Buku Ingatan Ikan-Ikan Republish… - Sasti Gotama | Mizanstore.com

(0) KERANJANG

Rp 0

Ingatan Ikan-Ikan Republish 2026


Rp 67,150
15% Rp 79,000

Deskripsi

Cerita ini punya 3 plot, yaitu: Ombak, Lian, dan B. Seperti halnya novel-novel multiplot, ibarat anak-anak sungai, pada akhirnya semuanya punya satu muara yang sama. Atau, setidaknya, punya satu titik singgung.

Dimulai dari Ombak, bocah loper koran yang besar di keluarga disfungsi di Solo. Bapaknya pemabuk, penjudi, dan oleh karenanya, pemarah. Ibunya kena getahnya. Kesabaran sang Ibu toh ada batasnya. Suatu hari, usai pertengkaran hebat, Ibunya minggat dengan membawa serta Awan, adiknya Ombak. Dibesarkan jalanan tidak lantas membuat Ombak rendah diri. Sebaliknya, ditempa kerasnya jalanan, cita-citanya pun sekokoh baja: jadi dokter. Untuk mencapainya, mula-mula dia mesti hidup dan untuk hidup, dia mesti mengikuti jejak sang Ibu: minggat dari rumah neraka yang dihuni lelaki dewasa tukang pukul. Ombak sengaja memilih SMK murah yang masuk siang sebab dia mesti mencukupi hidupnya sendiri; uang makan dan indekos ditanggungnya sendiri. Selain loper koran, Ombak juga nyambi sebagai kuli panggul di kios beras di kompleks Pasar Legi. Di situ lah Ombak bertemu Lian.

Beranjak ke Lian. Anak gadis satu-satunya dari tionghoa pemilik toko beras di Pasar Legi. Pertemuan pertamanya dengan Lian adalah ketika keduanya bersitatap di depan kios beras Papanya. Diam-diam, keduanya saling mengenal. Pertama kali betul-betul berkenalan adalah ketika Ombak mengusir bocah yang merundung Lian di ujung gang buntu, yang di beberapa paragraf kemudian, pembaca diberitahu bahwa itu semua skenario belaka (bocah preman itu adalah temannya Ombak yang menyarankan demikian dan merelakan tubuhnya jadi samsak Ombak).

Setelahnya, hubungan keduanya terus berlanjut. Papa Lian, yang senang dengan etos kerja Ombak, tidak punya masalah Lian terlihat kian akrab dengannya. Bahkan, Papanya menitipkan Lian kepada Ombak, "Jaga Lian, ya". Momen kebersamaan keduanya pertama kali adalah ketika mereka berdua berburu komik lawas--keduanya hobi baca komik; Lian komik Nusantara dan Ombak komik silat Mandarin. Makin erat lagi ketika Ombak berinisiatif menghadiahi Lian sepasang ikan mas koki setelah membaca di komik silatnya bahwa ikan ini datang dari Cina. "Sama seperti Lian," pikir Ombak. Sepasang ikan mas koki inilah yang, bukan cuma jadi properti sepintas, melainkan jadi salah satu pusat cerita. Keduanya jadi makin akrab. Lian bertanya tentang makanannya, cara merawatnya, dan mesti apa ketika ikannya sakit. Yang terakhir disebut ini membawa keduanya ke petualangan baru dan episode saling mengenal yang lebih dalam. Lian tahu kalau Ombak getol betul jadi dokter dan Ombak tahu Lian anak baik-baik sebab ogah diajak nyolong kembang rosela.

Hari berlalu, sampailah pada hari itu. Hari ketika kata-kata "krismon" bukan lagi cuma di mulut, melainkan huru-hara manusia berebut perabot dan barang-barang lainnya di pertokoan. Termasuk di Kota S tempat Lian dan Ombak tinggal. Di saat Ombak terjebak dalam gelombang manusia yang gatal menjarah apa saja, dia berjumpa Awan dan teman-temannya. Awan tidak mau menjarah apapun selain sepatu hitam polos. "Biar ndak dihukum lagi," kata Awan yang memang tidak punya cukup uang untuk beli sepatu hitam polos baru menggantikan sepatu lamanya yang sudah rusak. Di tengah kerumunan itu, teman Awan menyarankan Ombak untuk pindah ke Pasar L sebab banyak yang dapat barang bagus di sana. Pasar L? Yang di kepala Ombak bukanlah bayangan jejeran perangkat elektronik, melainkan L, Lian. Lian-nya.

Di sini, nanti bakal ada dua sudut pandang. Pertama, sudut pandang Lian yang begitu traumatik ketika menyaksikan sendiri di depan matanya, Papi dipukuli dan tokonya dijarah entah karena apa oleh segerombol orang tidak dikenal. Puncaknya, dia diperkosa karena dianggap, oleh para pemerkosanya, "Kapan lagi bisa menyentuh tubuh perempuan Cina?". Sambil melancarkan aksi bejatnya, mereka tertawa. Tawa inilah yang akan terngiang di kepala Lian seumur hidup, sebelum dia mengenal Penatu Binata--jasa laundry ingatan--beberapa tahun setelahnya.

Kedua, sudut pandang Ombak. Dia tidak perduli melewati apa, menabrak siapa; yang dia pedulikan hanyalah bagaimana bisa cepat sampai ke kios beras Papa Lian. Sesampainya di sana, pemandangan begitu brutal hingga nyaris tak sanggup Ombak menghadapinya. Dua tubuh terkapar, laki-laki paruh baya--Papa Lian-- dan seorang gadis--Lian sendiri. Saking terguncangnya, Ombak hilang fokus. Dia malah menyelamatkan dulu ikan mas koki yang tumpah dari akuariumnya. Setelahnya, baru dia menggotong Lian bersama Wak Haji, tetangga Lian.

Belum cukup menyaksikan Lian hancur-lebur, Ombak dipaksa untuk beranjak dari kesedihannya sebab ada hal yang perlu diselesaikannya: Awan. Dia berpisah jalan dengan adiknya sesaat setelah dia memilih untuk segera ke Pasar L. Ketika kembali ke kawasan pertokoan, situasinya sudah lebih menggila. Asap membumbung di ruko-ruko. Ombak bertemu lagi dengan teman Awan dan dia, dengan gelagapan, menjelaskan bahwa Awan terjebak di kompleks toko yang sekarang sedang terbakar. Mencoba menerobos, tapi sia-sia. Asap begitu pekat dan api kian berkobar. Baru keesokannya, ketika Ombak dikabari tentang temuan mayat di pertokoan yang sudah dibawa ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, pemandangannya begitu ngilu: ruang tunggu dipenuhi kantong hitam dengan kaki-kaki sewarna arang menyembul dari bukaannya. Gambaran arang-arang kremus ini akan terus tinggal di kepala Ombak dan bangkit di ingatannya kapanpun mereka mau, terlebih di tengah mimpi tidurnya, hingga Ombak berjumpa Penatu Binata beberapa tahun setelahnya.

Setelah itu, pembaca diajak pindah waktu, maju ke beberapa tahun setelahnya.

Di titik waktu beberapa tahun setelah kejadian brutal inilah, pembaca mulai bersentuhan dengan Plot tokoh B, seorang gadis jenius yang direkrut sebagai ilmuwan organisasi rahasia milik pemerintah yang bertugas untuk membuat para korban "musibah beberapa tahun silam" melupakan ingatannya. B direkrut oleh Z, ilmuwan senior di organisasi tersebut. Mereka mengundang para korban untuk datang ke bangunan yang jadi kedoknya, yakni Penatu Binata, kios laundry yang dengan bantuan "buah alara (pil dengan obat yang mengandung senyawa, yang dengan mekanismenya, merekayasa ingatan di hipokampus) membuat pelanggannya melupakan ingatan buruk tentang kekerasan masa lalu, bahkan sampai mereka tidak sadar apa ingatan yang dihilangkan tersebut setelah "operasi".

Di mana titik singgung ketiganya? 

Ingat, Lian dan Ombak sama-sama menghadapi ingatan traumatik tentang "musibah beberapa tahun silam". Tahun 2005. Ini adalah tahun pertama Lian menginjakkan kaki kembali di Kota S setelah halilintar yang menimpanya di kios beras hari itu. Sebab, setelahnya Lian diungsikan ke rumah A'i, bibinya dan lanjut kuliah di luar kota. Sementara Ombak, berdiam di Kota S. Tahun 2005 itu, Lian dan Ombak, secara terpisah, dikirimi surat undangan untuk melupakan ingatan buruk yang "mengganggu" mereka. Lian dengan tawa manusia yang tidak lagi berarti bahagia tetap justru menusuk-nusuknya seperti jarum dan Ombak yang dihantui kantong-kantong hitam seukuran manusia di dalam mimpinya. Keduanya, secara terpisah, mengiyakan undangan ke Penatu Binata. Petugas penatu itu tidak lain tidak bukan adalah B.

Cerita, yang dikira sudah selesai, masih terus bergulir. Keduanya lupa tentang episode sejarah kelam masing-masing. Lian tidak punya masalah dengan tawa manusia dan tidak ada lagi kantong mayat yang gentayangan di tengah tidur Ombak. Yang mereka tidak sadari, Penatu Binata juga menghapus keduanya dari ingatan masing-masing. Tidak ada Ombak di Lian, tidak ada Lian di Ombak. Sampai suatu hari, setelah "cuci ingatan" di Penatu Binata, mereka bertemu lagi ketika di kepala masing-masing sudah tidak tersisa lagi memori berdua tentang komik lawas, ikan mas koki, dan kembang rosela. Pertemuan kembali keduanya setelah "cuci ingatan" membuat B, yang menyaksikan keduanya berjumpa di depan kios ikan (milik Ombak), belingsatan.

"B membatu. Dia mengenal kedua orang itu. Si file 113 bernama Lian something dan si file 77 bernama Ombak something. Dia tak terlalu hafal dengan hal remeh seperti nama, tetapi dia memiliki ingatan absolut tentang angka dan formula. Dua target bertemu. Bagaimana jika mereka berbincang? Bagaimana jika mereka jatuh cinta? Bagaimana jika mereka sedemikian saling tergila-gila hingga meledaklah kadar ketiga neurotransmiter itu di kepala masing-masing? Bagaimana jika mereka mengingat semua dan mulai bicara di mana-mana, bahkan hingga di forum internasional? Apakah ini tidak membahayakan misi? Sepertinya dia harus menceritakan kecurigaannya kepada Z perihal efek ketiga neurotransmiter tersebut terhadap buah alara. Namun, membayangkan harus bertemu Z lagi membuat perut B mulas setengah mampus."

Pembaca kemudian diajak seperti mengulang kisah cinta Lian dan Ombak dengan versi yang lebih matang. Tidak ada lagi petualangan mencuri kembang, yang ada hanyalah obrolan dan kegamangan. Keduanya gamang, sebab posisinya, Ombak sudah berkeluarga. Tujuh tahun sejak tahun itu adalah waktu yang tidak sebentar untuk Ombak menunggu datangnya Lian yang entah bagaimana kabarnya dan di mana keberadaannya saat itu. 

Sementara keduanya gamang, baik Lian dan Ombak perlahan didera imaji dan nyeri yang datang menyeruak di kepala masing-masing. Tawa dan kantong hitam itu. Mereka balik lagi seiring keduanya kembali saling mengenal. Di sinilah letak persis kekhawatiran B: mereka akan mengingat kembali "musibah beberapa tahun lalu". Dan hanya orang yang mengingatlah yang, pikir B, mungkin atau mau untuk melawan. Melawan sesuatu yang berkuasa atas organisasi dan proyek rahasianya ini.

Spesifikasi

SKU  :  BT-635
ISBN  :  9786231865755
Berat  :  200 gram
Dimensi (P/L/T)  :  13 cm/ 22 cm/ 1 cm
Halaman  :  196
Tahun Terbit  :  2026
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Belum ada ulasan