Deskripsi
Tasbih Kupu-Kupu: Jalan Cinta Makrifat Panji Sakti
oleh Muh Nur Jabir, Rumi Institute
Kematangan seorang “pejalan” dapat terlihat dari diksi yang digunakan. Bukan pada kata, tapi pada makna dan perkawinan kata-kata yang tak biasa, sebagaimana judul buku ini: Tasbih Kupu-Kupu. Perkawinan antara tasbih dan kupu-kupu membawa nalar kita terbang sejenak, lalu bertanya, tasbih kupu-kupu itu apa?
Sejujurnya saya tak paham musik dan lirik, juga tak paham puisi. Tapi yang saya tahu, Panji selalu berhasil membawa kita tenggelam, entah dalam lagu, lirik, maupun puisi-puisinya. Berulang-ulang kita menyaksikan konser Panji Sakti, tapi tak pernah bosan-bosan juga mendengarnya, seperti juga keberulangan yang ada pada lirik Kepada Noor:
Rindu mengekal menyebut nama-Mu berulang-ulang
Rindu mengekal menyebut nama-Mu berulang-ulang
Rindu mengekal menyebut nama-Mu berulang-ulang
Berulang-ulang
Berulang-ulang
Berulang-ulang
Berulang-ulang
Berulang-ulang
(“Kepada Noor” puisi karya M. Syarip Hidayat)
Meski tampak berulang-ulang tapi tak pernah berulang. Selalu berganti-ganti, dari Nama-Nya yang satu, menuju namaNya yang lain, meskipun berasal dari satu Nama. Keberulangan yang tak berulang-ulang inilah yang membuat kita tak pernah bosan dengan diksi-diksi Panji yang Sakti.
Yang saya pahami, Panji adalah seorang realis dalam berdiksi. Ia tak pernah menggunakan diksi yang tidak dialami atau dipahami. Semua karya-karya Panji, termasuk puisi-puisi dalam buku ini adalah hasil dari pengalaman ketenggelaman diri atau dari cawan makrifat Sang Guru:
Bolehkah aku berteduh
Di bawah pohon jiwamu
Menikmati semilir hakikat
Di bawah rindangnya zikir
Menikmati buah-buahmu
Yang segar ranum dan memabukkan
(“Sang Guru I” puisi karya Nurlaelan Puji Jagad)
Seperti dalam puisi “Tasbih Kupu-Kupu”, pengalaman bersama kupu-kupu membuahkan makrifat tasbih kupu-kupu. Kupu-kupu adalah simbol ruh yang telah melewati proses transformasi dari ulat yang merayap di tanah sebagai simbol dari jiwa yang rendah. Lalu ia masuk dalam kepompong sebagai proses tajalli, khalwat, tazkiyah, hingga akhirnya menjadi makhluk yang ringan, indah, dan dekat pada cahaya sebagai simbol dari jiwa muthma'innah (jiwa yang tenang).
Dalam bait-bait Rumi, kupu-kupu sering dimaknai sebagai ruh yang terbang, lalu menjadi tamu Ilahi. Sedangkan dalam puisi Panji Sakti, “bertasbih di keningmu” bermakna bahwa cahaya ruh sedang turun menyapa jiwa. Kening dalam puisi ini bukan sekadar bagian tubuh, tapi lambang sujud, zikir, dan tempat bersimpuh di hadapan Tuhan. Kupu-kupu bertasbih di kening, seakan zikir itu turun dari langit ke tempat paling sunyi dalam diri.
Terkait zikir, Rumi berpandangan, bahwa ketika zikir benar-benar meresap, maka bukan hanya lidah, tetapi seluruh tubuh dan bahkan pori-pori ikut bertasbih.
Puisi “Tasbih Kupu-Kupu” membawa kita pada kesadaran akan kefanaan. Belatung makan siang di kening bukan sesuatu yang menyeramkan, tapi simbol tazkiyah, penghilangan akan ke-aku-an. "Kalau boleh bersalin dalam pori-poriku...", penggalan puisi ini mengingatkan saya kepada sabda Rasulullah saw: "Matilah sebelum engkau mati." Kalimat tersebut menyiratkan harapan akan transformasi batin yang amat halus dan mendalam. "Bersalin" di sini bukan sekadar melahirkan, tetapi melepaskan lapisan lama dan menggantinya dengan yang baru, seperti ulat menjadi kepompong, lalu kupu-kupu. Hal itu semacam seruan untuk mati dari keakuan, mati dari hawa nafsu, mati dari ego yang selama ini membentuk identitas palsu.
Bagian puisi yang paling indah, ketika kupu-kupu menulis wasiat di kening, bahkan mencatat dalam buku harian, adalah sebuah gambaran tentang muhasabah, yakni catatan ruh terhadap kondisi batin yang sedang dialami.
Juga, bagian akhir puisi, menurut saya adalah pengalaman yang menakjubkan, saya tidak tahu apa yang sedang dialami oleh Panji waktu itu. Ia menggambarkan kupu-kupu panik dan terbang, serta si aku yang terisak. Apakah ini momen perpisahan dari keindahan jiwa atau momen kesadaran akan kekosongan batin yang selama ini tersembunyi, di mana tangisan lahir karena merasa jauh dari Tuhan adalah bentuk zikir yang paling tinggi
Seperti kata Rumi, tak usah mencari kekasih Tuhan di istana atau di silsilah. Carilah di taman hati yang berzikir, di tempat sujud yang basah, di mata yang menangis dalam rindu.
Akhir kalam, semua puisi-puisi di dalam buku ini adalah indah dalam keindahannya. Puisi-puisi Panji adalah jejak-jejak jalan cinta. Selamat membaca dengan cinta di jalan cinta. Kita semua berasal dari Cinta dan akan kembali ke Cinta.
Jalan Cinta
di jalan ini
kebisingan menjadi rezeki
kesakitan menjadi inti
diam tak mengumbar harga diri
oh jalan cinta
ajang pengorbanan
tiada monumen
dan tanda jasa
tanpa jadi bahan bicara
maka megah-megahlah jiwa
yang kemegahannya
menutup jalan-jalan kecewa
Dan yang paling akhir dari yang terakhir, selamat atas karyanya, Panji Sakti!
Sawangan, Depok
20 Juni 2025
Tasbih Panji Sakti
oleh Zaenal Muttaqin, Sahabat Seperjalanan
Puisi Panji itu personal, otentik dan spontan, ekspresi dari perjalanan yang digauli. Puisi Panji bukan semata jalinan kata-kata merdu, tapi laku diri yang dicurahkan dalam rima, matra dan melodi. Ia punya makna karena dibangun dari realitas nyata—meski yang nyata belum tentu yang kasat mata. Dan sekalipun sebuah ekspresi personal, puisinya bisa dicerna dan dikhidmati bersama karena mewakili pengalaman universal anak manusia.
Tidak ada makna yang lebih terang dari "Dosa Amatir". Setelah menghadirkan Dia di panggungnya, Panji menulis: "_pada lagu ketiga, dengan dingin kau penggal kepalaku!_" Ini adalah pengalaman personal. Tapi bukankah kita pun pernah mengecap racun pujian? Hanya saja bagi Panji itu dosa amatir, sementara bagi kita adalah dosa profesional. Keberanian Panji menghadirkan Dia di panggungnya telah membuat kepala kebesarannya terpenggal, sementara kita bahkan tidak berani menghadirkan Dia di ruang baca.
Puisi "Riyadhoh" adalah sebuah pengalaman otentik. Panji tampil apa adanya tanpa kosmetik. Tentu, tidak semua orang punya pengalaman riyadhoh, kecuali pernah bersentuhan dengan komunitas tarekat. Riyadhoh, yang secara harfiah artinya "latihan", dalam dunia tarekat dipahami sebagai latihan mati dari kehendak diri agar kehendak-Nya hadir, hingga "Jika aku telah mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang dengan itu dia mendengar, Aku menjadi matanya yang dengan itu dia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengan itu dia menggenggam, Aku menjadi kakinya yang dengan itu dia berjalan" (Hadits Qudsi).
Perlu disadari bahwa ini sebuah latihan seumur hidup, dan Panji sudah menjalaninya bertahun-tahun. Meski dibuka dengan dzikir "_Allah Allah Allah!_", pada larik-larik berikutnya kita dihadapkan pada kesadaran yang berlawanan: "_aku menghadapmu belum bisa, aku mengejarmu belum bisa, aku menyerumu belum bisa_." Ini adalah kesadaran otentik yang banyak dialami salik, para pejalan tarekat: Dia tak terkejar tak tertera.
Dalam satu ungkapan dari Imam Ali r.a. dikatakan: "Manusia itu tertidur, ketika mati barulah mereka terbangun." Ini adalah cerminan kebanyakan kita, anak manusia. Namun, jika bisa mati sebelum mati maka jiwanya akan bangun sebelum ajal. Karena yang tertidur itu sejatinya adalah jiwa manusia: tertidur karena kita gemar mengikuti kehendak diri sendiri sehingga kerap salah laku salah ucap.
"Tasbih Kupu-Kupu" adalah puisi paling spontan dalam buku ini. Seekor kupu-kupu terbang dan hinggap di kening Panji. Bagi kita itu hal biasa. Bagi Panji itu hal luar biasa, karena kupu-kupu itu datang membawa wasiat: kapan engkau akan bertasbih seperti diriku? Maka menangislah jiwa terdalam, airmatanya membanjiri jari-jemari, tertuang menjadi puisi, dan kini menjadi judul buku ini.
Al-Farabi pernah menulis, "_The finest poetry, however, is that produced naturally_" (Canons of Poetry). Itulah Panji Sakti.
Raudhah Al-Mustafa, Bandung
30 Juni 2025
Spesifikasi
| SKU | : | RY-119 |
| ISBN | : | 9786235866598 |
| Berat | : | 260 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 12 cm/ 17 cm/ 1 cm |
| Halaman | : | 136 |
| Tahun Terbit | : | 2026 |
| Jenis Cover | : | Hard Cover |
Ulasan
Belum ada ulasan


