Deskripsi
Australia, 2018. Ketika Samah Sabawi menemani ayahnya, Abdul Karim Sabawi, seorang penyair dan penulis Palestina yang telah renta, ia menyadari bahwa waktu perlahan menghapus ingatan sang ayah. Sebelum semuanya hilang, Samah meminta izin untuk menuliskan kisah hidupnya.
Dari sana, perjalanan membawa kita jauh ke Gaza pada awal abad ke-20, menyusuri kehidupan beberapa generasi keluarga Sabawi di bawah kolonialisme, beragam tragedi, Nakba 1948, pendudukan 1967, hingga pengasingan. Ada seorang nenek buyut yang hidup dalam kemiskinan, seorang ayah yang menemukan kekuatan dalam pendidikan dan perlawanan tanpa kekerasan, seorang ibu yang kehilangan anak-anaknya, hingga Karim, penyair yang tumbuh mencintai Palestina melalui bahasa dan sastra.
Melalui kisah keluarganya sendiri, Samah Sabawi menghadirkan potret sebuah bangsa yang berulang-ulang kehilangan rumah dan orang-orang tercinta, tetapi terus menemukan cara untuk mengingatnya. Cactus Pear for My Beloved menjadikan sejarah satu keluarga sebagai cermin perjalanan Palestina: tentang kehilangan, pengasingan, cinta, dan warisan ingatan yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Samah Sabawi telah menulis sebuah kisah tentang keberanian dan perjuangan. Kebesaran hatinya membuat kisah ini menjadi hadiah bagi kita semua: sebuah kisah tentang cinta kepada keluarga dan tanah air.”
—Tony Birch, penulis
“(Samah Sabawi) menghidupkan kembali masa lalu tentang ‘keluarga, cinta, dan tanah air’, sembari berhadapan dengan ‘trauma mengerikan akibat pengusiran dan kehilangan’.”
—Michelle Hamadache, The Conversation
Isi Buku
PROLOG: Baba — 13
1. Khadija — 23
2. Moftiya — 27
3. Syaikh Hussein — 37
4. Khadija — 49
5. Tuhan Yang Maha Pemurah — 62
6. Penyakit — 70
7. Ke Mana Perginya para Lelaki? — 80
8. Kegilaan, Junûn — 87
9. Napas, Nafs — 93
10. Senja di Atas Mandat Inggris — 100
11. Jalan Kaktus — 105
12. Al-Nakba — 121
13. Ritual Pendewasaan — 147
14. Pinjaman — 154
15. Perjalanan ke Sekolah — 162
16. Bocah, Pemuda — 170
17. Ibu-Ibu — 192
18. Kegetiran Jelang Dewasa — 206
19. Tuhan Maha Hidup — 222
20. Kemuliaan — 245
21. Souhailah — 255
22. Krisis Suez — 271
23. Nasser — 290
24. Cinta — 298
25. Rasa Memiliki — 339
26. Surat Kabar Berita Palestina — 363
27. Kota yang Hilang — 379
28. Sastra Perlawanan — 399
29. Saudara Seperjuangan — 411
30. Al-Naksa, Kemunduran — 424
31. Penghapusan — 438
EPILOG: Cerita yang Kita Pilih untuk Dituliskan — 444
CATATAN PENULIS — 449
SUMBER-SUMBER — 453
DAFTAR BACAAN —455
UCAPAN TERIMA KASIH — 457
TENTANG PENULIS — 459
-------
PROLOG
BABA
QUEENSLAND, AUSTRALIA, 2018
Aku memarkir Camry tua milik ayahku di satu-satunya tempat parkir yang tersisa untuk penyandang disabilitas di luar Logan Shopping Centre. Aku mematikan mesin yang kelelahan itu, dan ia mencicit seolah berterima kasih sebelum akhirnya lunglai terdiam.
“Baba!”
Aku menyenggolnya.
Ia tidak menanggapi. Baba duduk di kursi penumpang, diam seperti gunung, tua seperti keabadian, rapuh seperti puisi. Wajahnya yang gelap dan bulat adalah bentang alam yang terjal, dipenuhi jejak air mata yang tak terhitung, dan garis-garis tawa yang gemilang. Matanya yang cokelat menyimpan ribuan kisah hanya dalam satu tatapan. Bibirnya bergerak mengikuti irama sebuah bait yang ia bisikkan seperti doa suci. Ia sedang berada di tempat lain. Ia selalu berada di tempat lain. Dan justru ketidakhadirannya yang terus-menerus itulah yang membuat kehadirannya semakin menakjubkan.
Aku tahu, lebih baik tidak terburu-buru. Aku menunggu.
Panas menumpas udara sejuk di dalam mobil. Kulitku terbakar oleh sinar tak kenal ampun dari matahari Australia yang menyengat menembus kaca depan.
“Bukan tanpa alasan mereka menyebutnya Sunshine State!” gumamku, sambil mengoleskan lagi lapisan tabir surya.
Baru beberapa detik berlalu, tapi udara sudah mulai terasa pekat dan lembap. Butiran keringat mengisi lekuk-lekuk di pipi Baba. Kaus golf merahnya menempel di perutnya, basah oleh keringat.
“Panas sekali di sini, Baba!” kataku, sambil menepuk-nepuk ketombe yang bertaburan di bahunya dan membetulkan letak topi matahari hitamnya. “Yallah Habibi,” aku memohon.
Ia menoleh dengan jengkel. Butuh beberapa detik sampai matanya kembali fokus, seolah-olah ia sedang menyeret dirinya keluar dari dunia yang jauh. Namun, ia akhirnya kembali di sini, dan ketika itu terjadi, dengan gaya khas Baba, ia langsung masuk ke dalam perannya.
“Pertama,” katanya dengan suara teatrikal, “ambilkan kuda setiaku.” Ia menunjuk ke luar jendela, ke deretan troli belanja terdekat. “Pilih yang kokoh agar aku bisa menerjang medan perang dengannya!”
“Troli belanja?”
“Ya.”
“Tapi Baba,” kataku sambil menyeka riasan wajahku yang meleleh. “Alat bantu jalanmu jauh lebih cocok sebagai tunggangan. Fisioterapis bilang sebaiknya Baba .…” Ia melotot, tapi aku tetap melanjutkan, “… sebaiknya Baba selalu menggunakan alat bantu jalan itu. Alat itu memberi penopang yang Baba butuhkan. Aku akan mengambilkannya. Ada di bagasi.”
“Tidak ... biarkan tetap di sana,” katanya bersikeras. “Alat bantu jalan? Kau ingin teman-temanku mengira aku sudah tua?” Ia berpura-pura marah dengan senyum jahil, dan pada detik itulah aku melihatnya. Aku benar-benar melihat dia. Pejuang yang terluka, yang meneguk duka kehilangan dan menumpahkan lukanya ke dalam bait-bait yang memikat. Pengembara yang menjelajahi setiap sudut dunia demi mencari tempat pulang. Pengungsi Palestina yang lapar, yang menelan gurun Arab dan akhirnya berlabuh di pesisir Australia. Aku melihatnya—penyair, revolusioner, pengusaha, peternak domba di Australia, dan sekarang, penerima tunjangan pensiun lansia. Itulah dia! Aku melihat seluruh dirinya. Baba-ku. Dan hatiku, seperti riasan wajahku, ikut meleleh.
Aku menyerah. Di usia lima puluhan, aku jadi jauh lebih memahami kebutuhan untuk menyembunyikan tanda-tanda penuaan, sekalipun jika harus mengorbankan kenyamanan. Rasa gengsi, seperti puisi, memang mengalir dalam darah keluarga kami.
Aku mengambil troli dan membantunya keluar dari mobil. Mula-mula ia bersandar padaku, lalu menumpukan berat tubuhnya ke troli. Butuh beberapa menit baginya untuk menyesuaikan keseimbangan, perlahan meregangkan satu kaki, lalu kaki yang lain, sebelum menggeser kakinya yang bersandal di atas aspal panas, rahang terkatup rapat dan punggung ditarik setegak mungkin.
Setengah jalan menuju pintu masuk, sebuah erangan pelan lolos dari bibirnya. Ia cepat-cepat menghapus rasa sakit dari wajahnya dan memaksakan senyum sambil melirik ke samping, malu kalau-kalau aku mendengar erangannya. Aku berpura-pura tidak mendengar.
“Baba benar,” kataku. “Troli ini membuatmu tampak setidaknya dua puluh tahun lebih muda.”
Ia menyeringai.
Kami berjalan masuk ke dalam mal. Aku takjub betapa populernya dia.
Seorang pria Kaukasia bergaya hipster dengan janggut terawat rapi, berdiri di depan kios tukang cukur, tersenyum dan melambaikan tangan. “Hari yang indah, George!”
Tak lama kemudian, seorang perempuan pirang energik berusia sekitar enam puluhan, dengan riasan lengkap dan rambut yang baru ditata, mengedipkan mata kepadanya.
“George,” katanya dengan suara serak, “aku mengikuti saranmu dan menaburkan sumak di ikan masakanku.” Ia meletakkan tangannya di bahu Baba dan berbisik cukup keras sehingga aku bisa mendengarnya, “Bagaimana kalau kau datang ke rumahku malam ini? Aku bisa menunjukkan betapa piawainya aku melakukan itu.”
YA TUHAN! Aku berteriak dalam hati. Apakah dia sedang merayu ayahku?
Aku menyembunyikan keterkejutanku. Baba tidak menyembunyikan kegembiraannya.
“Tentu,” ia tertawa lepas, lalu menambahkan dengan cara yang sangat dramatis, dan dengan aksen kentalnya yang paling menawan, “tapi kau harus berjanji tidak akan memanfaatkanku. Aku ini pria yang sudah menikah!”
Perempuan itu cekikikan dengan senang hati sambil melenggang pergi, meninggalkan aroma parfum bunganya di udara.
Beberapa langkah kemudian, seorang perempuan M?ori muda yang mengenakan seragam petugas keamanan mal tampak gembira melihatnya. “Selamat pagi, George!” Ayahku membalas sapaan itu dengan antusiasme yang sama.
Kami tiba di kafe favoritnya. Sepasang suami istri berusia sekitar tujuh puluhan, dengan rona kulit sehat khas Queensland, mengenakan kaus putih, celana pendek, dan sepatu lari yang serasi, segera bangkit dari tempat duduk mereka.
“George! Tepat waktu, seperti biasa. Kami menahan meja ini untukmu.”
Senyum menerangi wajah-wajah mereka yang tersengat matahari. Mereka menggeser kursi-kursi agar tidak menghalangi jalannya troli Baba dan menyerahkan meja itu, yang tampaknya seperti sudah menjadi ritual harian, sebelum melambaikan tangan untuk berpamitan.
Ayah menatapku dengan malu-malu, melihat ekspresiku yang kebingungan, saat ia perlahan menurunkan badannya ke kursi. “Kau lihat? Aku orang paling penting di sini,” ia membanggakan diri. “Semua orang mengenalku!”
“Jelas,” sahutku cepat, “mereka sama sekali tidak tahu apa-apa.”
Aku merasa gelisah, kesal—bahkan marah. Itulah ayahku, terasing di ujung bumi, bersandar pada troli belanjanya setiap hari di mal kota kecil ini, berpura-pura menjadi orang lain. Berpura-pura menjadi George. George! Seorang imigran non-Arab, non-Muslim, yang menutupi aksen kentalnya dengan selera humor yang baik dan pesona yang luar biasa.
Suara kewarasan berjuang menembus celah-celah amarah dalam pikiranku. “Mengapa tidak kau biarkan saja dia? Mengapa kau harus menyalahkannya?” George bisa diterima di tempat-tempat yang tidak bisa menerima Abdul Karim.
Aku menarik napas dalam-dalam, menahannya beberapa detik, lalu mengembuskannya. Aku tahu, apa yang akan kutanyakan setelah ini, begitu terucap takkan bisa ditarik kembali. Ayahku akan terus menggenggamnya, dan tak akan melepaskannya. Namun, saat ini aku lebih yakin daripada sebelumnya akan urgensi permintaanku, ketika kulihat serpihan-serpihan sejarah kami meluncur dari sela-sela jemari gemetar lelaki tua yang menyebut dirinya George ini, lalu jatuh berserakan seperti butiran debu di atas ubin mengilap pusat perbelanjaan yang tak mengesankan ini.
Baba memesan secangkir cappuccino dan aku memesan muffin blueberry. Kami duduk saling berhadapan di meja. Aku mulai memaparkan gagasanku.
“Kau ingin menuliskan kisahku?”
“Aku ingin Baba menjadi subjek penelitianku untuk ...,” sebelum aku menyelesaikan kalimatku dan mengucapkan kata Ph.D., ia meraih muffinku dan menggigitnya besar-besar. Aku terdistraksi. Aku ingin memprotes. Aku ingin bilang, “Jangan makan gula—kau kan penderita diabetes!” Tapi, sudah terlambat. Baba telah menelan potongan itu bulat-bulat. “Tidak perlu diperdebatkan, Samah,” kataku pada diri sendiri.
Aku memperhatikan Baba meneguk cappuccinonya untuk menelan camilan manis itu. “Aku akan mempertimbangkan proposalmu,” katanya sambil mengangguk. “Lagi pula, kau ini seorang penulis—dan kisahku adalah cerita terbaik yang akan pernah kau tulis.”
“Sebenarnya, Baba,” godaku, “aku yakin aku bisa menemukan cerita-cerita yang lebih bagus kalau aku mau.”
“Omong kosong.” Baba tertawa dan meraih sisa muffinku. Aku menyerah.
“Kenapa kau tidak menanyakan sejak dulu? Aku sudah terlalu tua untuk menikmati ketenaran.”
“Kau sudah cukup terkenal. Khalas. Semua orang mengenalmu di kampung halaman.”
“Ya, tapi di sini mereka hanya mengenal George.”
Keheningan panjang terbentang di antara kami sebelum ia berbicara lagi. Kali ini wajahnya tampak tabah. “Kau ingin merekonstruksi hidupku dengan kata-katamu?” Tatapannya menembusku, seolah menimbang nilai diriku, baik sebagai anak maupun sebagai penulis. Aku tersenyum dengan penuh percaya diri.
“Kepercayaan yang kau minta itu tidak kecil. Kau ingin aku membuka kembali luka-luka lamaku dan membiarkanmu mengorek-ngoreknya?”
“Aku akan berhati-hati, Baba—dan ini akan menjadi terapi untukmu. Kita akan menghabiskan banyak waktu bersama. Ini akan menyenangkan.”
“Kau ingin menyuapku dengan perhatianmu?”
“Kau memang selalu mendapatkan perhatianku, jadi apa salahnya jika aku juga mendapatkan sesuatu sebagai gantinya?”
Ia tertawa, lalu menimbang-nimbang usulan itu. Ketika ia terlalu lama tidak memberikan jawaban, aku menghadap kannya dengan kata-kata yang jujur.
“Baba, kau sudah memakan muffinku. Kau berutang padaku.”
Ia tertawa dan mencoba duduk tegak di kursi, tapi seberkas rasa sakit melintas di wajahnya. Rasa kesal menguasainya. Suasana hatinya berubah.
“Aku bukan buku tua yang terbuka dengan halaman halaman yang rontok dan tinta memudar yang perlu dicetak ulang.”
“Tentu saja bukan.”
“Aku bukan bangunan telantar dan reyot yang perlu dipugar.”
“Aku tahu, Baba. Aku berjanji. Aku akan menjaga kisah kisahmu—sebenarnya, kisah-kisah kita.”
“Aku harus memeriksa transkripmu.”
“Itu sudah jelas.”
“Para penulis selalu membuat janji sebelum mereka mulai menulis. Begitu kata-kata tertuang di atas kertas, kata-kata itu tumbuh menjadi dunia, dan dunia itu membukakan beragam kemungkinan tempat godaan mengintai, dan rahasia-rahasia tersembunyi yang menunggu untuk diungkapkan.”
“Aku berjanji tidak akan menyakitimu ataupun orang lain. Aku akan menyisipkan tokoh-tokoh fiktif di tempat-tempat di mana orang-orang nyata memilih untuk tidak disebutkan namanya. Aku akan setia pada peristiwa sejarah dan pada kisah pribadimu sendiri. Aku ....” Aku mulai menceritakan kepada ayahku tentang mata kuliah etika yang harus kami ikuti sebelum memulai penelitian, tentang apa artinya baginya menjadi subjek penelitianku— hak-haknya, tanggung jawabku. Aku menjelaskan bagaimana aku akan menggunakan teori sudut pandang dan kesaksian lisan untuk mengeksplorasi trauma, tetapi ia mengangkat kedua tangannya untuk menghentikanku.
“Kau tahu, tidak perlu berusaha terlalu keras untuk meyakinkan seorang pencerita agar mau menceritakan kisahnya.” Ia meraih tanganku dan menggenggamnya. “Aku ingin melakukan ini. Pertanyaan yang sedang kuhadapi saat ini adalah kisah mana yang akan aku ceritakan kepadamu, dan kisah mana yang akan kau tulis?”
“Bagaimana rasanya tumbuh besar di Gaza? Mengapa kau pergi? Aku ingin menulis tentang perjalananmu menuju pengasingan.”
“Perjalananku menuju pengasingan?” Ia tertawa terbahak-bahak. “Ha! Pengasingan bukanlah sebuah perjalanan. Perjalanan dimulai dari suatu tempat dan bergerak menuju sesuatu. Pengasingan menolak membawaku ke mana pun selain ke pengasingan itu sendiri.”
Aku ingin merekam setiap kata yang ia ucapkan. “Baba?” Aku mengeluarkan ponselku. “Bolehkah aku merekam percakapan kita mulai dari sekarang?”
Ia mengangguk.
“Jika engkau menuliskan kisah hidupmu sendiri, Baba, di mana ceritamu akan dimulai?” “Akan kukisahkan kepadamu di mana ceritaku tidak dimulai. Cerita itu tidak dimulai dengan kelahiranku, sebagaimana ia juga tidak akan berakhir ketika aku mati. Cerita-cerita itu kuat dan bermakna hanya jika dirangkai bersama. Kisahku adalah bagian dari sebuah anyaman permadani, ia bukan milikku seorang. Jika kau menariknya keluar dari anyaman itu, ia akan terurai dan kehilangan maknanya. Apakah kau mengerti?”
“Aku mengerti, Baba. Aku mengerti!”[]
Spesifikasi
| SKU | : | QN-163 |
| ISBN | : | 9786024414184 |
| Berat | : | 440 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 13 cm/ 21 cm/ 3 cm |
| Halaman | : | 464 |
| Tahun Terbit | : | 2026 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Belum ada ulasan, jadilah yang pertama memberikan ulasan buku ini. Masuk untuk memberikan ulasan!


