Buku Big Ideas From… - The School… | Mizanstore.com

(0) KERANJANG

Rp 0
Rp 143,650
15% Rp 169,000

Deskripsi

Mengapa manusia percaya pada uang yang hanya berupa kertas—bahkan sekadar angka di layar? Mengapa aturan, negara, atau sistem yang kita jalani terasa begitu nyata, padahal semuanya lahir dari gagasan manusia? Di balik kehidupan sehari-hari yang kita jalani, tersembunyi ide-ide besar yang telah membentuk dunia selama ribuan tahun.

Melalui buku ini, pembaca diajak menjelajahi berbagai gagasan penting dalam sejarah dengan cara yang ringan, cerdas, dan membangkitkan rasa penasaran. Topik-topik besar yang sering terasa rumit dijelaskan dengan bahasa sederhana, ilustrasi menarik, dan contoh yang dekat dengan kehidupan kita.

Dirancang agar mudah dinikmati anak-anak namun tetap menggugah bagi orang dewasa, buku ini membuka pintu menuju pemahaman baru tentang dunia.

Satu buku, banyak kejutan intelektual—dan mungkin cara baru untuk melihat kehidupan.


 

ISI BUKU INI
                                                                                                            

PENGANTAR PENERBIT …. h. 10

PERKENALAN APA GUNA SEJARAH? h. 16

 

BAGIAN SATU PRASEJARAH
Bagaimana Awal Mula Alam Semesta? h. 28
Bagaimana Bumi Terbentuk? h. 30
Bagaimana Terjadinya Evolusi? h. 31
Pohon Silsilah (yang Sangat Besar)
Bagaimana Kita Menjadi Manusia? h. 39
Alat-Alat Pertama h. 44
Bagaimana Manusia Mulai Berbicara? h. 46
Kerabat Kita yang Hilang h. 29
Penyebaran Manusia ke Seluruh Dunia h. 52
Lahirnya Agama h. 56
Dari Pemburu dan Pengumpul Menjadi Petani h. 60
Terciptanya Uang h. 63
 

BAGIAN DUA SEJARAH KUNO
Pemikiran sang Buddha h. 72
Kenapa Orang Yunani Kuno Memiliki Banyak Dewa? h. 75
Belajar dari Pemikiran Kristiani h. 79
Kenapa Peradaban Terkadang Mundur? h. 83
 

BAGIAN TIGA ABAD PERTENGAHAN
Zaman Keemasan Islam h. 90
Hidup Manusia Zaman Dulu Sangat Singkat dan Sulit (Juga Menyakitkan) h. 94
Apa Guna Biara? h. 98
Cerita dari Peta-Peta Kuno h. 104


BAGIAN EMPAT AWAL DUNIA MODERN
Pemikiran Renaisans h. 110
Penyebab Kekalahan Bangsa Aztec h. 117
Orang-Orang Pribumi Amerika h. 126
Sejarah Singkat Penyakit Pandemi h. 133
Kenapa Ada Jutaan Orang Afrika di Benua Amerika?
Kapan Percetakan Ditemukan? h. 145

Manusia Menciptakan Ilmu Pengetahuan h. 150
Tentang Garpu dan Sumpit h. 141
(serta Perbedaan antara Tangga dan Bandul) h. 156
Awal Toleransi Beragama h. 167


BAGIAN LIMA INDUSTRIALISASI
Penemuan Bahan Bakar Fosil h. 176
Bencana Kelaparan (dan Masalah Baru, yaitu Makan Berlebihan) h. 182
Manusia Menaklukkan Malam h. 188
Lahirnya Perjalanan dan Kecepatan h. 193
Kisah Kota-Kota h. 197
Lahirnya Sistem Penghangatan Terpusat (dan Mandi Air Panas) h. 203
Belanja Semakin Populer h. 205
Bagaimana Pendidikan Berubah (dan Bagaimana Ini Mengubah Masa Depan) h. 211
Kenapa Banyak Orang Tak Lagi Taat Beragama h. 215
Munculnya Galeri Seni h. 218

 

BAGIAN ENAM DUNIA MODERN
Hak Pilih untuk Semua Orang h. 224
Pentingnya Perhitungan bagi Manusia h. 233
Perkembangan Berita h. 236
Pengaruh Iklan Semakin Besar h. 243
Diciptakannya Masa Kanak-Kanak h. 250
Apa Itu Komunisme? h. 255
Apa Itu Kapitalisme? h. 261
Hewan-Hewan h. 265
Penemuan DNA h. 271
Lahirnya Komputer (dan Kenapa Komputer Belum Bisa Membuat Tebak-tebakan Lucu) h. 275
Masalah-Masalah di Negara Kaya h. 281
Kemerdekaan di Benua Afrika h. 286
Sejarah Eksotis h. 292
 

BAGIAN TUJUH MASA DEPAN
Perlukah Kita Panik? h. 302
Yang Belum Kita Ketahui h. 306
Apa yang Akan Dilakukan Mesin-Mesin Masa Depan? h. 307
Bagaimana agar Semua Manusia Hidup Lebih Baik Bersama-sama? h. 312

 

INDEKS h. 323




 

Pengantar Penerbit


Sejarah yang Dekat, Mudah, dan Memikat: Untuk Anak-Anak dan Kita Semua

 

 

“Masa lalu menyerupai masa depan; (bahkan) melebihi kesamaan tetesan air dengan tetesan air lainnya.”

Ibnu Khaldun

 

Apa yang Anda bayangkan tentang sejarah? Apakah itu kumpulan peristiwa, tokoh-tokoh, dan tanggal-tanggal yang mesti dihafalkan? Jika benar begitu, sungguh disayangkan.

Saya mempunyai tiga orang putra: Nail (11 tahun), Kinnard (9 tahun), dan Zayn (6 tahun). Ketiganya sudah belajar sejarah di sekolah, sesuai dengan usianya masing-masing. Tapi, pola pelajaran sejarah di sekolah masa kini masih tidak jauh berbeda dengan yang saya alami ketika sekolah dulu: kumpulan peristiwa, tokoh-tokoh, dan tanggal-tanggal yang mesti dihafalkan. Maka, tak pelak, bagi mereka, sejarah terasa membosankan dan menjemukan.

Saya bertanya kepada Nail, “Sudah belajar sejarah apa saja di sekolah?”

Dia menjawab, “Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah.”

“Kenapa mesti hijrah?”

“Karena dikejar-kejar kafir Quraisy.”

“Kenapa dikejar-kejar?”

“Enggak tahu.”

“Apa lagi yang dipelajari?”

“Tentang Khulafaur Rasyidin.”

“Bagaimana dengan mereka?”

“Mereka pengganti Nabi dan aku disuruh menghafal nama-nama mereka, kemudian menyebutkannya di depan guru.”

Tugas berikutnya sampai kepada saya, bagaimana meyakinkan anak-anak bahwa sejarah sebenarnya pelajaran yang sangat menarik. Bagaimana caranya mengajarkan sejarah dengan cara yang asyik?

Ketika saya mendapatkan tugas untuk menyunting buku Big Ideas from History ini, semenjak beberapa halaman saja saya sudah dapat menyimpulkan, “Inilah pelajaran sejarah yang dibutuhkan anak-anak!” Buku ini menyajikan sejarah dengan pola pikir yang dibalik, yaitu menarik mundur apa yang kita alami dan nikmati hari ini ke masa lalu ketika aktivitas tersebut pertama kali dimulai. Buku ini tidak seperti buku sejarah lainnya yang memaparkan peristiwa di masa lalu dan baru kemudian menghubungkannya dengan peristiwa masa kini (beberapa bahkan sama sekali tidak menghubungkannya dengan kehidupan masa kini). Lebih jauh, buku ini juga mengajak kita untuk memahami berbagai peradaban yang ada di dunia sehingga kita bisa menjadi lebih toleran terhadap perbedaan.

Mari kita ambil beberapa contohnya. Semua orang di seluruh dunia saat ini menggunakan uang sebagai alat tukar pembelian. Tapi, apakah kita pernah memikirkan bagaimana asal mula uang digunakan? Atau, kenapa orang bisa memercayakan hartanya kepada uang yang hakikatnya hanya lembaran kertas?

Buku ini mengulas begitu banyak hal yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, tapi tanpa pernah kita ketahui asal-usulnya. Sesederhana kita menggunakan pakaian hari ini, tapi tanpa pernah tahu bahwa ketika teknologi pembuatan pakaian pertama ditemukan, itu mengubah gaya hidup manusia secara drastis dan menyeluruh.

Membaca buku ini membuat kita menyadari bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan peristiwa, tokoh-tokoh, dan tanggal-tanggal. Sejarah adalah sesuatu yang begitu dekat dengan kita. Saking dekatnya, sampai-sampai Ibnu Khaldun mengatakan bahwa antara sejarah dan masa kini bagaikan tetesan air yang saling menyerupai satu sama lain. Sejarah bukan sekadar dongeng, tapi begitu melekat dengan kehidupan kita saat ini.

 

Sentuhan Filsafat dalam Sejarah

Meskipun ini buku sejarah, nuansa filsafat di dalam buku ini begitu terasa. Ini tidak mengherankan karena para penulis buku ini, yaitu Alain de Botton dan John Armstrong (bersama tim The School of Life), adalah para filsuf asal Inggris. Baik de Botton maupun Armstrong sama-sama telah menulis banyak buku filsafat.

Buku “sejarah” ini tetap menyajikan ciri-ciri tulisan yang filosofis, seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar, reflektif, konseptual, analitis, kritis, dan kontemplatif. Maka, isi pembahasan sejarah buku ini juga mencakup tema-tema abstrak, seperti agama, toleransi, dan perdamaian; tema-tema abadi yang selalu melekat dalam kehidupan bermasyarakat.

Meski de Botton dan Armstrong memiliki latar belakang sebagai penulis buku filsafat dewasa, buku seri Big Ideas karya mereka memang didesain untuk pembaca anak-anak. Buku ini menggunakan kalimat dan kosakata yang mudah dicerna untuk anak-anak, juga disertai bahasa gaul yang akan terdengar akrab bagi mereka. Bukan cuma itu, buku ini juga kaya akan ilustrasi yang menghibur sehingga membaca buku ini, halaman demi halaman, terasa begitu mengasyikkan. Jadi, meskipun buku ini membahas tema-tema yang sebenarnya cukup berat, cara penyajiannya dibuat begitu ringan.

Ketika menyunting buku ini, saya dapat merasakan jerih payah para penulis. Di dalamnya terlihat keseriusan dan kerja keras mereka untuk menyelesaikan buku ini. Bagi para intelektual, menyajikan daya pikir dan imajinasi mereka kepada khalayak bukanlah pekerjaan mudah. Mereka dituntut untuk mampu menyampaikan ide-ide mereka dalam bahasa yang paling mudah dimengerti oleh kebanyakan orang. Albert Einstein pernah berkata, “… bahwa semua teori fisika, terlepas dari ekspresi matematisnya, seharusnya dapat dijelaskan dengan cara yang begitu sederhana, sehingga ‘bahkan seorang anak pun bisa memahaminya’.” Einstein seolah-olah hendak berkata bahwa jika tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, berarti Anda belum memahaminya dengan cukup baik. Inilah yang saya lihat di dalam buku ini, betapa para penulis sangat menguasai tema-tema yang mereka angkat sehingga buku ini menjadi begitu sederhana dan mudah.

 

 

Buku ini untuk Siapa?

Buku ini memang didesain untuk anak-anak. Walaupun demikian, ini sama sekali tidak mengurangi bobot manfaatnya bagi orang dewasa. Bahkan, bagi pembaca dewasa, buku ini tetap menyajikan pengetahuan-pengetahuan yang mind blowing. Kita, sebagai orang dewasa, sering kali tidak mengetahui pengetahuan-pengetahuan yang disajikan di dalam buku ini.

Manfaat lain dari buku ini bagi orang dewasa adalah sebagai bahan ajar, baik Anda sebagai orangtua di rumah maupun guru di kelas. Bagi orangtua, melalui bantuan buku ini, Anda dapat memulai percakapan dengan anak tentang benda-benda yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari ke dalam level pengetahuan yang lebih jauh, tapi dengan cara yang begitu mengasyikkan. Bagi guru—tidak sebatas pelajaran sejarah, karena rentang pembahasan buku ini begitu luas sehingga bisa digunakan guru mata pelajaran apa pun—Anda dapat menggunakannya sebagai inspirasi materi pelajaran.

Bagaimana dengan anak-anak? Mengutip Jostein Gaarder dalam Dunia Sophie, sejatinya setiap anak adalah seorang filsuf. Mereka gemar menanyakan atau mempertanyakan hal-hal paling mendasar, seperti apa ini, kenapa begitu, dari mana aku berasal, apa tujuan hidup kita, dan sebagainya. Bagi Gaarder, anak-anak adalah filsuf alamiah. Mereka tidak perlu diajari filsafat untuk menjadi filsuf. Namun, sayangnya, pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti itu—seiring bertambahnya usia—menjadi hilang. Dengan segala kesibukan, kita menjadi lupa dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tadi. Dengan demikian, buku ini adalah sebuah usaha untuk terus melestarikan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sebetulnya sangat bermanfaat untuk kehidupan anak-anak kelak ketika mereka dewasa nanti.

Akhir kata, selamat menikmat masterpiece ini.

 

Panji Haryadi
Editor

Spesifikasi

SKU  :  UB-515
ISBN  :  9786024414078
Berat  :  400 gram
Dimensi (P/L/T)  :  17 cm/ 23 cm/ 2 cm
Halaman  :  328
Tahun Terbit  :  2026
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Belum ada ulasan