Deskripsi
Tak pelak lagi, Syari‘ati adalah seorang pemikir Muslim kontemporer terkemuka yang—meminjam terminologi Al-Qur’an—bisa disebut sebagai ‘ulil-albâb. Kali ini—masih dengan gaya yang memikat dan efektif—Syari‘ati berbicara tentang kebudayaan, peradaban, dan peran sekelompok orang, yang disebut sebagai “intelektual”, di tengah percaturannya.
Syari‘ati, sebagai Muslim, mulai dengan menegaskan peran agama sebagai ideologi—suatu keyakinan yang dipilih secara sadar untuk memberikan respons kepada problem dan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar alat untuk melegitimasikan status quo.
Sang ‘ulil-albâb lantas menunjuk orang-orang yang bukan ilmuwan, filsuf, dan teknolog, melainkan sanggup membentuk kebudayaan dan peradaban—mereka itulah “intelektual” sejati, atau rausyanfikr menurut istilahnya. Dia pun menekankan pentingnya kaum intelektual Muslim untuk menghubungkan diri dengan massa, menentang kaum reaksioner dan membangkitkan Islam sebagai agama yang menentang penindasan dan ketidakadilan.
Pada akhirnya, Syari‘ati tak ragu-ragu untuk menempatkan diri sebagai lakon dalam sejarah perlawanan umat tertindas—dalam tulisan, tetapi juga dalam tindakan. Dia syahid demi kesetiaan pada keyakinannya.
Isi Buku
Ali Syari‘ati: Panggilan untuk ‘Ulil-Albâb — 9
Bab 1 Kebudayaan dan Ideologi — 37
Bab 2 Ideologi dan Kaum Intelektual — 89
Bab 3 Peradaban dan Modernisasi — 157
Bab 4 Tentang Nestapa Kaum Tertindas — 207
Indeks — 239
Tentang Penulis — 245
-------
ALI SYARI‘ATI:
PANGGILAN UNTUK ‘ULIL-ALBÂB
Jalaluddin Rakhmat
Pada suatu pagi, 10 Muharram 61 Hijriah, dua pasukan yang tidak seimbang bertemu di Padang Karbala. Imam Husain dengan 72 pengikutnya berhadapan dengan 30.000 tentara Yazid. Cucu Rasulullah Saw. berdiri tegak di hadapan cucu Abu Sufyan. Seakan-akan kisah Badar diulang kembali. Beberapa saat kemudian Padang Karbala memerah karena darah. Tubuh-tubuh keluarga suci terkapar bergelimpangan. Kuda-kuda musuh dengan garangnya menginjak tubuh-tubuh para korban. Menjelang sore, peperangan dramatis itu berakhir. Dengan penuh kepuasan, Yazid dan pasukannya meninggalkan potongan-potongan tubuh manusia di padang itu. Dan kepala Husain yang terpotong itu, beserta para tawanan wanita yang terbelenggu dibawa oleh pasukan Yazid.
Tiap 10 Muharram, orang Syi‘ah memperingati peristiwa Karbala ini. Rakyat, di dusun dan di kota, merekam kembali peristiwa itu. Mereka berkumpul di suatu tempat terbuka. Kisah penderitaan Husain dibacakan dengan penuh perasaan sehingga penonton terisak menangis. Rowzeh-Khani, atau pembacaan kisah Husain, kemudian dilengkapi dengan iring-iringan manusia dan teater massal yang disebut ta‘ziyeh. “Para pejalan kaki melakukan berbagai tindakan penghukuman diri, pedang dan pisau berjatuhan di dahi mereka hingga darah tersembur dan rantai-rantai tajam beracun memukuli tubuh mereka. Banyak yang berjalan dengan tombak menusuk daging mereka. Seluruh acara diiringi dengan lagu-lagu kematian. Penonton berjejer sambil meraung-raung dan memukuli dada”, begitu ujar Chelkowski, seorang pengamat Amerika.
Yang lolos dari pengamatan Chelkowski ialah masuknya suatu kesadaran sejarah dalam hati orang-orang Syi‘ah yang menyaksikan acara itu. Sepuluh Muharram menjadi benang sejarah yang menghubungkan mereka dengan warisan ruhani masa lalu, tetapi juga dengan harapan pada masa yang akan datang. Pertarungan kebatilan dan kebenaran, kezaliman dan keadilan, penindasan dan perlawanan, perlahan-lahan merasuki jiwa mereka. Dengan perspektif itulah, mereka memandang sejarah umat manusia. Dengan perspektif itu pula mereka membentuk kehidupannya.
Kesadaran sejarah ini pula yang membersit ketika pada 10 Muharram 1398 H (1978) jutaan orang turun ke jalan-jalan di Teheran, Iran. Yang paling depan memakai kain kafan, siap menyambut syahadah. Ketika senjata mesin menghujani mereka, kain kafan diwarnai cipratan-cipratan darah. Ribuan orang berguguran. Yang masih hidup membenamkan tangannya ke dalam darah yang tergenang di jalanan. Tangan-tangan yang belepotan darah mengacung disertai gemuruh teriakan Allahu Akbar. Suatu revolusi dimulai, revolusi yang melanjutkan Karbala. “Mihrab Syi‘ah adalah mihrab darah!”, “Dalam hidup Syi‘ah; setiap hari merupakan Asyura, setiap tempat menjadi Karbala”. Inilah semboyan-semboyan yang dikumandangkan dalam Revolusi Islam di Iran. Semboyan yang mengungkapkan kesadaran sejarah yang tertanam pada anak-anak Iran.
Dengan kesadaran sejarah ini, kita akan melihat lebih terang kehidupan dan pandangan Dr. Ali Syari‘ati. Syari‘ati merasa terikat secara emosional kepada ayahnya, yang meninggalkan gemerlapnya Teheran dan memilih padang pasir Kavir; kepada Ayn al-Quzat Hamadani, seorang sufi yang dibakar hidup-hidup karena mempertahankan keyakinannya; kepada Imam Husain dan imam-imam Syi‘ah lainnya yang terbunuh sebagai syuhada; kepada Ali bin Abi Thalib, yang disebutnya sebagai “telah mengorbankan hidupnya untuk menegakkan suatu mazhab pemikiran, persatuan, dan keadilan”; kepada Muhammad Saw., yang dilihatnya sebagai pembebas umat manusia dan pemimpin umat tertindas; bahkan kepada seluruh nabi dan rasul yang bangkit menentang tirani dengan memihak kelompok Mustazh‘afin.
“Pada hidup Syari‘ati bukan saja dibebankan amanat yang diwarisi dari nenek moyangnya, melainkan juga beban yang berat untuk mencari kebenaran dan keadilan yang dilahirkan sepanjang sejarah dan pada setiap zaman oleh mereka yang tertindas, terhina, dan teraniaya,” tulis Gholam Abbas Tavassoli ketika menguraikan sekilas riwayat hidupnya. Syari‘ati memandang hidupnya sebagai kelanjutan rentangan sejarah umat yang tertindas. Dia merintih di atas kuburan budak-budak belian yang terimpit balok batu ketika membangun piramida. Emosinya bangkit ketika dia bercerita tentang Husain melawan Yazid, Ali menentang Mu‘awiyah, bahkan ketika dia mendiskusikan filsafat sejarah yang terukir dalam kisah Qabil dan Habil.
Dengarkan apa yang dikatakan Syari‘ati tentang Habil:
Kelompok yang diwakili Habil adalah kelompok yang tertaklukkan dan tertindas; yakni, rakyat yang sepanjang sejarah dibantai dan diperbudak oleh sistem Qabil, sistem hak milik individu yang memperoleh kemenangan dalam masyarakat. Peperangan antara Habil dan Qabil adalah pertempuran sejarah abadi yang telah berlangsung pada setiap generasi. Panji-panji Qabil senantiasa dikibarkan oleh penguasa, dan hasrat untuk menebus darah Habil telah diwarisi oleh generasi keturunannya—rakyat tertindas yang telah berjuang untuk keadilan, kemerdekaan, dan kepercayaan teguh pada suatu perjuangan yang terus berlanjut pada setiap zaman.
Menurut Syari‘ati, para nabi Ibrahimiyah—yang dia bedakan dari nabi-nabi non-Ibrahimiyah seperti Confucius, Buddha, Zarathustra—adalah pelanjut perjuangan Habil. Nabi Ibrahim berdiri menghujah Raja Namrud. Nabi Musa membela Bani Israil yang lemah melawan Fir‘aun yang perkasa. Nabi Isa datang menggembirakan kaum fuqara dan melecehkan Kaisar. Nabi Muhammad Saw. duduk di samping orang miskin dan budak belian, lalu membimbing mereka ke arah kebebasan.
Para nabi, menurut Syari‘ati, adalah orang-orang yang lahir dari tengah-tengah massa (ummi), lalu memperoleh tingkat kesadaran (hikmah) yang sanggup “mengubah satu masyarakat yang korup dan beku menjadi kekuatan yang bergejolak dan kreatif, yang pada gilirannya melahirkan peradaban, kebudayaan, dan pahlawan”. Para nabi datang bukan sekadar mengajarkan zikir dan doa. Mereka datang dengan suatu ideologi pembebasan!
Sebagai pelanjut Qabil, Syari‘ati menyebut empat manusia yang dalam Al-Qur’an dilambangkan dengan Fir‘aun, Haman, Qarun, dan Bal‘am. Fir‘aun adalah penguasa yang korup, penindas yang selalu merasa benar sendiri, tonggak sistem kezaliman dan kemusyrikan. Haman mewakili kelompok teknokrat, ilmuwan yang menunjang tirani dengan melacurkan ilmu. Qarun adalah cerminan kaum kapitalis, pemilik sumber kekayaan yang dengan rakus mengisap seluruh kekayaan massa. Bal‘am melambangkan kaum ruhaniyun, tokoh-tokoh agama yang menggunakan agama untuk melegitimasikan kekuasaan yang korup dan meninabobokan rakyat. Pada setiap zaman, keempat jenis manusia ini selalu tampil sebagai pendukung status quo dan penentang perubahan sosial.
Dalam salah satu karyanya, Al-Husain: Sang Pewaris Adam, Syari‘ati menunjukkan bahwa Islam bukanlah ideologi manusia yang terbatas pada masa dan persada tertentu, melainkan merupakan arus yang mengalir sepanjang perjalanan sejarah, berasal dari mata air gunung yang jauh dan mengalir melintasi jalan berbatu sebelum mencapai laut. Arus ini tidak pernah berhenti, dan pada saat-saat tertentu, nabi-nabi dan para penggantinya muncul untuk mempercepat kekuatan arus itu.
Sekarang setelah para nabi tiada, siapakah yang berperan sebagai nabi? Siapakah yang melanjutkan perjuangan Habil? Siapakah yang harus berani menentang ketimpangan zaman, mencari cita-cita bersama, menciptakan cinta dan iman yang menyala di dalam jantung masyarakat tradisional yang korup dan beku? “Kaum, rausyanfikr”, kata Syari‘ati.
Rausyanfikr adalah kata Persia yang artinya “pemikir yang tercerahkan”. Dalam terjemahan Inggris terkadang disebut intellectual atau free-thinkers. Rausyanfikr berbeda dengan ilmuwan. Seorang ilmuwan menemukan kenyataan, seorang rausyanfikr menemukan kebenaran. Ilmuwan hanya menampilkan fakta sebagaimana adanya, rausyanfikr memberikan penilaian sebagaimana seharusnya. Ilmuwan berbicara dengan bahasa universal, rausyanfikr—seperti para nabi—berbicara dengan bahasa kaumnya. Ilmuwan bersikap netral dalam menjalankan pekerjaannya, rausyanfikr harus melibatkan diri pada ideologi. Sejarah, kata Syari‘ati dibentuk hanya oleh kaum rausyanfikr.
Mungkin terjemahan paling tepat untuk istilah rausyanfikr adalah kaum intelektual dalam arti yang sebenarnya. Kaum intelektual bukan sarjana, yang hanya menunjukkan kelompok orang yang sudah melewati pendidikan tinggi dan memperoleh gelar sarjana (asli atau aspal). Mereka juga bukan sekadar ilmuwan, yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka adalah kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah.
Memang, kata intelektual diberi bermacam-macam arti. Begitu beragamnya definisi intelektual, sehingga Raymond Aron melepaskan istilah itu sama sekali. Tetapi James MacGregor Burns, ketika bercerita tentang intellectual leadership sebagai transforming leadership, mengartikan intelektual seperti Syari‘ati menjelaskan kata rausyanfikr. Menurut Burns, ciri utama intelektual ialah a devotee of ideas, knowledge, values. Seorang intelektual ialah orang yang terlibat secara kritis dengan nilai, tujuan, cita-cita yang mengatasi kebutuhan-kebutuhan praktis. “By this definition the person who deals with analytical ideas and data alone is a theorist; the one who works only with normative ideas is a moralist; the person who deals with both and unites them through disciplined imagination is an intellectual”. Jadi, seorang intelektual ialah orang yang mencoba membentuk lingkungannya dengan gagasan analitis dan normatifnya. Menurut Edward A. Shils, dalam International Encyclopedia of the Social Sciences, tugas intelektual ialah “menafsirkan pengalaman masa lalu masyarakat, mendidik pemuda dalam tradisi dan keterampilan masyarakatnya, melancarkan dan membimbing pengalaman estetik dan keagamaan berbagai sektor masyarakat ....”
Pada masyarakat Islam, seorang intelektual bukan saja seorang yang memahami sejarah bangsanya dan sanggup melahirkan gagasan-gagasan analitis dan normatif yang cemerlang. Kata Syari‘ati, seorang intelektual harus juga menguasai ajaran Islam, seorang Islamologis. Untuk pengertian ini, Al-Qur’an sebenarnya mempunyai istilah khusus—‘ulil-albâb. Al-Quran dan Terjemahnya dari Departemen Agama Republik Indonesia mengartikan ‘ulil-albâb sebagai “orang-orang yang berakal”, “orang-orang yang mempunyai pikiran”—terjemahan yang tidak terlalu tepat. Terjemahan Inggris men of understanding, men of wisdom mungkin lebih tepat. ‘Ulil-albâb disebut enam belas kali dalam Al-Qur’an; dilukiskan sebagai orang yang diberi hikmah (QS Al-Baqarah [2]: 269), yang sanggup mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu (QS Yusuf [12]: 111), kritis mendengarkan pembicaraan atau ungkapan pemikiran orang (QS Al-Zumar [39]: 18), bersungguh-sungguh mencari ilmu (QS Âli ‘Imrân [3]: 7) dengan merenungkan ciptaan Allah di langit dan di bumi (QS Âli ‘Imrân [3]: 190) dan mengambil pelajaran dari Kitab yang diwahyukan oleh Allah (QS Shâd [38]: 29; Al-Mu’min [40]: 54; Âli ‘Imrân [3]: 7); sanggup sendirian mempertahankan keyakinannya dan tidak terpesona dengan bilangan yang banyak dalam kejelekan (QS Al-Mâ’idah [5]: 100); berusaha menyampaikan peringatan Allah kepada masyarakat dan mengajari mereka prinsip tauhid (QS Ibrâhîm [14]: 52); memenuhi janji kepada Allah, menyambungkan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk menghubungkannya, bersabar, memberikan infaq, dan menolak kejelekan dengan kebaikan (QS Al-Ra‘d [13]: 20-22); bangun tengah malam dan mengisinya dengan ruku‘ dan sujud di hadapan Allah (QS Al-Zumar [39]: 9) serta banyak berzikir (QS Âli ‘Imrân [3]: 190); dan terakhir, hanya takut kepada Allah saja (QS Al Baqarah [2]: 197; Al-Thalâq [65]: 10; Al-Mâ’idah [5]: 100; Al-Ra‘d [13]: 21).
Pada diri Syari‘ati, kita melihat sifat-sifat ‘ulil-albâb. Pada tulisan-tulisannya—yang sebagian besar berasal dari ceramah-ceramahnya—kita mendengar panggilan untuk ‘ulil-albâb. Ayah Syari‘ati adalah seorang alim besar, salah seorang pendiri gerakan intelektual Islam di Iran, guru besar, mujahid, dan pendiri “Pusat Penyebaran Kebenaran Islam” di Masyhad. Selama empat puluh tahun, Muhammad Taqi Syari‘ati berjuang untuk mengembalikan pemuda yang terdidik Barat ke pangkuan Islam, melepaskan mereka dari materialisme, pemujaan Barat, dan permusuhan pada agama. “Semua orang yang mengenal ayah Syari‘ati dan mengetahui berbagai dimensi kehidupannya—dimensi ilmiah, keagamaan, kemasyarakatan, politik, dan kemanusiaan—akan mengetahui pengabdiannya, kesabarannya dan kemampuan istiqamah-nya, serta pengetahuannya yang dalam.”
—G.A. Tavassoli
Ayahnya telah menjadi model ‘ulil-albâb. Bagi Syari‘ati, Seperti Zakaria kepada Yahya, Taqi Syari‘ati juga mewariskan kepada anaknya perjuangan pada kebenaran, kerinduan pada syahadah, dan keterikatan pada Islam.
Ayahku telah membentuk dimensi pertama dari jiwaku. Dialah yang pertama mengajarkan kepadaku seni berpikir dan seni memanusia. Segera setelah ibuku menyapihku, dia memberikan kepadaku kelezatan kebebasan, kemuliaan, kesucian, keteguhan, keimanan, kebersihan ruhani, dan kebebasan hati. Dialah yang memperkenalkan aku kepada sahabat-sahabatnya—buku-bukunya. Buku-buku itu telah menjadi sahabatku yang akrab dan abadi sejak tahun-tahun pertama masa sekolahku. Aku tumbuh dan berkembang di perpustakaannya, yang baginya merupakan seluruh kehidupan dan keluarganya. Banyak sekali hal yang seharusnya aku pelajari pada waktu dewasa dan dengan waktu yang lama serta perjuangan yang panjang, telah diberikan oleh ayahku, sebagai hadiah pada masa kecilku, secara sederhana dan spontan. Sekarang perpustakaan ayahku menjadi dunia yang penuh kenangan berharga bagiku. Masih dapat kuingat setiap bukunya, bahkan sampai bentuk jilidnya.
Gairahnya mencari ilmu menyebabkan dia belajar bukan saja di ruangan kelas. Di luar sekolahnya, dia sibuk belajar bahasa Arab dan Prancis sehingga sebelum masuk Universitas, dia sudah sanggup menerjemahkan buku-buku yang ditulis dalam kedua bahasa tersebut. Dia juga bekerja sebagai penulis filsafat sejarah pada “Mazhab Menengah” (Maktab-e Vasita). Dia aktif mengembangkan kegiatan Pusat Penyebaran Kebenaran Islam di Masyhad, sebagai penyelenggara dan penceramah sekaligus.
Pada masa pra-Universitas, dia sudah menunjukkan kedalaman pengetahuan dan kemampuan mengungkapkan pikiran secara jernih dan ekspresif. Dalam kata pengantarnya pada terjemahan Abu Dzar, dia sudah mengaitkan Islam dengan problem-problem sosial. Sejak dini, dia tidak puas dengan buku-bukunya saja, Sejak dini, dia sudah dirangsang untuk melihat ketimpangan masyarakat dan menawarkan Islam sebagai alternatif pemecahan masalah.
Ketika kemudian menjadi mahasiswa Fakultas Sastra, Syari‘ati menunjukkan daya kritisnya. Dia sering berdebat dengan dosen-dosennya. Sebagai ilmuwan, dia membaca buku, hatta buku-buku yang sudah tidak dihiraukan orang lagi. “Aku suka membaca sumber-sumber yang kuno ketika masih mahasiswa tingkat permulaan. Bahkan, para mullah tradisional sudah tidak membaca lagi buku-buku yang aku dalami pada masa-masa itu Mereka menganggapnya kuno, tetapi aku terus juga membacanya,” ujar Syari‘ati mengenang masa mahasiswanya. Di samping buku-buku Islam, dibacanya buku-buku sejarah, sastra, filsafat, sosiologi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya.
Sebagai intelektual, dia melatih dirinya terjun mendidik masyarakat. Dia mengajar pada beberapa sekolah menengah. Intelektual senantiasa merindukan teman. Dia mencari telinga yang mau mendengar. Dengan ilmunya, dia ingin membentuk zamannya. Karena itu, Syari‘ati juga aktif dalam gerakan politik, setelah kejatuhan pemerintahan Dr. M. Musaddiq. Kegiatannya di luar kampus inilah yang menyebabkan Syari‘ati harus menghuni penjara untuk beberapa saat.
Tahun 1960, dia berangkat ke Prancis untuk melanjutkan studi dalam bidang sosiologi. Prancis memberikan bukan hanya metode-metode baru dalam menganalisis masyarakat, melainkan juga informasi yang di negerinya sendiri tidak bisa diperolehnya. Empat tahun kemudian, dia pulang ke Teheran dengan gelar doktor, seorang istri dan dua anak. Iran menyambut ilmuwan ini dengan penjara selama enam bulan. Setelah mengakhiri masa tahanannya, Doktor ini kembali mengajar di sekolah menengah seperti dahulu. Entah karena kebetulan atau kesalahan, Syari‘ati diterima sebagai pengajar di Universitas Masyhad. Di sini dia memperoleh telinga-telinga muda yang mendengar kuliahnya dengan penuh minat. Gagasannya yang kontroversial, metode mengajarnya yang tidak konvensional, menarik ribuan mahasiswa. Ucapan-ucapan Syari‘ati menggelitik, mengusik, dan meresahkan. Ketika ada pendengarnya yang merasa Syari‘ati tidak memberikan jawaban yang lengkap, Syari‘ati menukas bahwa dia berbicara bukan untuk memberikan jawaban yang lengkap. Memang, dia bicara untuk mengguncangkan ketenangan intelektual, Ketika salah seorang di antara mereka menuding Syari‘ati sedang membuat teori, dia berkata, “Aku tidak mau berurusan dengan teori. Aku bukan tukang teori. Teori baik buat Universitas—tetapi tidak bagiku. Teori tidak membantu mencapai tujuanku.” Syari‘ati sebenarnya banyak melahirkan gagasan-gagasan yang cemerlang—yang boleh kita sebut sebagai teori. Tetapi teorinya bukanlah teori yang menantang penelitian, melainkan teori yang menimbulkan keresahan. Teorinya bukan proposisi ilmiah yang menuntut verifikasi. Teorinya memberikan perspektif untuk memandang masalah dengan cara yang baru. Itu memang bukan teori untuk orang Universitas.
Pihak Universitas bahkan memandang kuliah-kuliah Syari‘ati sebagai hasutan yang membahayakan rezim yang memerintah. Dia harus menghentikan kuliahnya dan dipindahkan ke Teheran. Di sini, di Husayniya-yi Irshad, sebuah institut keagamaan yang terkenal, dia memberikan kuliah-kuliah tentang Islam. Orang dari berbagai kalangan menikmati kuliahnya. Dia tidak lagi berbicara dengan kaum intelektual. Dia bicara dengan rakyat Iran. Seperti dapat diduga, Husayniya-yi Irshad ditutup dan sekali lagi Syari‘ati mendekam di penjara selama 15 bulan.
Setelah keluar dari penjara, walaupun diawasi dengan ketat oleh agen-agen rahasia Shah, dia masih juga memberikan ceramah-ceramah. Hidup Syari‘ati adalah hidup yang selalu bergejolak, bergerak, dan tak kenal lelah. “Saya tidak bisa diam, saya tidak tahan untuk tidak bicara. Saya bisa diam, tapi saya akan merasa seperti seseorang yang menanggung derita kematian, yang tahu bahwa kedamaian dan keselamatan menantinya, yang lelah dengan segala kesulitan hidup, seperti orang yang tidak punya pekerjaan apa-apa selain menanti yang tak kunjung selesai sepanjang hidupnya,” tulis Syari‘ati dalam Kavir. Seperti kata Burns, Syari‘ati adalah a devotee of ideas; atau, lebih tepat seperti sabda Rasulullah Saw., “Tidak henti-hentinya seorang mukmin berbuat baik, sampai dia berpisah dengan dunia”.
Suatu hari Syari‘ati datang terlambat. Ia meminta maaf:
Saya terlambat lagi dan saya mohon maaf, karena terlalu lelah dan kecapaian. Sebetulnya saya tidak ingin datang ke sini, tetapi gairah saya untuk melihat Anda dan “keresahan” dalam diri saya mendorong saya .... Seperti saya katakan kepada mahasiswa sastra kemarin malam, firasat saya tentang “kesementaraan” dan “ketidakpastian” masa depan saya tidak mengizinkan saya tinggal di rumah. Firasat atau realitas, atau apa pun yang saya simpulkan dari situasi sekarang menyatakan bahwa hidup saya tinggal beberapa hari lagi .... Saya tidak yakin pada masa depan saya. Saya pun tidak yakin dapat tinggal beserta Anda dan bicara lama .... Itulah sebabnya saya selalu berusaha berbicara sebanyak mungkin. Malam ini pembicaraan saya sangat kompleks. Karena tidak cukup waktu untuk membahas topik ini dengan baik, saya hanya akan menyentuh hal-hal yang umum.
Seperti sebuah khotbah wada, tidak lama setelah pertemuan ini Dr. Syari‘ati dibunuh di London oleh SAVAK, polisi rahasia Shah yang terkenal kejam.
Syari‘ati pergi, sebelum menyaksikan para ulama dan kaum intelektual memimpin massa rakyat untuk menumbangkan rezim yang perkasa; sebelum kaum rausyanfikr muda turun dari ruang kuliah mereka yang sejuk, menuju kampung-kampung rakyat miskin yang gersang, menyediakan perumahan, membangun perairan, membuka sekolah, menyebarkan kesadaran, atau yang mereka sebut dengan singkat: Jihad Sazandegi (Jihad Pembangunan); sebelum kaum ‘ulil-albâb terpanggil untuk menjalani rentangan sejarah yang pernah dilaluinya.
Hidup Syari‘ati, seperti pandangan-pandangannya, merupakan panggilan untuk ‘ulil-albâb. Untuk mereka ini, pesan Syari‘ati dapat dirangkumkan dalam beberapa kalimat seru:
Hai ‘Ulil-Albâb. Anda tidak boleh puas dengan ilmu-ilmu yang sudah Anda miliki. Ilmu itu harus Anda bawa ke tengah-tengah umat. Lanjutkan perjuangan para rasul. Hidupkan kesadaran diri pada masyarakat Islam untuk mengubah dunia dengan bimbingan Anda. Untuk melakukan tugas Anda itu, Anda tidak dapat belajar dari Barat, tidak juga berguru ke Timur, tetapi dengan memahami keyakinan dasar dan proses sejarah yang membentuk mereka. Pada akhirnya, tugas Anda ialah merobohkan masyarakat yang berdasarkan penindasan dan kezaliman dengan membentuk umat yang berdasarkan tauhid dan keadilan. Tugas itulah yang telah dilakukan para rasul sepanjang sejarah dan itu pula tugas Anda.
Dalam Kebudayaan dan Ideologi, Syari‘ati mengisahkan orang-orang yang bukan ilmuwan, bukan filosof, bukan teknolog, melainkan mampu menangkap “kesadaran diri manusiawi”, hikmah yang sanggup membentuk kebudayaan dan peradaban. Dalam Ideologi dan Kaum Intelektual, dia menegaskan kembali peran agama sebagai ideologi—yakni keyakinan yang dipilih secara sadar untuk memberikan respons pada kebutuhan dan masalah masyarakat yang terjadi. Agama sebagai ideologi bukanlah agama yang mempertahankan dan melegitimasikan status quo, melainkan yang memberikan arah kepada bangsa untuk mencapai apa yang dicita-citakannya. Dalam Dari Mana Kita Mesti Mulai, dia bukan saja mengkritik pemikir-pemikir pak turut, dia juga menegaskan betapa pentingnya kaum intelektual Muslim menghubungkan dirinya dengan massa, menentang kaum reaksioner, dan membangkitkan Islam sebagai agama jihad yang menentang penindasan dan menegakkan keadilan. Dalam Peradaban dan Modernisasi, dia mengkritik orang-orang yang meniru kebudayaan Barat tanpa kemampuan kritis sehingga menjadi budak-budak konsumsi dari industri Eropa:
“Manusia-manusia yang kehilangan latar belakang, terasing dari sejarah dan agamanya, asing terhadap apa yang telah dibangun oleh bangsanya, sejarahnya, dan nenek moyangnya di dunia ini; Terasing dari watak manusiawinya, satu kepribadian bekas yang mode konsumsinya telah diubah, yang pikirannya telah diubah, yang telah kehilangan pikiran-pikirannya yang berharga.”
Terakhir, dalam Tentang Nestapa Kaum Tertindas, Syari‘ati menempatkan dirinya sebagai seorang pelakon dalam sejarah perlawanan umat yang tertindas.
Syari‘ati menulis dan berbicara dengan rasio dan emosi sekaligus. Dia tidak bisa netral, pernyataannya tidak melulu informatif tetapi juga persuasif. Banyak orang yang terilhami pembicaraannya, banyak juga orang yang salah mengerti. Mungkin di situlah letak kebesaran Syari‘ati.
Is it so bad, then to be misunderstood? Pythagoras was misunderstood, and Socrates and, Jesus, and Luther, and Copernicus, and Galileo, and Newton, and every pure and wise spirit that ever took flesh. To be great is to be misunderstood.
—Emerson.
Spesifikasi
| SKU | : | UA-277 |
| ISBN | : | 9786024414153 |
| Berat | : | 200 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 13 cm/ 19 cm/ 2 cm |
| Halaman | : | 248 |
| Tahun Terbit | : | 2026 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Belum ada ulasan


