Buku WE COULD BE… - Arumi E. | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

WE COULD BE IN LOVE

    Deskripsi Singkat

    Ganteng. Juara olimpiade. Jago main biola. Mahir karate. Empat poin itu cukup untuk membuat cewek-cewek jatuh cinta kepada Neo, termasuk Liberty. Sayangnya, memiliki hati Neo nggak semudah yang Liberty bayangkan. Neo itu salah satu manusia terdingin yang Lib kenal. Apa pun usaha Lib untuk mendekati Neo, selalu mental. Lib juga… Baca Selengkapnya...

    Rp 79.000 Rp 67.150
    -
    +

    Ganteng. Juara olimpiade. Jago main biola. Mahir karate. Empat poin itu cukup untuk membuat cewek-cewek jatuh cinta kepada Neo, termasuk Liberty. Sayangnya, memiliki hati Neo nggak semudah yang Liberty bayangkan. Neo itu salah satu manusia terdingin yang Lib kenal.

    Apa pun usaha Lib untuk mendekati Neo, selalu mental. Lib juga direpotkan dengan latar belakang identitas aslinya. Neo curiga Lib bukan cewek biasa. Mereka bahkan pernah terlibat adegan kejar-kejaran dengan orang-orang misterius yang membuat Neo kesal setengah mati.

    Lib tetap pantang menyerah. Neo pun terus membangun tembok pertahanan. Kira-kira siapa yang bakal menang?

     

    Tentang Arumi E.

    Arumi E.

    Arumi E. penulis berzodiak Taurus yang senang menulis cerita berbagai genre. Sejauh ini sudah menghasilkan cerita anak, romance, teenlit, romance religi dan horor. We Could Be in Love adalah novel karyanya ke-30 yang diterbitkan. Merupakan kelanjutan dari novel Listen to My Heartbeat.
    Buat yang mau mengintip cerita-ceritanya dan ingin tahu apa saja novel-novelnya yang sudah terbit, langsung deh meluncur ke Wattpad @Arumi_e . Ada tips dan berbagi pengalaman menulis juga lho di Wattpad-nya. Yang mau menyapa setelah membaca novel ini, follow IG-nya @arumi_e dan kirim DM.
    Lulusan Arsitektur ini juga hobi traveling ala backpacker ke berbagai kota di luar negeri. Bukan untuk sekadar gaya-gayaan, tapi karena baginya traveling bisa menambah wawasan dan menjadi sumber ide yang tak ada habisnya. Dia berencana, harus ada satu cerita yang diterbitkan menjadi novel dari setiap kota yang dia singgahi.
     




    Keunggulan Buku

    We Could be in Love merupakan sekuel dari novel remaja berjudul Listen to My Heartbeat karya Arumi E, salah satu judul dari Belia Writing Marathon pertama. Listen to My Heartbeat sendiri telah dibaca lebih dari 5,6 juta kali di Wattpad, merupakan salah satu judul dari seri Belia Writing Marathon pertama. Pembaca Listen to My Heartbeat pada saat itu menginginkan sekuel dari kisah Trinity, Zaki, dan Neo. Lebih tepatnya, cerita tentang Neo. Dari situlah awal We Could be in Love ditulis.  

    Arumi menulis We Could be in Love di Wattpadnya kemudian berpindah ke Wattpad Belia Writing Marathon dan menceritakan tentang kelanjutan hidup Neo yang merupakan second lead di Listen to My Heartbeat.

    Kisah ini ditulis dengan sangat rapih dan kompleks oleh Arumi E yang telah sangat berpengalaman menulis berbagai buku fiksi. Tidak hanya menyuguhkan cerita cinta khas anak remaja, tetapi juga nilai kehidupan. Menjadi nilai plus juga mengenai latar belakang tempat yang dipakai yaitu kota Barcelona. Dikisahkan Neo dan Liberty kuliah di kota indah tersebut.

    Testimoni
     “Yang membuat aku tertarik dari cerita We Could Be in Love karya Kak Arumi ini adalah nama tokohnya yang unik, beda dari yang lain. Saat membaca kalimat demi kalimatnya aku tidak bisa berhenti karena selalu disuguhkan alur yang menarik dan membuat ketagihan membacanya sampai akhir. Good job, Kak! Ceritanya benar-benar fresh dan sepertinya cocok dibaca buat semua kalangan?.”
    —Asri Aci, penulis novel Shea dan Perfect Couple
    “Baca cerita We Could Be in Love tuh serius bikin ikut helow melow sepanjang hari. Bayangkan! Aku sampai butuh nonton variety show biar bisa move on dan kembali ceria seceria Liberty. Aku terhanyut dalam ceritanya. Keren banget, aku suka kisah Neo dan Liberty!”
    —Ainun Nufus, penulis novel Lavina
    Cuplikan
    Neo memandangi batu pualam putih itu. Tak menyangka akhirnya dia menjejakkan kaki di Barcelona, Spanyol, dan hanya bisa bertemu dengan nama ayahnya yang terukir di batu nisan. Bukan seperti ini yang dulu dia bayangkan. Segala rencana yang sudah disusunnya sebaik mungkin melenceng karena takdir menentukan lain.
    Andaikan Ayah masih ada.
    Entah sudah berapa kali hatinya mengucapkan itu. Penyesalan selalu datang terlambat. Andaikan dulu dia menerima tawaran ayahnya untuk tinggal di sini, mungkinkah nasib mereka semua berbeda?
    Akan tetapi, sisi hati Neo yang lain mengingatkan agar tak berlarut-larut dalam penyesalan. Dia harus bergerak maju. Apa yang sudah terjadi memang ditakdirkan demikian. Neo meletakkan buket bunga segar di atas nisan ayahnya dan mama Estela yang dijadikan satu.
    Setelah berdoa sangat panjang, Neo kembali ke pusat Kota Barcelona. Beberapa ikon terkenal kota ini merupakan bangunan karya Antoni Gaudi, arsitek legendaris yang menginspirasi Neo untuk menjadi arsitek juga.
    Langit menggelap, lampu-lampu kota dinyalakan. Neo kembali ke apartemen, lalu memasak sendiri makan malamnya.
    Usai bersantap, dia menyapa ibunya melalui video call. Itu rutin dilakukan Neo setiap hari, membuatnya tenang mengetahui sang Ibu baik-baik saja. Kemudian, dia membuka nomor kontak Trinity. Merasa ragu, apakah sebaiknya dia mengirim pesan? Lalu, dia memandangi foto Trinity yang dulu pernah dikirimkan untuknya. Tampak wajah Trinity tersenyum manis.
    Neo merebahkan punggung ke sandaran sofa. “Trin, apakah kamu masih memikirkan aku?” gumamnya.
    Neo berdiri di depan papan pengumuman di lobi kampus. Membaca lagi deretan nama-nama mahasiswa baru kampus ini. Semua nama asing. Kebanyakan tentu warga Spanyol—bisa dikenali dari namanya.
    “Apa nggak ada mahasiswa Indonesia yang kuliah di sini juga?” ucap Neo.
    “Kamu orang Indonesia?” Pertanyaan itu membuat Neo terkejut. Dia menoleh ke kiri, matanya mengernyit melihat seorang gadis berwajah khas Asia Tenggara memandanginya.
    “Iya, aku dari Jakarta. Kamu dari Indonesia juga?” Neo balik bertanya.
    “Aku dari Madrid. Sejak tiga bulan lalu aku dan keluargaku tinggal di sana. Tapi, aku warga Indonesia, walau lahir dan lebih sering tinggal di luar Indonesia,” jawab gadis itu.
    Ekspresi Neo datar saja. Dia tidak terlihat terkesan.
    “Mahasiswa baru juga?” tanyanya lagi.
    Gadis itu mengangguk. “Untung aku ketemu kamu. Bahasa Spanyol-ku masih belum lancar. Lumayan, ada yang nemenin ngomong bahasa Indonesia,” katanya.
    “Buat orang yang lahir dan lebih sering tinggal di luar negeri, bahasa Indonesia-mu lancar juga.” Neo tidak bermaksud menyindir dengan ucapan tersebut. Namun, karena ekspresi datarnya, gadis itu mengira Neo tidak percaya dia memang jarang tinggal di Indonesia.
    “Itu karena orang tuaku sangat ketat. Aku harus ngobrol dengan bahasa Indonesia di rumah.”
    “Memang begitu seharusnya. Warga negara Indonesia harus bisa bahasa Indonesia, nggak peduli tinggalnya di negara mana,” komentar Neo.
    Gadis itu menyeringai tipis. “Ayahku juga bilang begitu,” ucapnya.
    “Liberty Manhattan,” kata gadis itu seraya mengulurkan tangan. Neo pun menyambutnya. “Itu ... nama suatu tempat?” tanyanya.
    “Itu namaku,” jawab si gadis.
    “Oh! Unik juga ya, nama kamu, nggak biasa buat orang Indonesia. Pantas tadi aku baca daftar mahasiswa baru, nggak ada nama khas Indonesia.”
    Thanks. Baru kali ini ada yang bilang namaku unik. Biasanya dibilang aneh.”
    “Namamu Manhattan karena kamu lahir di Manhattan, New York?” tebak Neo.
    “Ya, begitulah. Aku lahir dan tinggal di sana sampai umur lima tahun,” jawab Liberty.
    Mereka berdua sudah melangkah beriringan, menjauhi papan pengumuman.
    “Dan kamu, siapa namamu? Aku juga nggak lihat nama Indonesia di daftar mahasiswa baru. Itu sebabnya tadi aku kaget dengar kamu ngomong bahasa Indonesia,” tanya Liberty.
    “Neo Andromeda,” jawab Neo singkat.
    Alis Liberty terangkat. “Itu juga bukan nama Indonesia, kan? Andromeda itu nama galaksi. Dan Neo seperti nama sebuah aliran,” ucapnya.
    Neo tergelak pelan. “Jangan mengira asal namaku itu dari aliran neoliberal. Neo itu anagram3 dari one. Karena aku anak pertama, lalu jadi anak satu-satunya. Satu. One. Neo. Selain itu, juga berarti baru. Ketika lahir, aku jadi generasi baru untuk orang tuaku.” “Hm, panjang juga ya, sejarah nama kamu yang singkat itu. Kita senasib. Aku juga anak satu-satunya,” sahut Liberty.
    Neo melirik Liberty, matanya menyipit. Dia baru menyadari sesuatu. Liberty. Trinity. Kenapa nama kedua gadis itu sama-sama berakhiran “ty”?
    “Kamu mengingatkan aku kepada seseorang,” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Neo dan terlambat untuk dicegah.
    “O, ya? Mengingatkan kepada siapa? Pacarmu di Indonesia?” tebak Liberty.
    “Nggak perlu aku jelaskan. Kita kan, baru kenal,” jawab Neo, menyesali ucapan tadi.
    “Betul juga. Kita baru kenal. Tapi, kenapa aku merasa seperti ketemu teman lama, ya? Mungkin karena aku senang ketemu orang Indonesia di sini dan bisa ngobrol pakai bahasa Indonesia,” sahut Liberty.
    Neo tak menyahut. Dia tak terbiasa menghadapi orang yang langsung bersikap akrab dengannya.
    “Aku punya firasat, kita bakal jadi teman dekat. Aku merasa cocok ngobrol denganmu,” lanjut Liberty.
    Neo hanya melirik sekilas. Sebaliknya, dia justru punya firasat gadis di sampingnya itu akan membuat hidupnya tak pernah tenang lagi.

     

    “Neo!”
    Liberty menyambut Neo yang baru saja memasuki pintu gerbang kampus. Mata gadis itu berbinar. Selalu begitu tiap kali bertemu Neo. Sejak awal kuliah, gadis energetik itu selalu menempel ketat pada Neo. Seolah dia tidak berminat untuk berteman dengan mahasiswa lain.
    “Hai, Lib.” Neo menjawab singkat. Kemudian, dia hanya diam mendengarkan Liberty berbicara sepanjang mereka melangkah menuju ruang kuliah.
    Sudah dua minggu kuliah semester pertama dimulai. Neo semakin antusias dengan kuliahnya. Dosen-dosen yang cerdas, diskusi-diskusi yang menarik, teman-teman baru dari berbagai negara. Dia memilih kelas internasional. Jadi, teman sekelasnya berasal dari berbagai negara, dengan bahasa pengantar menggunakan bahasa Inggris. Namun, Neo cukup fasih berbahasa Spanyol. Itu membuatnya mudah bergaul dengan mahasiswa dan warga setempat.
    “Aku mau minta tolong, boleh?” tanya Liberty langsung menghampiri Neo setelah kuliah hari itu berakhir.
    “Minta tolong apa?” Neo balik bertanya tanpa menoleh. Dia berjalan santai ke luar kelas diikuti Liberty di sampingnya.
    “Ajari aku bahasa Spanyol. Kamu lancar sekali ngomong bahasa Spanyol.”
    “Aku bisa lancar ngomong bahasa Spanyol karena sudah mempelajarinya sejak SMA kelas X. Itu salah satu poin yang mendapat nilai lebih saat aku mengajukan beasiswa di sini.” Dan, ada Estela yang separuh Spanyol tinggal di rumahku, tambah Neo dalam hati.
    “Pantas saja. Aku kan, belum lama tinggal di Spanyol. Baru tiga bulan lebih dan sebelumnya nggak pernah belajar bahasa Spanyol. Jadi, kamu mau mengajari aku, kan? Aku akan membayarmu tentu saja.”
    Neo berhenti melangkah. Memandangi Liberty. Tawaran itu cukup menarik. Walau biaya kuliah serta buku-bukunya di sini telah ditanggung dan dia mendapatkan uang saku, tawaran untuk memperoleh uang tambahan tak boleh disia-siakan. Neo sudah bertekad akan menabung supaya bisa pulang ke Jakarta saat libur panjang.
    Bukan keharusan baginya untuk pulang pada masa liburan setelah setahun kuliah di sini, tapi Neo merasa harus pulang. Banyak yang ingin dia temui. Terutama ibunya yang kini hanya ditemani Estela, gadis blasteran Spanyol yang menjadi saudaranya karena mama Estela menikah dengan ayahnya. Neo, yang sudah merasakan pedih sejak orang tuanya bercerai, semakin sakit hati ketika ayahnya menikah lagi dengan mama Estela—janda beranak satu—dan kemudian pindah ke Barcelona meninggalkan dirinya. Rasa kecewa itulah yang membentuk karakter dingin Neo dan membuatnya tak mudah percaya kepada orang lain.
    Seolah cobaan yang didera tak cukup sampai di situ, setelah bertahun-tahun Neo putus hubungan dengan ayahnya, tahun lalu Estela—anak tiri ayahnya—muncul ke rumah membawa kabar duka. Ayah Neo dan mama Estela meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Estela, yang telah menjadi yatim-piatu, memaksa tinggal bersama Neo dan ibunya. Neo ingat bagaimana ketika itu dia tak bisa menerima kehadiran Estela. Melihat Estela membuat rasa sakit hati akibat ditinggal ayahnya muncul kembali.
    Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Neo tak bisa lagi mengelak. Estela telah menjadi bagian dari keluarganya. Bahkan, kini dia berterima kasih kepada Estela. Sebab, dengan keberadaan Estela di rumah, ibunya tak sendirian selama dia kuliah di Barcelona.5 “Kamu serius memintaku untuk mengajarimu les privat bahasa Spanyol secara profesional?” tanyanya.
    “Iya, aku serius,” jawab Liberty.
    “Kamu mau belajar di mana?”
    “Di apartemenku?”

    Resensi

    Beri ulasan produk ini

    Spesifikasi Produk

    SKU BE-121
    ISBN 978-602-430-492-8
    Berat 200 Gram
    Dimensi (P/L/T) 15 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
    Halaman 328
    Jenis Cover Soft Cover