Buku Mans Search For… - Viktor E.… | Mizanstore.com

(0) KERANJANG

Rp 0
Rp 67,150
15% Rp 79,000

Deskripsi

Viktor Frankl pernah berada di empat kamp kematian Nazi yang berbeda, termasuk Auschwitz, antara tahun 1942 dan 1945. Dia bertahan hidup, sementara orangtuanya, saudara laki-laki, dan istrinya yang tengah hamil akhirnya tewas dalam kamp. Di dalam keganasan dan kekejian kamp, Frankl yang juga seorang psikiater belajar menemukan makna hidup. Menurutnya, kita tidak dapat menghindari penderitaan, tetapi kita dapat memilih cara mengatasinya, menemukan makna di dalamnya, dan melangkah maju dengan tujuan baru. Teori Frankl, yang dikenal sebagai logoterapi, menjelaskan bahwa dorongan utama kita dalam hidup bukanlah kesenangan, tetapi penemuan dan pencarian dari apa yang secara pribadi kita temukan bermakna. Banyak orang terinspirasi dari kisahnya dan menjadikan buku ini sebagai satu dari sepuluh buku paling berpengaruh di Amerika dan telah dicetak ulang lebih dari 100 kali dalam edisi bahasa Inggris.

Spesifikasi

SKU  :  ND-277
ISBN  :  9786023854165
Berat  :  220 gram
Dimensi (P/L/T)  :  14 cm/ 20 cm/ 1 cm
Halaman  :  256
Tahun Terbit  :  2018
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Gianluigi Fahrezi
Gianluigi Fahrezi 27-01-2026 11:00:45
Buku ini adalah salah satu buku yang saya rekomendasikan jika ditanya sama orang, "Saya mau suka baca, enaknya mulai baca apa ya?" Man's Search For Meaning adalah cerita tentang tragedi kemanusiaan pembantaian Orang Yahudi yang dituturkan oleh salah satu penyintasnya, Victor Frankl. Frankl yang juga merupakan seorang psikoterapis kemudian menggunakan pengalamannya selama di kamp konsentrasi untuk menyempurnakan konsep Logoterapi, salah satu aliran psikoterapi yang berargumen kalau tujuan hidup adalah untuk mencari makna. Awalnya saya kira buku ini bakal banyak membahas hal teknis, ternyata tidak. Saya yang belum pernah belajar psikoterapi sama sekali (let alone baca buku2 psikologi) bisa menangkap kira-kira apa yang ingin disampaikan Frankl. Terus juga, cerita pengalaman dia selama di kamp konsentrasi berkali-kali bikin saya berpikir "kok bisa ya zaman dulu, manusia bisa kepikiran berbuat sesadis itu kepada sesama manusia," Beberapa argumen dari buku ini masih saya pegang sampai saat ini, salah satunya mengenai kesulitan hidup. Frankl mengajari... Lihat selengkapnya
Anisa                D
Anisa D 17-01-2026 18:09:57
Separuh awal buku ini adalah memoar penulis tentang pengalamannya sendiri waktu jadi tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Jujur... waktu baca bagian awal ini aku speechless & ga habis pikir (in a good way) sama penulisnya karena bisa menjabarkan pengalaman se-mengerikan itu selayaknya mempresentasikan data dari observasi ilmiah atau semacamnya. Narasi di buku ini bukan tipe yang "emosional" at the point aku sampe mikir kok bisaaa sih penulisnya mempertahankan objektivitas pas ditaruh di tempat yang kemungkinan survivenya nggak lebih besar dari 1:28 itu? Dan tentu, jawabannya juga masih ada di buku ini. Di bagian separuhnya lagi, penulis ngejelasin teorinya yang disebut Teori Logoterapi (btw, penulis adalah psikiater). Dari yang aku tangkep, intinya, masalah utama manusia bukan trauma, stres, atau kesedihan... tapi kehilangan makna hidup. Penulis percaya manusia bisa bertahan di situasi sebrutal apapun selama masih punya seenggaknya satu pegangan makna (orang, tujuan, prinsip, atau hal yang belum selesai). Penulis juga bener-bener... Lihat selengkapnya
bookish trynabe
bookish trynabe 10-01-2026 12:45:11
Aku baca buku ini untuk jadi referensi utama skripsi aku yang meneliti tentang makna hidup. Subjek penelitian aku mengalami dua peristiwa psikologis dimana hal yang dia lakukan memberikan dia pengalaman emosi kedukaan dan lain sebagainya, tapi sekaligus kebersyukuran. Ini relevan sama pengalamannya Frankl yang tetep bisa melihat keindahan di tengah-tengah derita an ancaman hidupnya dia selama jadi tahanan Nazi. Di tengah-tengah kehilangan keluarga, kenalan, diri sendiri, pada akhirnya dia menyadari kalo ternyata di tengah-tengah derita, justru hal-hal yang selama ini keliatan kaya biasa aja, malah jadi sesuatu yang indah.
Mungkin kalo dianalogi, saat kita terbiasa melihat lingkaran putih, setitik hitam bakal bikin kita fokus ke situ. Karena titik itu akan terlihat seperti noda. Tapi ketika kita terbiasa melihat lingkaran hitam, setitik putih bakal ngasih harapan buat kita(?)