Rp 75,650
15%
Rp 89,000
Deskripsi
Suatu pagi, Munarto, seorang pematung terkenal sekaligus orang terkaya di Desa Ledok Awu, ditemukan mati. Di pondok kerjanya, sedang memahat patung batu yang tak punya tubuh selain bagian kaki, bersimbah darahnya sendiri.
Pertanyaan “Siapa?” hanya akan memunculkan segerombolan tersangka. Meski bergantung nafkah padanya, ada terlalu banyak penduduk desa yang menginginkan kematiannya. Dendam terhadap keluarga Munarto telah menjadi warisan turun-temurun. Jadi, yang bisa ditanyakan adalah “Mengapa?” Dari setumpuk alasan yang ada, mana yang akhirnya membuat lelaki itu kehilangan nyawa?
Spesifikasi
| SKU | : | ND-539 |
| ISBN | : | 9786232424548 |
| Berat | : | 380 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 14 cm/ 21 cm/ 1 cm |
| Halaman | : | 344 |
| Tahun Terbit | : | 2024 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Pertama kali baca karya Mbak Bientang dan jujur ini overwhelmed. Ceritanya kompleks, nggak cuma membahas tentang kematian seorang pematung terkenal (Munarto). Namun juga ada banyak misteri pelengkap lainnya yang menambah rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
- kematian dua bayi secara misterius (kejadian ini sudah berlangsung lama, cuma yang recently memang dua ini). klunya gigi, abu di sekujur mayat, dan kain oranye
- duo Ruminem dan Turkiyem yang nyentrik, serta hubungannya dengan Sarmin dan Mbok Im
- para pendatang Desa Ledok Awu yang mencurigakan: Arsenio yang seorang pendaki mencari obsidian & Sima pembuat film
- kekejian Pak Belot (kepala desa)
- misteri Perkebunan Mardi
- batu berkaki buatan Munarto
- gua persembunyian yang tidak diketahui banyak oleh penduduk desa
- limbah minyak bumi berbahaya
- pembunuhan ayah & kakek Munarto
Buku ini diceritakan dengan menggunakan alur mundur, yang ber-setting-kan empat hari saja (Kamis, Rabu, Selasa, Senin). Chapter-nya panjang dan mengagumkan, disertai dengan penggunaan diksi yang... Lihat selengkapnya
- kematian dua bayi secara misterius (kejadian ini sudah berlangsung lama, cuma yang recently memang dua ini). klunya gigi, abu di sekujur mayat, dan kain oranye
- duo Ruminem dan Turkiyem yang nyentrik, serta hubungannya dengan Sarmin dan Mbok Im
- para pendatang Desa Ledok Awu yang mencurigakan: Arsenio yang seorang pendaki mencari obsidian & Sima pembuat film
- kekejian Pak Belot (kepala desa)
- misteri Perkebunan Mardi
- batu berkaki buatan Munarto
- gua persembunyian yang tidak diketahui banyak oleh penduduk desa
- limbah minyak bumi berbahaya
- pembunuhan ayah & kakek Munarto
Buku ini diceritakan dengan menggunakan alur mundur, yang ber-setting-kan empat hari saja (Kamis, Rabu, Selasa, Senin). Chapter-nya panjang dan mengagumkan, disertai dengan penggunaan diksi yang... Lihat selengkapnya
Jujur aku awalnya ngang ngong pas baca novel ini. Karena ceritanya dibuka dengan kasus pembu*nuhan orang paling kaya di Desa Ledok Awu sekaligus pembuat patung terkenal bernama Munarto. Makin lama, ceritanya melibatkan banyak tokoh yang bikin bertanya-tanya "apa hubungannya?".
Setelah aku baca sampai tuntas, aku jadi mengerti kalau dendam dan trauma akibat keserakahan manusia tuh bener-bener bisa menghancurkan semuanya.
Novel ini alurnya mundur dan sangat kompleks karena semua orang di desa itu punya masalah dan trauma. Berawal dari warga desa yang menjadi budak di tanahnya sendiri. Tanah mereka dipaksa dijual murah untuk Perkebunan Mardi. Kemudian keserakahan kakeknya Munarto membuat semuanya makin runyam. Menurutku, kakeknya jahat banget sih. Rasanya semua kemalangan warga desa berawal dari sana.
Novel ini tipe yang harus dibaca pelan-pelan karena gongnya ada di bab akhir yang bikin aku kembali mengingat semua isi bukunya. Jadi berasa kayak ???? hahh ternyata itu!! Gimana enggak? Misteri di novel ini tuh... Lihat selengkapnya
Setelah aku baca sampai tuntas, aku jadi mengerti kalau dendam dan trauma akibat keserakahan manusia tuh bener-bener bisa menghancurkan semuanya.
Novel ini alurnya mundur dan sangat kompleks karena semua orang di desa itu punya masalah dan trauma. Berawal dari warga desa yang menjadi budak di tanahnya sendiri. Tanah mereka dipaksa dijual murah untuk Perkebunan Mardi. Kemudian keserakahan kakeknya Munarto membuat semuanya makin runyam. Menurutku, kakeknya jahat banget sih. Rasanya semua kemalangan warga desa berawal dari sana.
Novel ini tipe yang harus dibaca pelan-pelan karena gongnya ada di bab akhir yang bikin aku kembali mengingat semua isi bukunya. Jadi berasa kayak ???? hahh ternyata itu!! Gimana enggak? Misteri di novel ini tuh... Lihat selengkapnya
Ketika kisah mitos dan tradisi diulek bersama kasus pembun*han ????
.? ??
Munarto dibun*h. Entah oleh siapa. Mungkin oleh pembencinya. Satu atau dua tiga orang? Entahlah! Bukankah warga desa tidak menyukainya dan keluarganya? Sudah bertahun-tahun keluarga Munarto menguasai lahan di desa Ledok Awu. Ya, menguasai dan menikmati hasil bisnisnya sendiri. Tidak ada yang melawan. Karena, keluarga Munarto dipercaya terikat perjanjian dengan penunggu desa, ular, siluman, apalah itu namanya. Apakah ini aib, atau nasib yang harus diterima Munarto?
.? ??
Dituliskan dengan alur mundur, masa kini ke masa lalu, Batu berkaki berhasil memberi pengalaman unik saat membaca. Bahkan, buku ini bisa dibaca dari bab belakang, ke depan. Aahh pasti aku akan mencobanya suatu saat. Tidak hanya itu, konteks lokal yang dipakai oleh penulis memberi nuansa yang dalam. Warga desa yang berkonflik, penuh intrik dan gonjang-ganjing menambah semarak. Balutan tradisi dan mitos menyuramkan situasi yang sudah begitu mengerikan. Kecurigaan pembaca diletakan dimana-mana. Banyak tokoh dan motif.... Lihat selengkapnya
.? ??
Munarto dibun*h. Entah oleh siapa. Mungkin oleh pembencinya. Satu atau dua tiga orang? Entahlah! Bukankah warga desa tidak menyukainya dan keluarganya? Sudah bertahun-tahun keluarga Munarto menguasai lahan di desa Ledok Awu. Ya, menguasai dan menikmati hasil bisnisnya sendiri. Tidak ada yang melawan. Karena, keluarga Munarto dipercaya terikat perjanjian dengan penunggu desa, ular, siluman, apalah itu namanya. Apakah ini aib, atau nasib yang harus diterima Munarto?
.? ??
Dituliskan dengan alur mundur, masa kini ke masa lalu, Batu berkaki berhasil memberi pengalaman unik saat membaca. Bahkan, buku ini bisa dibaca dari bab belakang, ke depan. Aahh pasti aku akan mencobanya suatu saat. Tidak hanya itu, konteks lokal yang dipakai oleh penulis memberi nuansa yang dalam. Warga desa yang berkonflik, penuh intrik dan gonjang-ganjing menambah semarak. Balutan tradisi dan mitos menyuramkan situasi yang sudah begitu mengerikan. Kecurigaan pembaca diletakan dimana-mana. Banyak tokoh dan motif.... Lihat selengkapnya
Ini mungkin akan menjadi salah satu novel thriller lokal favoritku. What a book! Aku perlu standing ovation kepada penulisnya, sebab tulisan ini begitu rapi, terstruktur, dan sistematis.
Berkisah tentang seorang seniman batu bernama Munarto yang ditemukan tewas di rumahnya di Ledok Awu—sebuah desa di kaki Gunung Merbabu. Perihal pembunuhan ini bukan lagi atas "siapa", tetapi "mengapa". Dan misteri-misteri lain di desa itu pun terkuak satu per satu.
Novel yang memadukan mitos, klenik, dan juga polemik serta intrik khas pedesaan. Karena kisahnya berlatar tahun sekarang, maka internet dan ponsel pintar sudah digunakan. Meski tetap saja tak bisa lepas sepenuhnya dengan hal-hal yang [disinyalir] gaib.
"Tiap kali ada masalah, ada malapetaka, orang-orang menyalahkan makhluk-makhluk gaib karena tak ada yang bisa membuktikan benar atau tidaknya. Orang-orang hanya bisa percaya, tapi justru itu. Percaya itu berbahaya. Itu yang saya takutkan. Orang-orang bisa berbuat apa saja kalau sudah percaya!" —Kundari, p. 213
Hal yang aku sukai dari novel ini... Lihat selengkapnya
Berkisah tentang seorang seniman batu bernama Munarto yang ditemukan tewas di rumahnya di Ledok Awu—sebuah desa di kaki Gunung Merbabu. Perihal pembunuhan ini bukan lagi atas "siapa", tetapi "mengapa". Dan misteri-misteri lain di desa itu pun terkuak satu per satu.
Novel yang memadukan mitos, klenik, dan juga polemik serta intrik khas pedesaan. Karena kisahnya berlatar tahun sekarang, maka internet dan ponsel pintar sudah digunakan. Meski tetap saja tak bisa lepas sepenuhnya dengan hal-hal yang [disinyalir] gaib.
"Tiap kali ada masalah, ada malapetaka, orang-orang menyalahkan makhluk-makhluk gaib karena tak ada yang bisa membuktikan benar atau tidaknya. Orang-orang hanya bisa percaya, tapi justru itu. Percaya itu berbahaya. Itu yang saya takutkan. Orang-orang bisa berbuat apa saja kalau sudah percaya!" —Kundari, p. 213
Hal yang aku sukai dari novel ini... Lihat selengkapnya
Kamu Mungkin Suka
Lihat Semua
Dee Lestari
Supernova 6: Inteligensi Embun Pagi Republish 2026
Rp 203,150
15%
Rp 239,000
Aya Widjaja
Seri Light Novel Bentang – Love-Hate Relation(Sick) - Special Offer Bonus Sticker + Keychain
Rp 41,650
15%
Rp 49,000
Asmira Fhea
Seri Light Novel Bentang – Hope And Home - Special Offer Bonus Sticker
Rp 41,650
15%
Rp 49,000
Nara Lahmusi
Seri Light Novel Bentang – Shutdown - Special Offer Bonus Sticker
Rp 41,650
15%
Rp 49,000
Risma Ridha Annisa X Pit Sansi
Seri Light Novel Bentang – Flower Power- Special Offer Bonus Sticker
Rp 41,650
15%
Rp 49,000
Asmira Fhea
Hope And Home
Rp 41,650
15%
Rp 49,000
Risma Ridha Annisa X Pit Sansi
Flower Power
Rp 41,650
15%
Rp 49,000
Dan Brown
The Secret Of Secrets
Rp 203,150
15%
Rp 239,000
Dan Brown
Inferno Edisi Ke-3, Republish 2025 (Softcover)
Rp 169,150
15%
Rp 199,000
Dan Brown
Angels And Demons (Republish 2025, Edisi Ke-3)
Rp 169,150
15%
Rp 199,000
Dan Brown
Origin (Sc)
Rp 169,150
15%
Rp 199,000
Dan Brown
The Lost Symbol (Edisi Ke-3, Republish 2025)
Rp 169,150
15%
Rp 199,000


