Tempat Terindah Untuk Mati - Edisi Eksklusif Bertanda Tangan Penulis + Postcard
Deskripsi
Special Offer Buku Tempat Terindah Untuk Mati - Edisi Eksklusif Bertanda Tangan Penulis + Postcard
Periode: 4-11 Mei 2026
Buku ini memuat 100 cerita Seno Gumira Ajidarma, yang ditulis dan dimuat berbagai media antara 1976 sampai 2025, dalam rentang 49 tahun. Eksistensi manusia, hiperbola, dan teknik pengamatan disebut sebagai tiga siasat di dalamnya, yang mengarungi berbagai tema dan gaya. Sebagai hiburan, kritik sosial, maupun penjelajahan susastra.
“… cerita-cerita dalam buku ini dapat menjadi teman yang menginspirasi Anda.”
—Andina Dwifatma
ISI BUKU
Tiga Siasat Seno Gumira Ajidarma: Semacam Kata Pengantar — 9
PERIODE 1976-1981 — 19
1. Daun — 21
2. Rokok — 24
3. Tentang Seorang Perempuan dan Kucingnya — 27
4. Orang yang Selalu Ketakutan — 29
5. Dunia Gorda — 38
6. Tante W — 47
7. Yang Paling Gombal dalam Hidup Ini — 56
8. Nyanyian Sepanjang Sungai — 64
9. Long Puh — 73
PERIODE 1982-1990 — 81
10. Katakan, Aku Mendengarnya — 83
11. Hooiyyaaaiyyooo! — 86
12. Bayi Siapa Menangis di Semak-Semak? — 106
13. Dua Lelaki — 116
14. Cerita dari Sebuah Pantai — 120
15. Semangkin (d/h Semakin) — 132
16. Pengaduan Sukab — 142
17. Loket — 148
18. Carmina Burana — 160
19. Mestikah Kuiris Telingaku seperti Van Gogh? — 168
20. Kasih & Sepatu Ballet — 173
21. Hhhhh .... — 180
22. Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi — 187
PERIODE 1991-2011 — 197
23. Segitiga Emas — 199
24. Seorang Dara di Sebuah Loteng — 212
25. Nocturno — 220
26. Rahasia — 224
27. Ratih — 229
28. Empat Adegan Ranjang — 236
29. Saksi Mata — 241
30. Seruling Kesunyian — 249
31. Bis Malam — 256
32. Rembulan Terapung di Kolam Renang — 265
33. Banjir — 274
34. Gelang Kaki untuk Kaki Seorang Perempuan — 282
35. Listrik — 287
36. Seorang Perempuan dengan Rajah Kupu-Kupu di Dadanya — 295
37. Pelajaran Sejarah — 301
38. Sukab Menggiring Bola — 307
39. Darah itu Merah, Jenderal — 313
40. Senja di Balik Jendela — 319
41. Potret Keluarga — 325
42. Kematian Paman Gober — 333
43. Perahu yang Muncul dari Balik Kabut — 339
44. Salazar — 358
45. Ratri & Burung Bangau — 363
46. Di Tepi Sungai Parfum — 374
47. Negeri Kabut — 381
48. Je T’aime — 396
49. Kepala di Pagar Da Silva — 402
50. Ibu Tidak di Rumah — 410
51. Episode — 476
52. Max — 425
53. Tempat Terindah untuk Mati — 432
54. Dewi — 450
55. Tetangga Saya yang Berajah — 457
56. Sebatang Pohon di Luar Desa — 463
57. Dua Perempuan dengan Hp-Nya — 470
58. Taksi Blues — 476
59. Jakarta, Suatu Ketika — 485
60. Clara — 496
61. Kisah Seorang Penyadap Telepon — 505
62. Karnaval — 512
63. Anak-Anak Langit — 530
64. Eksodus — 538
65. Khuldi — 546
66. Sita dan Suaminya — 553
67. Jakarta, 14 Februari 2039 — 558
68. Wati Memakai Sepatu Tinggi — 570
69. Hujan Kristal — 576
70. Manusia Api — 583
71. Perempuan Preman — 590
72. Avi — 601
73. Layang-Layang — 608
74. Topeng Monyet — 618
75. Melodrama di Negeri Komunis — 625
76. Hari Pertama di Beijing — 634
77. Penjaga Malam dan Tiang Listrik — 642
78. Komidi Puter — 646
79. Jakarta City Tour — 652
80. Tong Setan — 659
81. Badak Kencana — 665
82. Linguae — 674
83. Joko Swiwi — 679
84. Simsalabim — 692
85. Sebatang Pohon di Tengah Padang — 702
86. Kopi, dan Lain-Lain — 711
87. Sepatu Kulit Ular — 716
88. Segawon — 721
89. Transit — 729
90. Gubrak! — 736
91. Lingerie — 745
PERIODE 2015-2025 — 753
92. Pulang Berpulang — 755
93. Setan Becak — 760
94. Kyai Sepuh — 765
95. Setan Banteng — 771
96. Percakapan di Ruang Tunggu — 776
97. Kepala Kantor dan Tukang Pel — 782
98. Tragedi Kandang Babi — 786
99. Sultan Agung Tidak Punya Kloset — 793
100. Hantu Pohon — 815
Riwayat Publikasi — 823
Tentang Penulis — 833
-----
TIGA SIASAT SENO GUMIRA AJIDARMA: SEMACAM KATA PENGANTAR
Oleh: Andina Dwifatma1
Buku ini isinya 100 cerpen Seno Gumira Ajidarma (SGA) dari kurun waktu 1976 sampai 2025. Artinya ditulis waktu Seno berusia 18 tahun sampai 67 tahun. Alias, rentang waktu 49 tahun kepengarangan. Apakah selama hampir setengah abad itu tema-tema yang menarik minat Seno berganti-ganti? Apakah gaya dan teknik yang dia gunakan juga mengalami perubahan? Catatan ini akan melihat benang merah dari kepengarangan Seno yang terekam dalam 100 cerita pendek. Anggaplah semacam pemanasan sebelum Anda mulai membaca buku ini beneran.
SGA paling dikenal perkara senja. Tahun lalu saya menghadiri sebuah festival kepenulisan di Bali bersama beliau, dan para pembaca Seno di kanan dan kiri berbisik-bisik tentang bagaimana Sukab memotong senja seukuran kartu pos untuk dikirimkan kepada Alina. Tentu ini merujuk pada kumpulan cerpen “Sepotong Senja untuk Pacarku” yang termasyhur itu. Kalau ada pengarang—apalagi masih baru—yang coba-coba menulis tentang senja, besar kemungkinan akan dikomentari, “Ia pasti terpengaruh SGA.” Untung saja Menteri Kebudayaan, paling tidak sampai hari ini, belum menjuluki Seno “Bapak Senja Indonesia”.
Namun, yang mau saya katakan, kepengarangan Seno lebih dari urusan senja. Tema yang sudah muncul sejak masa awal kepengarangannya, dan kemudian tetap mewarnai cerita-cerita karangan SGA berikutnya, adalah persoalan eksistensi manusia. Selain itu, dua tema yang lain adalah tentang penggunaan hiperbola sebagai siasat—semacam metafora khas dalam tulisan-tulisannya—dan bagaimana Seno cenderung mempekerjakan tokoh-tokoh “pengamat” sebagai narator, khususnya dalam cerita-cerita bermuatan kritik sosial. Kita mulai dari yang pertama.
Gorda dan Camus
Cerpen pertama di buku ini, “Daun” (1976) berkisah tentang seseorang yang menunggu seseorang yang lain, selama tiga hari. Pada hari pertama dan kedua seseorang yang menunggu itu mengisi waktu sambil merokok dan memperhatikan daun yang jatuh. Daun-daun yang “… bertebaran, semuanya kuning, semuanya diam dan mati” (h. 21) pada akhirnya disapu dan seperti akan dibakar. Tokoh “aku” yang menunggu teringat pada suara gemeretak kayu pada upacara Ngaben dan ia jadi merinding. Pada hari ketiga, tokoh “aku” menerima surat kilat khusus yang hanya berisi tiga kata: IA SUDAH MATI. Maka, “Rokok jatuh. Angin bertiup. Tak ada daun beterbangan” (h. 23).
Cerpen “Daun” itu ditulis Seno dalam usia 18 tahun. Empat tahun kemudian, ia menulis cerpen “Dunia Gorda” (1980). Gorda di ceritakan dapat hidup di dua dunia, yaitu dunia kenyataan dan dunia mimpi. Jika ia tertidur di dunia nyata, Gorda terbangun di alam mimpi. Demikian sebaliknya: kalau Gorda yang di mimpi sedang tidur, ia akan terbangun di dunia nyata. Meskipun judulnya mimpi, hidup Gorda di dunia mimpi bukanlah sekadar mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang dialami dengan kesadaran penuh. Karenanya Gorda selalu mengantuk.
Di kehidupan nyata ia punya pacar yang sudah lama menunggu untuk dinikahi. Sementara di kehidupan alam mimpi, Gorda malah sudah kawin dengan gadis lain dan punya anak. Ketika tiba saatnya menikah dengan pacar di dunia nyata, Gorda betul-betul lelah. Secara logis, ia berharap dapat membunuh dirinya yang di dunia nyata agar dapat hidup fokus sepenuhnya di dunia mimpi. Seno mengakhiri cerita dengan dua perempuan di dua dunia sama-sama menangisi Gorda. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Gorda yang bunuh diri di dunia nyata, ternyata koit juga di dunia mimpi.
Meskipun sama-sama diakhiri dengan kematian, cerpen “Dunia Gorda” secara mendasar berbeda dengan “Daun”. Dalam “Daun”, eksistensi dimaknai dengan sikap serbasumir dan subtil. Sementara dalam “Dunia Gorda”, eksistensi dirayakan justru dengan membuka peluang untuk berbagai kemungkinan. Kalau manusia bisa memiliki lebih dari satu dunia dan satu plot kehidupan, apakah ia akan lebih bahagia?
“Kisah si Gorda itu hanya bisa sampai di sini. Kiranya tak perlu kita menembus dunia Gorda di alam akhirat, kalau tidak bisa pulang lagi malah repot. Memang, tak begitu jelas apakah kini si Gorda berbahagia.” (“Dunia Gorda”, h. 46)
Kalimat penutup (cetak miring dari saya) mengingatkan pada kalimat penutup filsuf eksistensialis Prancis, Albert Camus, dalam bukunya yang terkenal The Myth of Sisyphus (1942): one must imagine Sisyphus happy. Kita perlu membayangkan Sisyphus berbahagia. Kalimat ini merujuk pada sosok Sisyphus yang dikisahkan Camus dihukum dewa-dewa karena suka membangkang. Hukuman untuk Sisyphus adalah disuruh mendorong batu besar dari bawah, mendaki sampai ke atas bukit. Begitu tiba di puncak, batu itu didorong lagi ke bawah. Lalu Sisyphus berjalan menuruni bukit, untuk kemudian mendorong lagi batunya ke atas, dorong lagi ke bawah, jalan lagi, dorong naik lagi, begitu seterusnya. Ini mirip dengan Gorda yang hidup dari satu dunia ke dunia lain. Tertidur di dunia yang satu, terbangun di dunia yang lain, tertidur di dunia yang lain, terbangun di dunia yang satu, begitu seterusnya. Eksistensi manusia digambarkan sebagai sesuatu yang terus berulang-ulang tanpa variasi, tetapi yang tidak menyediakan alternatif lain, kecuali dijalani.
Renungan serupa juga masih menjadi fokus Seno pada cerpen “Nyanyian Sepanjang Sungai” (1981). Cerita ini mirip mimpi kalau kita sedang demam, tapi karena yang menulis SGA, jadinya kisah petualangan yang mistis lagi puitis. Dikisahkan tokoh “aku” yang berada dalam perahu motor dari Tenggarong sampai Muara Ancalong. Sampai berganti-ganti juru mudi dan keluar masuk tanjung, perahu itu tidak sampai-sampai. Si tokoh “aku” sempat merasa dirinya berhalusinasi karena, “… dalam perjalanan kita selalu berada dalam keadaan mengambang, antara sedih dan gembira, terharu dan menggebu-gebu, kesepian tapi penuh rasa ingin tahu” (hh. 67-68). Tetapi, setelah berhari-hari perahu motor terus melaju tanpa ada tanda-tanda akan sampai, dan wajah orang-orang di atasnya berubah dari hampa menjadi penuh gairah, tokoh “aku” mulai membenahi perasaannya. Perahu motor melaju dengan yakin sebab “… kini tak ada lagi nama tempat dan tujuan, hanya perjalanan” (h. 72). Dapat dikatakan inilah spirit Seno setiap kali ia berkisah tentang hidup dan eksistensi manusia. Tampaknya ia menganggap hidup adalah sebuah perjalanan atau petualangan panjang, dan yang dapat manusia lakukan hanyalah mereguk pengalaman demi pengalaman dengan sepenuh-penuhnya. Sebelum menuju ketiadaan.
Hiperbola sebagai Siasat
Peristiwa Sukab menggunting senja bukanlah satu-satunya hiperbola dalam dunia Seno Gumira Ajidarma. Bahkan, bukan yang pertama. Di dalam buku ini, teknik hiperbola sudah beliau gunakan paling tidak sejak cerpen “HooiyyAAAiyyOOO” (1982) yang menceritakan tentang seorang pemuda desa bernama Mintuk. Pada suatu hari Lebaran, Mintuk terpesona melihat temannya, Ngatiyo, yang kelihatan klimis dan tampan sesudah merantau ke ibu kota. Mintuk jadi ingin kerja di Jakarta. Tanpa pikir-panjang dan perencanaan matang, Mintuk melompat naik bis dan turun di Terminal Pulo Gadung. Di sana, begitu turun Mintuk langsung dirampok habis-habisan oleh preman setempat dan hanya disisakan selembar celana dalam yang melekat di badan. Ia lari kencang.
“Di aspal jalanan itu, Mintuk mendesing. Larinya tambah cepat melesat. Dan bagaikan pesawat terbang yang take off meninggalkan landasan, Mintuk tiba-tiba melayang seperti Superman. Betul-betul Mintuk terbang melayang ke atas sepanjang Thamrin dan menclok dengan lembut di atas Tugu Selamat Datang. Dan di pagi buta itu, para tamu yang menginap di Hotel Indonesia, Hotel Mandarin, dan Hotel Sari Pan Pacific, terbangun oleh suatu teriakan Tarzan yang keras membahana.” (“HooiyyAAAiyyOOO”, h. 105).
Mintuk yang berlari bagai Gundala dan nemplok di Tugu Selamat Datang adalah hiperbola yang digunakan Seno untuk menegaskan betapa perih nasib orang lugu yang tidak mengerti kerasnya Jakarta. Tapi, ini juga bukan label biner desa (lugu) || kota (pintar). Soalnya, diceritakan preman setempat yang merampok Mintuk, ya, orang-orang desa juga. Namanya Pamuji, Warno, dan Ngadul. Bukan James, Adit, atau Kevin. Trio preman itu adalah gambaran orang desa yang sudah merasakan kejamnya ibu kota dan terasimilasi total di dalamnya. Bukan karena mereka ingin atau berbakat kejam, tapi karena hidup mendesak mereka sedemikian rupa sampai pilihannya tinggal makan atau dimakan. Dan ketika Mintuk berteriak bagai Tarzan di sekitar hotel bintang lima, teriakan itu terdengar oleh para tamu hotel. Inilah kelas sosial yang sama sekali lain dari Mintuk, Pamuji, Warno, dan Ngadul. Tapi, Seno tidak tergoda untuk “berceramah”. Beliau mengakhiri cerpen ini dengan lembut tapi kuat: dua orang tamu hotel yang sedang berbulan madu, mendengar teriakan Mintuk, tapi segera menganggap itu hanyalah mimpi buruk.
Strategi yang sama juga digunakan Seno dalam cerpen “Rembulan Terapung di Kolam Renang” (1991). Benda-benda alam dalam semesta Seno memang sering diperlakukan seperti mainan. Senja digunting seperti origami. Sekarang rembulan yang tiba-tiba saja jatuh dan mengapung di kolam renang seorang kaya, seperti bola. Tetapi, teknik ini sepertinya bukan tanpa maksud. Rembulan yang jatuh di kolam renangnya membuat si tokoh orang kaya merasa khawatir akan dituduh terlalu rakus, sebab ia sebagai konglomerat sudah memiliki tanah, pantai, pulau, laut, dan gunung. Ia yang tadinya sempat berpikir akan menjual rembulan itu dengan dipecah sedikit-sedikit, akhirnya membuka pintu rumah untuk warga yang marah.
“Dalam waktu singkat rumahku lenyap. Perut mereka semua telah menjadi buncit karena memakan plastik dan tembaga. Antena parabola pun ditelannya. Tegel marmer dicopot satu-satu. Habis ludes tanpa sisa. Jendela, pintu, dan gorden apalagi. Sampai mereka muncul di kolam renang. Mata mereka berbinar dan berkilau dalam siraman cahaya rembulan yang keperak-perakan. Mulut mereka menyeringai.” (“Rembulan Terapung di Kolam Renang”, h. 271)
Adegan selanjutnya adalah massa menjilati rembulan yang ternyata rasanya seperti es krim. Rembulan yang marah lalu kembali terbang ke langit, dan orang-orang yang tak mampu melepaskan diri darinya berpentalan jatuh dari udara. Tampak di sini Seno tidak membela “massa”. Bagi beliau, “massa” bukanlah sebuah kategori kelompok yang tersakiti dan teraniaya oleh mereka yang berkuasa, dan karena itu memiliki standar moral yang entah bagaimana lebih tinggi. Dalam cerpen ini, “massa” adalah mereka yang tidak sadar sedang di eksploitasi, atau lebih tepatnya tidak menyadari ada ketimpangan kuasa yang perlu dilawan. Maka, ketika ada peluang untuk mengeksploitasi balik, mereka sambar tanpa ragu (“Kerakusan ternyata soal kesempatan”, renung si tokoh aku). Gejala seperti ini masih terjadi sampai hari ini. Tanpa pendidikan yang sungguh-sungguh mencerahkan, kata Freire, orang-orang yang tertindas tidak punya cita-cita lain, kecuali menjadi seperti penindasnya.
Tokoh-Tokoh “Pengamat”
Barangkali ada hubungannya dengan lama menjadi wartawan, Seno sering mengambil sudut pandang “reportase” dalam cerpen-cerpennya terutama yang lekat dengan kritik sosial. Atau, mungkin juga ini strategi menulis sastra dengan isu “pinggir jurang” di era Orde Baru. Dalam cerpen “Pengaduan Sukab” (1986), misalnya, kisah penyiksaan seorang warga sipil oleh tentara diceritakan dari sudut pandang seorang juru ketik di Lembaga Bantuan Hukum Kerajaan Amarta. Di manakah Kerajaan Amarta ini berada, baik yang menulis dan membaca tentu sudah sama-sama tahu, tanpa perlu bertanya.
Alkisah, seorang warga sipil bernama Sukab sedang duduk-duduk di pinggir jembatan untuk menunggu gadis yang disukainya lewat, saat ia mendadak ditangkap, dimasukkan ke bak mobil, dan disiksa sampai mau mengaku. Hal apa yang disuruh diakui itu, Sukab tentu sama sekali tidak tahu. Penyiksaan diperinci sedemikian rupa, tetapi tetap “berjarak” karena diceritakan oleh seorang juru ketik yang menerima pengaduan Sukab. Pada bagian tertentu, si juru ketik memaparkan laporan Sukab bahkan dalam bentuk bullet points bernomor seperti laporan sungguhan. Tetapi, dalam gaya yang dingin dan resmi itu, terselip sebuah perasaan manusiawi,
“Saudara, laporan resmi yang saya ketik sebagai tugas saya setiap hari itu sebetulnya tidak bisa menampung segala hal yang dirasakan Sukab. Saya tahu karena ini pekerjaan saya setiap hari, mendengar cerita-cerita malang sampai saya bosan. Saya cuma tukang ketik, bukan pembela hukum. Namun, saya bisa membayangkan, seterusnya dari cara bercerita Sukab yang gemetar, ketakutan, terbata-bata, dan pasrah. Sukab mengalami kejadian ini: kepala Sukab kembali tersentak-sentak seperti mau copot dari batang lehernya yang kurus ...” (“Pengaduan Sukab”, h. 146-147)
Juru ketik yang menerima pengaduan Sukab tidak bisa berbuat lain, kecuali menerima dan mencatat keluhan orang malang itu. Pesan seperti ini tampil lebih kuat dalam cerpen “Kisah Seorang Penyadap Telepon” (1998). Ceritanya tentang seorang penyadap telepon yang saking banyaknya mendengar percakapan sampai tidak bisa tidur lantaran kata-kata mengendap dan mendengung dalam telinganya. Oleh dokter THT, ia diberi resep pil budeg. Si penyadap telepon akhirnya melanjutkan kariernya yang sudah berjalan selama 32 tahun (!) dengan melaporkan percakapan-percakapan karangan karena ia sudah tidak lagi bisa mendengar.
“Bermiliar-miliar kata, kalimat, dan pengertian telah kudengar, namun sesuatu itu tidak menjadi apa-apa. Aku selalu mendengar, tapi sebenarnya aku tidak mendengar apa-apa. Orang-orang yang dicurigai berbicara tentang penderitaan rakyat, tentang penindasan, tentang orang-orang yang diculik, diperkosa, dibunuh, dan dibakar. […] Orang-orang bicara tentang hukum, keadilan, dan kebenaran. Ah, apa itu?” (“Kisah Seorang Penyadap Telepon”, h. 508)
Sudut pandang dan gaya yang digunakan Seno melalui tokoh juru ketik dan penyadap telepon terasa seperti semacam “pengakuan” bahwa meskipun orang bisa tahu begitu banyak yang terjadi di negara ini, tidak banyak yang bisa dilakukan. Kalau sudah tahu, mau apa? Ya, mau apa? Tempo hari saya menulis sebuah artikel tentang desensitizing effect dalam media sosial. Intinya, terpaan informasi dan berita buruk yang membanjiri tiap hari membuat orang jadi kewalahan dan lama-lama malah terbiasa. Mungkin saat ini kita semua seperti juru ketik dan penyadap telepon yang diceritakan Seno. Mendengar, tapi tidak mendengar apa-apa. Apakah suatu saat segala yang kita dengar itu sanggup memantik kemarahan dan mengubahnya menjadi aksi bersama? Mungkin saja. Sementara itu, cerita-cerita dalam buku ini dapat men jadi teman yang menginspirasi Anda. Selamat membaca.
Tangerang Selatan, Agustus 2025
________
- Doktor Antropologi lulusan Monash University, Australia; mengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta. Novelnya, Lebih Senyap dari Bisikan, menjadi Buku Pilihan Tempo Kategori Prosa 2021.
Spesifikasi
| SKU | : | PKT-2291 |
| ISBN | : | PKT-2291 |
| Berat | : | 900 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 15 cm/ 22 cm/ 5 cm |
| Halaman | : | 836 |
| Tahun Terbit | : | 2026 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Belum ada ulasan


