Buku Urban Thriller: Playing… - Eva Sri… | Mizanstore.com

(0) KERANJANG

Rp 0
Rp 75,650
15% Rp 89,000

Deskripsi

Berpura-pura menjadi korban, viral, dan musuh tersingkirkan. Tiga sahabat mencecap ketenaran dan terhanyut di dalamnya. Yang perlu mereka lakukan hanya mengunggah sesuatu di media sosial dan mendapatkan simpati netizen.

            Intensitas permainan semakin tak terbendung. Menjadi korban kekerasan, dibuntuti penguntit, hingga disiksa orangtua sendiri. Skenario diperankan dan saat plot mencapai puncak, mereka menyadari satu hal: netizen menginginkan sesuatu yang dramatis. Akhir yang tragis.

Untuk menjadi yang terbaik, beranikah mereka menghalalkan segala cara? Bahkan berkorban nyawa?

Spesifikasi

SKU  :  ND-403
ISBN  :  9786023858873
Berat  :  320 gram
Dimensi (P/L/T)  :  13 cm/ 20 cm/ 3 cm
Halaman  :  400
Tahun Terbit  :  2019
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Anisa                D
Anisa D 31-01-2026 19:18:27
Dilihat dari tahun terbitnya, ternyata buku ini ditulis hampir sekitar 8-9 tahun yang lalu, ya... dan konflik utamanya sampe saat ini masih sangat-sangat relatable: huru-hara selebgram atau influencer. Sering kan lihat konten-konten yang ngejar fyp pake bumbu drama & ragebait yang nggak jarang merugikan bahkan membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain? NAH. Kurang lebih itu yang dilakuin sama Isvara, Alfeen, dan Calya di buku ini. Awalnya, Isvara, Alfeen, dan Calya tuh influencer jalur viral perkara pura-pura pingsan waktu mapel olahraga. Apakah pas itu mereka bertiga viral karena dirujak netizen? Sesuai judulnya, jawabannya enggak. Justru, yang terjadi adalah sebaliknya alias mereka bertiga mendadak jadi seleb & punya banyak followers. Huru-hara dimulai ketika mereka bertiga (dengan seabrek problem masing-masing) jadi kecanduan validasi netizen dan rela ngelakuin apapun biar eksistensi mereka sebagai selebgram nggak redup. Hal itu berlanjut sampe jadi obsesi yang jatuhnya toxic, bahkan membahayakan nyawa mereka sendiri. Menurutku, buku ini... Lihat selengkapnya
Hirai Vii
Hirai Vii 21-01-2026 13:23:04
Saat membaca buku Playing Victim rasanya seperti mendapatkan ingatan bahwa kejadian tersebut sering ada di sekitar kita. Demi mendapatkan sesuatu yang menguntungkan seringkali kita bisa melakukan apapun tanpa takut konsekuensi maupun hukum karma yang akan dituai selanjutnya. Memang ada orang-orang yang kacau ketika pengikut media sosialnya menurun. Baginya yang terpenting adalah mendapatkan ketenaran di dunia maya untuk mendapatkan pengakuan kalau mereka terkenal. Bagaimana seseorang rela berpura-pura menjadi korban demi empati dan ketenaran bagaimana juga mereka akhirnya hidup ketergantungan dengan mencari empati orang lain untuk mendapatkan simpati dan angka pengikut. Dimulai dengan drama pura-pura sakit karena tidak terima atas hinaan dari guru olahraga mereka akhirnya banyak orang bersimpati dan menyoroti kehidupan ketiganya. Ketiga sahabat tersebut juga membuat janji untuk terus mendukung dan selalu ada apapun alasannya bahkan videonya juga diunggah ke akun sosial media masing-masing. Ternyata semakin bertambahnya followers membuat mereka melupakan janji itu dan fokus pada ketenaran serta tujuan masing-masing.... Lihat selengkapnya
Cindy Cecillia
Cindy Cecillia 06-01-2026 10:24:26
Banyak yang bilang dari seri Urban Thriller, cuma Dua Dini Hari-lah yang paling bagus. Iya sih memang bagus, aku juga mengakui itu. Tapi bukan berarti judul-judul lainnya tidak ada yang bagus lagi. Seperti buku ini contohnya. Awalnya aku skeptis dengan penamaan judul yang sangat klise dan simpel, sehingga aku sudah tidak menaruh harapan lebih kepada buku ini. Ternyata aku salah. Buku ini memberikan dampak yang sangat dramatis untukku selesai membacanya. Dimulai dari babak awal pertemanan tiga serangkai Afreen, Isvara, dan Calya yang sudah menampakkan bibit iri & dengki kepada satu sama lain. Penulis berhasil membuatku benci setengah mati di awal kepada karakter Isvara yang sangat lamban, plin plan, dan juga memiliki pemikiran bodoh. Penulis juga berhasil membuatku marah setengah mati kepada karakter Calya yang arogan, jahat, dan tone-deaf. Sepanjang membaca babak-babak awal hingga ke tengah konflik, aku harus menahan rasa amarah karena ingin (maaf) menoyor kepala 3 perempuan di buku... Lihat selengkapnya