semua ini tidak berlangsung sesuai rencana, hanya salah seorang dari kami yang akan pulang ke rumah. —Hal. 60
Pernikahan Adam dan Amelia terancam kandas. Mereka pun memutuskan liburan ke sebuah kapel di Skotlandia. Terpencil. Tidak ada sinyal. Tidak listrik. Mereka terjebak. Dan seseorang mengawasi mereka.
Gila! The suspense, the plot, the story, the twist, the words, everything! This book is very well-written. Hats off sebagai karya debut dari sang penulis.
Sepanjang baca novel ini rasanya deg-degan. Ini akan ada apa selanjutnya, akan terjadi apa. Really psychological thriller. Cara penulis menuliskannya dari dua sudut pandang Adam dan Amelia, sepasang suami istri yang mencoba mempertahankan pernikahan mereka, setiap surat yang dibuat di hari jadi pernikahan, sudut pandang [redacted] yang ... speechless. Ini novel sungguh mengguncang nalar.
Nggak cuma bikin merinding dengan penulisannya yang "menggiring" opini pembaca, tetapi bagaimana penulis menuliskan kalimat-kalimat yang ambigu, membuat aku sebagai pembaca merasa "tertipu". Ternyata aku tidak sepeka itu untuk melihat petunjuk-petunjuk yang sudah ditinggalkan sang penulis.
Selain ketegangan yang mencekam, cerita tentang kehidupan pernikahan pun dibahas dengan dalam. Bahwa sebuah biduk rumah tangga sudah bukan lagi aku dan kamu, tetapi kita. Dan penulis begitu apik membagi sudut pandang sang suami dan sang istri. Jadi, sedih dan keselnya seimbang, hehe.
Buat karya debut ini sungguh sangat brilian.
Fasenya mungkin lambat. Banyak detail yang ingin disampaikan. Namun, sedikit demi sedikit mulai terkuak dan "BOOM!" di akhir. It will being one of my thriller book.
The twist after the twist. Mind blowing! Must read!
Lihat selengkapnya
Mengapa judulnya Rock Paper Scissors, yang berarti Batu, Gunting, Kertas? Setelah memahami isi ceritanya, alasannya bahwa Adam, salah satu tokoh utama, adalah seorang penulis yang menulis cerita berjudul Batu, Gunting, Kertas. Selain itu, permainan tersebut juga menjadi simbol ritual tahunan antara Adam dan Amelia untuk menentukan takdir kehidupan pernikahan mereka. Hal menarik lainnya, novel ini menceritakan tokoh utama bernama Adam yang menderita prosopagnosia—ketidakmampuan mengenali wajah, bahkan wajahnya sendiri. Kondisi ini membuat ceritanya terasa semakin unik dan menambah lapisan misteri. Buku ini bukan sekadar fiksi thriller yang berfokus pada siapa pelakunya, melainkan juga mengungkap misteri hubungan pernikahan—pengkhianatan, perselingkuhan, luka emosional, hingga perpisahan. Selain itu, novel ini juga mengungkap teror tentang siapa yang mengundang Adam dan Amelia ke kapel, serta misteri kecelakaan tabrak lari yang menimpa ibu Adam saat ia berusia 13 tahun. Menggunakan sudut pandang Adam, Amelia, dan Robin, penulis dengan piawai membangun cerita dari alur yang awalnya tenang dan datar,...
Mengapa judulnya Rock Paper Scissors, yang berarti Batu, Gunting, Kertas? Setelah memahami isi ceritanya, alasannya bahwa Adam, salah satu tokoh utama, adalah seorang penulis yang menulis cerita berjudul Batu, Gunting, Kertas. Selain itu, permainan tersebut juga menjadi simbol ritual tahunan antara Adam dan Amelia untuk menentukan takdir kehidupan pernikahan mereka.
Hal menarik lainnya, novel ini menceritakan tokoh utama bernama Adam yang menderita prosopagnosia—ketidakmampuan mengenali wajah, bahkan wajahnya sendiri. Kondisi ini membuat ceritanya terasa semakin unik dan menambah lapisan misteri.
Buku ini bukan sekadar fiksi thriller yang berfokus pada siapa pelakunya, melainkan juga mengungkap misteri hubungan pernikahan—pengkhianatan, perselingkuhan, luka emosional, hingga perpisahan. Selain itu, novel ini juga mengungkap teror tentang siapa yang mengundang Adam dan Amelia ke kapel, serta misteri kecelakaan tabrak lari yang menimpa ibu Adam saat ia berusia 13 tahun.
Menggunakan sudut pandang Adam, Amelia, dan Robin, penulis dengan piawai membangun cerita dari alur yang awalnya tenang dan datar, hingga aku sama sekali tidak berekspektasi bahwa plot twist di akhirnya benar-benar membuatku ternganga. Jujur, akhir ceritanya sangat memuaskan, meskipun tempo di bagian awal terasa cukup lambat.
Cerita ini banyak didominasi oleh surat-surat yang mengaku ditulis oleh istri Adam, serta dinamika hubungan pernikahan yang rumit. Dari sanalah misteri perlahan dibangun, lapis demi lapis.
Selain itu, suasana yang dibangun di novel ini terasa mencekam, sunyi, dan penuh luka.
Pesan yang aku tangkap dari novel ini adalah pentingnya menjaga komunikasi dalam hubungan, menghargai momen-momen kecil, memelihara kepercayaan, dan tidak melampiaskan emosi sesaat, terutama melalui perselingkuhan.
Lihat selengkapnya
Rock Paper Scissors adalah thriller psikologis yang akan mengajak pembaca masuk ke dalam pernikahan yang kusut, penuh rahasia, dan saling curiga. Buku ini dimulai dengan cerita pasangan suami istri yang mencoba “menyelamatkan” hubungan mereka lewat perjalanan akhir pekan ke sebuah penginapan terpencil. Dengan nuansa yang mencekam dan narasi yang terasa ganjil, tentu akan membuat pembaca sadar ada hal yang disembunyikan oleh pasangan ini. Sebuah kebenaran yang tidak akan datang dengan mudah. Alur ceritanya bergerak perlahan karena diselingi oleh surat-surat yang dituliskan sang istri untuk suaminya di setiap ulang tahun pernikahan mereka. Dengan surat tersebut serta POV yang bergantian antara suami dan istri, lapisan misteri dan tekanan psikologis makin terasa. Penulis sangat piawai memainkan persepsi pembaca. Saya betul-betul kegocek dan sulit menebak siapa yang jujur, siapa yang memanipulasi, dan siapa yang sebenarnya korban. Atau malah semuanya adalah pelaku?! Kekuatan utama buku ini terletak pada twist-nya yang berlapis dan tidak mudah ditebak....
Rock Paper Scissors adalah thriller psikologis yang akan mengajak pembaca masuk ke dalam pernikahan yang kusut, penuh rahasia, dan saling curiga.
Buku ini dimulai dengan cerita pasangan suami istri yang mencoba “menyelamatkan” hubungan mereka lewat perjalanan akhir pekan ke sebuah penginapan terpencil. Dengan nuansa yang mencekam dan narasi yang terasa ganjil, tentu akan membuat pembaca sadar ada hal yang disembunyikan oleh pasangan ini. Sebuah kebenaran yang tidak akan datang dengan mudah.
Alur ceritanya bergerak perlahan karena diselingi oleh surat-surat yang dituliskan sang istri untuk suaminya di setiap ulang tahun pernikahan mereka. Dengan surat tersebut serta POV yang bergantian antara suami dan istri, lapisan misteri dan tekanan psikologis makin terasa.
Penulis sangat piawai memainkan persepsi pembaca. Saya betul-betul kegocek dan sulit menebak siapa yang jujur, siapa yang memanipulasi, dan siapa yang sebenarnya korban. Atau malah semuanya adalah pelaku?!
Kekuatan utama buku ini terletak pada twist-nya yang berlapis dan tidak mudah ditebak. Saat kebenaran mulai terkuak, saya sampai harus mengulang halaman-halaman sebelumnya karena belum percaya dan mencoba membaca ulang dengan sudut pandang yang baru.
Rock Paper Scissors adalah buku yang sangat cocok bagi pembaca yang menyukai thriller psikologis dengan akhir cerita yang berkesan (bukunya sudah selesai dibaca, tetapi masih menancap di ingatan).
BRAVO!!!
Lihat selengkapnya
Saat menyelesaikan buku ini langsung kepikiran kutipan “Apapun pilihannya kita harus bertanggungjawab mengenai keputusan yang sudah diambil.” Bagaimanapun akhirnya kita harus memilih dan setiap pilihan selalu punya konsekuensi yang tak bisa dilepaskan apalagi dalam kondisi terdesak. Aku suka bagaimana konsep cerita dengan narasi panjang dengan penjabaran kisah berbagai sudut pandang tokoh. Jadi, sebagai pembaca kita seolah diajak masuk mengenal lebih dalam sekaligus menilai bagaimana konflik dan masalah yang terjadi sebenarnya. Cerita bermula dengan kisah sepasang suami istri yang berlibur ke sebuah kapel. Liburan yang didapatkan dari hadiah Giveaway dan diharapkan mampu memperbaiki hubungan rumah tangga itu ternyata justru menjadi malapetaka yang tak pernah dipikirkannya. Ada banyak kejanggalan yang terjadi mulai dari penataan dan juga sosok tak terlihat yang menghantui apakah hantu atau justru manusia yang menyusup? Pembaca juga akan membaca beberapa surat yang ditujukan untuk Adam melalui halaman buku dengan tertanda pengirim “Istrimu.” Di tengah keributan yang terjadi dan komunikasi...
Saat menyelesaikan buku ini langsung kepikiran kutipan “Apapun pilihannya kita harus bertanggungjawab mengenai keputusan yang sudah diambil.” Bagaimanapun akhirnya kita harus memilih dan setiap pilihan selalu punya konsekuensi yang tak bisa dilepaskan apalagi dalam kondisi terdesak. Aku suka bagaimana konsep cerita dengan narasi panjang dengan penjabaran kisah berbagai sudut pandang tokoh. Jadi, sebagai pembaca kita seolah diajak masuk mengenal lebih dalam sekaligus menilai bagaimana konflik dan masalah yang terjadi sebenarnya.
Cerita bermula dengan kisah sepasang suami istri yang berlibur ke sebuah kapel. Liburan yang didapatkan dari hadiah Giveaway dan diharapkan mampu memperbaiki hubungan rumah tangga itu ternyata justru menjadi malapetaka yang tak pernah dipikirkannya. Ada banyak kejanggalan yang terjadi mulai dari penataan dan juga sosok tak terlihat yang menghantui apakah hantu atau justru manusia yang menyusup? Pembaca juga akan membaca beberapa surat yang ditujukan untuk Adam melalui halaman buku dengan tertanda pengirim “Istrimu.”
Di tengah keributan yang terjadi dan komunikasi keduanya yang semakin buruk muncullah tokoh Robin dengan segala kemisteriusannya. Banyak hal-hal yang terkadang hanya tertinggal sepotong dalam ingatan seperti melupakan detail penting yang sebenarnya terjadi layaknya yang dialami Adam. Entah siapa yang salah kita akan menemukan celah antara ketiga tokoh tersebut Adam, Amelia dan Robin. Kisah cinta segitiga yang rumit dengan runtutan kejadian balas dendam terstruktur cukup baik dan sangat rapi. Kisah-kisah yang mulai terungkap dan fakta yang sengaja disembunyikan terkuak satu persatu dari masing-masing tokoh maupun suratnya. Entah khayalan atau kenyataan kadang manusia lupa batas antara keduanya. Yang jelas mereka hanya tinggal berdua dan satunya tertinggal. Terkubur dalam kemisteriusan dan kengerian kapel bersama rahasia kematian yang tak pernah terkuak selamanya. Aku suka bagaimana kisah ini mengalir tanpa ujung dan menyisakan kengerian setelah membacanya.
Lihat selengkapnya