Deskripsi
Di Chibineko Kitchen, kau akan bertemu Kai, si koki yang ramah, serta Chibi, kucing tabi kecil yang menginspirasi nama tempat yang hanya buka sampai pukul 10 pagi ini.
Kedai makan pinggir laut ini berada di sebuah kota kecil yang sunyi, dengan spesialisasi makanan tradisional yang memantik nostalgia bersama orang tercinta, menjanjikan reuni dengan mereka yang telah tiada.
Pujian/Endorsemen:
Sehangat dan semenenangkan hidangan yang dijelaskan …. Takahashi terampil dalam menciptakan suasana yang nyaman dan tenang, dengan deskripsi yang memikat dan dipenuhi cahaya …. Karakter-karakternya yang menawan memiliki narasi yang menggerakkan. Makanan-makanan yang dijelaskan secara sensoris juga memiliki peran utama, dengan eksposisi regional dan budaya serta resep di akhir tiap bab. Menghangatkan jiwa.
—Shelf Awareness
Novel yang terasa seperti pelukan hangat …, berlatar di kafe tepi laut yang nyaman dekat Tokyo, tempat makanan memberikan pelanggan kesempatan untuk melihat orang-orang tersayang yang telah hilang dari hidup mereka.
—AARP
Menawan …. Mudah dibaca. Buku ini akan membawa pembaca dalam perjalanan emosional yang memuaskan.
—Seattle Times
Menghangatkan hati …. Jika kau menikmati Before the Coffee Gets Cold karya Toshikazu Kawaguchi, kau mungkin akan menikmati kisah magis ini juga, yang berlatar di sebuah kota tepi laut di luar Tokyo.
—Savvy Tokyo
Spesifikasi
| SKU | : | ND-536 |
| ISBN | : | 9786232424845 |
| Berat | : | 260 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 14 cm/ 21 cm/ 1 cm |
| Halaman | : | 216 |
| Tahun Terbit | : | 2025 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Sama keluarga inti, ada bermacam-macam. Sebut saja sambal pete pedes (yang agak berkuah), samcan tauco, nasi telor ceplok kecap, kuping babi masak kecap, atau nasi goreng kampung ala Mama. ????
Kalau sama teman, mmm mungkin ramen, nasi padang, atau nasi bebek bumbu hitam.
Sama kamu? Nggak tahu. Belum nemu.
The Chibineko Kitchen sangat erat kaitannya dengan kehilangan (kematian). Bisa berupa kehilangan saudara, teman dekat yang dirindukan, istri, ataupun ibu. Acapkali terjadi begitu saja tanpa aba-aba, persiapan, boro-boro gladi resik. Yang bikin nyesss ketika hubungan lagi tidak baik-baik saja. Pertemuan terakhir adalah luka, yang tidak bisa diulang kembali sebab sudah beda alam. Menyesakkan. Terutama yang ditinggalkan, serasa bikin dosa besar tanpa bisa menebusnya.
Beruntungnya—masih bisa disebut demikian padahal tidak—mereka yang sudah berhubungan punya momen tak terlupakan. Salah satunya menikmati makanan bersama-sama, saat mulut lebih sibuk mengecap daripada mendakwa. Meski lagi (atau pernah) bergelut,... Lihat selengkapnya
Desas-desus pengalaman orang-orang tentang The Chibineko Kitchen yang menghadirkan orang kesayangan yang sudah meninggal saat penyajian hidangan kenangan terdengar sampai telinga Kotoko, yang baru saja kehilangan abangnya. Jauh-jauh dari Tokyo, diapun mendatangi kedai makan yang hanya buka di pagi hari yang berlokasi di kota pesisir di wilayah Uchibo.
Hidup Kotoko berubah setelah pertemuan singkat dengan arwah mendiang kakaknya di kedai makan itu. Bahkan Kotoko berbagi cerita dengan Taiji, yang juga akhirnya melakukan perjalanan serupa ke Chibineko Kitchen untuk "bertemu" dengan mendiang teman sekolahnya.
Rasanya pengen ceritain semua chapter saking gemesnya dengan keempat cerita yang ada di novel The Chibineko Kitchen ini. Tentang kucing bernama Chibi. Tentang Kai, yang memasak semua hidangan kenangan. Tentang alasan kenapa kedainya hanya buka sampai jam 10 pagi. Tapi kalo saya... Lihat selengkapnya
Meskipun ber-genre fantasi, namun tidak mengurangi esensi dari penyampaian makna yang mendalam dalam setiap tulisan Yuta.
Buku ini awalnya menceritakan sesosok gadis yang kehilangan kakaknya dan meratapi dirinya dengan rasa bersalah. Hingga akhirnya, ia menemukan Chibineko Kitchen yang menyajikan "hidangan kenangan" untuk mengenang seseorang yang ingin ditemuinya.
Buku ini menyampaikan beberapa resep masakan Jepang dengan detail, bahkan menuliskan resepnya. Setiap babnya bikin lapar hehe.
Selain itu, ada juga kucing yang menemani di setiap peristiwa (lucu sekali)
Buku yang tidak hanya memberikan perasaan senang dan hangat ketika membacanya, namun juga perasaan lapar karena terlalu ngiler melihat deskripsi setiap resep-resep makanan yang dihidangkan.
Dengan konsep yang apik sekaligus unik yaitu memberikan hidangan persembahan untuk orang yang sudah mati, buku ini mengajarkan kita tentang cara kerelaan hati dengan ikhlas.
Mengajarkan kita untuk tetap menyalurkan emosi dengan baik, dengan cara dan di tempat yang baik pula.
Perasaan hangat dan nyaman saat membaca buku ini juga didukung oleh penampilan cover buku yang begitu tenang.
Membuatku langsung bisa berimajinasi ke dunia Chibineko, serasa berjalan langsung ke rumah makan di pinggir laut itu.
Aku menantikan banyak karya sastra seperti ini lagi, buku yang selain memberikanku ketenangan batin namun juga perasaan senang saat membaca setiap deskripsi makanannya.
BAB 1 - Kucing Tabi Bertotol Cokelat dan Rebusan Ikan Ainame
Bab ini menceritakan kisah kakak beradik Yuito dan Kotoko. Yuito adalah seorang kakak laki-laki yang selalu melindungi adik perempuannya yang bernama Kotoko. Yuito mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang aktor, saat itu Yuito memulai karirnya dengan pentas di teater. Awalnya kedua orang tua Yuito tidak setuju jika Yuito menjadi seorang aktor, akan tetapi karirnya melejit dan Yuito mulai terkenal, lalu kedua orang tuanya pun mendukung Yuito untuk menjadi seorang aktor. Selain Yuito, Kotoko juga suka dengan seni peran, tidak jarang ketika ia menemani kakaknya, Kotoko sering diminta menjadi figuran. Hal itu membuat ketua kelompok teater yang bernama Kumagai juga meminta suatu hari nanti agar Kotoko juga bisa tampil sebagai pemain utama, tidak hanya sebagai figuran belaka.
Suatu hari kecelakaanpun terjadi saat Kotoko hendak menyeberang jalan, Kotoko terluka karena jatuh menghantam aspal, akan tetapi Yuito justru meninggal karena... Lihat selengkapnya


