Deskripsi
Liwei begitu dekat, tetapi terasa jauh dari jangkauan. Wenzhi telah membuat kesalahan tak termaafkan, tetapi terus saja menyerbu benteng yang Xingyin dirikan untuk melindungi hatinya.
Namun, tak ada waktu untuk mengurus romansa ketika pertempuran kedelapan alam untuk memperebutkan semesta sudah mengadang. Sekutu berkhianat, musuh bersiasat. Berapa banyak lagi Xingyin harus berkorban, sementara mayat orang-orang terdekat terus bergelimpangan?
Bersediakah Xingyin mengambil risiko bukan saja kehilangan nyawa mereka yang dia cintai, melainkan juga nyawanya sendiri?
Keunggulan
? Rating 4,04 di Goodreads.
? Telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa.
? Terinspirasi dari mitologi Tiongkok tentang dewi bulan,Chang’e.
? Kisahnya terasa segar karena membahas mitologi Asia, mengingat selama ini novel-novel fantasi didominasi kisah-kisah mitologi Yunani, Romawi, dan Nordik.
? Tokoh utamanya, Xingyin, terasa sangat menonjol sebagai prajurit perempuan yang hebat, dengan sikap yang sangat realistis sebagai remaja yang tengah beranjak dewasa.
? Bagian-bagian dari ceritanya sangat relate dengan situasi sekarang, dari masalah perisakan, pemerintahan yang tiran, dan isu politik yang pelik.
? Ada kisah cinta segitiga yang akan membuat pembaca gemas harus mendukung Pangeran Liwei atau Kapten Wenzhi.
? Ada twist mengejutkan dengan tokoh-tokoh berkarakter abu-abu yang penuh intrik.
? Ada banyak adegan aksi yang seru, musuh-musuh mengerikan, dan misi mengancam nyawa yang membuat pembaca tenggelam dalam plotnya.
? Sampul versi Indonesia sempat membuat heboh, dibicarakan di akun Literay Base dan diunggah juga oleh penulisnya di akun IG pribadi.
? Buku ini langsung melejit menjadi satu dari lima karya terlaris versi Sunday Times.
? ALA Alex Award (2023), Goodreads Choice Award Nominee for Fantasy and for Debut Novel (2022).
Spesifikasi
| SKU | : | ND-512 |
| ISBN | : | 9786232424364 |
| Berat | : | 500 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 14 cm/ 21 cm/ 3 cm |
| Halaman | : | 484 |
| Tahun Terbit | : | 2024 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Terungkap bahwa Houyi adalah ayah dari Xingyin dan masih hidup. Dibawa flashback berkali-kali terkait kehidupan Houyi sebelumnya yang sangat akrab dengan 4 naga. Naga-naga yang tidak pernah tunduk pada siapapun bisa mempercayaai Houyi yang memiliki peran penting. Bagaimana kehidupan Chang'e dan Houyi sebelumnya sebelum terpisah. Menceritakan Houyi yang selalu setia dengan Chang'e hingga selalu mendoakan istrinya itu didepan altar. Funfact tradisi kue bulan karena dari cerita ini loh wkwkwkw.
Pertarungan melawan ratu SuiHe di Laut Selatan yang mengakibatkan pangeran YangMing terbunuh. Houyi muncul. Kilas balik lagi dimana momen Houyi bisa membunuh 9 ekor burung matahari hingga mendapatkan eliksir kehidupan. Mereka bersama-sama melawan pasukan-pasukan ratu SuiHe... Lihat selengkapnya
Konflik di novel ini sangat banyak dan kompleks, selain karena politik istana dan sentimen pribadi permaisuri kepada Xingyin, musuh tak terduga datang dan berhasil membuat pasukan baru. Demi menyelamatkan dunia dari musuh, Xingyin harus mencari bantuan kepada dewi matahari yang tentu saja akan semakin sulit karena Ayah Xingyin, Houyi adalah pemanah burung matahari.
Jika novel pertama banyak menceritakan tentang Liwei, novel kedua ini banyak menceritakan tentang Wenzhi. Di novel ini perkembangan karakter Wenzhi menjadi semakin baik dan semakin memikat (tapi tetap, aku tim Liwei????). World building di novel kedua ini juga sangat baik dan tidak... Lihat selengkapnya
“Pada akhirnya kita memang hanya memiliki diri sendiri dan harus percaya dengan diri sendiri dengan begitu kekecewaan yang dirasakan tidak akan terlalu tinggi apalagi semua hal yang diperjuangkan belum tentu berhasil dan menjadi milik kita kan?”
Sejujurnya cukup marah dengan ending yang diberikan KENAPA??? KENAPA SEJAK AWAL TIDAK ADA KEBAHAGIAAN BENER-BENER JUSTICE FOR XINGYIN YA HUHU….. sebenarnya artian bahagia itu memang luas bisa jadi dengan kembali ke lini awal dan mencapai semua ketenangan yang didambakannya Xingyin sudah... Lihat selengkapnya
Kalau buku pertamanya lebih berfokus pada petualangan dan rasa ingin bebas, sekuel ini justru jauh lebih emosional. Ceritanya banyak menyorot sisi rapuh Xingyin. Tentang kehilangan, penyesalan, dan cinta yang nggak bisa berjalan seiring dengan takdir. Rasanya jauh lebih gelap, tapi juga lebih dalam.
Yang paling aku nikmatin adalah cara penulisnya memperluas dunianya. Detail kerajaan langit, makhluk abadi, sampai intrik politiknya terasa lebih hidup dan matang. Nggak cuma cantik secara visual, tapi juga punya bobot emosional.
Romansenya sendiri lebih bittersweet daripada manis. Hubungan Xingyin dengan... Lihat selengkapnya


