Buku URBAN THRILLER: EVERY… - JACQ | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

URBAN THRILLER: EVERY WRONG THING

    Deskripsi Singkat

    Mendadak terbangun seorang diri di kamar Oscar, Elna merasa seperti penderita amnesia. Dia tidak ingat bagaimana atau mengapa bisa berada di rumah kos pria yang dulu pernah dicintainya itu. Hari berikutnya, Elna baru tahu Oscar menghilang tanpa kabar dan itu membuatnya semakin kebingungan. Serentetan ancaman dan tindak penguntitan juga mulai… Baca Selengkapnya...

    Rp 64.000 Rp 32.000
    -
    +

    Mendadak terbangun seorang diri di kamar Oscar, Elna merasa seperti penderita amnesia. Dia tidak ingat bagaimana atau mengapa bisa berada di rumah kos pria yang dulu pernah dicintainya itu.

    Hari berikutnya, Elna baru tahu Oscar menghilang tanpa kabar dan itu membuatnya semakin kebingungan. Serentetan ancaman dan tindak penguntitan juga mulai mengganggu hari-harinya.

    Ke mana Oscar? Siapa yang membawanya ke kamar pria itu? Dan, mengapa Elna diincar?
     

    Tentang JACQ

    JACQ

    Jacq adalah perempuan kelahiran 1995 yang suka menulis sejak sekolah dasar. Dia menulis beragam genre; seperti yang telah terbit, romance dan daily-drama (Bintang Mika, 2014 dan Ask Me Like You Did, 2017), action-romance (Oregades, 2015), serta kisah fantasi di majalah dan antologi bersama. Jacq selalu punya kesukaan terhadap hal-hal berbau thriller.

    Jacq dapat ditemui di:

    Instagram: @jacq789
    Twitter: @jacqqq9
    E-mail: [email protected]
    Blog: jacq9.blogspot.co.id




    Keunggulan Buku

    “Tidak mudah memercayai tokoh-tokoh di novel ini karena bisa-bisa kita malah terjebak di dalamnya.”
    —Ruwi Meita, penulis novel Misteri Patung Garam dan Carmine
     

    Resensi

    Every Wrong Thing dan Kisah Penuh Misteri di Baliknya

    Kemungkinan besar, Every Wrong Thing adalah naskah yang proses penulisannya akan paling kuingat kelak saat aku sudah tidak bisa menulis. Bagaimana tidak? Ini berawal dari kompetisi ide cerita dan sinopsis. Ketika punyaku alhamdulillah terpilih menjadi salah satu finalis oleh Penerbit Noura Books, rasanya sungguh membahagiakan. Seperti sudah memenangi sesuatu, meski baru satu tahapan. Setelah itu, ada masa voting, dan aku sangat berterima kasih kepada semua yang telah mendukung, memberikan suara mereka, menyebarkan, juga mendoakan. Karena orang-orang itulah—karena kalianlah—Every Wrong Thing mulai kutulis.

    Perjalanan selanjutnya juga bagian dari pengalaman tak terlupakan. Momen ketika aku menulis Every Wrong Thing—(biasanya) dua hari per minggu, agar punya bab baru untuk diunggah ke Wattpad Noura Publishing setiap Jumat. Proses menulis dan mengunggah di Wattpad ini berlangsung dari April hingga Agustus 2018. Kehadiran serta komentar pembaca benar-benar memberiku semangat untuk menulis. Akhirnya, draf pertama Every Wrong Thing selesai pada September 2018. Beberapa bulan kemudian, ada bagian-bagian yang kutambahkan atas permintaan editor.

    Keseluruhan proses ini merupakan hal baru bagiku dan bukan sesuatu yang mudah. Namun, terasa menyenangkan bisa begitu dekat dengan Elna, Oscar, Prama, serta tokoh-tokoh lainnya. Mereka punya kisah thriller berlatar kota—terkhusus perkantoran—dan bertabur bumbu romansa, yang tidak akan tinggal diam kalau aku tidak lanjut menuliskannya.

    Aku selalu punya tempat khusus untuk hal-hal berbau thriller. Aku pernah menulis genre ini sebelumnya dan menikmatinya. Jadi, ketika menulis Every Wrong Thing, aku berdekatan dengan film, serial televisi, serta novel berunsur thriller. Tentu, aku menikmatinya. Ini agar vibe yang kurasakan, di sekitarku dipenuhi hal-hal menegangkan. Saat itu, banyak tontonanku mengisahkan cerita detektif ataupun bacaan misteri kontemporer.

    Elna memang bukanlah seorang detektif. Namun, demi mencari Oscar, dia harus berusaha menemukan jejak-jejak yang tersisa. Dan, ini justru membawanya ke dalam bahaya.
    Every Wrong Thing akan membawa kita kepada hal-hal yang salah, tokoh-tokoh mencurigakan, kejadian membahayakan, dan membuat kita tegang di kursi ketika membaca.

    Di Instagram-ku (@jacq789), aku mengatakan bahwa aku adalah “a heart-breaker author”. Aku penulis yang akan membuatmu patah hati lewat tulisanku. Kurasa, itu semacam spesialisasi. Setiap genre yang kutulis, fantasi; thriller; action; romance; slice of life, ada saja bagian yang menyakitkan bagi pembaca—seperti yang mereka bilang kepadaku—dan juga menyakitkan bagiku ketika menulisnya. Aku ikut sedih ketika karakter di novelku merasa sedih. Begitu pun ketika aku membaca ulang bagian tersebut, seolah bisa kurasakan betapa sakitnya mereka.

    Di Instagram, aku juga beberapa kali bilang bahwa setiap karyaku bisa saja menyimpan sedikit bagian dari diriku yang nyata. Begitu pula Every Wrong Thing. Novel urban thriller ini menyimpan suatu bagian dari memoriku. Tidak penting sekecil apa pun itu, tetapi memang ada di sana. Sebuah masa lalu yang kukunjungi ulang agar bisa kutuliskan. Tentu dengan membuatnya “lebih” lagi dari apa yang sesungguhnya terjadi.

    Lantas, apa yang menginspirasi Every Wrong Thing?

    Hal ini terjadi di kantorku, sebagaimana latar tempat utama novel Every Wrong Thing. Suatu ketika, seorang rekan kerja tiba-tiba tidak masuk lagi. Dia mengundurkan diri. “Hilangnya” dia yang tiba-tiba ini memicu hilangnya Oscar di Every Wrong Thing. Oscar hilang, tetapi bukan karena mengundurkan diri. Keberadaannya tidak diketahui. Entah di mana. Membuat Elna, orang yang terakhir bersamanya dan tidak mengingat kejadian itu, begitu cemas dan merasa tersudut. Elna dan Oscar pernah dekat, tetapi itu telah lewat. Ketika ternyata Elna satu kantor dengan Oscar, dia menghindari pria itu. Jadi, dia benar-benar tidak tahu mengapa dirinya bisa terbangun di kamar Oscar dan pria itu tak bisa ditemukan di mana-mana. Tidak pula esoknya di kantor. Ataupun esoknya, dan esoknya lagi.

    Inspirasi “hilangnya” teman itu kugabungkan dengan hal-hal lain yang menginspirasi. Hal-hal tersebut membuatku merasa teberkati karena diberikan hal menarik dalam keseharianku. Juga, bersyukur.

    Sebetulnya, proses menulis Every Wrong Thing serta hal yang menginspirasinya, bisa dikisahkan dalam versi lebih panjang. Lebih rinci. Lebih jelas. Namun, seperti yang bisa kalian tangkap dari Instagram-ku juga, aku adalah penulis misterius. Jadi, biarkan kisah-versi-lain itu tetap di tempatnya, menjadi misteri.

    Namun, jika kalian begitu penasaran, mencoba menanyakannya kepadaku juga patut dicoba. Mungkin, bila beruntung, saat itu aku sedang tidak menjadi Jacq yang Misterius.

    Selamat bertemu Oscar (jika kalian bisa menemukan sosoknya yang hilang), Elna (yang harus mencari Oscar tetapi ikut terseret dalam bahaya), Prama (si Mentari yang kerap membuatmu bertanya-tanya), dan orang-orang mencurigakan lain!

    Cheers,
    Jacq[]

    NUKILAN
    A Thing at the Locked Room

    Februari 2018

    Di mana ini?

    Gelap.

    Glenna Darmadi bergerak hati-hati. Dia menyingkap selimut, tapi itu bukan miliknya. Ini bukan ranjangnya. Suara kasur yang berderit pelan membuatnya terlonjak. Perlahan, Elna memijak lantai, kemudian mencari tombol lampu. Matanya menangkap keberadaan meja di dekat pintu. Ada laptop di atas meja persegi panjang tersebut. Hanya itu.

    Dia meraih gagang pintu, menariknya ke bawah. Tak terjadi apa-apa. Pintu itu tak terbuka.

    Elna menahan napas, berbalik, berusaha melihat seisi kamar. Ada pintu di sisi kiri, yang sepertinya menuju kamar mandi.

    Kenapa?

    Kenapa aku di sini?

    Dia menggali ingatan. Apa yang sebelumnya dia lakukan? Ke mana dia pergi begitu meninggalkan tempat kosnya? Bertemu siapa?

    Tidak.

    Pikirannya kosong.

    Dia hanya ingat kemarin Jumat, libur Imlek, mengawali libur panjang akhir pekan. Seingatnya, dia tak ke mana-mana. Namun, kepalanya langsung berdenyut. Mengapa kini dia meragukan ingatannya sendiri? Dia merasa pergi dengan seseorang. Seorang pria.
    Elna mengenalnya. Tidak. Sekarang dia ragu. Benarkah dia mengenal orang itu? Lalu, bagaimana bisa dia berakhir di tempat ini?

    Elna mengernyit merasakan sakit di kepalanya. Dengan sentakan keras, dia mencoba membuka pintu lagi. Lagi. Lagi. Pintu tetap bergeming. Dia merogoh jinsnya dan, benar saja, dia tak menemukan ponselnya. Dicari-carinya benda itu di lantai dan di atas kasur. Tak ada. Diangkatnya selimut, kalau-kalau ada benda yang terselip kemudian terjatuh. Nihil.

    Saat itulah dia menyadari di sisi tempat tidur ada jendela kecil. Elna terlonjak. Dia mundur dengan cepat, memberi jarak sejauh mungkin hingga punggungnya menabrak pinggir meja.

    Barusan ada bayangan. Berkelebat di luar jendela.

    Elna mengerjap. Napasnya memburu.

    Pelan-pelan, masih menjauh dari jendela, dia membuka pintu di sebelah kiri. Ada kloset. Jadi benar, ruangan itu adalah kamar mandi. Dicobanya tombol lampu. Tak menyala.

    Melihat penataan kedua ruangan itu, Elna merasa tahu siapa yang tinggal di sini.

    Apakah Elna menghabiskan waktu dengannya? Dan berakhir di sini? Jika itu terjadi beberapa tahun silam, mungkin saja. Namun, dengan hubungan mereka saat ini? Nyaris tak mungkin.

    Di mana ponselnya?

    Dan, mengapa orang itu tak di sini?

    Elna menahan napas. Yang di jendela tadi mungkin hanya burung. Karena jika ini memang kamar orang itu, seharusnya tak ada balkon. Kamar ini terletak di lantai dua, dari tiga lantai yang ada. Tak mungkin ada orang di luar.

    Benar, ‘kan?

    Dia mendekat kembali ke meja panjang dekat pintu. Ternyata, ada tumpukan kertas. Setelah dilihat-lihat dari jarak sangat dekat, ada banyak gambar persegi panjang dengan isi berbeda-beda. Sepertinya itu adalah coretan terkait pekerjaan.

    Elna menoleh sedikit, masih waspada terhadap jendela di belakangnya dengan alasan yang tak dia mengerti. Dia membuka laptop di meja. Di luar dugaan, layarnya memancarkan sinar dan menampilkan halaman untuk masuk. Elna belum terpikirkan kata sandinya, tapi melihat gambar latar yang terpampang—sosoknya sendiri, berdiri dengan rambut berkibar dan tebing dipenuhi pepohonan di belakangnya—dia kini yakin ini kamar siapa.
    Oscar Octavianus.

    Spesifikasi Produk

    SKU ND-408
    ISBN 978-602-385-959-7
    Berat 200 Gram
    Dimensi (P/L/T) 13 Cm / 20 Cm/ 0 Cm
    Halaman 236
    Jenis Cover Soft Cover

    Produk JACQ

















    Produk Rekomendasi