Buku MEMBERI RUANG - Kurniawan Gunadi | Mizanstore
  • MEMBERI RUANG
Ketersediaan : Tersedia

MEMBERI RUANG

    Deskripsi Singkat

    Kalau ingin memahami orang lain, pertama-tama kita harus bisa memahami diri sendiri. Sebab, bagaimana mungkin memahami perasaan, masalah, dan apa pun yang sedang dialami orang lain kalau kita gagal melakukan hal serupa pada diri ini. Beri ruang yang cukup untuk dirimu sendiri. Beri waktu yang lapang untuk mengenali diri dengan… Baca Selengkapnya...

    Rp 59.000 Rp 50.150
    -
    +

    Kalau ingin memahami orang lain, pertama-tama kita harus bisa memahami diri sendiri. Sebab, bagaimana mungkin memahami perasaan, masalah, dan apa pun yang sedang dialami orang lain kalau kita gagal melakukan hal serupa pada diri ini.

    Beri ruang yang cukup untuk dirimu sendiri. Beri waktu yang lapang untuk mengenali diri dengan baik. Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan dunia luar sehingga gagal memahami diri ini, lalu saat sudah berumur, kita masih dibuat bingung dengan keinginan yang ada.

    Memberi Ruang akan membawa kita memahami berbagai peristiwa hidup yang hadir lewat kegagalan, kesedihan, kecemasan, dan masalah-masalah lainnya.

    Tentang Kurniawan Gunadi

    Kurniawan Gunadi

    Kurniawan Gunadi adalah seorang penulis yang berlatar belakang pendidikan desain di FSRD ITB. Menjadi penulis adalah sebuah hal yang tidak pernah dibayangkan bahkan dicita-citakan sebelumnya. Sampai pada akhirnya, pada tahun 2014 lahir buku pertamanya, Hujan Matahari, yang merupakan kumpulan tulisan di tumblrblog kurniawangunadi.tumblr.com yang dibukukan.

    Memberi Ruang adalah buku ke-3 di Bentang Pustaka dan merupakan buku ke-7 yang sudah diterbitkannya selama berkecimpung di dunia kepenulisan sejak 2014. Buku-buku lainnya adalah Hujan Matahari, Lautan Langit, Menentukan Arah, dan Bertumbuh.

    Saat ini, Kurniawan Gunadi berdomisili di Yogyakarta bersama dengan keluarga kecilnya. Untuk bisa melihat tulisan yang lain dan bersapa, bisa langsung ke :

    @kurniawan_gunadi (instagram)

    kurniawangunadi.tumblr.com (blog)




    Keunggulan Buku

    • Membantu pembaca menemukan kembali makna hidupnya dengan belajar memahami dirinya lebih jauh.
    • Kisah-kisah yang disajikan lekat dengan keseharian kita dan penuh makna.
    • Tersedia kutipan yang mampu menghibur atau menenangkan siapa pun yang sedang dilanda gundah menghadapi hidup.
    • Ukuran buku nyaman untuk dibawa dan dibaca kapan saja di tengah aktivitas dan kesibukan.

     

    NUKILAN

    Proses yang Sabar

    Pada banyak hal yang kita khawatirkan, sebenarnya lebih banyak hal yang bisa kita pelajari. Terutama sebagai bahan belajar untuk mengenal diri.
    Kekhawatiran banyak lahir dari ketidaksiapan dan ketidakpastian. Sementara itu, ketidaksiapan lahir dari
    ketidaktahuan. Tidak belajar, tidak bisa memahami. Kemudian, ketidakpastian hadir karena kita ingin sekali mengendalikan semua hal, termasuk masa depan dan masa lalu.
    Akhirnya, kita pun tahu apa saja yang belum dimiliki dan harus disiapkan. Kita jadi tahu letak kelemahan diri. Kita jadi mengerti bahwa kekhawatiran punya penawarnya. Tinggal kita bersedia menelan pahitnya atau tidak, bersedia tidak untuk bekerja lebih keras, bersiap lebih banyak.
    Mahal sekali biaya yang akan kita keluarkan karena ketidaktahuan dan ketidakmengertian. Sering salah membuat keputusan, buang-buang waktu untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting karena kita salah membuat prioritas, salah paham dengan orang lain dan menciptakan permusuhan. Sangat mahal.
    Sediakan waktu untuk bersabar dalam menjalani proses. Kita akan belajar sedikit demi sedikit tentang hidup. Segala pertanyaan yang ada dalam benak kita saat ini mungkin bukan waktunya untuk ditanyakan sekarang. Ada banyak hal yang harus kita pahami agar nanti pertanyaan-pertanyaan yang penuh kekhawatiran itu bisa kita jawab sendiri.
    Kita tidak lagi bergantung pada orang lain untuk membuat keputusan. Tidak lagi harus mencari validasi atas pilihan yang akan kita buat. Tidak lagi salah menakar risiko. Tidak lagi menyesal jika ternyata kita salah membuat keputusan.
    Salah membuat keputusan pun akan membuat kita belajar banyak hal, dan bisa mengantarkan kita menjadi pribadi yang jauh lebih matang. Namun sekarang, pasti kita sangat takut melakukan kesalahan. Apalagi salah mengambil keputusan. Karena memang kita belum sematang itu. 
    Sabar.
    Kita sedang berjuang buat diri kita. Beri ruang untuk diri kita belajar. Tepiskan pikiran-pikiran instan yang memacu kita untuk segera lompat dari pertanyaan ke jawaban. Tanpa mengetahui bagaimana proses jawaban itu didapatkan.
    Kalau ada risiko, ambil saja. Telan semua risiko yang memang diperlukan untuk kita belajar. Tak apa lebih lelah, tidur berkurang, dan berulang-ulang gagal saat ujian. Jangan mempersulit diri sendiri pada masa yang akan datang karena keengganan untuk belajar saat ini, karena kita tidak sabar menjalani proses.

    Nyata

    Menjadi dewasa ternyata nyata. Saat aku masih ingin bermain-main seperti anak kecil, datang tanggung jawab demi tanggung jawab. Tak lagi ada waktu untuk bersenang-senang tanpa memikirkan hal-hal yang menyita perhatian.
    Begitu banyak hal yang membuatku harus berpikir berpuluh kali karena setiap tindakanku ternyata berdampak
    besar. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga orang-orang di sekitar. Kadang aku tak mau memikirkannya, ingin jauh menghindar, tapi ternyata kini menjalaninya.
    Menjadi dewasa ternyata nyata. Tak seperti yang kukira sewaktu masih kecil: enak jadi orang dewasa karena bisa melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan dan membeli sesuatu yang diinginkan dengan uang sendiri.
    Ah, aku rindu masa kecil. Saat aku tinggal bilang ke Ayah Ibu jika ingin sesuatu. Saat aku tak takut menjadi apa pun yang kumau. 
    Sekarang, untuk menjadi apa yang kumau, aku ketakutan sendiri membayangkan jalannya. Bahkan, aku tak yakin apa yang kumau itu bisa dan cukup untuk menjadi genggaman hidupku. 

    KUTIPAN

    Baru saja aku memberanikan diri melangkah dan mengambil keputusan untuk hidupku. Aku tahu, mungkin aku terlambat dibanding yang lain. Namun, aku bahagia karena bisa melakukan hal yang berharga untuk diriku sendiri. (Hal. 8)

    Doa itu seperti jembatan. Ia menghubungkan sesuatu yang jauh, bahkan melintasi ruang dan waktu. Kita bisa berdoa untuk masa lalu, hari ini, dan masa depan. Kita juga bisa mengirimkan doa untuk orang yang jauh, yang bahkan tidak kita kenal. Sebab doa itu saling mengenal dengan iman, di mana orang-orang yang percaya kepada Tuhan saling bercengkerama. Dan Tuhan mempertemukan doa-doa yang saling mencintai satu sama lain. (Hal. 70)

    Dulu kamu tidak berbuat apa-apa untuk dirimu sendiri, sekarang kamu mengeluhkan keadaanmu? (Hal. 91)

    Tak ada yang mengejar-ngejarmu, kecuali kekhawatiran dan ketakutanmu sendiri. (Hal. 111)

     

    Resensi

    Spesifikasi Produk

    SKU BT-602
    ISBN 978-602-291-920-9
    Berat 250 Gram
    Dimensi (P/L/T) 13 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
    Halaman 172
    Jenis Cover Soft Cover

    Produk Kurniawan Gunadi

















    Produk Rekomendasi