Buku Inferno Edisi Ke-3,… - Dan Brown | Mizanstore.com

(0) KERANJANG

Rp 0

Inferno Edisi Ke-3, Republish 2025 (Softcover)


Rp 169,150
15% Rp 199,000

Deskripsi

Tempat tergelap di neraka
dicadangkan bagi mereka
 yang tetap bersikap netral di saat krisis moral.
 

Tengah malam, Robert Langdon terbangun di rumah sakit dan syok saat mendapati dirinya ada di Florence, Italia. Padahal, ingatan terakhirnya adalah berjalan pulang setelah memberi kuliah di Harvard. Belum sempat Langdon memahami keganjilan ini, dunianya meledak dalam kekacauan. Di depan mata, dokter yang merawatnya ditembak mati. Langdon berhasil lolos atas bantuan Sienna Brooks, seorang dokter muda yang penuh rahasia.
Dalam pelarian, Langdon menyadari bahwa dia memiliki sebuah stempel kuno berisi kode-kode rahasia ciptaan ilmuwan fanatik yang terobsesi pada kehancuran dunia berdasarkan mahakarya terhebat yang pernah ditulis—Inferno karya Dante. Ciptaan genetis ilmuwan tersebut mengancam kelangsungan umat manusia, Langdon harus berpacu dengan waktu memecahkan teka-teki yang berkelindan dalam puisi-puisi gelap Dante Alighieri. Belum lagi, dia harus menghindari sepasukan tentara berseragam hitam yang bertekad menangkapnya.
Sang master, Dan Brown, sekali lagi menunjukkan kegeniusannya mengolah sejarah, seni, kode, dan simbol dalam sebuah kisah yang tak terlupakan. Setelah Da Vinci Code, Angels & Demons, dan The Lost Symbol, Inferno kembali menegaskan kejayaan Dan Brown sebagai perajut kisah luar biasa.

 

 

 

Ucapan Terima Kasih

Yang terutama, kepada teman dan editorku, Jason Kaufman, karena telah bekerja begitu keras dalam proyek ini dan karena benar-benar memahami isi buku ini. Dan kepada Heide Lange yang tidak ada bandingannya—juara The Da Vinci Code yang tak kenal lelah, agen luar biasa, dan teman terpercaya.

Terima kasih yang tak terhingga kepada tim istimewa di Doubleday, atas kemurahan hati, keyakinan, dan bim bing an hebat mereka. Terima kasih khususnya kepada Bill Thomas dan Steve Rubin, yang meyakini buku ini se d ari awal. Terima kasih juga kepada poros-pertama para pendukung in-house awal, yang diketuai Michael Palgon, Suzanne Herz, Janelle Moburg, Jackie Everly, dan Adrienne Sparks; kepada orang-orang berbakat di tim penjualan Doubleday; dan kepada Michael Windsor atas sampul buku yang mengagumkan.

Atas bantuan yang murah hati dalam riset buku ini, aku ingin berterima kasih kepada Museum Louvre, Ke men terian Kebudayaan Prancis, Proyek Gutenberg, Per pustakaan Nasio nal, Perpustakaan Gnostic Society, Depar t       ment of Paintings Study and Documentation Service di Museum Louvre, Catholic World News, Royal Observatory Greenwich, London Record Society, Muniment Collection di Westminster Abbey, John Pike dan Federation of American Scientists, dan lima anggota Opus Dei (tiga anggota aktif, dua mantan anggota) yang mengung kap kan kisah mereka, baik positif maupun negatif, mengenai peng alam-  an mereka di dalam Opus Dei.

Terima kasih juga kuucapkan kepada Toko Buku Wa ter Street yang telah menemukan begitu banyak buku untuk riset-ku; kepada ayahku, Richard Brown—guru ma   tematika dan penulis—atas bantuannya mengenai Nis bah Emas dan Deret Fibonacci; kepada Stan Planton, Sylvie Baudeloque, Peter McGuigan, Francis McInerney, Margie Wachtel, Andre Vernet, Ken Kelleher di Anchorball Web Media; Cara Sottak, Karyn Popham, Esther Sung, Miriam Abramowitz, William Tunstall-Pedoe, dan Griffin Wooden Brown.

Dan akhirnya, di dalam sebuah novel yang begitu ba   nyak membahas perempuan suci, akan ceroboh jika aku tidak me-nyebut dua perempuan luar biasa yang telah me nyentuh hidup-ku. Pertama, ibuku, Connie Brown—se sama penulis, penga suh, pemusik, dan tokoh panutan. Dan istriku, Blythe—sejarahwan seni, pelukis, editor garda-de pan, dan, tidak di ragukan lagi, perempuan berbakat pa  ling menakjubkan yang pernah ku -kenal.[]

 

FAKTA:

Priory of Sion—

perkumpulan rahasia Eropa yang didirikan pada 1099—adalah organisasi yang nyata.

Pada 1975, Perpustakaan Nasional Prancis menemukan perkamen-perkamen yang dikenal sebagai Les Dossiers Secrets, yang mengidentifikasi banyak anggota Priory of Sion, termasuk

Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo,

dan Leonardo da Vinci.

relatur Vatikan yang dikenal sebagai Opus Dei adalah sekte Katolik yang sangat taat,

baru-baru ini menjadi topik kontroversi

karena laporan mengenai pencucian otak,  pemaksaan, dan praktik berbahaya

yang dikenal sebagai “penghukuman jasmaniah”. Opus Dei baru saja menyelesaikan pembangunan Markas Nasional senilai $47 juta

di 243 Lexington Avenue, New York.

Semua penjelasan mengenai karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritual rahasia di dalam novel ini adalah akurat.

Prolog

Museum Louvre, Paris 10.46 MALAM

Kurator ternama Jacques Saunière berjalan ter huyung-huyung melewati lengkungan kubah Grand Gallery museum. Dia menerjang lukisan terdekat yang bisa dilihatnya, karya Caravaggio. Dengan mencengkeram bingkai bersepuh emas nya, lelaki berusia 76 tahun itu merenggut maha karya tersebut ke arahnya, sampai lukisan itu tercabut dari dinding dan Saunière terjengkang di bawah kanvas.

Seperti yang dia perkirakan, sebuah gerbang besi jatuh menutup dengan bergemuruh di dekatnya, meng halangi jalan masuk ke ruangan itu. Lantai kayu bergetar. Di kejauhan, alarm mulai berdering.

Kurator itu berbaring sejenak, tersengal-sengal, mem pertim-bangkan. Aku masih hidup. Dia merangkak keluar dari bawah kanvas dan meneliti ruangan menyerupai gua itu untuk mencari tempat bersembunyi.

Terdengar sebuah suara mengerikan di dekatnya. “Ja ngan bergerak.”

Kurator itu terpaku dalam posisi merangkak, per lahan-lahan menoleh.

Hanya empat setengah meter jauhnya, di luar gerbang tertutup itu, siluet raksasa penyerangnya menatap melalui jeruji besi. Lelaki itu bertubuh tinggi kekar, de ngan kulit se pucat hantu dan rambut putih menipis. Iris matanya berwarna merah-dadu dengan pupil merah tua. Lelaki albino itu menarik pistol dari jaket dan mengarah kan moncongnya melalui jeruji, tepat ke arah kurator itu. “Seharusnya kau tidak lari.” Aksennya tidak mudah di kenali. “Sekarang katakan di mana?”

“Sudah kubilang,” jawab kurator itu tergagap, seraya ber-lutut tak berdaya di lantai galeri. “Aku tidak tahu kau bicara apa!”

“Kau berbohong.” Lelaki itu menatapnya, sama sekali tak bergerak, kecuali kilau di mata hantunya. “Kau dan sau dara seimanmu memiliki sesuatu yang bukan milik ka lian.”

Kurator itu merasakan aliran adrenalin. Bagaimana mung kin dia bisa tahu?

“Malam ini benda itu akan kembali ke tangan para penga wal sahnya. Katakan di mana benda itu disembunyikan, dan kau akan hidup.” Lelaki itu meluruskan pistolnya mengarah ke kepala Saunière. “Apakah rahasia itu akan kau bawa mati?”

Kurator itu tidak bisa bernapas.

Lelaki itu memiringkan kepala, mengamati moncong pis tol-nya. 

Saunière mengangkat kedua tangannya untuk melindungi.

“Tunggu,” katanya perlahan-lahan. “Akan ku kata  kan apa yang perlu kau ketahui.” Kurator itu meng ucap  kan kata-kata selan-jut nya dengan hati-hati. Dia telah ber kali-kali berlatih meng-ucapkan kebohongan itu … dan setiap kalinya berdoa agar dia tidak akan pernah ter  paksa melakukannya.

Ketika kurator itu selesai bicara, penyerangnya tersenyum pongah. “Ya. Inilah tepatnya yang dikatakan oleh yang lainnya kepadaku.”

Saunière terkesiap. Yang lainnya?

“Aku juga menemukan mereka,” ejek lelaki besar itu. “Ketiga-nya. Mereka menegaskan apa yang baru saja kau kata kan.”

Mustahil! Identitas asli kurator itu, bersama-sama de ngan identitas ketiga sénéchaux1-nya, nyaris sama sucinya dengan ra  hasia kuno yang mereka lindungi. Kini Saunière menyadari bahwa ketiga sénéchaux-nya, dengan mengikuti prosedur ketat, telah mengucapkan ke bohongan yang sama sebelum kematian mereka. Itu ba gian dari pro tokol.

Penyerang itu kembali mengarahkan pistol. “Ketika kau sudah mati, akulah satu-satunya yang mengetahui ke benaran itu.”

Kebenaran itu. Dalam sekejap, kurator itu langsung mema-hami kengerian sesungguhnya dari situasi itu. Jika aku mati, kebenaran itu akan hilang untuk selamanya. Ber  dasar kan insting, dia berupaya merangkak mencari per  lin dungan.

Pistol menyalak, dan kurator itu merasakan panas yang mengoyak ketika peluru bersarang di dalam perutnya. Dia jatuh tertelungkup … berjuang mengatasi rasa sakit. Per lahan-lahan Saunière berguling dan kembali me natap penye rangnya lewat jeruji.

Lelaki itu kini mengarahkan tembakan mematikan ke kepala Saunière.

Saunière memejamkan mata, pikirannya berupa badai ke-takutan dan penyesalan yang berpusar-pusar.

Suara klik pistol kosong menggema melalui koridor. Mata kurator itu langsung membuka.

Lelaki itu menatap senjatanya, tampak nyaris geli. Dia me- raih magasin kedua, tampak berpikir ulang, lalu me nye ringai tenang memandang perut Saunière. “Pekerja anku di sini sudah selesai.”

Kurator itu menunduk dan melihat lubang peluru pada kemeja linen putihnya. Lubang itu dibingkai lingkar an kecil darah beberapa inci di bawah tulang dada. Perutku. Dengan kejamnya, peluru itu meleset dari jantung. Sebagai veteran la Guerre d’Algérie2, kurator itu pernah me nyaksikan kematian mengerikan dengan cara seperti ini. Selama lima belas menit dia akan bertahan, ketika cair an-cairan asam lambungnya me-rembes memasuki rongga dada, perlahan-lahan meracuninya dari dalam.

“Rasa sakit itu baik, Monsieur,” ujar lelaki itu.

Lalu dia pergi.

Jacques Saunière, yang kini sendirian, mengalihkan kem bali pandangannya pada gerbang besi itu. Dia ter pe rangkap, dan pintu-pintu tidak bisa dibuka kembali selama setidaknya dua puluh menit. Saat seseorang bisa menolongnya, dia pasti sudah mati. Walaupun begitu, ke takutan yang kini menceng ke ramnya jauh lebih besar dari pada ketakutan akan kematian nya sendiri.

Aku harus meneruskan rahasia itu.

Saunière terhuyung-huyung berdiri, membayangkan ke tiga saudara seimannya yang terbunuh. Dia memikirkan gene rasi-generasi sebelum mereka … dan misi yang dipercayakan kepada mereka semua.

Rantai pengetahuan yang tak terputus.

Kini, secara mendadak, walaupun dengan semua tindakan pencegahan itu … walaupun dengan semua pemu tus an hu-bungan itu … Jacques Saunière adalah satu-satu nya mata rantai yang tersisa, pengawal satu-satunya salah sa tu rahasia terdah-syat yang pernah disimpan.

Dengan bergidik, dia bangkit berdiri.

Aku harus mencari cara ….

Dia terperangkap di dalam Grand Gallery, dan raha sia itu ha nya bisa diteruskannya kepada satu orang di dunia ini. Saunière mendongak memandangi dinding-dinding penjara mewahnya. Serangkaian koleksi lukisan yang paling terkenal di dunia tampak tersenyum kepada nya bagaikan teman lama.

Seraya meringis kesakitan, dia mengumpulkan sege nap kemampuan dan kekuatannya. Dia tahu, tugas mendesak yang menantinya akan memerlukan setiap detik sisa hidupnya.[]

Spesifikasi

SKU  :  UC-123
ISBN  :  9786024414016
Berat  :  540 gram
Dimensi (P/L/T)  :  13 cm/ 21 cm/ 3 cm
Halaman  :  596
Tahun Terbit  :  2026
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Belum ada ulasan