Buku MY ROCKET QUEEN… - SALMAN ARISTO | Mizanstore
  • MY ROCKET QUEEN - PRE ORDER
Ketersediaan : Tersedia

MY ROCKET QUEEN - PRE ORDER

    Deskripsi Singkat

    Pre Order Hingga 19 Agustus 2022 Benefit : TTD Penulis (persediaan terbatas) Sabit memang bukan bocah yang naif, meski baru saja masuk SMA. Tapi, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Saira di hari awal OSPEK telah membuka mata dan hatinya bahwa hidup sama sekali tidak naif. Ini dimulai dari Saira,… Baca Selengkapnya...

    Rp 69.000 Rp 58.650
    -
    +

    Pre Order Hingga 19 Agustus 2022
    Benefit : TTD Penulis (persediaan terbatas)


    Sabit memang bukan bocah yang naif, meski baru saja masuk SMA. Tapi, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Saira di hari awal OSPEK telah membuka mata dan hatinya bahwa hidup sama sekali tidak naif.

    Ini dimulai dari Saira, kakak kelasnya yang berusia dua tahun lebih tua. Mereka ternyata sepupu jauh yang dijodohkan dalam transaksi keluarga besar yang penuh tikungan kepentingan. Puncaknya, mereka harus melawan ayah Saira, sang mantan Letnan Jenderal rezim Orde Baru yang otoriter.

    Bergandengan tangan, Sabit dan Saira, berusaha menentang itu semua.

    My Rocket Queen adalah novel tentang pemberontakan anak muda yang dibalut dalam konflik percintaan, peliknya keluarga, sahabat, dan idealisme bermusik.

    Tentang SALMAN ARISTO

    SALMAN ARISTO

    Lahir dan besar di Jakarta sejak 13 April 1976. Selalu tidak pernah bisa menolak magisnya benturan antara kata, gambar, dan suara. Sekarang berusaha tumbuh menjadi pencerita yang lebih baik di perusahaan kreator bernama Wahana Kreator Nusantara. Menghasilkan film, serial, lagu, album musik, dan drama audio sepanjang 2009 hingga sekarang.

    My Rocket Queen adalah novel orisinal pertamanya




    Keunggulan Buku

    • Karya yang sangat filmis
    • Bernuansa nostalgia 90-an, 
    • Salman Aristo adalah penulis sekaligus sineas yang andal
    • Cerita dengan konflik kuat, mencirikan semangat pemberontakan dan perlawanan anak muda pada zamannya
    • Ada konflik keluarga, cinta, persahabatan, dan juga perjalanan mengejar idealisme bermusik
    • Menampilkan isu korupsi, kolusi, konflik vertikal antarkelas, dunia patriakis dan sexist, yang dikemas apik dalam cerita

     

    KUTIPAN

    Kata orang, jatuh cinta bikin goblok. Ternyata memang sahih.

    Itu menjadi inspirasi kami, kalau mentok, lakukan hal yang bahkan kita sendiri tidak tahu ujungnya bakal macam apa.

    Kukira, orang-orang kelewat kaya yang suka pamer itu standar saja, tetapi anehnya banyak di antara mereka yang merasa lebih besar ketimbang dunia.

    Dunia ini adalah dunia dagang. Musik. Studio kecil ini. Semua bergantung pada transaksi. Sekolah juga begitu.

    Boleh kurang ajar, tapi jangan ngelanggar hukum.”

    Hukum kadang banyakan politiknya. Kalau negara mau kuat, rakyat harus lemah. Ingat, kaum anarko pernah berhasil di Spanyol, hidup nggak pakai otoritas.”

     

    NUKILAN

    Hari ini sebenarnya tidak terlalu berengsek kalau saja aku tidak dipaksa mengenakan topi dari bola plastik. Bola itu kupotong separuh pakai gunting tumpul pukul satu tengah malam tadi. Ospek sialan, yang entah buat apa gunanya ini, betul-betul membuatku dongkol. 

    Pita tali rafia yang mengikat paksa rambut makin membuat kupingku gatal. Ditambah repetan kakak senior, yang menyemburkan ludah dendam tahun lalu, ketika merasa jadi kacung macam kami sekarang.

    Serius, Senin pada suatu hari di tahun 1991 ini tidak berengsek-berengsek amat. Cuaca adem. Beton lapangan basket yang kududuki tidak panas. Angin juga sepoi-sepoi. 

    “Kamu nggak boleh baca begituan!”

    “Kayaknya rumah saya bukan wilayah yang bisa diatur sekolah.”

    Kontan kelas jadi sehening kuburan. Tanpa sadar, hidungku nyaris menempel di kawat ayam jendela. Guru tadi bergegas menghampiri meja cewek itu. Dia menatap tajam, cewek itu balik menatap. 

    Luar biasa. Matanya cokelat. Ya, mata dengan pandangan berani itu cokelat kental seperti rambutnya. Hidungnya kecil, bangir. Bibir tipis. Lehernya jenjang. Dia agak
    terlalu kurus, menurutku, tapi tetap menawan. Menawan sekali, seakan-akan dia gadis sampul yang melenggang keluar dari majalah yang berserakan di kamarku. 

    Namun, yang membuatku sekarang menganga justru isi kepalanya. 

    “Kamu, nanti pas pulang, ke ruang kepala sekolah.”

    Cewek itu duduk, gayanya santai. “Kenapa nggak sekarang aja, Pak? Kelas ini udah nggak asyik buat saya.” 

    Aku tercekat. Dalam hitungan detik hidupku berubah. Mulai sekarang. Untuk selamanya. 

    Guru itu mengeraskan rahang, lalu berbalik, bergegas ke arah pintu. “Semua, baca buku sampai halaman 35!” katanya menyalak.

    Kelas langsung riuh. Cewek itu mengeluarkan Walkman dari tas. Dia memasang earphone, kemudian tenggelam, tanpa peduli banyak mata menatapnya. Termasuk aku, yang sepertinya baru saja jatuh cinta.

    Jam-jam pelajaran di kelas—berisi penataran P4 (entah apa kepanjangannya)—terasa makin sia-sia. Leherku terus menjulur bagai jerapah, melongok ke jendela, mencari-cari pemberontak manis tadi di luar sana. Nihil. 

    Teeeeeet. 

    Bunyi bel istirahat tentu bukan hal baru di telingaku, mulai dari suara kentungan velg ban mobil sampai erangan sember elektrik bikinan guru horoner. Biasa
    saja. Namun, kali ini ia terdengar amat membebaskan. 

    Aku berjalan menuju koperasi sekolah. Bukan kantin. Instingku memberi ilham: si jelita pintar tadi tidak mungkin berdesakan di kantin. Pasti dia jajan di koperasi yang lebih bersih dan tertib. 

    Naluriku benar. Buat urusan ini, instingku lumayan terasah. Sejak kecil aku selalu jatuh hati kepada cewek-cewek yang nantinya tumbuh menjadi kembang sekolah.
    Aku ingat Rina waktu TK. Lalu Sheryl pas SD. Tyas saat SMP. Sayangnya, bakatku mandek di insting saja. Sampai detik ini aku belum pernah pacaran. 

    Di tengah kerumunan bocah-bocah hormonal yang baru lulus SMP, si cantik itu makin bersinar. Begitu berbeda. Bahkan, di bagian dalam, dia seperti dilayani
    khusus oleh seorang pemuda petugas koperasi. Mereka tertawa-tawa. Petugas itu tampak genit di mataku. Kampret. Pasti kuncen koperasi itu juga naksir dia. 

    Aku menyalip seorang cewek yang hendak buka mulut di depan etalase. 

    “Kertas ulangan ...,” kataku. Cepat, tetapi menggantung. 

    Semua yang ada di sana menatap heran. Otakku memang belum satu frekuensi dengan alam SMA. Refleks selama tiga tahun SMP, kalau ke koperasi, pasti cari kertas ulangan. 

    Namun yang membuatku tolol bukan itu, melainkan tatapan matanya yang langsung ke arahku. Khusus, tepat sasaran, dan diiringi tawa pelan yang—kalau kondisi normal pasti terdengar menghina—membuai telinga dan mengelus hati.

    “Mau nyolong start, latihan nulis jawaban dari sekarang?”

    Suaranya menyeretku jauh, makin jauh, sampai akhirnya aku terbanting sadar saat gadis itu mengambil bundelan kertas ulangan bergaris dan berlogo sekolah warna biru. Dia mendorongnya di atas etalase ke arahku sambil menyunggingkan senyum meledek yang ramah. 

    Sebentar. Nyolong start? Dari sekarang?

    Aku menelan ludah. Kata orang, jatuh cinta bikin goblok. Ternyata memang sahih. Pelan-pelan, otakku yang tadi dibius pemberontakannya mulai sanggup mengurai situasi.

    Resensi

    Spesifikasi Produk

    SKU BT-608
    ISBN 978-602-291-936-0
    Berat 300 Gram
    Dimensi (P/L/T) 13 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
    Halaman 204
    Jenis Cover Soft Cover

    Produk SALMAN ARISTO

















    Produk Rekomendasi