Buku SO I LOVE… - | Mizanstore
  • SO I LOVE MY EX
Ketersediaan : Tersedia

SO I LOVE MY EX

    Deskripsi Singkat

    Udah susah-susah menata hati buat move on, Aluna malah ketemu lagi dengan Arzello, mantannya. Bahkan, mereka tergabung di satu organisasi kampus. Sering ketemu itu pasti, tapi apa mungkin bisa dekat lagi? Sepertinya nggak akan mudah. Aluna masih menyimpan trauma yang besar karena perpisahan orang tuanya. Ia jadi takut banget pacaran… Baca Selengkapnya...

    Rp 79.000 Rp 67.150
    -
    +

    Udah susah-susah menata hati buat move on, Aluna malah ketemu lagi dengan Arzello, mantannya. Bahkan, mereka tergabung di satu organisasi kampus. Sering ketemu itu pasti, tapi apa mungkin bisa dekat lagi? Sepertinya nggak akan mudah.

    Aluna masih menyimpan trauma yang besar karena perpisahan orang tuanya. Ia jadi takut banget pacaran lagi. Sebegitu takutnya akan sebuah hubungan, Aluna diharuskan menemui psikolog.

    Dengan beban seberat itu, mampukah seorang Arzello meyakinkan Aluna buat balikan? Atau, Arzello akan kembali kehilangan Aluna untuk kali kedua?

     



    Keunggulan Buku

    Keunggulan
    So I Love My Ex merupakan karya dari Arista Vee yang telah dibaca lebih dari 2,5 juta kali di Wattpad, dan pernah menempati urutan pertama pada kategori fiksi. Arista memiliki ciri khas tersendiri dalam ide cerita yang ia suguhkan, yaitu selalu membawa isu tentang kesehatan mental remaja. Pada cerita kali ini, ia menyajikan permasalahan trauma pada suatu hubungan. Tak hanya bicara tentang kisah cinta, So I Love My Ex juga memberikan gambaran yang nyata tentang kehidupan perkuliahan dan dunia mahasiswa yang penuh dinamika. Kisah Aluna dan Arzello ini layak menjadi kisah favorit para pembaca muda J

    Testimoni

     “Kisah ini dikemas dengan apik. Untaian kalimat bisa dipahami dengan mudah sehingga pembaca bisa hanyut dalam cerita ini. Selain cinta, banyak hal yang bisa dipetik dalam cerita ini.”
    Dewi Wulansari, penulis novel Mine
    “Bukan kisah tentang mantan biasa! Kita akan dibuat gemas oleh pasangan Zello dan Aluna dengan segala interaksinya. Selain itu, ada organisasi di dalam kampus yang tak kalah menarik. Pantas dibaca!”
    Andhyrama, penulis novel The Darkest Ray

    Cuplikan
    “Bagaimana kuliahmu? Nyaman dengan jurusanmu?” tanya Jiver—papa dari seorang laki-laki bernama Zello.
    “Nyaman, Pa.”
    Sang Papa tersenyum lebar. Pria itu menatap bangga kepada anaknya karena jurusan yang dipilih oleh Zello memang tidak biasa. Sastra Indonesia. Untuk ukuran seorang laki-laki yang lahir dari keluarga berkecukupan seperti Zello, jurusan itu termasuk yang jarang dilirik. Kedokteran, Hukum, Manajemen, menjadi jurusan yang lebih populer.
    “Organisasi kampus, bagaimana?”
    Zello menarik napasnya panjang. “Ya, seperti biasa.”
    “Ya, ya, asal kuliahmu tidak terganggu, Papa nggak masalah,” kata Jiver. Matanya terfokus pada acara pertandingan sepak bola di televisi.
    “Anak Mama baru pulang ya, Sayang?” Keyana—mamanya, datang dengan cookies yang baru matang. Mama tersenyum hangat kepada Zello, lalu berjalan mendekati kedua laki-laki beda generasi itu. Keluarga harmonis itu memang sering melakukan quality time.
    “Ya, Ma. Tadi hanya rapat, bahas perekrutan pengurus BEM.”
    Keyana menggelengkan kepalanya. “Jangan cerita yang begituan, deh, Mama pusing dengernya. Di mana-mana politik. Nggak di televisi, media sosial, di rumah juga politik terus.”
    Zello tertawa, ia mengambil cookies yang dibawa oleh Keyana. “Seru, kali, Ma. Namanya juga lagi tahun politik, ya pasti banyak pembahasan politik di mana-mana. Bagus juga, kan? Buat pengetahuan, biar nggak golongan putih.”
    “Kamu nyindir Mama, nih?” tanya mamanya. Wanita itu mengambil cookies buatannya.
    Zello menggeleng, lalu tersenyum. Beberapa waktu lalu, Mama tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan gubernur, sebab bertepatan dengan acara di luar kota.
    “Mas, kamu nggak mau ambil?” tawar Mama kepada Papa. Wanita itu lalu menyodorkan kue yang ia buat kepada suaminya.
    Kedua orang tuanya menikah muda. Mereka memiliki anak pada saat Mama baru lulus kuliah. Jadi, meski Zello sudah sebesar ini, kedua orang tuanya masih muda dan selalu terlihat romantis.
    Jiver terkekeh, ia mengambil dan memakan kue buatan istrinya. Sementara itu, Zello menikmati pertandingan sepak bola di televisi.
    “Mantan pacarmu yang pinter bikin kue itu kuliah di mana, Sayang?” tanya Keya kepada anaknya. Zello meliriknya sekilas, lalu mengedikkan bahu. “Padahal Mama mau belajar bikin kue sama dia, bilangin suruh main ke rumah,” kata mamanya.
    “Aku nggak punya kontaknya, Ma. Lagian dia belum tentu mau main ke sini lagi. Dia pindah ke luar kota setelah lulus.”
    “Loh, kenapa?”
    “Nggak tahu, Ma. Udah, ya, aku mau tidur. Jangan lupa sisain kuenya buat Arsyad sama Aika, nanti mereka ngamuk kalau nggak kebagian,” pungkas Zello sebelum ia pergi ke kamarnya setelah menyebut kedua nama adiknya.
    Arzello Wisnu Prakarsa, mahasiswa semester tiga yang mengambil jurusan Sastra Indonesia di sebuah perguruan tinggi kenamaan di kotanya. Ia memang meminati Sastra Indonesia dari awal, jadi, tidak ada masalah ketika dia masuk ke dalam jurusan ini. Tidak ada yang salah menjadi anak sastra, walau sebagian besar orang berpendapat, apa pentingnya kuliah sastra? Mengapa tidak kuliah di jurusan Kedokteran, Hukum, atau Ekonomi yang lebih menjanjikan? Zello tidak mau mengambil pusing masalah itu, karena baginya, kesuksesan tidak diukur dari jurusan apa yang diambil semasa kuliah, tetapi karena tekad dan ketekunan. Lebih lagi, kedua orang tuanya mendukung apa yang ia minati dan inginkan. Kedua orang tuanya memberi kebebasan, tidak pernah memaksa untuk melakukan hal yang tidak ia inginkan. Jadi, untuk apa mendengar omongan orang lain yang kerap menjadi racun? Bro, nanti rapat di Ormawa pukul 2.00 siang,” teriak seseorang ketika Zello hendak menemui dosen pembimbing akademiknya di jurusan.
    “Oke, Med, nanti gue ke sana.”
    Zello melanjutkan langkahnya menuju ruangan dosen di Lantai 1. Ia memiliki janji temu dengan Bu Ida—dosen pembimbing akademiknya di kampus.
    “Asalamualaikum, Bu Ida,” kata Zello, ia menyalami Bu Ida setelah Bu Ida menjawab salam. Wanita paruh baya itu mempersilakannya duduk.
    “Jadi, apa yang ingin kamu ceritakan kepada Ibu, Zello?”
    “Begini, Bu. Saya berencana untuk magang di kantor Papa, membantu kakak sepupu saya yang bekerja sebagai editor di sana. Menurut Ibu bagaimana?”
    “Tidak masalah kalau kamu bisa membagi waktu. Untuk kerja dan kuliah. Kadang bekerja itu membuat ketagihan dan lupa sama pendidikan. Bagaimana? Apa kamu sanggup membagi waktumu?”
    “Bisa, Bu. Lagi pula pekerjaan saya tidak berat, bisa saya kerjakan di rumah.”
    Bu Ida tersenyum tipis. “Baiklah. Semoga sukses, Zello. Dan, cepat kamu selesaikan proposal PKM1-mu. Saya ingin melihat programmu didanai oleh Dikti,” kata Bu Ida lagi, Zello mengangguk kecil sebelum berpamitan.
    “Nanti saya diskusikan dengan kelompok saya, Bu. Kalau begitu, saya permisi. Selamat siang, Bu.”
    “Ya, siang, Zell.” Aluna Anindya Dewi masih mengamati mading di depan jurusannya. Di sana tertera brosur perekrutan anggota BEM F2 yang akan dimulai tiga hari lagi. Aluna adalah mahasiswi baru di kampus ini. Ia sempat menunda kuliahnya selama satu tahun karena tidak lolos Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri jalur undangan dan tes tulis. Saat itu ia memilih pulang ke Surabaya untuk membantu usaha kue milik ibunya sembari mempersiapkan diri untuk kuliah tahun ini. Aluna tidak tinggal bersama ibunya, ia ada di sini bersama ayah. Kedua orang tuanya berpisah saat dirinya SMP. Meskipun korban perceraian kedua orang tuanya, dia tetap bahagia menjalani hidupnya.
    Aluna mendengar ponselnya berbunyi. Ia mengeluarkan ponselnya dan mendapati notifikasi dari Twitter.
    Justin Bieber is now following you.
    “Halah paling akun gadungan,” kata Aluna. Namun, karena penasaran, ia pun membuka notifikasinya. Di sana tertera akun milik artis idola yang baru saja mengikuti akunnya.
    “Eh sumpah, ini serius?” teriak Aluna, ia lupa sedang berada di area kampus. Beberapa orang memperhatikannya, ia pun tersenyum tidak enak.
    “O, iya, kan gue semalem begadang pas dia open follback!”
    Wajah Aluna semringah, ia segera membuka direct message dan mengirimi pesan kepada Justin Bieber. Aluna kerap mengalami gangguan tidur. Jadi, begadang sudah menjadi kebiasaan. Ia selalu menyimpan berjuta hal yang tidak seharusnya dipikirkan.
    Kebiasaannya tidak bisa tidur saat malam sering membuat gadis itu begadang dan berakhir dengan bermain media sosial. Ia kerap mengikuti free follows artis-artis idolanya yang sedang mengadakan open follback atau sekadar mengecek trending topic dan spam tweet. Setidaknya, kegiatan itu sedikit banyak mengurangi beban pikiran yang bersarang di otak Aluna selama bertahun-tahun.
    “Alunan musikkkkkk, lo mau makan es krim gratis, nggak?” teriak Alya—teman barunya yang memasang cengar-cengir lebar. Aluna terkesiap.
    “Berisik! Nanti kalau gue budek, gimana?”
    Alya terkikik, ia menunjukkan dua tiket festival es krim di fakultas sebelah yang ia dapat dari temannya.
    “Ayo ...,” teriak Alya menggeret Aluna untuk segera pergi.
    “Ayo, deh! Selama gratis, gue mah ngikut.”
    Alya mencibir. “Dasar, kantung gratisan.”
    “Yeee! Prinsip ekonomi.”
    Mereka tiba di festival es krim yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi dalam rangka HUT FE. Para demisioner BEM F di fakulas itu pun terlihat mondar-mandir mengurusi acara. Seharusnya mereka sudah tidak memiliki program kerja, tetapi karena pihak fakultas meminta bantuan, mau tidak mau mereka harus mengiakan. Namun, tentu saja dengan bantuan panitia dari beberapa mahasiswa nonorganisasi yang mengikuti open recruitment kemarin. Karena program fakultas ini adalah salah satu agenda terbesar fakultas setiap tahun.
    “Lo tahu, nggak? Di FE itu gudangnya anak-anak modis. Kalau mau lihat cowok ganteng kinyis-kinyis, ya ke sini aja. Beuh, dijamin mata langsung melek,” kata Alya sambil sibuk memakan es krimnya.
    “Nggak kayak di jurusan kita yang cowoknya lusuh-lusuh gitu. Ada sih, yang ganteng, tapi bisa dihitung jari,” katanya lagi sambil terkikik.
    “Berisik lo, Al. Ini es krim gue bakal leleh kalau lo ngomong terus.”
    “Yeee ... gue kan, kasih info penting.”
    “Ehmmm ... bomat, gue nggak minat sama cowok di kampus ini, modusnya receh.”
    “Lo mah gitu, Lun!”
    “Diem deh, ganggu orang makan es krim aja.”
    Aluna fokus dengan es krim di tangannya sambil melihat ke atas panggung, ada pertunjukan band di sana. Acara di sini cukup ramai karena mahasiswa dari fakultas lain banyak yang datang. Omong-omong Fakultas Ekonomi, ia jadi ingat Davika. Oh, Aluna menepuk dahinya. Ia lupa memberi kabar Davika bahwa dirinya akan menginap ke rumah Davika nanti malam. Davika adalah sahabatnya sejak dua tahun lalu. Mereka pernah terlibat hubungan dengan laki-laki yang sama. Laki-laki itu Arzello Wisnu Prakarsa, mantan pacarnya dan Davika. Ia hendak mengambil ponsel, sebelum Alya menepuk tangannya keras.
    “Lunnn ... lo tadi dilihatin cowok ganteng deket pohon beringin di sana,” kata Alya heboh. Aluna memutar dua bola matanya.
    “Mana?”
    “Itu di sana, pake kemeja biru laut,” ucap Alya.
    Aluna mengikuti arah telunjuk Alya, dan saat itu juga es krimnya terjatuh. Aluna terkejut. Aluna menoleh pada es krimnya yang tampak mengenaskan. Ia mendengkus. Semua ini gara-gara laki-laki itu. Jadi, laki-laki itu anak FE?
     

    Resensi

    Beri ulasan produk ini

    Spesifikasi Produk

    SKU BE-124
    ISBN 978-602-430-534-5
    Berat 340 Gram
    Dimensi (P/L/T) 15 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
    Halaman 352
    Jenis Cover Soft Cover